about me / Bahasa Indonesia / Indonesia / Language / Social Media / Thoughts

Perihal sobat miskin

Untuk yang lumayan aktif di dunia maya Indonesia mungkin pernah dengar tentang sobat miskin.ย Sobat miskin itu awalnya berupa sindiran ke mereka yang berusaha panjat status sosial di dunia maya dengan pamer barang/gaya hidup mereka padahal kenyataannya sebaliknya. Dua kata ini fungsinya sebagai satire menyindir para pemanjat status sosial.

Kemudian muncul konteks penggunaan sobat miskin sebagai ungkapan untuk menyatakan ketidakmampuan membeli beberapa barang mahal (kebanyakan gawai, sepatu, baju, tas, makeup) merk terkenal, gaya hidup mewah seperti liburan dan makan/minum di tempat tertentu. Mulai dari poin ini gw lihat makin banyak yang dengan mudahnya menyebut diri sendiri sebagai sobat miskin. Konteks ini yang menggelitik gw untuk tulis pandangan tentang fenomena tersebut.

Selama kita masih punya baju untuk dipakai, ada atap di atas kepala untuk beristirahat (rumah/kamar indekos/apartemen) dan tiap hari masih bisa makan 3 kali, ya ngga termasuk kategori miskin menurut standar umum. Kadang nilai nominal yang diterapkan untuk mengukur 3 kebutuhan pokok ini berbeda tiap daerah menurut demografisnya. Walau begitu prinsipnya sama: ada tempat tinggal, bisa makan 3 kali sehari dan berpakaian layak. Yang ngga punya satu dari 3 hal ini, itu kaum miskin.

Kadang ada yang membandingkan kemampuan finansialnya dengan orang-orang yang tingkat kemampuan daya beli tiga sampai sepuluh kali di atas dia, ini perbandingan yang timpang, ngga realistis.

Pernah 2 tahun lalu gw ngetwit tentang La Cucina Povera, istilah dalam kuliner Italia berasal dari hidangan orang miskin beberapa abad lalu. Gw ngetwit: untuk orang yang sekarang makan spaghetti aglio d’olio di kafe, FYI dulunya hidangan ini makanan orang miskin di Italia. Sejarahnya kaum papa di Italia masa itu saking miskinnya mereka ngga bisa beli tomat dan keju Parmesan jadi hanya makan pasta dengan minyak zaitun dan bawang putih.

Menariknya ada beberapa yang menyahuti twit gw, komen tentang penggunaan kata miskin di twit ini. Yang gw tangkap sepertinya ada tabu di kata miskin. Sejumlah dari yang nyahut ini usul untuk tulis kismin daripada miskin, supaya ngga menyinggung orang ngga punya mbak. Gitu kata satu follower gw. Hmm, eufemisme.

Lucunya walau ada tabu untuk sebut kata miskin seperti contoh di atas di sisi lain makin banyak yang sepertinya (tersirat) bangga klaim mereka sobat miskin di Twitter. Ini kontradiktif, bertentangan tapi menarik sih buat observasi untuk dibahas di sini. Penggiat Twitter yang bangga klaim mereka sobat miskin itu gw lihat merupakan bagian dari massa kolektif yang anti sejumlah selebtwit, selebgram yang di mata mereka pamer kekayaan di jalur cepat dunia maya.

Narasi mengaku sobat miskin dan bangga ini tampaknya punya fungsi sebagai alat pemersatu golongan ini. Menarik ya bagaimana satu frasa konteksnya bisa bergeser, makanya gw tulis di sini sebagai pencinta bahasa. Seru sih diamati dari sudut sosiolinguistik.

Banyak yang bilang ah pakai istilah ini hanya guyonan. Sobat miskin itu hanya istilah trendy. Dan seperti yang memang kejadian, sebagian orang ngga mau ketinggalan trend, jadi mereka pakai ungkapan dua kata ini. Ya memang itu hanya kata-kata tapi jangan lupa the power of words, kekuatan kata-kata.

Jika terlalu sering cap diri sendiri sobat miskin, lama-lama otak kita mungkin akan percaya kita miskin. Apalagi selama tolok ukurnya itu dengan orang yang kekuatan finansialnya setara dengan golongan tingkat paling atas di perekonomian.

Padahal sebetulnya kita ngga miskin, bahkan masih banyak orang lain yang lebih kekurangan daripada kita. Ada kemungkinan juga akhirnya kita akan kasihan ke diri sendiri, ini bisa jadi pembenaran atau mengekang untuk maju.

Yang mencibir baca pos ini dan mencap pandangan gw berlebihan, ya kita beda pandangan. Gw pribadi risih aja baca orang-orang yang klaim sobat miskin di internet dengan telepon pintar mereka. Telepon pintar kan barang tersier, bukan kebutuhan pokok.

Uneg-uneg ini gw tutup dengan, klaim sebagai sobat miskin dan bangga itu kok sepertinya kurang bersyukur ya atas apa yang loe punya walau pun berdalih ini hanya guyonan. Agak trenyuh juga sih gw lihatnya. Eh tapi, dalam bahasa gaul sejumlah istilah itu trendy dipakai dalam jangka waktu beberapa bulan bahkan bisa terhitung tahunan. Siapa yang tahu berapa lama istilah sobat miskin akan bertahan sebagai istilah trendy sebelum hilang atau sebaliknya, malah bertahan lama.

Gambar dari Freepik.

Advertisements

25 thoughts on “Perihal sobat miskin

  1. Uraian yang menarik mbak Yoyen. Aku terus terang baru kali ini dengar/ baca istilah sobat miskin, kirain tadi membahas sobat miskin dalam arti harafiah ๐Ÿ˜ƒ

    • Makasih Beth. Istilah ini populer di Twitter. Kadang ada beberapa orang yang pake ini di Instagram juga. Ini traitnya aku sebagai anak sastra, dibahas seperti ini ๐Ÿ˜€

  2. Aku br tau asal muasalnya timbul istilah sobat miskin.. Kupikir emg buat lucu2an aja bagi yang kepengenan barang mahal tapi masih sayang duit.. Walau aku belum tentu bisa beli barang2 mahal itu, saat disapa sobat miskin, aku gak pernah merasa tersapaa.. Soalnya aku kayaaa.. Hahaha.. Definisi kayaku mirip spt definisi Mbak Yoyen asal punya tempat tinggal, pakaian yang layak, dan bisa makan aku merasa kayaaaa.. Pas aku msh kecil, ekonomi ortuku sempat sulit sampai aku hrs makan makanan yg aslinya gak kusuka.. Tp di saat spt itu pun aku gak mau ngaku miskin, cm kurang leluasa aja..

    • Ya Nit. Yang aku lihat malah orang yang betul ngga punya itu ngga bangga sebut diri sendiri miskin. Sama sebaliknya dengan orang kaya (banget) yang malah segan mengaku mereka kaya. Aku pribadi merasa cukup dengan yang aku punya sekarang, ngga kaya dan ngga miskin secara materiil ya.

      • Sbnrnya klo scr objektif aku pun br sekedar cukup, apalagi msh dlm keadaan susah nabung gini.. Cm klo inget masa2 tidak leluasa itu: yang itu jd cukup, yg skrg jadi kaya (hahaha, jd distorsi).. ๐Ÿ˜‚ ๐Ÿ˜‚

        • Ya, ngga apa Nit, itu kan perasaan kamu pribadi. Aku lihatnya kamu bersyukur dan memang sudah lebih maju kondisi kamu sekarang dibanding di masa kecil kamu dulu. Bagus ๐Ÿ‘๐Ÿฝ

  3. Aku sangat sependapat dengan hal ini Mbak Yo. Makanya aku selama ini (seingatku) tidak pernah menuliskan ttg sobat miskin, dalam konteks apapun. Guyonan, sindiran, sarkas, ataupun beneran. Terus terang sama, aku risih. Anggap mungkin aku terlalu serius, tapi bagiku, perihal menuliskan sobat miskin tidak nyaman untuk kubaca. Dan akupun tidak pernah memberikan komentar siapapun yg menuliskan hal ini (terutama di Twitter), karena balik lagi, aku merasa tidak nyaman membacanya. Jadi selalu kulewati saja.

    • Sama Den. Secara umum aku ngga selalu ikut trend bahasa gaul sih, ngga pantes dan ngga ngena rasanya. Mungkin karena aku tinggal jauh dari Indonesia atau mungkin karena latar belakangku yang suka bahasa, ngga tahu deh. Ngga pernah sreg ikutan pake istilah yang lagi in gitu.

  4. Rata2 mereka yang ngaku “sobat miskin” kan sebenernya kelas menengah (bahkan atas) yang mampu beli sneakers jutaan mbak. Cuma sok humble aja, ngaku miskin. Mungkin panutannya selebgram yang barangnya bagus2 dan jalan2 melulu. Most of the times aku rasa ya sekedar becanda, dan beneran gak kepengen miskin. Aku jadi ngerasa bersalah karena lumayan sering ngomong “kismin”. Hahaha…

    • Ya, makanya aku tulis pos ini. Kebanyakan yang pake istilah ini sebagai sindiran itu kan ada kemampuan finansialnya juga. Istilah ini ada fungsi lain, sebagai bonding tool kalo aku lihat.

  5. Baiklah mulai sekarang aku mau pakai #sobatbersyukur karena aku #sobatborju. eh istilah borju kemana ya sekarang…

    • Yang pake istilah borju itu generasi X, udah tua. Yang sekarang lagi di prime mereka kan generasi di bawahnya, generasi millennials & generasi Z.

  6. Tulisannya keren Kak. Dan sayangnya banyak orang yang masih belum sadar bahwa becandaan ini kadang akan terekam di bawah sadar kita dan ya jadilah miskin beneran atau nggak bisa maju karena self belief walaupun ‘becanda’ yang melabeli diri sendiri sobat miskin. Aku dari awal denger istilah ini nggak suka dan nggak setuju.

  7. Semua berasal dari obsesi berlebih terhadap suatu barang atau lifestyle. Padahal, bahagia tidaknya kita, bukan karena nominal yang dikeluarkan. Lebih kepada kepuasan yang didapat.

  8. Pendapat pribadi nih, buat aku enggak apa-apa tuh dibilang sobat miskin yang penting kaya hati ๐Ÿ’• jadi boleh dong usul namanya “sobat miskati” miskin tapi kaya hati, He3x, selamat pagi selamat beraktivitas, salam

  9. Aku udah lama gak aktif di media sosial mbak Yoyen, jadi baru denger istilah sobat miskin. Kedengarannya koq gak enak ya di telinga….

    Tapi aku setuju dgn pendapat mbak, selama masih bisa makan 3 kali sehari, ada pakaian layak, dan atap di kepala, kita bukanlah miskin ๐Ÿ˜Š

  10. ‘Sobat miskin’? Baru ngeh ada istilah ini (mungkin karena saya tidak punya twitter ๐Ÿ™‚ ) Menarik juga ya menelaah kira-kira kenapa sebuah istilah/ungkapan bisa ngetrend.. ๐Ÿธ

Leave a Reply to Agung Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s