about me / Bahasa Indonesia / Friendship / Thoughts

Berteman di usia dewasa bagian 1

Dalam salah satu pos gw di Blogspot awal gw ngeblog (tahun 2004an) gw pernah tulis bahwa berteman itu seperti pacaran. Pilih teman itu buat gw pribadi seperti pilih pacar, maunya tentu yang cocok dan untuk jangka waktu panjang. Sama seperti pacar yang akhirnya jadi pasangan hidup sampai maut memisahkan, gw pilih teman tentu dengan maksud jadi FF = Friend Forever. Ini maksudnya, hanya prakteknya kadang lain.

Semua orang berubah. Jadi wajar kalau teman yang loe rasa dekat, di mata loe dia berubah. Loe juga berubah kok, mungkin ngga sadar tapi evolusi itu nyata adanya. Pandangan dan tingkah laku kita berubah seiring dengan lingkungan kita. Kalau begini, merasa teman loe berubah atau loe yang dibilang berubah, akhiri aja hubungannya. Ngga pake drama bisa kok, kan udah dewasa.

Oh ya, di atas gw tulis bahwa gw pilih-pilih dalam teman. Ngga usah segan sih untuk pilih teman karena pertemanan itu juga untuk kesejahteraan dan kebahagiaan loe pribadi. Pada umumnya kalau bilang pemilih dalam berteman itu di Indonesia dicap sombong padahal ngga sih. Di Indonesia kalau gw lihat ya untuk kebanyakan orang, semua orang yang mereka kenal disebut teman sementara ada tingkatan sebagai berikut: kenalan, kenalan online, kolega/teman sekelas/sekampus, teman, teman dekat, sahabat. Gw kalau baru kenal orang kontak/ketemu sampe dua atau tiga kali, terus seperti ada lampu oranye menyala di kepala gw. Gw ngga kontak lebih lanjut. Lampu oranye ini bagian dari lampu merah ke kriteria yang gw pasang dalam seleksi berteman. Tiap orang punya kriteria ini, tiap orang kriterianya berbeda dalam memilih teman.

Walau gw memilih dalam berteman tapi gw berusaha selalu ramah ke semua orang. Berteman untuk gw artinya menghabiskan waktu bareng, ada klik dalam arti beberapa punya beberapa minat yang sama, saling perhatian, saling dukung di kala duka, ikut senang di kala suka. Nah dari spektrum ini ada beberapa hal detil penting yang gw perhitungkan dalam berteman. Gw cari teman yang sebanding, ngga hanya iya iya aja ke gw, berani tegur gw. Dan sebaliknya dia ngga keberatan gw begitu ke dia.

Di umur gw yang sudah lewat setengah baya ini ada 6 lah kira-kira teman gw yang seperti ini. Gw bisa jadi diri sendiri di sekitar mereka. Setelah ketemu atau kontak mereka gw biasanya dapet energi. Yang 6 ini temen gw di sini ya. Yang seminggu sekali kontak. Mereka tinggalnya satu kota dengan gw dan ngga semuanya orang Indonesia. Nanti gw bahas deh tentang pertemanan di rantau.

Pos ini rencananya akan berantai karena bahasan tentang pertemanan itu tiada habisnya. Ada beberapa tema menarik yang gw akan bahas di bagian-bagian selanjutnya.

Penutup bagian pertama pos ini gw hanya mau bilang: kalau loe rasa dekat sama orang dan lihat dia sebagai teman loe, tapi dia ngga. Ya udah, no hard feeling. Ini bukan tentang loe atau dia. Kan gw bilang di atas, berteman itu seperti pacaran. Harus ada reaksi kimianya, supaya klik! Kalau dicuekkin orang yang loe anggap teman (mau ghosting atau apa lah istilah anak sekarang), lanjut aja hidup loe tanpa dia. Lebih baik fokus waktu dan energi loe ke orang yang mau bergaul sama loe, ok?

Gambar dari Freepik

27 thoughts on “Berteman di usia dewasa bagian 1

  1. Setuju Mbak Yo dengan tulisannya. Makin nambah umur, aku makin santai tentang konsep pertemanan. Apalagi di tanah rantau. Saking santainya, bener2 bisa dihitung jari yg namanya temen. Jarang banget yg namanya kumpul2. Tapi ya gpp, dari dulu memang akunya sudah pilih2 ttg teman. Mendahulukan kualitas dibanding kuantitas.

  2. bagian ‘kadang kita anggap dia -sesuatu- bwt kita eh tapi dianya enggak’ sedihh akutuu

  3. Ya..memang sih semakin bertambah usia ada kecenderungan sedikit teman. Apalagi bila sdh berkeluarga fokusnya jadi beda. Setelah anak besar ada yg cari2an lagi. Kemampuan sharing dan sosialisasi juga berdampak besar bagi kesehatan seseorang. Di Jepang para lansia ada yg dipaksa keluarganya utk tetap aktif bergaul dalam komunitas..mencari teman.

  4. Bener Mbak, makin lama makin santai soal pertemanan, dan makin picky. Kalo orgnya ga mau temenan yaa santai aja, masih ada yg lain. Udah ga ada energi & waktu buat drama2an ๐Ÿ˜„

    • Ya betul. Masih ada orang yang menghargai kita daripada orang yang kita anggap teman tapi ternyata kita bertepuk sebelah tangan.

  5. Mba Yoyen, ini temanya menarik banget, seneng bakal ada kelanjutannya. Karena menurutku setelah tinggal di rantau ternyata berteman itu ternyata ga gampang.
    Setuju bahwa makin bertambah usia makin santai menyikapi pertemanan. Pernah mengalami kita anggap dua sesuatu ternyata dia anggap aku bukan sesuatu. Dan begitu pula sebaliknya. Untungnya sekarang bisa menyikapinya dengan lapang dada jika ada goresan dalam pertemanan ๐Ÿ˜Š

  6. boleh dibilang ketika di rantau agak picky, kenal banyak teman akhirnya yg deket cuma 1,2..yang lain selewat aja, meski nge grup di WA tapi ga deket2 jg, ngobrol cuma kadang basa basi busuk:D jg ada. seiring umur yang dicari kualitas pertemanan bukan kuantitas lagi.

      • dulu di istanbul lumayan besar ada perkumpulan di sisi asia dan juga di sisi eropa nya, per 2019 ini pindah ke kota kecil yang ga ada orang indonesianya sama sekali, jadi 6 tahun disana cukup lah mengenal..krn sering kumpul2 juga

  7. Semakin umur bertambah, circle pertemanan semakin kecil dan aku merasakannya sendiri. Menariknya, sejak 2016, aku nambah banyak teman perempuan. Padahal, dulunya, temanku banyakan laki-laki.

  8. Memang betul ya, Mbak.. seiring waktu setiap orang berubah. Baik itu kitanya, maupun teman kita. Terasa banget kurang lebih dalam sepuluh tahun belakangan, masa kuliah, lulus, kerja, berkeluarga, kuliah lagi, dst.. ada yang masih jadi sahabat, ada yang temenan biasa, dan ada yang udah nggak kontak lagi. Makin ke sini ya yang bikin nyaman aja. Quality over quantity. Hehe..

    • Menurutku pertemanan itu erat hubungannya dengan fase hidup, umur dan kedewasaan kita. Makin tua makin sadar diri dan tahu apa yang mau dan ngga mau dari pertemanan makanya jadi quality over quantity Cha.

  9. Postingan ini membawa kenangan ke masa remaja, ketika Nyokap ngasih wejangan panjang soal berteman. Jaman itu, masih belum punya banyak pengalaman hidup, jadi gak ngeh dan peduli dengan konsep pertemanan. Saat itu, temenan ya sama siapa saja. Di tengah pertamanan ketemu yang aneh-aneh, ditusuk dari belakang, dikhiniati, teman aneh, hingga emang yang gak klik.

    Semakin ke sini jadi semakin ngerti, bahwa pertemanan itu proses panjang seumur hidup. Di tengah pertemanan yang sudah terbangun lama pun masih bisa bubar di tengah jalan.

    • Aku rasa ya Tje secara umumnya kedewasaan dalam berteman itu erat hubungannya dengan fase hidup dan umur kita. Seperti di masa young adolescence kebanyakan orang mau punya teman banyak. Memang masa itu masih ada waktu untuk memelihara pertemanan. Ini secara umumnya tapi ngga semua orang gini ya. Makin tua makin selektif karena waktu juga dipake untuk urusan kerjaan, keluarga dll. Ini hanya dari waktu belum juga dari kepribadian. Ngomong begini ngga pernah habisnya. Menarik interaksi orang itu ya.

  10. Waktu berlalu manusia pun berubah, beberapa dulu menjadi kawan baik kmudian semua berubah krn pindah negara, punya keluaraga dan kayak kita bukan lagi bagian dari hidupnya. berteman itu jg bagian dr jodooh, kalau saya berteman baik dengan seseorang saya jg berusahaa kenal dg keluarganya. Tapi saya jg punya kategori pertemanan, seperti: sekedar kenal, teman biasa, teman baik & sahabat.

  11. Tulisan yang sangat bermakna. Kadang emang kita terlalu ego hanya melihat perubahan orang tanpa melihat bahwa kita juga berubah.

Leave a Reply to Justisia Nita Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s