about me / Bahasa Indonesia / Parenting / Thoughts

Catatan untuk orang tua

Jarang sekali gw mengawali tulisan dengan disklaimer. Pos ini perlu disklaimer untuk menghindari salah paham. Nah, untuk yang niat lanjut baca catatan untuk para orang tua ini, mohon baca tulisan gw dengan pikiran terbuka. Jika tergelitik untuk komen, silakan tulis pendapat kalian.

Gambar dari freepik.com

Terusik dengan beberapa updates orang yang gw kenal maupun ngga di media sosial dan setelah pengamatan beberapa waktu, gw memberanikan diri tulis catatan untuk orang tua ini. Orang tua di sini bukan orang yang berumur lanjut tapi orang yang mempunyai anak. Walau begitu yang bukan orang tua tentu saja welcome untuk baca ini. Pos ini mengenai parenting untuk orang tua dan anaknya yang (beranjak) dewasa.

Di beberapa kultur, bukan hanya Indonesia, orang tua menentukan pilihan sekolah, pekerjaan dan pasangan hidup anak mereka. Sedari gw kecil sampe sekarang gw ibu-ibu dan punya anak remaja, gw baca dan dengar pengalaman orang yang bergumul dengan masalah ini. Beberapa tahun terakhir ini berhubung gw sendiri udah punya anak, denger tentang ini dari sudut anak dan juga dari sudut orang tua.

Terus gw jadi merenung dan mikir lebih panjang. Anak itu dasarnya tidak meminta untuk dilahirkan, orang tuanya yang mengambil keputusan untuk punya anak. Mungkin terdengar dungu  kalau gw tulis; anak itu punya orang tua. Tentu ini betul dan sangat jelas. Hal ini lah yang mendasari tindakan dan sikap orang tua ikut menentukan pilihan anaknya dalam tiga hal penting tersebut.

Ditinjau dari kacamata dan pengalaman orang tua, mereka yakin pilihan mereka berdasarkan standar mereka adalah terbaik untuk si anak. Lebih jauh lagi, beberapa orang tua merasa mereka berhak untuk ikut menentukan atau bahkan kadang memaksakan kehendak mereka ke anak mereka. Untuk jelasnya gw ingatkan pos ini bahas orang tua yang menentukan pilihan sekolah, pekerjaan dan pasangan hidup anaknya. Tulisan ini bukan tulisan yang bahas mendidik anak pada umumnya.

Orang tua yakin pilihan mereka itu hal yang terbaik untuk anaknya. Mungkin ini benar, mungkin juga ngga. Kalau anak berusaha menjelaskan ke orang tua, ia ingin memilih/menolak pilihan X tapi orang tua berkeras, ini menyebabkan konflik batin untuk si anak. Satu hal yang orang tua kadang lupa atau bahkan menolak memperhitungkan; anak itu dari umur berapa pun adalah individu yang unik. Mereka punya karakter, minat dan kemauan sendiri. Sebagian besar hal yang orang tua ajarkan ke anak, dalam nurture dan nature diserap si anak, selebihnya ada pengaruh dari pihak ke tiga seperti teman, guru, pengalaman pribadi dan sebagainya.

Ah, sebelum terlalu panjang mengurai tentang hal ini, sebaiknya gw tampilkan beberapa contoh tentang ini ya.

  • Anak usia SMA yang bingung dengan pilihan jurusan kuliahnya. Orang tuanya ingin dia memilih jurusan teknik tapi dia lebih suka dan lebih bagus nilainya di jurusan sosial. Konflik terjadi saat si bapak menegaskan bahwa semua anggota keluarga selalu kuliah jurusan teknik.
  • Satu anak dewasa, bekerja dengan sukses di kota lain dari orang tuanya. Suatu hari dia diminta kembali ke kota tempat orang tuanya tinggal karena mereka merasa kesepian. Sebetulnya dia enggan tapi ngga tega karena orang tua meminta pulang kampung.
  • ART tante gw yang diminta ibunya yang sakit parah untuk menikah dengan orang pilihan ibunya, alasannya si ibu ingin melihat dia menikah sebelum ia meninggal. Catat bahwa dalam cerita ini ART tante gw itu belum pernah ketemu dengan orang pilihan ibunya. Akhirnya dia pulang ke desanya dan menikah dengan lelaki pilihan ibunya.

Kembali ke bahasan bahwa anak, umur berapa pun itu individu yang unik dan peran orang tua menentukan pilihan dari beberapa hal penting dalam hidup si anak, gw jadi mikir gini. Sadar kah orang tua bahwa walaupun mereka bersikap seperti ini supaya anaknya mereka bahagia dan berhasil (menurut standar mereka ya) tapi si anak malah bisa ngga bahagia?

Berapa orang yang pernah mengalami situasi seperti contoh pertama dan kedua di atas dan kadang bertanya-tanya seandainya saya memilih y, hidup saya akan…? Contoh terakhir di atas itu kok menyedihkan ya, itu kisah nyata. Gw ngga mencap si ibu egois tapi menurut gw ini seperti emotional bribe. Mungkin si ibu berlaku seperti ini karena umum di lingkungannya. Akhirnya ibu mendapatkan yang dia mau; bisa lihat anaknya menikah sebelum ia meninggal dan dia senang. Hanya apakah si ibu memperhitungkan setelah itu si anak tidak bahagia menikah dengan orang yang dia tidak kenal bahkan akhirnya memutuskan bercerai dan hidup dengan stigma janda cerai?

Tulisan ini hanya catatan renungan gw. Pertanyaan yang muncul: Kalau kita sebagai orang tua sekarang, pernah mengalami hal di atas sebagai anak, apakah kita akan berlaku sama seperti orang tua kita ke anak kita? Hal ini kompleks karena ada orang tua tujuan utamanya punya dan membesarkan anak agar si anak nanti bahagia dalam hidupnya setelah dia dewasa, ada orang tua yang punya anak dan melihat si anak sebagai orang yang merawatnya di hari tua si orang tua nanti. Dua hal tersebut plus ditambah nilai dan norma dalam masyarakat: hormati orang tua, rawat mereka, jangan kualat dan membantah orang tua itu pamali/tabu, orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anak dsb.

Mohon jangan salah paham, gw tulis ini bukannya mengajak para anak berontak ke orang tua ya. Ini hanya renungan yang gw bagi di sini untuk para (calon) orang tua. Bisa jadi kalian setuju atau punya pendapat lain dari gw. Gw dan suami punya anak perempuan yang sekarang beranjak dewasa. Kita memperlakukan dia sebagai individu yang punya karakter, kemauan dan cita-cita sendiri. Kalau dia yakin dan mantap dengan pilihan dan jalan yang ditempuhnya, kemudian dia gagal, itu hidup. Hidup itu tidak selalu mulus dan berjalan seperti yang kita mau. Tugas kita jadi orang tua, mendukung dan beri semangat anak. Kita sebagai orang tua tidak hidup selamanya. Ada masanya kita akan meninggal dunia dan anak kita akhirnya harus bisa mandiri, hidup tanpa kita, orang tuanya.

Advertisements

40 thoughts on “Catatan untuk orang tua

  1. Saya mencoba mengerti dari sudut pandang Mbak Yoyen. Namun saya pribadi merasa nurut sama orang tua, selama tidak menyimpang (negatif). Kalau sesuai ya bagus, kalau gak sesuai mudah – mudahan diberi jalan keluar terbaik.

    Selama saya di posisi anak, orang tua mendidik dengan cukup ketat. Tentu dulu ada rasa sebal, jengkel, dll. Namun setelah besar, apalagi sekarang di posisi orang tua. Saya mengerti dengan pasti tujuan orang tua saya dulu. Manfaatnya baru saya rasakan sekarang. Kalau dulu saya dibebaskan tanpa aturan, entah jadi apa saya sekarang.

    • Bersyukurlah kalau kamu dan orang tua ngga pernah konflik menyangkut pilihan sekolah, pekerjaan dan jodoh kamu Frany. Aku juga sama orang tua diberi kebebasan untuk mengembangkan diri dan memilih sendiri. Tulisan ini catatan untuk para (calon) orang tua yang cenderung bersikap seperti yang aku jabarkan. Masih ada yang begini dan bukan hanya di Indonesia 😉

  2. Berhubung belum jadi orang tua, jadi komentar ini dari sudut pandang anak dulu ya… aku merasakan hal kayak gini tahun lalu waktu aku liburan ke Indonesia dan mau balik ke Belanda untuk cari kerja. Rasanya tuh merasa bersalah banget karena nekad mau meraih mimpi, sementara orangtua (oma opa dan bokap nyokap) kayak nggak rela gitu aku kembali ke NL dan mereka ngasih sindiran2 gitu. Menurutku itu nyebelin banget karena aku udah bilang ini maunya aku, tapi mereka nggak dukung dengan alasan susah cari kerja lah, nanti gaji gimana, dll. Tapi untungnya aku bikin pilihan untuk diri sendiri dan sekarang orangtua di Indonesia sudah bisa lihat aku bisa mandiri dan jaga diri baik2 di negeri orang.

    Belakangan ini papaku juga lagi galau karena dia baru aja ngirim dua adikku ke Singapura di waktu yang bersamaan. Sekali lagi karena aku di sisi anak, jadi aku ngasih sudut pandang anak ke orangtuaku. Aku bilang, si adik2 itu udah saatnya dewasa dan emang harus belajar mandiri, kemungkinan di Indonesia ngga akan bisa mandiri karena akan tinggal di rumah orangtua terus kan, maka ada saatnya orangtua harus rela ngelihat anaknya bersusah2 di dunia luar biar bisa dapat pengalaman sendiri.

    Duh, komentarnya jadi panjang…

  3. Aku mengalami banyak hal yang Mbak Yoyen sebutin di atas, aku komen dari sudut pandang anak ya.

    Seperti yang Mbak bilang, kebanyakan orang tua mikir menentukan pilihan buat anak itu hal yang wajar karena umumnya di Indonesia begini, yang kebanyakan didasari pemikiran, ‘Orang tua tau yang terbaik buat anaknya.’ Pengalamanku, seringnya ga begini. Banyak kejadian di mana kita beda pendapat dan konflik, dan mungkin waktu aku kekeuh ngikutin pilihan sendiri itu terkesan seperti anak durhaka yang suka membangkang dan ga hormat, padahal ga ada maksud seperti itu. Butuh waktu bertahun2 dan banyak kejadian baru ortu bisa lihat pilihan aku sendiri yang bisa bikin aku bahagia. Sekarang sih mereka udah legowo sama pilihan2ku (mudah2an), tapi sayang aja bertahun2 konflik itu bikin hubungan renggang sampe sekarang, belum lagi menguras emosi banget di saat2 konflik itu.

    Ortu pasti pengen anaknya bahagia ya, cuma kadang suka lupa, definisi bahagia tiap orang ga sama. 🙂 Ah, I wish my parents had read this years ago. Semoga banyak ortu yang baca ini, dan inget bahwa definisi bahagia, mimpi, dan kemauan setiap orang beda2. Bersyukur banget kalo ortu bisa diajak diskusi, berpikiran terbuka, dan kasih support di saat anak berhasil atau gagal, apapun pilihannya.

  4. Setuju sekali, aku juga di posisi anak itu selalu merasa disetir oleh orang tua jaman waktu tinggal dirumah. Aku ingin sekolah disainer grafis, disuruh sekolah teknik dst tapi untungnya sempet rebel, pindah ke Jakarta, kerja jadi jurnalis – semua tanpa restu orang tua sampe akhirnya orang tua bangga melihat byline namaku di headline koran, barulah mereka ngeh “ini lho yang aku mau dari hidupku”

    Buat aku sendiri, jadi rebel itu perlu sekali karena kebanyakan orang tua di Indonesia (disclaimernya: kebanyakan ya bukan semua) rata2 diktatur dalam menentukan masa depan anak karena mereka merasa sudah membiayai anak (anak sebagai investment, nanti kalau anak sukses, nanti juga bisa menghidupi orang tua kala mereka pensiun nanti) jadi susah buat anak untuk menentukan nasib sendiri kalau diduitin orang tua. Itulah bedanya budaya di Eropa sini sama di Indonesia. Disini usia 18 tahun sudah mandiri, ngga perlu dibiayai orang tua lagi (walaupun ada yang masih), anak juga lebih bebas berekspresi tanpa takut disetir, orang tua juga ga merasa “hilang modal”

    Susah ya memang. Dengan aku ngga mau punya anak, aku mengakhiri “warisan diktaturisme” sampai disini saja, tapi buat mereka2 yg sekarang punya anak, aku berharap posting ini setidaknya membuka mata dan pikiran, walau tetep susah buat para orang tua dengan peer pressure mereka (Anak si Anu dah jadi dokter lho etc etc)

    • Aku ngga pernah disetir orang tua karena orang tuaku memberi anak-anaknya kebebasan. Justru sekarang karena jadi orang tua dan beberapa kali denger cerita/pengalaman temen seperti pengalaman kamu ini yang bikin aku tulis pos ini. TFS.

  5. Membaca tulisan ini, overall aku merasa cukup beruntung orangtuaku nggak “memaksakan” kehendak ke aku. Tapi semuanya juga seimbang sih, dimana dulu juga aku dibantu “diarahkan” mengenai beberapa pilihan. But still, the final say was mine. Jadilah ketika ngomongin masalah-masalah penting ini lebih terasa seperti diskusi daripada paksaan. Tapi memang dari sepengamatanku, nampaknya cukup banyak orangtua (di Indonesia) yang bagiku nampak “memaksakan” kehendak ke anaknya. Kadar pemaksaannya macam-macam sih.

    • Aku ngga pernah disetir orang tua karena orang tuaku memberi anak-anaknya kebebasan. Justru sekarang karena jadi orang tua dan beberapa kali denger cerita/pengalaman temen seperti pengalaman kamu ini yang bikin aku tulis pos ini. Masih banyak memang orang tua yang memaksakan kehendak ke si anaknya yang sudah dewasa.

  6. Tulisan ini mengena sekali mbak buatku karena aku punya permasalahan seperti ini dengan Ibuku. Terutama pada saat menentukan pilihan kuliah dan pilihan pekerjaan. Makanya aku sangat lega sejak umur 15 tahun sudah tinggal terpisah rumah dengan Beliau. Beliau maunya aku masuk kedokteran, aku maunya masuk Institut Teknik. Dalam hal pekerjaan Beliau maunya aku jadi PNS, sedangkan aku sudah lama bercita2 pengen punya karier di perusahaan swasta atau perusahaan asing. Dan karena aku memilih jalan untuk memberontak, akhirnya hubungan kami renggang. Selalu naik turun. Pertengkaran demi pertengkaran harus dilewati. Apalagi saat Bapak meninggal, aku depresi berat karena merasa kehilangan yg selalu kasih support aku dan ketakutan kalau harus hidup bersama Ibu. Kondisi yg terjadi sejak jaman SMA itu akhirnya mempengaruhi kejiwaanku sampai harus konsultasi dengan psikiater. Bahkan sampai membuatku ketakutan untuk punya anak. Karena aku ga mau kalau secara ga sadar punya sikap yg sama kayak Ibu. Di Belanda pun aku sempat ada konsultasi dgn psikiater ttg ketakutan punya anak ini. Aku tahu maksud Ibu pasti baik, tapi masalahnya ga sesuai dengan yg kuinginkan. Karena memang di keluarga besar kebanyakan adalah pekerjaan yg bersinggungan dengan dunia medis dan PNS. Sampai berbagai cara kulakukan dari ngomong langsung, menulis surat, menghilang dll tapi tetap saja ga dimengerti. Mau setinggi apapun pendidikanku dan setinggi apapun jabatan di pekerjaanku, tetep ga dipandang karena aku bukan PNS dan bukan lulusan kedokteran. Aku bercerita begini bukan untuk menjelek2an Ibuku karena sampai kapanpun Beliau akan selalu aku hormati dan sayangi dan kujadikan contoh dalam hal perjuangan hidupnya. Aku bercerita sekilas di sini anggap saja sebagai salah satu cara untuk pelepasan. Komennya jadi panjang Mbak.

    • mbak yg dialami sama sprti aku. aku sampai keluar dr kuliah di jurusan teknik krn kemauan orang tuaku yg besar buat aku jadi pns. aku sudah jadi pns hampir 15th, seringkali mereka bilang untung saja aku memilih menuruti mereka kalau tidak… ingin sekali aku bilang HELLO I’M NOT HAPPY
      dalam perasaanku sekarang aku merasa bahwa aku tidak bahagia juga bukan masalah penting buat mereka. Sampai sekarang pun mindset mereka tetap sama dalam berbagai hal, bahwa they know best for me. Setiap berkonflik pasti aku yg menjadi tokoh antagonis krn melawan orang tua apalagi sekarang mereka sudah sepuh…. hmmm best option is distance myself

  7. Salam mba Lorraine, tulisan yang bagus. Ijinkan menambahkan pendapat. Dalam agama yg kuanut anak hrs berbakti pada ortu. Tapi seringkali itu dimaknai salah dan berlebihan. Berbakti harusnya dipahami selalu mendoakan ortu, membantu saat mereka susah, bertutur bahasa yg baik (walaupun berbeda pendapat), berguna bagi org bnyk, bangsa, negara, membanggakan mrk, dll. Tp prakteknya berbakti disalahartikan terlalu berlebihan. Misal, nikah harus dg pilihan ortu (yg anak tdk diminta pendapat dan hak utk menolak), menentukan kuliah, kerja sdh mapan tb2 disuruh pulang (kecuali ortu sakit keras ya). Sdh umum tjd ortu melakukan ancaman scr verbal atas nama agama dan kultur utk memberikan tekanan psikis agar mendapat yg mrk mau. Agar mereka tdk kehilangan anak dan pengaruh mereka. Padahal apabila menghargai anak sbg individu,komunikasi naik, bonding dan attachment pada anak kenceng tdk perlu demikian insyaallah anak akan selalu ingin dekat dan mengenang kita. Tugas ortu lbh kpd menyiapkan anak utk terbang (pada saat yg tepat) di dunia luas, menghadapi berbagai hal, bukan utk mendekam disarang dan dirantai. Maaf bila salah kata.

    • Hai Sea. Saya rasa anak berbakti ke orang tua itu nilai universal, bukan hanya ekslusif ada di beberapa kepercayaan tertentu. Setuju dengan komen kamu. Makasih udah mampir sini.

  8. Salam, mbak..
    Saya baca tulisan mbak dan rasanya pingin kasih lihat ke orang tua saya. Tapi pasti (lagi-lagi) akan ada “perang”.

    Saya mengalami hal ini, saat ini. Saya IRT dengan 1 anak balita. Sudah setua ini pun masih saja didikte. Bahkan suami terpaksa harus pindah pekerjaan yang dikehendaki orang tua saya, kami pun harus pindah rumah dan tinggal dengan orang tua saya sesuai dengan kemauan orang tua saya. Sudah kami tentang, debat habis-habisan pun sudah. Apapun yg kami katakan selalu dibilang “kamu belum tau rasanya jadi orang tua (dengan anak dewasa). Namanya orang tua itu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya”.

    Tidak cukup di situ, bahkan cara kami membesarkan anak, cara kami berumah tangga pun didikte (karena kami tinggal serumah).

    Ya, saya tahu pengalaman saya sebagai orang tua belum cukup banyak, tapi bukankah itu yang membentuk kita semua? Bagaimana bisa mendapatkan pengalaman, menjadi orang tua yang baik, jika kami tidak belajar sendiri? Orang tua seakan memiliki hak untuk mengatur hidup anak karena mereka merasa lebih berpengalaman dalam hidup.

    Maaf jika saya cerita panjang lebar ya mbak. Semoga lebih banyak orang yang beruntung, hidup dan bahagia dengan pilihan sendiri tanpa harus berkonflik dengan orang tua

  9. Saya setuju sekali dengan postingan ini. Hehe tapi mungkin saya sedikit berbeda, karena saya berprinsip, orang tua tidak selalu benar, dan ada kalanya anak memang harus bisa menolak (asalkan memiliki alasan logis, dan bukan sesuatu yang bersifat ilegal/menyimpang). Misalnya saya dulu bersikeras milih masuk kelas IPS, dimana ayah saya tidak mau menandatangani surat tidak keberatan kalau saya tidak masuk IPA. Padahal saya sudah yakin seyakin yakinnya, jurusan kuliah yg saya incar itu justru akan lebih menguntungkan kalau saya masuk IPS … ditambah lagi, saya tidak mau stress dan down gara-gara harus menghafal ajaran kimia, fisika, biologi, dsb (dimana saya tidak punya bakat ataupun ketertarikan).
    Akhirnya masalahnya sampai dibawa ke kepala sekolah, dan ujung-ujungnya dengan ngeyel-ngeyelan, saya bisa masuk IPS and I have never regretted it.

  10. Terima kasih Mba Yoyen postingannya, bagus banget. Aku cuma bisa komen dari sisi anak. Mamiku walau bukan tipe yang pemaksa berat tapi beliau lumayan passive aggresive (beliau nggak 100% bilang tidak tapi kata2 dan sikapnya nunjukin kamu nyakiti Mama krn gak ikut saran Mama)

  11. Aku baru aja menghadapi konflik seperti yang mba Yoyen tulis seminggu yang lalu, aku akan komen dari sudut pandang anak.

    Terkait keberangkatan aku akan mengunjugi keluarga B di OZ, awalnya mereka mengizinkan tapi begitu ada masukan dari omku dan kluarganya tiba2 aku dilarang untuk berangkat padahal waktunya tinggal seminggu dan semua ticket sudah di tangan. Bahkan mama aku sempat mengeluarkan statement yang meminta aku untuk menikah dengan orang pilihan dia, disaaat itu aku tegas menolak ke beliau karena hidup setelah menikah aku yg menjalani bukan beliau. Beruntungnya papaku berpikiran yg sama diapun tetap mengijinkan aku untuk berangkat karena Ibu dari B tidak memungkinkan untuk ke Indo dan setelah aku berbicara dari hati ke hati mama aku akhirnya beliau memberi ijin dan percaya kepada aku bahwa aku tidak akan mengecewakan dia sebagai orang tua. tapi seminggu kemarin betul2 menguras banyak tenaga dan emosi. 😣😣

    • Adele, Pengalaman kamu ini tambah dimensi dari tulisanku di atas. Kadang orang tua kita terpengaruh orang – orang dalam circle mereka ya. Di cerita kamu itu si om dan keluarganya. Untung papa kamu kasih ijin untuk berangkat. Good luck Adele untuk segala rencana kamu dalam waktu ke depannya.

  12. baca post dan komen membuat aku musti selalu inget bersyukur.. mulai jaman sekolah aku “cuman” dipaksa buat ikut semua ekstra di awal tahun, kemudian boleh memilih apa yg aku suka.. menjelang kuliah juga “cuman” dipaksa ikutan kelas2 kuliah di universitas teknik, universitas umum, dan universitas pendidikan (ikip), kemudian boleh milih jurusan yg aku mau.. didukung juga buat kerja macam2, kemudian memilih kerjaan yg aku suka.. intinya, aku boleh memilih kalau sudah nyobain macem2 – tantangannya akunya kadang maleeees – alhasil musti diseret2 ikutan a-z ^^ oh i am such a happy daughter *jangan ditimpuk yaaa yg baca

    • Aku ngga pernah disetir orang tua karena orang tuaku memberi anak-anaknya kebebasan. Justru sekarang karena jadi orang tua dan beberapa kali denger cerita/pengalaman temen seperti pengalaman beberapa yang komen di sini yang bikin aku tulis pos ini. Bersyukurlah punya orang tua yang memberikan kita kesempatan mengembangkan diri sendiri.

  13. Gue komen dari sudut pandang gue as a parent because now I’m a parent of 13 years old boys; mungkin gue termasuk ibu yang lumayan tiger mum dalam arti I encourage my boys to study, praise them if they do good, dan selalu support mereka dalam kegiatan apa pun yg mereka mau. Sebagai orang tua tentu gue berharap yg terbaik buat mereka but at the end of the day it’s their choice, their life, their own happiness that matter. We only can support and always encourage them but we can’t force our opinions/ways. Example, my number 2 quit competition swimming a year or so ago, because he just couldn’t handle anymore pressure and tedious training. Though we were disappointed because we THOUGHT he’s good in it but we accepted it. Every now and then we still encourage him to try again, but never put pressure. Just a month ago, he decided to swim again, this time for school club, and he came home one day said, I enjoy swimming I think I’ll do it again👌🏻😜 Being a parent especially for teenager boys for me it’s like playing kite, you have to know when to let it go and when to pull it back.
    Recently I had a chat with a group of mothers. One mum said she wanted her son to be bla bla bla because she has sent him to a prestigious private school so she expects her son not to be just an ordinary. We asked her, does the son agree with her point of view? She told us, her son wanted to study art in Europe and she’s very disappointed with his choice and won’t support him. Oh dear! Sorry, jadi panjang aza komen gue🙈

    • Ah dia perlu break sepertinya ya. Kalau gw memang berusaha jadi orang tua yang memantau dari samping aja apalagi anak gw sekarang udah gede. Misalnya dia salah, gw akan kasih masukan, tapi gw ngga akan nyetir dia harus begini dan begitu karena yang ngejalanin hidupnya itu ya dia, bukan gw 🙂

  14. Menurut saya… anak yg memaksakan kemauannya sendiri itu sama buruknya dengan orang tua yg memaksakan kehendaknya sendiri. Baik anak dan orang tua memiliki fase-fasenya sendiri, ada fase dimana ortu punya kendali, pun ada fase dimana anak punya kebebasan. Baik “orang tua tahu apa yg terbaik buat anaknya” dan “anak tahu apa yg terbaik buat dirinya” sama-sama punya konteksnya sendiri. Betul, anak tak minta dilahirkan… tapi itu bukan alasan anak jadi “tuan” (yg harus selalu dituruti) dan orang tua jadi “pelayan” (yg harus selalu menuruti), pun juga sebaliknya. Ada masa dimana kita di depan untuk memimpin dan memberi teladan, ada masa kita di tengah sebagai teman dan mitra, pun ada pula masa kita di belakang menjadi pendukung dan pendorong. Pendidikan dan hubungan ortu-anak harus bisa memahami fase dan konteks ini.

    Setiap orang, baik itu anak maupun orang tua, juga punya keunikan masing-masing karena setiap orang itu unik dimana pun posisinya dan statusnya. Saat kita menuntut orang tua untuk paham keunikan anak, maka akan ada saat dimana anak juga dituntut untuk paham keunikan orang tuanya. Orang tua juga tak bisa memilih akan punya anak yg bagaimana dan seperti apa. Jika orangtua bisa menerima anak apa adanya, mengapa anak tak bisa menerima orang tua apa adanya? Apakah salah jika orang tua berharap sesuatu pada anaknya? Jangan dipahami ini sebagai tuntutan balas budi ya, tapi anak juga tak bisa berlepas tanggung jawab pada orang tua begitu saja. Jika kepada orang lain dan profesi saja kita dituntut bisa bertanggung jawab, mengapa pada orang tua kita boleh berlepas tangan?

    Orang tua dan anak, keduanya sama-sama unik. Karena itu saya tak sepakat dengan pola pendidikan dan pengasuhan anak yg cenderung diseragamkan seperti yg digembar-gemborkan orang tua jaman now… orang tua harus begini begitu, anak harus begini begitu. Tidak, setiap anak dan orang tua itu punya karakter unik, dan hubungan mereka pun unik. Sikap tegas dan disiplin bisa jadi cocok untuk anak orang lain, tapi belum tentu pas buat anak kita, pun sebaliknya. Apa yg baik menurut orang tua lain bagi anak mereka, belum tentu baik buat kita dan anak kita. Jadilah orang tua yg baik namun tetap apa adanya, agar anak juga bisa menjadi orang yg baik namun tetap menjadi dirinya sendiri.

    Kuncinya adalah komunikasi, kompromi, dan kolaborasi antara orang tua dan anak. Sebisa mungkin ini mulai ditanamkan sejak dini pada kedua pihak, agar keduanya bisa saling memahami, berkomunikasi dengan baik dan terbuka, serta saling bekerja sama untuk kebahagiaan bersama. Baik orang tua maupun anak, masing-masing punya hak dan kewajiban terhadap yg lain. Sikap berontak anak adalah indikasi adanya komunikasi, kompromi, dan kolaborasi yg tak terbangun dengan baik antara orang tua dan anak. Dan menurut saya, jika anak berontak di masa-masa dewasa maka itu kesalahan dari kedua belah pihak. Jika hubungan orang tua dengan anak bisa terjalin komunikasi, kompromi, dan kolaborasi yg baik namun tetap saling jujur dengan diri masing-masing, seharusnya segala konflik bisa diselesaikan dengan baik.

    Maaf agak panjang. Sekedar berbagi pendapat saja. Semoga berkenan. 🙂

  15. Thanks remindernya mbak.. buat pembelajaran juga ke depannya, walaupun anakku masih kecil dan aku yang mengarahkan tapi sebisa mungkin aku tanya dulu sama anakku mau nggak les ini atau les itu? dan dari sekarang udah suka tanya2, nanti kalau besar mau jadi apa? kalau mau jadi itu harus belajar ina ini itu yaa…. ortu dan anak sama2 belajar diskusi juga siiih… semoga bisa jadi orang tua yang lebih baik deeeeh….

  16. Mba, aku belom bisa komen sebagai orang tua. Tapi, ayahku dulu cukup memaksakan kehendak. Mmm tapi paling sebatas ngelarang sih, ga yang maksa banget si anak harus jadi dokter, PNS, etc. Tapi yang paling inget, dulu aku pernah di tanya sama ayah cita – citanya apa? aku jawab mau jadi politisi. sama beliau dijawab, jangan jadi politisi kamu, nanti masuk ke lingkaran setan, banyak hidup ga bener. Aku yang waktu itu masih SMP mikir kenapa bisa begitu banget jawabannya. haha.. Kalo mama sih masih terserah anak, asal tidak melanggar norma aja. Menurut aku sih masih dalam batas wajar. Untungnya 😀

  17. hai lorraine, makasih ya tulisannya. setelah membaca ini, membuat pikiranku terbuka bangetttttt..hahaha! kenapa? karena sepertinya mindset orangtua selalu tau yg terbaik untuk anaknya sdh mendarah daging di budaya kita. tanpa disadari menjadi turun temurun..
    saya sendiri memiliki orang tua yang kurang lebih sama.. tapi syukurlah saya memiliki jiwa keukeuhan dgn pilihan hidup saya dari kuliah di jurusan apa, menikah dengan siapa dan menjalani hidup setelahnya.. yes saya bahagia dengan pilihan saya sendiri walau sempat diawal membuat kedua orang tuaku kesal.
    tulisan ini membuat saya akan lebih “seloooowww” terhadap kedua anak saya. tentunya masih dalam pengawasan si super mama.
    eniwei.. thanks ya. u are awesome!

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s