about me / Bahasa Indonesia / Thoughts / Women

Uneg-uneg tentang feminisme

Di pos ini gw berbagi uneg-uneg gw yang terlalu lama disimpan di draft dan di kepala. Pos ini tentang pikiran dan pandangan gw seputar feminisme khususnya feminisme di dunia maya Indonesia.

Feminisme beberapa tahun terakhir menjadi kata yang tabu diucapkan, bukan hanya di Indonesia tapi di dunia. Bahkan ada beberapa perempuan yang dalam praktiknya feminis tapi mereka enggan menyatakan dirinya sebagai feminis. Gw pernah begini, 3 – 4 tahun yang lalu di Twitter gw masih pasang feminis di bio gw di sana. Kemudian kata itu gw hapus karena gw lihat beberapa tendensi feminis garis keras yang tindakannya ngga sreg di mata gw.

Yang gw lihat bahasan feminisme di Indonesia itu ada yang berbentuk diskursus di kalangan sendiri, feminis garis keras yang sudah tidak asing dengan pemikiran ini dan lihai berdiskusi. Hanya sayangnya, ada beberapa bahasan yang bikin gw mikir, ini arahnya mau kemana? Apakah bahasan ini mereka tujukan untuk feminis yang sudah paham atau tujuannya untuk mencerahkan mereka yang baru tertarik dan punya intensi buat mendalami feminisme lebih lanjut?

Tinjauan ini gw buat dari sudut pandang gw sebagai praktisi komunikasi ya. Bagaimana bisa menjangkau mereka yang tertarik mendalami paham ini lebih lanjut kalau dialognya penuh dengan jargon dan istilah yang asing untuk awam? Ok, warga net mungkin sudah tahu apa itu patriarki, feminisme, relasi kuasa, mansplaining, manspreading, woke & misogini. Bagaimana dengan istilah ini: womanism, white feminism, intersectional feminism dll? Bukannya mencerahkan tapi dialog bermuatan istilah ini malah berpotensi membuat mereka yang tertarik, jadi mundur teratur. Fenomena ini membuat diskusi feminisme di antara para penggiatnya di dunia maya berkesan elitis.

Belum lagi tudingan sesama pegiat gerakan ini di platform online Indonesia. Pernah gw lihat seseorang menghakimi orang lain sebagai less feminist (kurang feminis) karena pengetahuan cetek/belum baca buku tertentu/argumen dalam diskursus lemah. Oh ya, kadang diskusi yang berlangsung disampaikan dalam bahasa Inggris. Tanpa mengurangi rasa hormat ke mereka yang fasih bahasa ini, kalau tujuannya merangkul orang-orang yang masih baru dengan paham ini dan penguasaan bahasa Inggris mereka masih dasar, coba pikirkan apa pesannya tersampaikan dengan baik?

Hal-hal yang gw uraikan di atas itu bagian dari banyak perkembangan gerakan feminisme yang membuat mereka yang ingin kenal gerakan ini lebih jauh, jadi merasa ngga terwakili dan akhirnya menyangkal. Ironisnya perempuan Generasi Millenial garis bawah yang saat ini usianya 20-an, ada yang praktiknya feminis tapi ngga mau dan ngga bisa relate untuk klaim dirinya sebagai feminis karena, God forbid, mereka ngga mau disamakan dengan para aktivis yang suaranya lantang itu, yang terlalu keras cara berjuangnya di mata mereka.

Jangan salah paham gw ya, gw ngerti banget para aktivis garis keras ini mereka lantang karena di masa lalu pernah menyuarakan dengan keras tapi tidak/kurang didengar. Hanya, ngga semua orang bisa seperti ini, yang ngga bisa jadi aktivis mungkin kok punya cara lain. Dukungan datang dalam segala bentuk dan rupa.

Ini baru menyangkut mereka yang punya aspirasi mengenal feminisme. Sekarang coba bayangkan efeknya ini ke mereka yang kontra feminisme. Kadang gw trenyuh lihat insiden di kalangan feminis sendiri yang jadi umpan empuk kaum yang kontra, dipake untuk serang balik paham ini.

Sebagai generasi X, gw mengalami Gelombang Feminisme ke dua dan ke tiga, full swing. Sejak 3 – 4 tahun terakhir gw mencoba memahami Gelombang ke empat dengan baca beberapa buku, lihat dokumenter dan menghadiri sejumlah diskusi offline tentang feminisme. Yang terakhir ini menarik karena gw kadang berada dalam lingkungan white feminism, beberapa kali ngga mudeng dan harus banyak tanya dan tukar pendapat. Di situ gw belajar sekali lagi bahwa sekarang makin banyak sub aliran dalam feminisme. Walau fokus tetap sama tapi ada sejumlah issue baru yang muncul ke permukaan. Setelah periode ini gw mantap lagi dengan paham ini dan yakin kembali bahwa gw memang feminis hanya bukan aktivis.

Perjuangan gw mungkin ngga sebanding dengan para aktivis garis keras. Yang bisa gw sumbang sebagai imigran perempuan Indonesia di Belanda: gw mewakilkan WOC (women of colour, perempuan non kulit putih) sebagai imigran perempuan di kantor gw, beberapa pos tahunan gw di tanggal 8 Maret (Hari Perempuan Internasional) di blog ini, sejumlah pikiran di kategori thoughts/women, obrolan gw sama temen-temen dan uneg-uneg ini.

Kembali ke esensi paham feminisme yang ada di kepala gw: perempuan berhak memutuskan apa yang dia mau dan berhak mendapat kesempatan yang sama seperti lelaki dalam sosial, ekonomi, hukum, politik dan bidang lainnya. Kesetaraan gender, gender parity. Untuk kalian: perempuan tua muda, sekolah, kuliah, kerja, wiraswasta, Ibu Rumah Tangga; selama kalian memutuskan apa yang kalian mau dan punya hak dan kesempatan sama seperti lelaki dan kalian bisa punya pilihan sendiri, kalian itu sebetulnya feminis.

Di bawah ini beberapa poin yang gw pegang yang pingin gw bagi di sini:

  • Feminisme bukan gerakan yang tabu. Banyak hal yang perempuan bisa nikmati sekarang antara lain: hak pilih-dipilih dalam politik, pendidikan, cuti haid, cuti hamil dan hal yang kita take for granted. Ini semua buah perjuangan para feminis di Gelombang I & II.
  • Jadi feminis bukan otomatis (harus) jadi aktivis.
  • Feminis berjuang melawan patriarki tapi bukan benci lelaki. Kita bisa ko-eksis, hidup berdampingan. Gw feminis yang bahagia menikah dan punya anak.
  • Feminism gerakan untuk kesetaraan gender bukan berarti perempuan ingin menjadi (seperti) lelaki.
  • Dalam tulisan ini gw menyuarakan uneg-uneg pribadi. Mohon catat bahwa ada sejumlah aliran dalam feminisme yang kadang berbeda jauh cara pandangnya, kadang ada yang tumpang-tindih kepentingannya. Walau begitu semua aliran ini fokusnya sama: kesetaraan gender. Pada akhirnya menurut gw lebih penting satu paham dipraktikkan daripada paham itu hanya ditulis sebagai klaim tapi ngga ada outputnya di dunia nyata sama sekali. Dan tolong jaga agar paham yang diyakini ngga jadi dogma. Jalan masih panjang sisters. Salam!

    Gambar: Freepik

    7 thoughts on “Uneg-uneg tentang feminisme

    1. Banyak yang belum paham bahwa feminis != membenci laki2. Selain itu aku lihat beberapa feminis yang chill dan membahas isu2 penting dengan humor (e.g. The Guilty Feminist podcast) – di sini aku malah belajar banyak dan ga merasa harus “perfect”. Tapi ada juga feminis yang terkesan arogan, sombong bahwa dirinya lebih tahu. Yang seperti ini membuat orang yang ingin tahu feminis/ragu tentang feminis malah enggan diskusi karena sudah ada “tameng” negatif.

      • Yup, makanya aku tulis ini. Makin ke sini aku makin cocok ke sub paham moderate feminism Gy. Apalagi sejak makin bertambah issue yang diusung feminisme di dekade terakhir ini.

    2. Mbak Lorraine, aku perempuan dan masih kepo dengan feminism, soalnya kadang aku ngerasa ada beberapa hal yg nggak pas aja gitu. Aku ngerasa blognya Mbak sangat komunikatif dan gampang dicerna.

      Aku minta pendapatnya dong, Mbak. Kan feminism itu untuk menyamaratakn gender agar wanita SETARA dg pria. Bukan bertujuan agar wanita MENJADI SEPERTI pria.

      Nah gini Mbak, misalkan nih di kantorku kalau ada tugas lapangan di daerah terpencil (gak ada sinyal, medan berat, nyebrang laut yg ombaknya besar), biasanya dikasih ke pegawai pria. Alasannya karena pria lebih kuat secara fisik daripada wanita.

      Trus ada pegawai pria yg bilang: “Jaman sekarang tuh bullshit cewek2 yang ngaku feminis. Katanya wanita minta setara sama kayak pria. Tapi minta setara yang bagian enak2 aja. Giliran yg susah2 dikasih ke pria.”

      Itu kalau menurut Mbak gimana? Soalnya aku juga jadi mikir “bener juga apa yg temenku ini bilang”.
      Seolah gerakan feminism jadi ajang egoisme wanita buat minta yang bagian enak2nya aja. Giliran yang gaenak, kasih ke pria aja, gitu.

      😫😫😩

      • Hai Haidar,

        Salam kenal. Saya setuju dengan pegawai pria di kantor kamu. Ya kalau perempuan klaim feminis menurut saya dia harus konsekwen dengan apa yang diperjuangkan, artinya ngga perlu perlakuan istimewa dari kantor. Misalnya ada yang menuntut ini menurut saya kok hipokrit ya. Ini menurut saya termasuk kesetaraan gender; menuntut gaji sama dan diperlakukan sama, ya harus terima ini tanpa hak-hak istimewa yang ada karena beda gender.

        Ada satu perkecualian misalnya si pegawai wanita sedang hamil di mana kondisi fisik ngga memungkinkan dan risikonya cukup besar ya.

        • Sebenernya kalau turun lapangan ke tempat terpencil, honornya juga beda, Mbak, daripada turun lapangan di tempat yang gampang.
          Cuman, gak semua pegawai wanita punya kekuatan yg sama (ada yg takut, ada yg gabisa bawa motor, dll), jadinya kalau yg medan berat emang mayoritas dilimpahkan ke pegawai pria, dan “beberapa” wanita yang tampak kuat.

          Terus, kesimpulanku jadi begini Mbak, sebenernya feminism belum bisa diterapkan secara universal ya, melihat fenomena seperti di kantorku itu?

          Karena kalau misalkan mau diterapkan, kasihan juga pegawai wanita yang mungkin emang gak mampu buat turun lapangan ke medan berat.

          Anyway, makasih banyak Mbak Lorraine sudah bersedia jawab. 🙂

    3. Suka banget point ketiga. Industri tempat aku kerja adalah industri kaum Adam karena lebih banyak pegawai lelaki daripada pegawai perempuan. Apalagi di jajaran manajemen dan decision makernya. Dalam hal ini masih banyak sekali joke patriarki yang sering keluar dari mulut kolega2ku.

    Tell me what you think

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s