Bahasa Indonesia / Living in NL / Thoughts

Luar negri

Setiap gw denger komentar atau referensi orang Indonesia offline maupun online tentang luar negri kok sepertinya luar negri itu kebanyakan (ngga semua ya) mengacu ke negara maju di belahan dunia barat ya? Padahal Kenya, Uruguay juga luar negri. Timor Leste pun luar negri. Perkecualian bisa untuk tiga negara Asia ini, misalnya disebut pun jelas dengan namanya; Jepang, Korea-Selatan dan Singapura.

Banyak orang Indonesia yang referensinya mengacu ke luar negri baik dari pengamatan atau komentar. Yang paling seru tapi sekaligus kadang bikin gw gemes kalo ada yang bilang; di luar negri itu bla…bla…bla…(selalu positif gitu). Terus gw tanya ke orangnya lebih lanjut apa dia pernah ke negri yang dimaksud? Ternyata ngga. Kadang hanya denger dari cerita orang, beberapa kali juga ada yang jawab katanya.

Berhubung gw udah lumayan lama tinggalnya di luar negri, gw coba bahas hal ini di pos yang lumayan panjang dengan rincian dalam beberapa poin berikut. Mohon baca luar negri di pos ini standar sebagai negara barat. Dan mohon baca pos ini to the letter, gw berusaha ngga generalisasi semua orang Indonesia ya, gw tulis kebanyakan/beberapa.  Misalnya ada contoh spesifik gw ambil contoh di tempat tinggal gw, di Belanda.

Hal dari luar negri pasti bagus yang memang beneran bagus

Di bawah ini usaha gw menjelaskan anggapan hal dari luar negri pasti bagus ditinjau dari beberapa sisi.

  • Urusan tenaga kerja dan peraturan menyangkut hak pekerja di beberapa negara Eropa itu bagus. Hak dan kesejahteraan pegawai diperhatikan. Cuti hamil, cuti PMS (sakit di kala haid), cuti liburan, cuti salah satu anggota keluarga meninggal, cuti dsb…dsb..ini dijamin dan hak pekerja. Sakitpun ngga dipotong gaji. Makanya di Belanda itu baru sekitar tahun 2000an supermarket buka sampe jam 20.00 malam. Sebelumnya hanya sampe jam 18.00 jam. Hari Minggu juga ngga semua toko buka. Ini karena mahal musti ada upah tambahan khusus karena kerja akhir minggu, waktu untuk istirahat.
  • Angkutan umum juga bagus. Untuk Belanda pada khususnya angkutan umum bagus tapi juga mahal sih sebenernya, kualitas sebanding dengan harga. Hanya coba bayangin. Supir dan pekerja di sektor angkutan umum di Belanda itu jam kerjanya ya ada. Dan perusahaan angkutan di sini buat route sesuai dengan demand konsumen. Jadi jangan heran kalau setelah jam 9 malam di daerah kecil di Belanda bus hanya lewat 1 jam sekali. Kereta terakhir juga biasanya jam 12.30 malam. Lewat jam ini ya loe musti telpon taxi. Ngga ada ojek, omprengan, gojek atau apa lah.
  • Pendidikan di negara Eropa juga ok pada umumnya. Di Belanda TK, SD dan sekolah menengah itu gratis. Hanya bayar sumbangan tahunan untuk acara sekolah seperti study tour gitu.
  • Akses kesehatan untuk semua orang. Di Belanda semua orang wajib punya asuransi kesehatan. Ada paket dasar lah untuk asuransi kesehatan ini untuk dokter pribadi dan dokter gigi. Setelah itu bisa ditambah dengan fasilitas ini itu tergantung konsumen keperluannya apa. Contoh: paket anti kontrasepsi dan melahirkan. Perempuan di usia ngga subur lagi bisa minta paket ini dihapus, jadi tambah murah dikit lah premie bulanannya.
  • Tunjangan sosial. Di Belanda orang ngga kerja karena kena PHK bisa dapet tunjangan sosial biasanya 18 bulan – 2 tahun tergantung riwayat bekerjanya dia. Tunjangan ini sebanyak 70 – 80% gaji bruto terakhir. Kelihatannya enak tapi orang yang ada tunjangan sosial ini tiap bulan harus lapor ke contact personnya dengan bukti bahwa dia aktif cari kerjaan baru. Orang yang ngga bisa/ngga pernah kerja pun karena alasan fisik atau non-qualified, dapet tunjangan dari pemerintah untuk keperluan dasar. Di kurs dalam rupiah banyak tapi menurut standar hidup di Belanda ya minima ini.
  • Di luar negri orang sadar lingkungan. Kesadaran ini muncul karena pemerintah rajin kampanye. Makin banyak yang sadar lingkungan memang. Contoh: buang sampah organik dan non-organik terpisah. Makin banyak juga mobil dengan bahan bakar listrik.
  • Bayar pajak tinggi kelihatan pajaknya untuk fasilitas umum. Ada fasilitas umum rusak, bisa lapor pemkot. Ini gw lihat sih bener. Kalau masuk musim semi itu dinas pertamanan tanam bunga-bunga cantik di banyak tempat, bukan hanya di pusat kota. Ini duit pajak yang gw bayar.

Hal dari luar negri menurut persepsi umum kebanyakan orang Indonesia pasti bagus/positif padahal belum tentu

  • Semua tempat di luar negri itu bagus dan modern. Ennggg, tergantung sih. Sama seperti bule-bule seneng liburan ke negara tropis, ada orang Indonesia yang liburan ke luar negri (baca: negara barat) bilang semuanya bagus. Mungkin mereka ngga lihat daerah kumuhnya. Perbedaan sosial ada kok kelihatan jelas, apalagi di daerah tempat para pekerja marginal tinggal baik yang penduduk asli maupun imigran. Pernah beberapa bank di Belanda ditegur bank pusat karena mereka memutuskan permohonan hipotik (cicilan untuk beli rumah) berdasarkan kode pos. Dari sini bisa kelihatan daerah kumuh (baca: ekonomi lemah) jadi persepsinya ngga kuat bayar dan permohonan bisa ditolak. Ini diskriminasi ya, ngga boleh.
  • Di luar negri pasti aman. Di daerah manapun ya tetep ada sih kriminalitas, maling, copet, rampok dan jambret ada aja. Mengenai berita sliweran di internet bahwa di Belanda banyak penjara yang ditutup. Ini bener tapi di satu sisi judisial Belanda cenderung mengeluarkan vonis ringan sih. Kadang ada kriminal hukumannya ‘hanya’ mendapat bimbingan dari psikolog.
  • Orang luar negri keren-keren. Ini terpengaruh film mungkin. Sama aja kan pemain film Indonesia juga cakep-cakep.
  • Di luar negri itu pasti bersih. Ngga juga sih, tergantung daerahnya.
  • Ngga ada korupsi. Jangan salah, walaupun skalanya ngga besar tapi di luar negri ada juga kok yang korupsi. Bedanya kalau ketahuan, biasanya yang korupsi dengan jabatan publik, dia akan mengundurkan diri sendiri. Bukan hanya menggelapkan uang tapi memakai fasilitas kantor untuk keperluan pribadi juga termasuk korupsi sih. Nepotisme juga ada. Biasanya pejabat yang majuin ipar atau temen sendiri untuk satu tender proyek tertentu. Ada beberapa kasusnya di sini.
  • Ini twit salah satu pesohor belia di Indonesia yang kapan itu gw sahutin. Menurut dia orang luar negri sangat sadar dengan lingkungan dan banyak yang gaya hidupnya zero waste (sedikit menghasilkan sampah). Bahkan orang di luar negri ini saking zero waste gaya hidupnya itu sampe ngga mau belanja baju di toko street fashion brand (H&M, Zara and the likes). Nah, ini ngga bener. Yang begini ini masih dikit banget, karena ngga praktis. Ini sih hipsters bener deh. Justru merk – merk tersebut makin berkembang pesat karena demand konsumen di barat juga besar. Apalagi street fashion yang kelas harga lebih murah dari dua merk yang gw sebut di atas. Ada lah yang beli. Perbedaan kelas sosial ada kok di luar negri, yang budgetnya pas-pasan banyak.

Segitu aja dulu ya tulisan gw ini nanti panjang banget jadinya. Intinya gw hanya mau jelasin bahwa dalam beberapa hal luar negri mungkin memang maju atau bagus tapi ngga semua. Yang gw rasa kehilangan tinggal di Belanda itu jasa dan produk dari mikro ekonomi. Di Belanda ngga gampang mulai usaha rumahan. Musti ada sertifikatnya, ikut pendidikan dsb…dsb…Ribet deh pokoknya. Ngga seperti di Indonesia yang marak dan gampang mulai usaha/buka warung/jualan makanan atau barang, apalagi di era media sosial sekarang ini. Misalnya pun ada yang nakal usaha begini di Belanda, ketahuan yang berwajib ya ditutup dan kena denda.

Pesan gw satu lagi. Jangan silau lihat orang luar negri aka bule, mereka bukan ras superior, mereka juga manusia  biasa (wahai para bule hunter yang cari partner bule karena ingin memperbaiki keturunan, take note!).  Ada orang luar negri yang cakep tajir pinter, ada juga yang biasa bahkan kurang elok juga ada, kemampuan finansial juga beda.

Misalnya subyek pos ini dibalik ya gini. Andai kalian tahu persepsi kebanyakan orang bule berdasarkan beberapa stereotype mereka tentang orang dari negara berkembang, pasti bisa gemes atau keselek deh. Ntar kalo ada waktu gw tulis juga deh di pos terpisah. Nih untuk teaser gw bocorin satu yang negatif; kenalan Belanda  gw pertama kali mau ke Indonesia tahun 2002 tanya ke gw apa bisa ambil uang dari ATM. Tahun 2002 ya tolong. Dan ini satu yang positif: orang Indonesia itu semuanya ramah banget ya. Ini stereotype sekali padahal ini imbasnya mendorokan (mentuankan , if this word exists) si bule, warisan jadi inlander di jaman Hindia – Belanda.

Post Scriptum (PS)

Misalnya ada info yang gw tulis ini ngga bener dan kalian tahu sebetulnya gimana, silahkan koreksi di kolom komen. Nanti gw ganti infonya.

Gambar dari Freepik

 

 

Advertisements

65 thoughts on “Luar negri

  1. Di Belanda juga ada tunjangan orang sakit fisik maupun psikis, dapat tunjangan per minggu. Mahasiswa dapat tunjangan sampe 1000 euro per bulan, itungannya pinjaman dari pemerintah sih, dulu nggak usah bayar balik… tapi nanti pas udah lulus denger-denger bayarnya gampang… CMIIW

    • Iya, itu untuk Wajong. Mahasiswa dapet tunjangan itu hitungannya pinjaman Crys. Dan tinggi rendahnya tergantung tinggal sendiri atau masih dengan orang tua. € 1000/bulan itu € 860 pinjaman untuk biaya hidup sisanya untuk bayar uang sekolah. Maksimal bisa pinjem periode 5 – 7 tahun. Setelah itu selesai ngga selesai kuliah ya ngga bisa pinjem lagi dan harus cicil lunasin.

      Utang mahasiswa ini bunganya ngga tinggi sih tapi berasa karena beban berat. Selulusnya dari kuliah otomatis harus bayar. Kalo ngga bisa musti rundngan, gimana bayarnya.

    • Disini ada student support money itu uang saku sejumlah sekitar 5300 DKK per bulan, itu ga usah dibalikin. Selain itu ada student loan klo ga cukup sih

  2. Baca ttg ATM, jadi ingat tahun 2015 sebelahan dengan orang dari Perancis dan Rusia di kelas bahasa Belanda. Kami ngobrol2 trus mereka nanya apakah di Indonesia ada Mall, ngambil duitnya apakah bisa lewat mesin. Sempat bengong juga ditanya seperti itu, tapi jadi ingat bosku dulu yg dari Philippines, waktu mau dipindahin ke Jakarta nanya dulu, apakah di Jakarta ada Mall? Itu tahun 2005. Andaikan mereka tahu betapa suburnya Mall di Jakarta (dan kota2 besar lainnya).
    Orang2 ngira apa2 gampang di LN, tapi sebagai mantan anak kosan yg sering mengandalkan warung, sekarang ga ada warung atau pracangan di sebelah rumah sungguh sangat dirindukan. Apalagi pas masa2 males masak. Walhasil ya tetap harus masak kalau nggak ya ga makan, masa mau beli mulu.

    • Ini sama persis sama kejadian aku, Den.. dikira Jakarta masih kayak hutan, hahaha.. aku bilang kamu mesti lihat di Internet, browsing2 lah.. sebagai ibukota Indonesia, otomatis juga sudah majulah. Dibanding sama kota tempat aku tinggal di NZ, disana masih kayak kota kecil.

      • Nimbrung ya Deny & Inly hihihi.. 2010 kedatengan sepasang temen dari Utrecht yang mau liburan ke Bali dan janjian ketemuan dulu di Jakarta. Aku ajak ketemu di Plaza Indonesia, langsung takjub.. Dila, mall nya bagus banget.. ini mewah banget lho. Abis itu bosen, jadi aku ajakin ke mall ambassador / ITC kuningan. Baru deh seru2an disana :)). Terus besoknya janjian nonton di XXI senayan city, mereka bilang bioskopnya bagusssss bgtttt.. katanya lebih bagus dari Bioskop di Belanda (aku gak ngerti ya kalo ini). Sekian ceritanya hehehe

        • Nyamber Dila, kalau bioskop aku lihat yg di US. Nonton beberapa kali dan bioskopnya biasa aja. Kalah sama yg di Medan heheh. Matt yg gila nonton pas masuk bioskop di (Surabaya) dulu sampe nganga saking bagusnya. Pake selimut trus makanan/minuman dianter padahal tiketnya lbh murah daripada yg di US hehehe.

          Eh tp yg di US kita nonton cuman disekitaran Indiana, gak tau daerah lain deng.

        • Iya bener Dila. Mall di Jakarta sih lux banget dibanding mall di Belanda, bioskopnya di sini juga biasa lah 🙂

      • Dulu waktu gw sekolah di Inggris, masih SMP ya itungannya, masak temen gw nanya “kamu kalau makan harus berburu dulu?”….”iya berburu di supermarket” 😂😂 laaahh…

  3. Emang ga bisa digeneralisasi ya. Contohnya nih, Belanda sama US sama-sama maju, tapi infrastruktur dan lingkungan ternyata mayan beda.
    Di US, kota yang lengkap transport umumnya itu cuman segelintir, antara lain New York, San Fran, Chicago. Sisanya mengandalkan mobil pribadi.
    Dan untuk lingkungan, aku belum pernah liat penggunaan plastik sebanyak di New York. Dan penduduknya udah take it for granted banget, apa-apa diplastikin.

    • Iya betul Dita, negara maju pun masih ada bedanya. Walaupun maju tapi misalnya tempat terpencil ya sama aja sih. Mungkin karena di USA itu jaraknya jauh-jauh dan orang biasa punya mobil jadi fasilitas transport umum kurang ya. Di sini kan jaraknya relatif deket makanya network jalan, kereta dan bis itu lumayan densed.

  4. Jadi inget obrolan kita tentang pendidikan di Belanda Mba. Di Korea pengemis dan juga pedagang asongan banyak ko. Di Jerman kemaren pernah satu ubahn bareng “gembel” yang baunya 7 rupa,dsb.

  5. Sama kayak di New Zealand, mahasiswa bisa dapat pinjaman dari pemerintah, dan dibayarkan setelah selesai kuliah. Kalau gak salah, selama belum lunas, mereka tidak bisa keluar negeri, disinyalir takut kabur dan gak bayar lunas. Dan sayangnya pinjaman itu seringnya dipakai mahasiswa buat ambil cuti kuliah setahun, dua tahun dan jalan2 keluar negri dengan uang tersebut ( misalnya dipakai 10% buat jalan2 ). Hanya pas bayarnya alhasil empot2an. Tapi gak mesti ambil pinjaman, ada yang juga memang pakai uang dari orangtuanya.

  6. Iya, pengamatanku juga begitu. Entah mengapa ada persepsi yang namanya luar negeri itu pokoknya bagus-bagus semua. Titik.

    Seorang temanku pernah sekedar berbagi di Facebook pengalaman kurang enaknya di Amerika karena sopir bus nggak menerima pecahan uang besar. Dan gila, ada yang berkomentar mengatakan temanku ini nggak bisa bersyukur lah sampai menjelek-jelekkan luar negeri seperti itu. Dan kemudian ada yang menimpali (argumen ad hominem pula), “Iya lah, kan orangnya dari keluarga ngga bener”. Aduh. Aneh ya, hahaha…

  7. Di luar negri (Negara barat) bayar pajak gede (at least disini) dan korupsinya ga separah di Indonesia jadi penduduk bisa lebih ngerasain facilitas dari pemerintah kalau dibandingin dengan di Indonesia.

    Disana health care nya universal (free) juga kan Yen? Kalo disini iya semua orang dapet health care tapi kalau yang bekerja jadi ada tambahan coverage dari perusahaannya, seperti dental, eye dan better facilities.

  8. Emang sih negara kita itu kurang banyak dalam banyak hal, terus ditambah orang kita gampang silau melihat sesuatu yg baru, jadinya begini deh. Juga yang keluar di berita Indonesia kan tentang bagus2nya luar negeri doang, soal xenophobianya, rasismenya ya jarang diliput. Permasalahan sosial lainnya pun jarang kan dimuat di media Indonesia, makanya mereka cuman lihat luarnya aja yang glossy. Hidup dimana2 sama susah dan hepinya….

    • Exactly! Makanya ada yang baru pindah masih tetap memeluk gambaran ini dan seperti hidup di kepompongnya sendiri. Begitu makin lama tinggal di sini dan dapat gambaran situasi yang sebetulnya jadi seperti desillusioned 🙂

  9. Setuju sama komen Gaareal diatas tentang bayar pajak gede. Di Melbourne juga orang bayar pajak gede, tapi pengembaliannya juga gede ke rakyat dalam bentuk fasilitas hidup yang memadai. Tapi tetep aja sih banyak yang ngeluh.. terus soal luar negri pasti bersih, iyaa emang.. tapi nggak selalu ah, aku masih bisa ketemu gang bau pesing.. padahal itu di CBD. Terus homeless… waduh, itu orang2 yang tidur di emper2 toko.. buanyak. Melbourne tertinggi se Australia. Kebanyakan katanya karena KDRT. Makanya gencaaaar bgt iklan tentang domestic violences baik di TV maupun public area.

  10. pernah diceritain temen:sodaranya jd ekspat di qatar, padahal mereka ngehemat2in uangnya, pulang mudik jd hal yang menakutkan buat dia, krn hampir semua keluarga besarnya manfaatin,minta jajanin dll..mudik jd hal yang membuat dia terasa berat..walo kangen kampung halamannya, krn imej orang yg hidup di luar negeri banyak duit, apalagi denger kerja di daerah arab dan posisi nya lumayan.dikasih pemahaman gmn pun malah dicap sombong, pelit lah..jd orangnya males mudik ke kampungnya lg krn imej ttg hidup wah di luar negeri.

    • Ah itu juga ya Rahma. Pendapatan besar tapi standar hidup juga lain kan ya. Sementara yang di Indonesia mungkin mengharap kebagian. Susah ini.

  11. saya ngerasain juga nih: banyak yang muja2 pemimpin sini:D di indonesia sampe banyak jg yg inbox nulisnya saya beruntung bla2..krn pemimpinnya ginilah gitulah..terus banding2in sm pemimpin indonesia…haduhhhh…yg keliatan di media emang bener cm bagus2nya doang, pait2 nya aib2nya disembunyiin…giliran nulis ttg faktanya di tuduh fitnah lah:P or ga bersyukur..or pasti ni kerjaan negara itu..musuh besar agama itu..hahah sudah lah..

    • Heeh, mereka ngga mau percaya fakta karena di kepalanya udah ada gambaran tertentu yang kuat. Padahal kamu tinggal di sana, kasih fakta dan melihat sendiri tapi dituduh fitnah. Pusing ya 🙂

  12. I love this writing so much …
    tapi kadang saya ga mau kasih tau saya kemana sama orang-orang kalau lagi jalan, jadi saya ngomong : saya lagi ga di jakarta 🙂

  13. kebanyakan orang berpendapat luar negri = pasti lebih ‘better’ semua-mua nya.
    Jadi mereka langsung aja generalisasi, tinggal di luarnegri = horang kayah.

    saya selalu takut pulang balik indo. Banyak pemalakan terselubung. Sedangkan ngoleh ngolehin 1 kecamatan pun mencekik juga. hahahha

  14. Ahahahha bener sekali ini mbak. Aku cerita dengan teman2ku bahwa di “luar negri” itu gak semuanya sekeren yang kalian bayangkan. Di Paris pun ada daerah kumuh dan copet, di Romania korupsinya masih luar biasa…lalu banyak yg blg “ya plg ga orgnya ganteng2” HAHAHAAHA like whattt?! Umm…ya gak juga lah! Orang sana ya sama aja kan “manusia” . Dan aku setuju mbak ama kebanyakan orang Indonesia yg sering mendorokan bule. Alhasil, bbrp kali aku ke tempat yg dibilang “banyak bule”, servisnya ke orang2 Indonesia jelek banget tp begitu lihat bule langsung bagusss banget. Hmmf tipikal sekali.

    • Heeh, itu juga ya Gy. Wis diceritain gini – gitu tapi ada aja ngelesnya. Yang penting orangnya ganteng, waaaa. Mungkin aku musti tulis pos terpisah tentang mendewakan ras kulit putih ini walau harus hati-hati pilih tonenya ya sebelum kena serbuan (aspiring) bule hunters ha…ha…

  15. Yg paling bikin gerah itu, mereka cuma peduli klo uang di dompet kita itu dollar. Klo di kurs memang banyak bgt, tp mereka jarang tanya biaya hidupnya gmana.
    Kisah andalan orangtua saya kalau ada yg nanya aneh2 soal betapa nyaman kawin sama bule n tinggal diluar negri adalah pengalaman mereka makan ayam cabe ijo di salah satu resto Indonesia di Perth. Seporsinya $28, kalau dikurs sekitar Rp.250.000-an. Bapak saya sejak itu ga mau makan di resto Indonesia, sakit hati katanya 😄

    • Aku sih karena ngga bawain oleh-oleh atau kado, personally cape denger orang komen; loe enak ya tinggal di Belanda. Imigran itu rumahnya dua, selalu terpotong hatinya di kampung halaman dan host countrynya. Susah jelasinnya kalo ngga mengalami sendiri.

  16. Hi kak, makasih atas postingannya. Bagus sekali buat dibaca oleh orang-orang yang suka mendewakan luar negeri.
    Saat sekolah di Skotland tahun lalu, beberapa teman-teman dari negara Eropa tahu saya berasal dr Indonesia, komentarnya begini “Hmm, Indonesia, tsunami, right?” atau “Hmm, Indonesia, moslem country” dan setelahnya aku harus menjelaskan panjang lebar tentang Indonesia 😀

  17. Setelah lumayan lama silent reader, akhirnya aku kepancing juga untuk komen di sini karena kita sempet ngobrolin soal tweet si pesohor belia itu di Twitter :-p

    Yah, begitulah Mbak Yo…kayaknya sekarang pokoknya kudu nyinyirin Indonesia dan bangga-banggain luar negeri tanpa mikir biar keliatan berpendidikan. Padahal yang suka begitu belum tentu pernah tinggal lama (tinggal, bukan sekedar berkunjung) di luar negeri 🙂

    Pengalamanku beberapa tahun tinggal di Perth memang mematahkan asumsi kalo apa-apa yang di luar negeri pasti bagus. Di mana-mana ya gak mungkin semuanya rainbows and unicorns, pasti ada sisi busuknya juga.

    – “Semua tempat di luar negri itu bagus dan modern.” Halah, bahkan ketika aku liburan singkat ke luar negeri aja selalu keliatan kok daerah-daerah mana yang agak terbelakang. Kesenjangan sosial juga pasti nampak.
    – “Di luar negri pasti aman.” Tempat tinggalku di Perth dulu termasuk daerah yang lumayan sering ‘ditongkrongin’ mobil polisi :-)) Kadang pulang malem aja tetep ketar-ketir kok.
    – “Orang luar negri keren-keren.” Dari segi penampilan? Yang lusuh juga banyak. Dari segi pemikiran? Yang ignorant karena keenakan tinggal di negara maju BANYAK!
    – “Ngga ada korupsi.” Um…beberapa politisi di Australia belum lama ini ketauan pake fasilitas kerja (taxpayer-funded) untuk keperluan pribadi. Memang sih, gak lama kemudian biasanya langsung dicopot dari jabatannya. Dan seperti yang beberapa komen di atas bilang, soal korupsi skalanya memang bisa dibilang lebih kecil dan hasil kita bayar pajak tetep kerasa karena fasilitas umum yang mencukupi.
    – Nah, soal fast fashion yang sempet kita omongin di Twitter…seperti yang aku bilang, tweet-nya si pesohor belia itu load of BS! H&M, Zara, Forever21 waktu awal-awal buka di Perth ramenya bukan main dan antriannya bener-bener bikin sesek. Kalo demand konsumen gak gede, gak mungkin brand-brand itu ekspansi gede-gedean ke berbagai negara.

    Dari aku pribadi, selama ini ada asumsi umum kalo orang di luar negeri lebih open minded dalam berbagai hal dan lebih cerdas. Well, aku pernah baca di Inggris ada beberapa orangtua konservatif yang protes anaknya diajari sex education di sekolah. Jaman sekolah dulu (di Indonesia), anak-anak usia 10 – 12 (usia umum puberty) di sekolahku dapet compulsory sex education dan gak ada orangtua yang protes dan mikir macem-macem – and guess what, it was an Islamic school 🙂 Pernah juga aku agak gatel di Twitter liat orang nulis, “Kira-kira di negara maju ada gak ya orang yang percaya bumi datar?” Oh please, aku justru pertama kali tau soal flat Earthers ya di negara londo, dengan diskusi tentang kepercayaan mereka full pake bahasa Inggris and all. These people think luar negeri is all sunshine and rainbows and unicorns!

    Waduh, aku komen pertama kali aja sepanjang ini ya hahaha. Habis tulisan ini bener-bener mewakili perasaanku sih, kadang kalo liat orang (yang aku tau gak pernah tinggal di luar negeri) asal aja ngedewain negara lain dan nyinyirin Indonesia tanpa mikir rasanya pengen banget nimbrung, “Elo gak pernah tinggal di luar negeri aja sok banget macam ngerti bener di luar itu kayak apa.” Inferiority complex is a dangerous thing 😦

    • Welcome! you are not a silent reader anymore. Bagus lah kalau tulisan ini mewakili perasaan kamu yang pernah tinggal di luar Indonesia. Berarti aku ngga ngarang atau sok tahu ya ha…ha…Please do comment more.

  18. Hehe.. perihal orang Indonesia ramah-ramah, terkadang memang ada sisi ‘menyedihkan’-nya sih. Di tempat wisata atau hotel tertentu, ada aja yang pelayannya baik sama bule tapi cuek sama orang Indonesia sendiri. Padahal kita sama-sama bayar kan ya. Itu pernah kualami sendiri. -_-“

  19. terima kasih sudah menjabarkan, mba, yang hanya melihat dari apa yang selama ini diekspos, atau mendengar dari cerita-cerita, kadang senang membuat sebuah imajinasi ideal dan romantik sendiri ttg negara maju (tergantung karakter orgnya juga sih). Lucu dan ngenes juga sebetulnya. Setali tiga uanglah ya sama saja seperti orang asing kuper yang membayangkan kita masih tinggal di rumah pohon dan gubuk jerami. Tahunya cuma Bali aja. Lol.

    • Yup, karena ngga tahu jadi begitu kesan mereka. Makanya aku tulis pos ini, usaha untuk beri tahu. Nanti deh aku tulis tentang sebaliknya Fiberti.

  20. Pemikiran ini yang bikin banyak orang (terutama istri WNA yang punya ekspektasi tinggi & belum pernah menjejak di luar neger) kaget begitu masuk Irlandia, karena Irlandia masalah sosialnya banyak banget.

    Terus terang luar negeri itu sama aja dengan Indonesia, ada plus dan ada minusnya. Terus turis-turis (atau traveler biar lebih cool) itu lihat luar negeri kan yang di liat yang bagus-bagus, jarang banget lihat jeleknya.

    • Heeh. Apalagi orang Indonesia rata-ratanya cutinya setahun 2 minggu. Paling lama aku rasa liburan 2 minggu, mau lihat kehidupan sebenarnya tempat itu mungkin terlalu pendek ya Tje.

  21. Emang harus merasakan dan melihat sendiri kondisi setiap negara sebelum berkomentar ya mbak… Beberapa kali travel singkat ke beberapa negara udah keliatan plus minusnya kok. Semoga persepsi/pendapat orang barat ke negara Indonesia juga bisa berubah baik dan nggak cuma Bali & tsunami aja yang mereka tau…

  22. Stereotype untuk orang luar negri (bule) di mata orang indo:

    1. Tinggi. Faktanya orang bule dewasa yang tingginya ga sampe 160 cm juga banyak.
    2. Lebih pinter, rajin, unggul dari etnis2 lainnya. Faktanya banyak juga yang males, hidup dari tunjangan pemerintah, ngemis di jalan. Etnis ga ada hubungan sama etos kerja.
    3. Patuh aturan, taat hukum. Faktanya, karena hukum ditegakkan, kebanyakan memang patuh. Tapi kalo ada kesempatan, ya sama aja, nyebrang sembarang tempat lazim, paling ga, di kota gw tinggal.
    4. Inggrisnya bagus. Faktanya urusan spelling, banyak banget orang berbahasa Inggris ga bisa mengeja kata2 yang mirip dengan benar. E.g. Too vs two, there vs their vs they’re. Lebih2 lagi istilah yang ga umum.

    So, jangan cepet minder jadi bangsa Indonesia.

    • Bahasa Inggrisnya bagus 🙂 Ngga semua orang kuit putih bisa berbahasa Inggris kok ya. Lepas dari spellingnya betul atau ngga. Karena ngga semua ras Kaukasus berasal dari negara berbahasa Inggris

  23. waaaah sayang aku kelewatan twit pesohor belia ituh (sapa sih mbak? pengen nyautin juga huehuehue) ngga tau apa h&m dan primark aja ramenya warbiyasak di Enschede ^^ murah meriah soalnya kaaan…

  24. Mba..Saya baruuuu banget sih pindah ke Belanda,tapi kl saya suka gemes nya malah sama orang Indonesia nya sendiri lho mba.. Misal kl liat di grup FB yg grup Indonesia gt.. Suka share video yg bagus2 pasti komen banyak bilang andai ini di Indonesia.. Atau video yg jelek gt, komen nya cuma terjadi di Indonesia.. Pernah saking gemes nya saya nyamber – di Indonesia nggak selalu jelek kaliii. Heran banget deh, katanya lahir besar di Indonesia.. Tapi sukanya malah jelek jelek-in Indonesia, mana hobby nya itu suka nge share hoax hoax berita jelek2 di Indonesia.. Lihat gt sebel sendiri

    • Hai Olivia, Betul. Di manapun ada hal-hal yang bagus dan jeleknya. Hanya memang ada orang cuma ke yang jelek atau yang bagus aja. Kalau niat ada bisa bilang atau kasih lihat sebaliknya. Ini kalau kamu ada niat dan energi ya 🙂

  25. terima kasih kak tulisan nya jd lebih terbuka, pernah kak berpikir seperti itu tp setelah denger cerita sepupu yg tinggal di Singapura ternyata tdk seindah yg dibayangkan karena biaya hidup mahal ☺️

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s