about me / Bahasa Indonesia / Social Media / Thoughts

Tentang millennials

Ada beberapa artikel di media dan pandangan masyarakat yang menyamaratakan generasi millennials. Berhubung sering baca dan dengar ini, plus anak gw termasuk millennial juga akhirnya gw jadi observasi terus mikir dan tulis pos ini.

Menurut gw ngga heran kalau perhatian khalayak fokus ke millennials karena masa ini adalah prime timenya mereka. Dekade 2010an ini adalah waktu angkatan awal generasi ini mulai settle di prime mereka. Yang lahir awal 1980an sekarang umurnya sudah pertengahan 30 tahun. Sementara angkatan bawah juga banyak yang mulai meniti karir. Sebagai angkatan produktif dalam demografis sekarang ini menurut gw wajar memang kalau mereka dibicarakan masyarakat. Hanya kenapa nadanya kebanyakan negatif?

millennials

Foto: Freepik

Sepertinya ini memang pola yang sulit didobrak. Generasi di jaman prime mereka biasanya memang dituding ini-itu oleh generasi sebelumnya. Gw termasuk cohort Generation X, lahir 1972. Waktu jaman gw muda dulu akhir 1980 – awal 1990an Generation X juga dicap ini – itu oleh generasi lebih tua. Kami disebut dekaden, malas, ngga tahu tata krama dan mau cepat kaya.

Masa mudanya bokap gw jaman rock ‘n roll pertengahan 1960an – hippie awal 1970an. Hippie juga dicap ngga bener oleh generasi lebih tua masa itu. Sebelum jaman hippie dan The Beatles, Elvis Presley juga dicap tabu oleh generasi kakek nenek gw. Begitu aja terus seperti lingkaran setan. Generasi tua mencap negatif generasi muda.

Sebagai ibu-ibu dari seorang millennial di negara barat, gw kok malah lihat jadi millennials itu berat ya. Selain generalisasi negatif seperti gw tulis di awal pos ini, tekanan juga banyak.

Salah satu sumber tekanan ini untuk yang tinggal di kawasan urban adalah gaya hidup. Peran internet besar dalam hal ini. Terutama media sosial jadi panggung untuk memperlihatkan gaya hidup menurut beberapa ideal yang ada (pekerjaan bagus, bisa jalan-jalan, gaya hidup sehat, makan dan minum, bahkan juga spiritualitas). Di balik tampilan menurut ideal ini, kenyataannya hanya sebagian kecil yang bisa mencapai semua ini dalam umur mereka yang paling tua 3 dekade itu.

Sudah cukup banyak riset dan studi tentang kaitan penggunaan media sosial dengan depresi atau percaya diri yang rendah. Belum lagi pemberitaan dengan judul yang kalau ditilik lebih jauh dapat menyebabkan rasa minder, tidak percaya diri. Ini beberapa contohnya: 10 things you must do in your life, 30 before 30 list, 5 countries you need to visit dan lain sebagainya. Banyak sekali artikel tentang hal ini baik di media resmi mau pun di blog pribadi.

Dari segi positif ini bagus untuk motivasi ya. Di sisi lain, misalnya ada yang fokus ke hal ini hingga taraf obsesif dan ternyata dia ngga bisa mencapainya, akibatnya bisa jadi minder, kurang percaya diri bahkan depresif. Selain sebagian yang minder/kurang percaya diri, ada peer pressure; gengsi. Kalau ngga ikut gaya hidup tertentu ngga diterima kalangan teman lagi. Bisa dikucilkan dan akhirnya jadi kesepian. Ada juga yang menghalalkan segala cara untuk bisa menikmati gaya hidup seperti itu. Dan lagi, ada riset tentang ini, sila Google sendiri.

Millennials kadang dicap individualis, egois dan mementingkan diri sendiri. Gw lihatnya individualisme mereka lebih ke pengembangan diri. Berlawanan dengan mayoritas Generation X yang pikir ketika bekerja, settle, dapet kontrak kerja permanen, generasi millennials itu biasa job hopping, pindah pekerjaan. Catatan pinggir: sepertinya ini juga karena situasi ekonomi sekarang yang mana bukan otomatis dapat kontrak kerja permanen. Sepertinya millennials lebih berani kejar passion mereka. Startup (jaman gw namanya jadi wiraswasta, punya perusahaan sendiri) menjamur di mana-mana. Misalnya gagal, ya usaha lagi.

Kembali ke inti pos ini, citra negatif millenials. Kadang gw senyum baca updates millennials angkatan awal yang kritis ke adik-adik mereka yang nota bene juga millennials.  Menurut gw ya, tiap angkatan itu pasti ada deh yang tengil, yang nyebelin, yang sok tahu dan sebut lah semua hal karakteristik yang ngga bagus. Tiap cohort ada orang-orang seperti ini tapi camkan bahwa ngga semua anggota generasi ini seperti itu.

Mungkin jaman gw umur akhir belasan/awal 20an gw juga nyebelin untuk beberapa orang. Ya namanya juga young adolescent, masih cari jati diri. Jadi gw maklum aja sih kalau lihat millennnials yang muda, (pingin kelihatan) edgy dan berani. Kadang gw niat kasih tahu mereka ah tapi biar lah. Biar mereka belajar dan tahu sendiri. Gw pribadi juga ngga suka dinasihatin orang, apalagi orang asing. Gw yakin dan tahu bahwa pengalaman sendiri lebih berharga dan lebih telak dibanding nasihat orang lain. I had also learned it, the hard way.

5 tahun lagi angkatan pertama cohort Generation Z (generasi setelah millennials) akan mulai mapan. Gw harap pos ini masih ada di dunia maya dan para millennials angkatan akhir yang sebel sama Generation Z yang di mata mereka nyebelin, bisa baca ini. Ini hanya siklus sosial.

Salam dari ibu-ibu ini untuk kalian semua para millennials. Semoga perjalanan mencari jati dirinya berakhir menyenangkan dan kalian kuat menjalani hidup sebagai orang dewasa.

Advertisements

26 thoughts on “Tentang millennials

  1. iyaa selalu dengan cap anak zaman now anak millenials gini gitu. walaupun aku generasi 90’an, tapi aku rasa banyak juga kehebatan anak2 millenial ini yang gak kita punya pas seumuran mereka. Aku setuju banget sama poin startup, dan kebanyakan makin lebih berani mengkespresikan diri walau terkadang banyak juga yg salah persepsi dalam hal tersebut

  2. Ada kehebatannya generasi milennials, ada juga keterbatasannya. Di Jakarta sekarang, generasi milennials kesulitan dalam membeli property, generasi sebelumnya lebih mudah. Dari keterdesakan dan ketidak seimbangan itu, membuat generasi milennials mencari breakthrough. Breaktrough dalam bidang kultural, seni, science,teknologi, sosial, environment dan pengembangan 5G, mungkin membuat generasi ini unggul dibanding generasi sebelumnya. Bravo Millennials. Salam.

  3. Memang kebanyakan orang selalu bioang bahwa generasi sebelumnya lebih baik dari generasi sekarang (mengenai pergaulan, tata krama atau kerja keras) hanya ibuku yg pernah berkata padaku bahwa generasi dia dan diatasnya jaman muda dulu lebih heboh dan gila, hampir tiap weekend pergi dansa dansi, gonta ganti model rambut dan wig, bahkan ada temannya yg pecah ketuban di lantai dansa. Jaman rock en roll. Namun katanya walau terlihat generasi hura hura tapi mereka memang pekerja keras, bertanggung jawab dan sangat menghargai persahabatan.

  4. tapi kadang apa yg mereka timpakan ke milenial ada benarnya juga mbak, saya ngerasa, cuma emang bagusnya sebagai milenial ga perlu merespons tuduhan itu secara berlebihan karena ‘cap’ itu buat general, milenial selalu anggap diri mereka spesial kan? nah ini juga cap general

    • Memang betul. Hanya inti pos ini mengingatkan bahwa tiap generasi yang di primetimenya sekarang biasanya dikritik generasi lebih tua. Sementara generasi lebih tua waktu masa primenya juga dikritik generasi sebelum mereka. Seperti lingkaran tiada putusnya ini.

  5. Setuju mbak, di tiap generasi pasti ada aja yg dianggap tengil atau sok tau atau yg pokoknya dianggap nyebelin di mata orang 😁 dan mbak betul, belajar dari pengalaman sendiri lebih berharga dan lebih telak dibanding nasihat orang lain. Salam balik dari anak milenial buat mbak Yoyen 😁

  6. Ulasannya menarik nih, kak. Iya ya, kalau diingat-ingat rasanya memang dalam tahapan yg seperti itu emang selalu kena tuding yg negatif dari angkatan atas. Mungkin karena sudah lebih berpengalaman wkwk. Kayak dulu juga angkatanku, angkatan awal awal banget adanya medsos, selalu dibilang jadi generasi yg apatis. Mungkin atasan atas lupa kalau dulu pun pernah muda 😁

    • Sepertinya begitu 🙂 Inti pos ini mengingatkan bahwa tiap generasi yang di primetimenya sekarang biasanya dikritik generasi lebih tua. Sementara generasi lebih tua waktu masa primenya juga dikritik generasi sebelum mereka. Seperti lingkaran tiada putusnya ini.

  7. Menarik memang melihat generasi millennial. Tantangan mereka emang lebih banyak ketimbang jaman kita tapi teknologi lebih memudahkan mereka untuk akses informasi dan ekspresi. Dan perkembangan mereka mungkin juga tergantung kondisi negaranya. Di Amerika Serikat, sepertinya generasi millennial ini yang bisa membawa perubahan soal kepemilikan senjata. Tapi di satu sisi, ini gernerasi yang juga bikin tide-pod challenge 😀 (itu makan Tide-Pod getu). Guwe gak terlalu ngikutin gimana millennial di Indonesia dan Belanda sekarang. Moga-moga gak se-ekstrim di sini perbedaannya… 😀

    • Millennials Belanda ada yang nyantai, ada pula yang rajin kerja. Mereka lebih mau balans lagi kerja dan waktu luang. Enak sih kalo lihat mereka (dua ponakan laki gw angkatan awal Millennials, umurnya udah 30), nyantai tapi settle gitu. Cuma di balik nyantai gitu mereka kerja keras, work hard party hard. Millennials Indonesia gw ngga tahu. Gw rasa sih sama, ada yang ok ada yang ngga juga.

  8. Terus jd ibu2 geberasi millenial jg ada untungnya mba..kl saya masukin kategori ini,kemudahan informasi,urus2 anak tinggal buka internet,percaya atau ga saya sm suami bljr mandiin anak dr sosmed hehe krn kita jauh dr keluarga.

  9. aku generasi Y waktu prime-nya biasa liat temen2ku job hopping tapi yg start up bs dihitung jari. memang iya y milenial lbh berani start up, bs jadi krn tool skrg via internet banyak ya ky youtube dan medsos. iya bgt tekanannya besar krn budaya pamer di medsos. sbg ortu jg peer ini termasuk berat ya..anakku msh bayi aja aku udh mikir gimana memfilter ini

    • Tingkah laku dan pola pikir millennials di daerah urban antara lain terpengaruh oleh teknologi. Jaman orang tua kita (kakek mereka) kalau bisa pekerjaan hanya satu, generasi X & Y masih bisa berganti pekerjaan selang beberapa tahun. Millennials ngga puas di pekerjaannya, mulai buat startup. Mudah-mudahan nanti anak kamu besar bisa filter yang baik buruk ya.

  10. Betul milennials dari sisi dampak negatif sosmed dan kecepatan informasi itu lebih berat, mungkin Z tdk seberat mereka karena nanti akan banyak belajar dan melihat dari pengalaman milennials.

  11. Seetuju banget mba, terlepas dari ungkapan millenial atau ndak sepertinya semuanya akan kembali ke pribadi masing-masing. btw sila mampir di rasakarsadialektika.wordpress.com kalo sempat :))

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s