about me / Bahasa Indonesia / Living in NL / Thoughts / Women

Berteman di usia dewasa bagian 2

Di bagian 2 dari seri blog pos berteman di usia dewasa gw akan bahas tentang pertemanan di rantau dengan sesama orang Indonesia. Perantau di luar negri itu ada yang ikut partner/suami/istrinya yang orang lokal, mahasiswa, ex mahasiswa yang setelah selesai kuliah bekerja dan menetap dan pekerja.

Di Indonesia di kampung sendiri kan ada teman sekolah, teman main, tetangga, rekan sekerja dan lain-lain. Dari merekalah kita bisa kenal orang lain. Tantangan pertama pertemanan di rantau itu adalah semua harus mulai dari nol. Mulai dari cari kenalan, memperluas jaringan kenalan, kemudian ada beberapa orang yang nyangkut jadi teman.

Mahasiswa Indonesia yang merantau biasanya disambut dan dibimbing komunitas Indonesia yang menetap di kota mereka studi. Ada jaringan resmi seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) atau informal seperti perkumpulan tertentu dengan aktivitas menarik. Ini gw ngga akan bahas lebih lanjut karena gw imigran.

Sementara perantau imigran cinta seperti gw ini kontak dengan orang Indonesia kebetulan (kenalan lewat gereja Indonesia di Belanda) atau cari sendiri. Di era media sosial sekarang ini, sudah banyak grup – grup imigran di negara tertentu. Sejumlah orang bahkan sudah jadi anggota grup online ini bahkan sebelum mereka pindah ke negara tempat tinggal partnernya ini. Setibanya di sana, mereka akan kopdar dan kenalan.

Di Belanda cari kenalan sesama orang Indonesia di sini ngga susah. Banyak sekali orang Indonesia tinggal di sini baik karena partner maupun mahasiswa. Kenal dengan satu orang, layaknya karakter orang Indonesia yang kolektivismenya kental, biasanya akan dikenalkan ke orang-orang Indonesia lainnya lebih lanjut. Otomatis jaringan kita akan makin luas, kenal makin banyak orang.

Ada dua faktor yang penting dalam bonding sesama orang Indonesia di negeri orang: ngobrol dalam bahasa Indonesia dan makanan! Pengalaman gw pribadi di tahun-tahun awal gw tinggal di sini, pingin banget punya teman baik orang Indonesia. Cuma beberapa tahun kemudian gw sadar, makin bertambah umur gw semakin kritis.

Lagipula agak sulit untuk punya teman orang Indonesia di rantau seperti layaknya dulu punya teman dekat di Indonesia. Ini ada faktor untung-untungan. Gw ngga memaksa diri untuk berteman dengan orang Indonesia di sini hanya karena dia orang Indonesia. Tolak ukur gw kalau gw tinggal di Indonesia gw ngga akan berteman sama dia, kenapa musti paksa diri untuk bergaul sama orang itu di sini hanya karena dia orang Indonesia?

Kalau kangen makanan Indonesia dan kumpul-kumpul untuk ketawa bareng, ya sesekali gw ikutan acara makan-makan gitu. Pahitnya kenyataan adalah justru di acara seperti ini gw makin sadar kenapa gw ngga bisa berteman dengan beberapa stereotype orang Indonesia yang tinggal di negri barat dan punya partner/suami orang kulit putih. Ada masa-masanya gw ketemu stereotype bini bule (sttt, bukan si Ailsa si binibule yang tinggal di Dublin ya he..he..) dan kadang gemes. Masa-masa gemes ini sudah lewat, prinsip gw selama ngga ganggu gw pribadi, dibawa santai aja. Toh mereka ngga merugikan gw.

Dan menariknya kadang di kesempatan ketemu orang-orang Indonesia ini gw kenalan beberapa orang yang satu frekuensi sama gw, yang juga ikutan acara kumpul-kumpul ini karena makanan. Pernah gw kenalan sama satu orang Indonesia, ngobrolnya nyambung. Kami berdua bahas hal ini, di mana gw kadang merasa misfit karena ngobrol ngga selalu nyambung dengan beberapa orang Indonesia di sini, punya prioritas lain bukan hanya fokus ke barang mewah sebagai bagian dari identitas diri dan prestise dst..dst..

Kesimpulannya adalah komunitas Indonesia itu majemuk, bermacam ragam orang, beda latar belakang dan sifatnya. Yang sering beredar dan menonjol ya yang suka sosialisasi, sementara yang lain memang memilih ngga ke permukaan, jarang datang ke acara kumpul-kumpul, jadi ya kapan kenalannya ya. Walau begitu gw punya beberapa teman orang Indonesia hanya ngga satu kota tinggalnya. Gw memang sengaja membatasi berteman dengan orang Indonesia setelah tinggal hampir 24 tahun di sini, gw tahu lah asam-garamnya.

Berikut ini beberapa tips dari gw untuk pertemanan sesama orang Indonesia di rantau.

  • Saring kenalan orang Indonesia yang berpotensi jadi teman menurut kriteria loe ya. Luangkan waktu untuk kenal dia lebih jauh. Ingat pertemanan itu juga investasi waktu dan energi. Kalau cocok, berbahagialah. Semoga pertemanan loe dan dia awet.
  • Hati-hati dalam bergaul. Jangan terlalu naif cepat percaya dengan kenalan baru di negri orang. Pakai waktu secukupnya dalam tempo yang loe nyaman untuk mengenal orang lebih jauh. Jangan desperate langsung cap kenalan itu teman, adik/kakak/ibu angkat no matter seberapa hangat perasaan loe kalau lagi bersama mereka.
  • Kuasai diri dalam bergossip. Lingkup pergaulan komunitas di satu negara itu sempit apalagi dengan adanya media sosial. Satu blunder, akan tersebar di komunitas Indonesia di satu negara tersebut, kadang beritanya lintas negara, akan sampai di komunitas Indonesia di negara lain.

Tiga tips gw di atas ini sebetulnya tips pertemanan pada umumnya hanya gw bagi di pos ini sebagai highlight sebab sangat relevan dengan pertemanan di rantau. Di bagian lain dari seri blog pos ini gw akan bahas berteman di rantau dengan orang lokal. Stay tuned!

Featured image dari Freepik

Advertisements

16 thoughts on “Berteman di usia dewasa bagian 2

  1. Salam kenal dari Swedia, Mbak!

    Membaca tulisan ini membuat jadi ingin komentar karena pikiran saya persis sama tentang pertemanan dengan orang Indonesia disini. Setelah menetap 18 tahun di Swedia juga amat sangat jarang kumpul-kumpul. Sengaja membatasi karena berbagai alasan.

  2. Saya nggak tinggal lama sih di barat. Tapi dari pengalaman saya dependensi beberapa org (tdk semua) sgt tinggi. Jadi kl sedikit obsesive. Kl kitanya mau”lepas” kdg sgt drama. Seolah2 kl darurat akn tergantung mrk. Lha memang kita hidup di pulau tak berpenghuni apa. Tp yg sadar dan membaur dg lingkungan biasanya lebih rileks. Imbang2 saja seharusnya ya..

  3. So on point. Pernah coba berteman dengan beberapa orang Indonesia tapi ujung2nya “gagal” terus2an disini, akhirnya ya sudahlah, teman ya teman, ga perduli kebangsaannya apa. Lagian di Indonesia kita juga pilih2 teman, ga bisa disini bertemen sama orang hanya gara2 mereka orang Indonesia

  4. Mencari teman, apalagi orang Indonesia itu butuh proses panjang. Setuju sekali dengan semua tips di atas. Menjadi terlalu naif bisa berakhir jadi omongan satu komunitas di Irlandia, atau bahkan sampai ke negara tetangga. Bersyukur banget bisa ngobrol soal ini sama Mbak Yo sebelum pindah ke Irlandia, jadi siap mental.

    Cari temen orang Irlandia di sini susah, karena rata-rata mereka sudah punya teman sejak kecil. Temen-temenku sekarang banyak dari negara tetangga, yang penting enak diajak ngobrol dan beraktivitas.

    • Ah sempet ngobrol ini ya kita waktu itu. Bagus kalo ada manfaatnya untuk kamu. Nanti tak tulis pertemanan di rantau dengan orang lokal ya.

  5. Aku lagi mengalami fase krisis teman nih. Sebenernya kayaknya sejak dulu tapi baru sekarang berasanya. Kalau mau cari teman orang Indonesia lebih susah lagi apalagi yang sebaya denganku karena kebanyakan dari mereka hanya tinggal sementara disini dan bisa dipastikan akan pulang ke Indonesia. Belum lagi kalau kepribadiannya beda, misalnya dia suka gosip sementara aku nggak. Susah banget cari teman yang seumuran, situasi hidupnya sama, dan gak akan kembali ke tanah air dalam waktu lama. Kalopun nemu, belum tentu cocok. Jadinya sekarang aku enjoy aja menikmati semuanya sendirian atau sama partnerku.

  6. awal pindah kesini juga antusias banget bisa kenal sesama WNİ, tapi yaitu..selektif pilih teman juga emang penting, saya pernah keseret masalah rumah tangga orang, gara2 awal mereka nikah, kita berdua yang banyak bantu2, giliran ada problem lah kebawa2, sejak saat itu mulai pilih2 pertemanan, skrg udah pindah di kota kecil nyaris ga ada org indonesia lg yang dikenal,kecuali komunikasi via sosmed aja. tapi perasaan jadi lebih tenang ya heheh

  7. Aku sekarang ada beberapa teman dekat. Yang Indonesia cuma bisa dihitung pakai satu tangan… baru dua hari yang lalu aku bilang sama suami Mbak, kalo aku seneng sekarang bisa berteman dan menikmati my own company, dibandingkan dulu rame2 terus tapi nggak bisa ke mana2 sendiri. Sekarang aku senang keluar sendirian, menikmati waktu sendiri, kalau mau bersosialisasi ya dengan teman dekat yang jumlahnya sedikit tapi memang dekat.

  8. Yah memang begitulah cara berteman, dan ini kan tipikal kalo kita pindah kota… apalagi negara, selalu susah untuk cari teman yang klop. Jadi by the end of the day, ga perlu tergesa-gesa tuk cari temen yg cocok, dan itu mungkin butuh waktu yg lama, mungkin bertahun-tahun…. 😦

Leave a Reply to Lorraine Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s