Bahasa Indonesia / Indo

Indische Nederlanders

Indische Nederlanders atau Indo adalah sebutan untuk keturunan Indo Eropa yg berasal dari Hindia Belanda . Akar dari para Indo adalah Nyai yg menjadi concubine dari pria2 Barat yg hidup di Hindia Belanda masa itu. Kenapa gw tulis pria barat?

Karena tidak semua orang2 Indo disini mempunyai leluhur dari Belanda. Untuk suami gw misalnya: kakek buyutnya dia berasal dari Swiss, dekat dengan perbatasan Italia. Pertengahan abad 1800-an, beliau hijrah ke Hindia-Belanda dan hidup bersama dengan Nyainya di Cirebon. Dari hubungan ini lahir 2 anak lelaki, salah satunya kakek mertua gw. Yang akhirnya menikah dengan wanita kelahiran Bangil, dengan keturunan China, Jawa Timur & Jerman. Dari pernikahan mereka ini, lahirlah bapak mertua yg menikah dengan ibu mertua gw, generasi ketiga China dari pulau Bangka. Ruwet bacanya? Banyak teman2 Indo suami gw yang nama belakangnya non-Belanda seperti Deckert (Jerman), Da Costa (Portugal) bahkan McLean (Schotland).

Kalo lagi ngumpul2 dengan Indo, terutama dengan generasi mertua gw, ceritanya banyak. Dari cerita tentang opa yg jadi Romusha membangun rel kereta api di Birma, sementara oma & anak2 masuk ke kamp kerja paksa Jepang di Cimahi selama 3 tahun sampe cerita tentang masa bersiap (waktu pertengahan tahun 1950-an BKR, pelopornya TNI, berburu semua orang keturunan Indo untuk dibunuh….ya…cerita ini sepertinya ngga ada di buku sejarah Indonesia). Bapak mertua gw banyak kehilangan teman main, mereka meninggal digantung kaum pemuda BKR masa itu. Biasanya sih oom & tante2 Indo lebih senang bercerita yg menjurus ke sex, kalo begitu gw asli sering diusir mereka, ‘Lorraine, anak bawang, ngga boleh denger cerita ini’, tapi gw koppig (keras kepala) aja, wong udah punya anak kok masih jadi anak bawang.

Akhir tahun 1950-an kaum Indo mulai datang di Belanda. Keluarga suami gw imigrasi kesini tahun 1966. Problem utama masa itu ialah apa lagi kalo bukan makanan? Jadi ada cerita2 tentang petualangan ibu2 Indo yg harus pinter improvisasi untuk bisa masak nasi dengan lauk pauknya. Sekarang sih, jangan salah, disuper market sini pun ada yg jual paket makanan jadi, Nasi Rendang met gesmoorde boontjes (dengan semur buncis).

Yang gw mau tulis disini adalah orang2 Indo yg masih percaya takhyul. Mungkin ini juga ciri2 khas imigran di negara asing yg tetap berpegang ke tradisi kampungnya diwaktu mereka berimigrasi. Jadi, jangan heran kalo main ke keluarga Indo disini, malem2 ngga boleh gunting kuku, payung basah dibuka jangan didalem ruangan, perempuan ngga boleh duduk dipintu (hmm yg ini bisanya hanya kalo lagi musim panas, winter terlalu dingin). Diatas pintu rumah orang Indo keturunan Jawa, biasanya tergantung 1 ikat padi Kering, untuk mohon rejeki ke Dewi Sri.

Orang Indo suka sekali makan hanya nama2 makanannya agak lain seperti yg kita kenal di Indonesia sekarang ini contohnya: kacang bubur (gw sempet hampir berantem sama suami pertama kalo mencoba menjelaskan bahwa nama yg bener itu bubur kacang ijo), Roti Koekoes yang maksudnya mereka itu Bolu Kukus, Nasi Goerih = Nasi Uduk, Pepesan Ikan Boemboe Bali = Pepes Ikan Bumbu Bali, Oerap-oerap atau Oerapan = Urap.

Untuk bahasanya, kaum Indo generasi mertua gw ya masih berbahasa melayu, dikombinasi dengan bahasa Belanda. Kadang kalo ketemu tante & oom (semua temen2 mertua gw panggil tante & oom menurut kebiasaan kita juga di Indonesia. Temen2 londo gw suka bingung, mereka panggil oom & tante hanya sama saudara kandungnya) di pasar, asli ngomongnya campur. ‘Ha, Lorraine, de mantu van Willy uit Jakarta, wat ga jij liat liat?’ terjemahan: Lorraine, menantunya Willy dari Jakarta, mau liat apa. Atau omanya suami yg panik kerupuknya udah abis padahal menurut dia kemarinnya baru digoreng “Echt waar hoor, Ik heb gisteren de Kroepoek semua gegoreng” yang artinya “Bener lho, kemarin aku goreng semua kerupuk”. Yang geli denger orang Indo pesen gado-gado di restoran. Dibahasa Belanda huruf G itu diucapkan seperti H, jadi Ik wil graag Hado-Hado bestellen artinya saya mau pesan gado-gado.

Ternyata panjang sekali jadinya posting ini, nanti gw sambung lagi…

16 thoughts on “Indische Nederlanders

  1. Thank you for the lovely comment in my post earlier. Sorry it took me so long to visit your blog. Your articles are very interesting. Will come back for more later.😀

    I was told just yesterday that Indo language has a lot of words derived from Dutch, we just didn’t realise it because not many people speak Dutch or we don’t know anybody who do …🙂 Now I know one.😀

  2. Hahaha…. Bolu Kukus, Roti Koeskoes bisa salah2 itu klu disini, karna da binatang Kuskus, dan ada Koesplus juga, hahaha….

    Seruuuu….!

    Yen, klu Patsy dateng kesana, dia harus laporan pandangan mata juga ya ke a15minute, heh heh heh…

    Ttg DDL… haha, iya iya masih ingats.. (^^,)

  3. Hi Andie,

    You’re very welcome. Try to share things about NL thru my point of view as a foreigner living here.

    Indonesian words derived from Dutch? You’d be surprised, there are a lot more than you can ever imagine! I’ll write about it soon.

  4. Emang Indo ruwet disini. Si Ron lebih asal lagi, sandwichnya isi abon. Oeps, atau udah biasa ya, di Breadtalk khan ada roti abon juga…

    Yeah, DDL forever. Semakin ok actingnya, udah liat There will be blood dong loe..

  5. Hi Lorraine! Salam kenal dari Santi. Saya lihat link blog kamu dari blognya Colson. Blognya menarik sekali, dan terimakasih atas infonya mengenai orang2 Indo. Saya sempat tinggal di Belanda selama 8 tahun (3 tahun masa kecil di Den Haag, 1 tahun sekolah ambil master di Amsterdam, dan 4 tahun setelah menikah di Amsterdam dan Almere), dan waktu bekerja di Amsterdam banyak kolega saya yang orang2 Indo. Mereka terlihat mempunya budaya sendiri yang nampaknya adalah percampuran antara budaya Indonesia dan Belanda.

  6. Hi Santi,

    Terima kasih kunjungannya. Memang budaya indo itu campuran Eurasia, bukan hanya ekslusif Indo-Belanda.

    Nanti aku tulis lebih banyak lagi ttg hal ini.

  7. Hi….setelah mampir ke food blog mba, saya mampir kesini,hehehehe…ceritanya menarik, terutama tentang hubungan dekat Indonesia-Belanda ini…(meskipun saya Indonesia asli,ga ada keturunan bule2 acan) dan pas baca ini,sama seperti komentar temen mba sebelumnya, wah bahasa Indonesia banyak ngadopsi bahasa Belanda yah???pantesan huruf jaman dulu tuh kaya gitu ada “oe” nya, emang peninggalan Belanda…

    Dan kaget juga pas orang2 Indo (di Indonesia orang2 keturunan Indonesia – bule kan di sebut Indo) jaman dulu dikejar2 buat di bunuh…sadis banget yah..bener2 baru tau pas baca blog mba ini…

    Ditunggu cerita2nya yang lain yaa…karena membuat saya berimajinasi (hihihi…maklum ga pernah hidup di luar negri, jakarta mentok..hehehe)

    • Hallo mrs. P,

      Terima kasih sudah mampir kesini & maaf baru dibalas sekarang. Saya sempat vacuum 9 bulan dari dunia blogging. Memang, banyak cerita tentang sejarah gelap kaum Indo di jaman Hindia-Belanda yang tidak dikenal di Indonesia. Di Indonesia kita dijejali sejarah versi Indonesia sementara cerita itu kan selalu ada dua sisi bukan? Mm, seperti umumnya ex koloni, banyak kata didalam bahasa Indonesia yang memang serapan dari bahasa Belanda. Silahkan rajin mampir disini, mudah-mudahan saya lumayan rajin memelihara blog ini lagi.

  8. Tulisanmu seru banget, Mbak.Saya suka banget bacanya. Banyak hal hal baru yang saya temukan di sini.
    ha ha ha… saya nyengir membaca cerita soal nama makanan itu . Kacang bubur… ada ada saja. Tapi salut,mereka masih ingat makanan Indonesia. Jangan -jangan lagu ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’ itu diciptakan oleh salah satu Om/tante teman papa mertuanya Mbak Lorraine ya ? he he..

    • Geef mij maar Nasi Goreng itu ciptaan Wieteke van Dort, nama panggungnya Tante Lien. Wieteke keturunan Indo Belanda lahir di Surabaya. Dia sekarang jadi aktris, penyanyi & penulis.

      Iya Dani banyak sekali makanan Indonesia/Indo namanya dibalik. Di bahasa Indonesia kan gramatikanya Diterangkan Menerangkan (DM), di bahasa Belanda MD. Makanya jadi lucu. Banyak orang Indo disini dan kasihan cerita mereka pergi dari Indonesia tahun 1950-an sampe 1960-an.

  9. Memang buat sejarah tentang Masa Bersiap (tahun 1945 – 1946), masih banyak simpang siurnya, jadi nggak banyak orang yang mau buat tulisan tentang itu. Ada yang bilang biang keladi kejadian ini dari aparat pemerintahan waktu itu. Atau ada juga yang bilang laskar rakyat (seperti ormas (organisasi masyarakat) sekarang ini) yang jadi biang keladinya. Dan padahal fungsi dari BKR itu sendiri pada waktu itu, adalah untuk melindungi orang – orang Belanda dan Indo yang masih tinggal di kamp internir dari amarah warga sekitar yang benar – benar benci dengan Belanda,

    maaf tulisannya jadi agak serius😛
    by the way, thanks for sharing the information 🙂
    Salam….Ade

    • Banyak literatur di Belanda tentang Bersiap yang ditulis oleh pelakunya, baik orang Belanda asli maupun orang Indo. Saya sendiri banyak mendengar cerita dari bapak mertua saya orang Indo, yang mengalami masa bersiap di Cimahi.

      Ini memang halaman berdarah dibuku sejarah kita. Sebenernya saya niat tulis tentang bersiap tapi berpikir apakah pembaca siap bacanya.

      Makasih sudah mampir dan komen Ade.

  10. Aku setuju banget kalo mba Yo mau nulis ttg masa Bersiap. Setelah ditipu mentah2 dg sejarah negara yg diputer balik eh waktu SMA aku dapet nilai 5 krn nulis sejarah PKI bukan Versi ORBA (lupa deh dulu sumbernya dpt dr mana).
    Wong sejarah ttg Nanking aja wlpn semenyedihkan apapun bisa tertuang dg baik kok mbak.. aku yakin mba Yo bakal bisa bikin pembaca melek bener ttg sejarah.

    Ada rencana bikin buku ga sih?

    • Thank you Vit. Ngga ada rencana tulis buku karena ngga ada waktu riset dan nulisnya sendiri. Tulis satu pos aja diblog kadang bulanan risetnya😉

      Ok, itu masih utang tulis tentang Bersiap. It is coming…

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s