about me / Art / Bahasa Indonesia / Film / Social Media

Isi titik – titik …..

Gw mau cerita pengalaman gw dengan 2 penggemarnya Benedict Cumberbatch di Twitter. Jadi tanggal 20 Juni lalu gw ngetwit sedikit tentang pertemanan Vincent van Gogh dan Paul Gauguin. Ini awal utasnya, sekalian gw pasang foto lukisan portretnya Van Gogh.

Ngga lama kemudian ada satu follower gw bilang gini dan gw jawab di bawah twitnya.Β Schermafbeelding 2018-07-10 om 20_Fotor

Besoknya lumayan juga ada beberapa orang yang nyahut twit ini bilang Benedict Cumberbatch mirip Van Gogh. Memang dia pernah main sebagai Van Gogh di satu film, gw udah lihat filmnya. Ngga mirip menurut gw, bentuk wajah Benedict Cumberbatch terlalu panjang sementara bentuk wajahnya Van Gogh seperti hati (dagu lancip).

Ada dua orang non-follower gw yang ngobrol di thread ini. Kalau ngobrol di bawah thread otomatis ya mention yang punya thread atau orang yang RT ya, kecuali loe ngga centang nama akun tsb. Intinya 2 penggemar Cumberbatch ini ngga setuju dengan gw. Gw baca obrolan mereka sambil menimbang, hmmm jawab ngga ya. Akhirnya gw jawab deh, begini.

ss twit 1

Akhirnya satu dari dua orang ini minta maaf.

ss twit 2

Weekend lalu gw pingin RT thread Van Gogh ini untuk yang baru follow gw. Kebetulan gw scroll ke bawah, ternyata twitnya dihapus jadi udah ngga ada lagi online. Gw sempet buat screenshot untuk cerita ke temen waktu baru kejadian. Akhirnya gw putuskan untuk tulis diblog.

Kenapa? Karena gw pingin kasih tahu aja, berasumsi alias isi titik….titik….di belakang satu kata bahkan satu pernyataan orang itu riskan ya. Kalau asumsinya cocok, kalau ngga? Berasumsi itu menurut gw mengisi titik kosong dengan interpretasi kita sendiri, diwarnai dengan apa yang kita tahu tentang subyek tersebut. Di hal di atas, mbak itu berasumsi gw benci Cumberbatch hanya berdasarkan satu kata: ngga.

Reaksi gw di atas itu gw pertimbangkan baik-baik sebelum ngetwit, sempet mikir jawab ngga ya karena mereka ngga follow gw. Setelah ditimbang lebih jauh lagi gw memutuskan untuk jawab karena mereka toh selagi ngobrol mention akun gw jadi gw bisa baca. Ngga sopan sih menurut gw, ngomongin gw tapi juga mention akun gw makanya akhirnya gw tegur begitu. Gw kan ngga usik idola mereka, hanya bilang ngga.

Analoginya kalau di dunia nyata, offline itu begini: ibaratnya gw lagi ngopi di warung, ngobrol sama temen gw, mereka berdua ini duduk di sebelah, denger obrolan gw, ngga setuju dengan pernyataan gw, nyahutin terus bahas gw pribadi dengan suara kenceng gw bisa denger. Berani kah mereka beneran begini offline?

Hal ke dua yang gw bahas di sini juga kelakuan fans yang membabi-buta memuja idola. Orang ngga setuju dengan mereka, ya salah satunya berasumsi. Orang bilang ngga suka dengan idola mereka dicap hater, pembenci. Ah ada beberapa penggemar figur terkenal yang tersohor membela mati-matian pujaan mereka. Gw pernah tulis mengenai fandom tahun lalu. Waktu baca obrolan dua Cumberbitches di atas gw langsung inget tulisan gw itu. Selera orang kan berbeda, ngga sreg, ngga suka bukan berarti benci ya.

Ke tiga, sebaiknya mikir panjang sebelum ngetwit atau tulis status atau update apa pun di media sosial.

Gw tutup pos ini dengan pesan untuk dua mbak penggemarnya Benedict Cumberbatch: hai, kalau kalian baca ini, permintaan maaf kalian sudah saya terima. Lain kali hati-hati ya kalau ngetwit seperti ini, siapa tahu orang yang kalian bahas secara terbuka di Twitter itu reaksinya akan lain dari reaksi saya.

Salam!

Advertisements

17 thoughts on “Isi titik – titik …..

  1. Seandainya kita gak suka sesuatu pun tidak otomatis kita benci hal tersebut. Kenyataannya, banyak orang yg menyamaratakan makna “tidak suka” (dislike) dgn “benci” (hate).. Aku pernah ngalamin hal serupa soal tata krama ngomongin orang di kolom komentar.. Ceritanya aku lagi ngobrol sama blogger A di blognya dia, tiba-tiba ada orang lain yg aku gak familiar membalas komentarku ke A, tanpa basa-basi langsung bilang bahwa yg aku omongin ke si A itu salah.. Aku bukan tak mau dikoreksi, cuma bayangkan itu di dunia nyata. Ibaratnya aku lagi ngobrol sama teman trus tiba-tiba orang asing nyamperin dan tanpa babibu bilang yg aku omongin salah.. Entahlah rasanya gak sreg aja kalo caranya kayak gitu.. Bilang permisi dulu kek atau apalah..

    • Betul, aku juga sebisa mungkin menerapkan tata cara pergaulan offline di online. Kalau berurusan dengan penggemar kelas berat seperti di atas itu susah Em, saking fandom mereka otomatis cap yang ngga setuju dengan mereka/yang pendapat lain dari mereka sebagai hater πŸ˜€

  2. hahaha
    yaa begitulah netizen twitter
    awalnya debat lalu diakhiri dengan minta maaf (kalo nyadar)
    hehe

  3. Hmmm emang ga mirip sih… Bentuk dagu terutama ya mba Yo. Btw aku Pegang Inggris nanti malam bukan berartinaku benci Kroasia (bahahaha jadi bahas bola)

  4. Kok bisa ya bilang Van Gogh sama Cumberbatch engga mirip aja langsung dikata pembenci Cumberbatch… padahal siapa tau justru pembenci si Van Gogh πŸ˜›

    Dikit-dikit hater, anak zaman now ini… pernah aku kirim private message ke salah satu teman fbku karena kalo lagi misuh-misuh doi suka pasang status dengan kata-kata yang berbau rasis/diskriminatif … padahal perasaan udah baik-baik, cuma ngingetin dia dampak dari penggunaan kata-kata seperti itu, eh, engga lama kemudian malah pasang status nyindir-nyindir gue dengan sebut-sebutan hater. Please grow up, girls.

    • Terus gimana, masih temenan sama orang itu online? Ya gitu deh, nuansa dalam bahasa kadang perlu diperdalam. Ngga setuju/punya pendapat lain = hater. Kadang saya prihatin dengan comprehension reading skill di Indonesia.

      • Ah akhirnya dia block aku dari sosmed ha ha ha, tapi untuk alasan yang berbeda. Not my loss though, itung-itung berkurang jumlah ababil dari friend list πŸ˜›

  5. Aku malah bingung bin heran sama dua netizen itu mbak, masa cuma blg nggak.. dibilang ga suka πŸ˜‚. Kadang kalo udah ngefans banget sama idol ga bs dicolek dikit ya (padahal ini nyolek aja nggak sih).

    • Yoi Dil. Makanya aku tulis, siapa tahu mereka baca. Tujuannya supaya mereka bisa belajar dari ini. Bukan hanya mereka tapi yang lain juga, para penggemar kelas berat figur tertentu πŸ˜€

    • Ya, melebar kemana-mana karena asumsi isi titik – titik dengan info pribadi Non. Untung aku kalem reaksinya kalo aku marah-marah, gimana coba? πŸ˜€

  6. Mbak Yoyen, aku pun suka menganalogikan interaksi di dunia maya dengan di dunia nyata. Misalnya ada orang post sesuatu yang kita gak setuju, trus apakah kita harus reaktif? Apakah semua hal harus dikomentarin? Kalau memang kondisinya mengharuskan kita komentar (misalnya, untuk meluruskan kesalahpahaman), bagaimanakah baiknya cara kita berkomentar? Kalau di dunia maya kita komen B, apakah dalam dunia nyata kita juga akan komen B? Ini jadi semacam kontrol juga. Karena aku liat sebagian orang kebablasan kalau komentar di dunia maya, kayak mikir.. ah gue nggak ketemu langsung sama orangnya kok (dan bahkan nggak kenal juga mungkin).

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s