Bahasa Indonesia / Blogging / Indonesia / Science / Social Media / Thoughts / Women

Niche baru: pacar/pasangan bule

Seiring dengan globalisasi cinta tidak mengenal batas negara, makin banyak pasangan berbeda ras. Hal ini juga berlaku untuk orang Indonesia, makin banyak orang Indonesia yang menulis tentang berpasangan dengan bule di internet. Mulai dari tips cari bule, bule hunter (ada bukunya pula), pengalaman pacaran dengan bule (baru pacaran doang ya; masih ada risiko putus ngga sampe ke jenjang pernikahan), suka duka jadi partner orang bule, (persiapan) menikah dengan bule dsb…dsb…Salah satu blogbuddy yang jadi temen gw si Ailsa (tinggal di Dublin, suaminya orang Irlandia), nama blognya pun binibule.com.

Pos yang paling banyak komennya dan paling banyak pengunjungnya di blog gw ini pun Minta bule dong, ini pos dari bulan September 2013. Kalau ada waktu baca deh komen-komen di pos itu, seru. Mulai dari pos ini banyak kata kunci yang aneh-aneh tentang bule yang masuk ke sini, kadang bikin gw pusing, kadang jadi melongo tapi yang pasti lucu dan konyol. Lumayan menghibur selagi gw periksa statistik blog ini.

Kembali ke topik. Belanda sukses menanamkan inferiority complex ke bangsa Indonesia selama menjajah Hindia – Belanda dengan istilah inlander (pribumi) yang sering dipakai saat itu. Bukan hanya Belanda, kolonialisme oleh negara-negara barat menjadi tolak asal superioritas bangsa kulit putih yang masih melekat di ex koloni mereka hingga sekarang (sebagai history nerd, gw wajib referensi ke sejarah yang memang ada kaitannya dengan ini, biar jelas kausalitasnya). Mungkin kah sikap kebanyakan orang Indonesia yang menyanjung ras Kaukasus ini sebabnya kenapa tulisan yang memuat kata bule pasti banyak yang baca? Haus informasi tentang bule. Azas ekonomi berlaku; supply and demand. Setelah mengamati maraknya pembahasan bule di internet ditinjau dari berbagai topik, gw berani menyimpulkan sekarang ini topik mengenai hubungan orang Indonesia (kebanyakan cewe) dengan (cowo) bule sudah resmi jadi niche di dunia blog …dan vlog!

Gw tulis tentang ini karena suka aja mengamati hal-hal yang aktual, share di blog dan bahas deh dengan yang baca. Ini observasi gw tanpa bermaksud menyindir seseorang ya, disclaimer ini penting seriously. Awalnya sih tulisan ini hanya draft, gw kutak-kutik udah sekitar sebulan supaya sreg dengan pesan yang ingin gw sampaikan. Statusnya sampai siang tadi masih oranye, di zone tayang atau ngga. Setelah ngobrol dengan Dixie (fotografer tinggal di Jakarta, pernah kuliah di UK) dan Deny (suaminya orang Belanda dan tinggal di Belanda) di Twitter, mereka bilang tertarik baca ya udah gw poles sedikit lagi deh and here it is.

Awalnya itu vlogging udah ada sebelum YouTube ada (YouTube berdiri 2005), sekitar 2002 waktu Yahoo masih berjaya. Waktu itu banyak blogger yang juga jadi vlogger tapi menurut riset gw baru dua – tiga tahun terakhir ini pesat perkembangan vlogger Indonesia pasangan bule ini. Gw pertama kali tahu tentang adanya vlogger Indonesia – bule dari Febby (tinggal di Antwerpen, suaminya orang Belgia) dan Noni (tinggal di Medan, suaminya orang Amerika). Dan setelah ketemu kanal para vlogger ini gw lihat beberapa yang banyak followernya karena tertarik dengan topik dan interaksi si vlogger dan followernya. Penasaran lihat kanal vlogger niche ini, cari sendiri ya di YouTube.

youtube subscribe button

Di pos ini gw mencoba menganalisa beberapa faktor yang membuat vlogger niche ini sukses.

  • Faktor pertama tentu keingintahuan atau rasa penasaran (bahasa populernya kepo) orang Indonesia terhadap sesama saudara setanah air yang berpasangan dengan bule. Mau mereka tinggal di negara asal partner kulit putihnya, jadi expat di negara lain maupun tinggal di Indonesia, pasti ada aja yang lihat dan subscribe ke kanalnya.
  • Info umum: 90% informasi yang masuk ke otak manusia itu visual dan 40% dari manusia akan merespon konten visual lebih baik daripada konten teks. Data is diambil dari blog.hubspot  Pernyataan ini menerangkan kenapa vlogger dengan topik apapun umumnya dan vloggers niche Indonesia – bule khususnya sukses menjaring pemirsa. Vlog itu video log, gambar bergerak. 90% informasi yang disampaikan masuk ke otak pemirsa. Vlogging itu efektif untuk menyampaikan cerita.
  • Berkaitan dengan data di atas, vlogger itu secara umumnya punya power yang kuat karena mereka believable. Vlogger itu real, ada buktinya berupa gambar bergerak, ngga seperti beberapa blog niche bule yang ngga ada bukti tulisannya ini fiktif atau pengalaman sebenarnya si blogger. Di vlog loe bisa lihat beneran si vlogger yang muncul di layar dengan suara aslinya dia, nama aslinya si vlogger pun ada.
  • Info umum: seperti blogger, vlogger yang sukses itu vlogger yang autentik. Well, mungkin inspired by others bisa jadi tapi autentik itu yang membuat follower selalu kembali ke kanal si vlogger. Ada vlogger yang upload video baru secara berkala, ada yang tone of voicenya norak, bagus, classy tapi konsisten. Either you love or dislike them, it’s on you. Setiap style ada pasarnya. Yang penting kan tiap kali ada pengunjung di kanalnya, vlogger ini dapet income πŸ™‚
  • Menyambung autentik vloggers: what they say matters. Bisa berguna dan inspiratif untuk yang lihat. Mungkin ada yang mau ikutan mimpi punya partner kulit putih. Dengan melihat hidup vlogger yang menarik makin besar tekad mereka untuk mewujudkan mimpinya jadi istri bule.
  • Mencari pembenaran dari stereotype yang beredar seperti misalnya bule itu romantis. Ya ada lah vlogger Indonesia – bule yang buat video kemesraan dengan pasangannya. Cium pipi di restoran. Gw lihatnya rasa lucu banget. Well, dalam rangka riset buat tulis pos ini, I did that voluntarily LOL. Mungkin di Indonesia itu sesuatu ya sekarang cium pipi di restoran πŸ™‚
  • Dan satu lagi stereotype kuat tentang punya partner bule = perbaikan situasi finansial. Lewat vlog kan kelihatan hidupnya si vlogger gimana, rumahnya, hangout di mana dll. Ada buktinya dan pemirsa interpretasinya membenarkan stereotype tersebut.
  • Follow vloggers itu seperti lihat reality series dengan pemeran utama real people tanpa script. Vlogger itu multiperan: sebagai aktor, sutradara, penulis script, kameraman, editor dll dll. At least buat yang belum level vlogger yang followernya jutaan ya. Itu biasanya mereka udah profesional dan memperkerjakan crewnya sendiri.
  • Following the vlogger religiously pemirsa bisa relate ke si vlogger. Vlogger publish kehidupan kesehariannya; rutinitas dengan keluarga, urus anak, date dengan partner. Ada juga yang berbagi berbagai tips. Selalu ada situasi yang membuat pemirsa berpikir: oh gw juga gitu. Atau jadi inspirasi untuk melakukan hal yang dilakukan si vlogger. Seperti gw pernah tulis tentang online influencer, hal berikut ini juga berlaku untuk vlogger niche bule. Baca kata online influencer sebagai vlogger: Yang gw liat dengan sharing dalam frekuensi tinggi, follower para lifestyle online influencer ini merasa familiar, bisa jadi ada follower yang merasa kenal dekat dengan online influencer yang dia follow. Sikap manusiawi juga yang senang mengamati kelakuan orang lain makanya follower merasa seperti terlibat dalam hidup sehari-harinya si online influencer sehingga gampang terpengaruh dengan apa yang si online influencer ini sampaikan. Saking seringnya pasang update, follower bisa relate ke online influencer. 
  • Terakhir; melihat vlogger Indonesia bule gw rasanya seperti bertamu di rumah mereka atau ikutan duduk di mobil selagi mereka jalan sama partner bulenya. Intim sekali sih sebenernya stylenya, dan inilah yang memuaskan rasa ingin tahu sebagian besar pemirsa kanal vlogger-vlogger ini.

Selain faktor – faktor yang gw paparkan di atas, vlogging makin gampang dan populer karena perkembangan teknologi. Semua orang yang punya smartphone ada akses internet, mereka potensi jadi vlogger dan/atau pemirsa vlogger. Belum lagi kamera yang YouTube & WiFi ready udah banyak dan makin kecil ukurannya, ringkas. Mudah dibawa kemana aja. Anytime, anywhere dengan siapa pun, vlogger will vlog away, capturing that moment they want to. Setelah itu tinggal dibuat storytellingnya dan edit kemudian upload. 

Weits, kedengerannya gampang tapi vlogging yang bagus itu susah sih menurut gw. Selain kontinuitas, teknik juga perlu. Gimana caranya pegang kamera hand steady supaya gambarnya ngga goyang-goyang (ini bisa bikin yang nonton pusing kepalanya), suara, cahaya, cerita yang runtun belum lagi edit dengan teks dan musik yang sesuai gambar dan pesan. Salut gw dengan vlogger yang ok.

Menurut beberapa pengamat online bahkan tahun 2107 hampir 75% internet traffic isinya konten video. Trend ini udah kelihatan di Facebook yang makin banyak memuat konten video. Apa yang gw baca dari media online komunikasi trendnya sekarang bukan lagi reading tapi watching. Masuk akal juga sih. So yeah, niche pasangan bule atau bukan, vlogging is the bomb!

Bagaimana pendapat kalian? Have your say and let’s start a discussion.

Advertisements

40 thoughts on “Niche baru: pacar/pasangan bule

  1. Saya kurang begitu suka vlogging sih. Yah mungkin saya bisa dibilang ketinggalan zaman tapi ya saya lebih suka dengan membaca dan melihat gambar-gambar, haha. Imajinasi saya bisa lebih melayang dengan membaca dan melihat gambar, ketimbang nonton video udah sekali doang habis itu lupa. Tapi saya setuju bahwa untuk membuat video yang bagus itu nggak gampang. Mesti banyak waktu dan usaha yang dikorbankan.

    • Aku juga ngga begitu giat lihat vlog/YouTube video. Hanya untuk tulis pos ini aku sempet lihat dan cari vlogger Indonesia yang tersebut di atas.

  2. Ayoooo mba Vlog juga hahahaha. Kayaknya emang bakalan booming bgt walau kerja kerasnya sih pas ngedit dan bikin videonya. Cuap2nya lbh gampang drpada ngeblog.

    • Aku lebih suka lihat YouTube video alam, fotografi, tutorial masak & make up. Kalau vlog seperti yang dibahas di pos ini, bosen sih lihatnya. Ngga variasi imo.

  3. Bener deh mba Lorraine,, kalo yang temanya bule pasti banyak aja yang nyari hehehe.. aku pernah bbrapa nonton vlog-nya seorang istri bule yang stay di amrik sama suaminyaa.. seru sih apalagi dia sering dapet Q&A soal gimana dapet bule, jadi istri yang baik, dsb…

    Tapi ya gitu, kalo nontonnya pasti sendirian karna kalo ada temennya, malah denger kalimat komen2 miring wkwkwk karna dianya ga terima.. “kok mau ya dia sama si ini”… hadeuhh

  4. Hai mbak Yoyen!
    Sy pernah sekali dua kali lihat vlogging gitu… rasanya koq aneh ya kayak dibuat buat jadi malas nontonnya. Ada juga sih yg bagus yg dia juga merangkap beauty bloger gitu. Sy lebih suka nonton nonton vlogging yg mainan anak anak, skin care/personal care & masak masakan
    πŸ˜„

    • Untukku pribadi lihat vlog seperti journal gitu bosen sih. Sayang waktu, mending lihat YouTube video alam, fotografi, tutorial masak & make up.

  5. Bikin vlog emang butuh extra effort, kalo ga vlognya jadi boring banget atau ga menarik. Aku emang ga terlalu tertarik nonton vlog, apalagi yang cuma vlog kehidupan sehari2 (tapi justru buat beberapa orang ini daya tariknya, bisa ‘ngintip’ kehidupan orang lain). Sampe saat ini udah ngeliat sekilas2 beberapa vlog pasangan bule, belum ada satupun yang menarik buat ditonton sampe abis, apalagi buat diikutin. Tapi aku setuju dengan analisis Mbak Yoyen, orang2 Indonesia rata2 menganggap bule menarik, jadi apapun yang berhubungan dengan itu (termasuk vlog yg memperlihatkan keseharian & personality mereka) pasti menarik juga. Tapi aku agak ngerasa gimana dgn niche ini krn vlogger2 Indonesia ini (kebanyakan cewe) rasanya cuma bisa sell their brand krn mereka punya pasangan bule, mereka ga memperlihatkan kemampuan mereka yang lain. Kalo ga punya pasangan bule gimana? Apakah hidup mereka akan semenarik sekarang sampe punya ribuan-ratusan ribu followers? Kayanya aku akan lebih tertarik nonton/ngikutin kalo ada hal lain yg mereka angkat di vlog mereka, ga sekedar mempertontonkan pasangan bule. But each to their own I guess πŸ˜€

    • Yup, sepertinya aku lihat benang merahnya unique selling pointnya berpartner bule dan living a good life. Misalnya tanpa partner bule tapi tinggal di luar negri ada juga pasti yang subscribe Dixie. Everything luar negri works like a magnet for some of our fellow country(wo)men. Ini bahasan untuk pos selanjutnya.

      It was nice chatting with you & Deny on Twitter about this.

  6. Haaaa…gue pertama kali tau vlog pasangan indonesia-bule juga dari Noni πŸ™‚ πŸ™‚ Terus pertama kΓ₯li nonton blog seorang vlogger yang suaminya bule dan punya banyak sekali follower itu, gue nontonnya antara geli, kasian, malu, dan gimana gitu deh….I meant, omg too much personal stuff yang dikasi liat dan berbagi yang menurut gue ga perlu ya. Tapi ya spt kata elo, orang Indonesia itu pada dasarnya emang seneng yang kepo2 gitu ya. Nge-blog pun kalo kita nulis detail tenting kehidupan pribadi kita pasti banyak bener yang komen or baca :p

    Eniwei, karna gue pengen tau dan penasaran dengan vlog jadi gue pun ikutan nge-vlog so far sih baru satu doang vlognya karna omg ga sanggup gue, time consuming sekali dehhhh….kalo kerjaan gue cuma vlogging aza si mungkin ok2 aza tapi kan gue perlu kerja dan urusan rumah tanga dan anak, suami, anjing, ayam, etc, etc. Jadi yup gue juga salut sama yang bisa nge-vlog rutin gitu!

    Sepertinya pasangan indonesia-bule akan selalu menjadi hot topic ya Lo dimana-mana. Heran juga gue, karena bule itu kan manusia biasa juga cuma warna kulitnya aza yang beda.

    • Ha…ha..Noni memang trendsetter ya Ria, tahu aja hal yang baru. Sama lah gw kesannya nonton itu cuma ngga gw bahas di tulisan di atas nanti ada yang ngecap gw nyinyir lagi ha..ha..

      I meant, omg too much personal stuff yang dikasi liat dan berbagi yang menurut gue ga perlu ya. Exactly! Oversharing juga banyak dan sepertinya ini jadi faktor suksesnya.

  7. Sejauh ini sih aku sebenernya kurang tertarik nonton vlog, kecuali yang tentang traveling. Tapi sejauh inipun blm ada travel vlogger yg aku sengaja subscribe, cuma kalo pas ngetik keyword tentang tempat wisata tertentu misalnya trus muncul channel travel vlogger gitu ya aku tonton. Channel yg aku subscribe itu malah channel sepakbola, universitas, atau foreign language learning haha. Tapi kalo bisa dibilang aku jarang sih nge-youtube. Kalo tentang bule itu, hmm gimana ya mbak yo, sebenernya aku heran dgn banyak orang Indonesia yg punya stereotype bahwa bule itu selalu “lebih” dari kita. Padahal kan bule ada yang kaya ada yang gak, ada yg romantis ada yang gak dll, ya sama aja sama kita 😦 Kadang yg bikin aku risih, maaf nih ya, kalo di tempat2 wisata gitu sering orang2 (cewek terutama) setiap ngeliat bule selalu ngajak foto bareng. Kalo bulenya selebriti ya lain cerita, tapi ini kan bukan. Ya terserah mereka sih tapi haha, ini cuma pendapatku. 😊

    • Iya itu inferiority complex Icha. Ada yang masih menganggap orang ras kulit putih itu ras super, semuanya pasti lebih. Padahal aku lama tinggal di negara orang kulit putih ya bisa lihat sendiri mereka manusia seperti kita ras Melayu.

      Betul, itu sangat mengganggu ya di daerah wisata ada wisatawan lokal yang seneng foto bareng wisatawan kulit putih. Kadang aku mikir ya; buat apa? Kenal juga ngga.

  8. Bikin vlog yang bagus tuh emang kudu niat dan susah ya Mbak Yo. Makanya masih maju mundur buat ngevlog karena effortnya lebih lebih dari ngeblog. Tapi sejauh ini aku ga begitu sering nonton vlog sih. Masih lebih milih baca blog.
    Soal vlog niche pasangan bule, cuma vlog Mbak Noni yang aku subscribe, itu pun bukan karena Mbak Noni pasangannya bule, tapi lebih ke travelingnya πŸ˜†

    • Memang susah buat vlog yang menarik Ira, dari beberapa elemen seperti: storyline, teknik dan cara orang berbicara di depan kamera itu yang menentukan vlog bagus atau ngga.

      Iya, Noni & Febby aku lihat sih profilingnya lebih ke travel vlogger ya. Mereka ngga oversharing hidup dengan pasangannya.

    • Ha..ha…sampe kuda bisa gigit kue talam ngga deh Shin kayanya. Aku males. Lagipula mau vlogging tentang apa? Hidupku ngga menarik untuk dilihat orang cuma ngantor, masak, gym, urus keluarga dan seneng-seneng (ke bar/resto), jalan-jalan dan les ini-itu. That’s about it!

      • Justru org kita kan kepo bgt sm kehidupan orang lain mbak. Buat mbak nggak menarik siapatau org yg liat malah pgn punya kehidupan kyk mbak Yo tinggal di luar negeri lagi.. hehehe… kalau aku udah nderedeg duluan on camera hahahaha….

  9. Aku di-suggested vlog oleh Youtube ttg pasangan indo-bule pas lagi iseng2 liat vlog Awkarin dulu. Cuma nonton 5 menit langsung nggak tahan kuganti. Mereka (dan yang memberikan komentar) memberikan kesan seolah-olah punya pacar bule itu memberikan prestige tersendiri. Bagaimana dengan personal values dari wanita2 itu? Apakah cukup dengan label “pacarnya bule”? Superficial banget dimataku. Sedih karena setelah berpuluh2 tahun merdeka pun post-colonial inferiority syndrom ini masih melekat erat di Indonesia. Greenland yang masih baru2 sejak jaman post colony Denmark aja udah nggak gitu. Ada yang beberapa justru jadi kebalikannya malah nggak suka dengan orang Denmark sih, but that’s another story.

    • Nah itu lah Steph. Aku setuju dengan komen kamu. Mendewakan ras kulit putih dan sepertinya dengan berpartner bule = hidup terjamin dan senang.

      • Itu Mbak yo. Apa ini dari jaman colony dulu juga? Padahal udah banyak banget wanita indonesia yang berpasangan dengan bule yang bilang dan cerita klo pasangan dengan bule itu bukan jaminan hidup enak. Ngenes liat orang yang tulis kalau their life goal itu untuk punya pasangan bule…

  10. Terima kasih Mbak Yo akhirnya dipublish. Jadi banyak tahu juga hal baru dari tulisan ini. Secara umum, aku salut juga (sama kayak Mbak Yo) sama yang konsisten ngeVlog (apalagi yg daily Vlogging atau yg ngeVlog dimanapun berada). Aku bayangin aja sudah ga sanggup. Misalnya aku ke Haagse Markt beli ikan dll musti ngomong depan kamera, satu tangan geret karretje, tangan yg lain pegang Hp. Atau ngeVlog kegiatan sehari2, ga sanggup bayangin ribetnya musti pasang jilbab dulu haha. Belum lagi proses editingnya. Jadi sampai saat ini, ga terpikir untuk vlogging kehidupan sehari2. Aku punya akun di youtube sudah lama, isinya ya rekaman kegiatan2 yg aku datangi atau pas lagi traveling. Tapi ga ada mukaku ataupun suaraku. Cuma ngerekam sekilas2 gitu. Aku ngeVlog kegiatan yg ada suami juga hal yg mustahil. Mana mau dia, akupun juga ga mau kehidupan kami tampil secara gambar bergerak. Singkatnya, untuk saat ini kami cukup puas dengan berbagi cerita seperlunya lewat blog. Untuk yg niche pasangan bule, awalnya aku betah nonton beberapa akun. Tapi lama2 bosen juga karena nyaris sama isinya. Jadi akhir2 ini ga pernah lagi kutonton. Aku subscribe akun youtube cuma yang bahas masak sama traveling aja.

    • Hooh, memang niat sekali mereka ini. Aku ngerti sih gimana ini secara psikologis prosesnya. Sama seperti blog lah Den. Kalo kita publish tulisan ada yang baca dan interaksi, kita terpacu untuk nulis lagi kan? Ini sama seperti vlogging. Upload satu vlog dan banyak reaksi orang, ya mereka jadi rajin.

      Aku bahas pos ini hanya analisa aja ya bukannya bilang ngga boleh vlog, siapa lah aku ini. Asli aku tertarik lihat fenomena ini karena vlogging media yang paling baru di dunia maya dibanding blog. Dan ini ada kaitannya dengan manusia yang cenderung lebih menikmati/mencerna informasi visual lebih balik dibanding teks.

  11. Mbak Yo, aku termasuk yang nggak pernah nonton vlog. Tapi sekitar bulan mei tahun ini, ada satu vlog yang aku tonton dan bikin kecanduan.. iya, sampai semua episode nya aku buka, ada belasan kali ya.. terus aku juga setel notifikasi kalo ada vlog baru muncul. Mereka itu group/duo penyanyi dari the remix (ajang kompetisi musik EDM -electronic dance music), jadi vlog nya isinya keseharian hidup tp relate sama persiapan mereka buat show, nyiapin materi… roadshow dll. Terus habis itu jadi tau kalo buanyaaaakk bgt vlog2 tentang ini tentang itu hehehe..

    Setelah pindah rumah dan gak pasang wifi, otomatis kegiatan nonton vlog berhenti total. Ngirit data πŸ˜‚. Sekarang suka beberapa kali ntn vlog yang bikin aku tertarik aja kaya Andien waktu ke melbourne, atau vlog nya temen2 blogger, sudah deh πŸ˜‰

    • Itu bagus sepertinya Dila. Jadi pemirsa dibawa ke proses duo itu berkarya dan memang nyata hubungannya dengan profesi mereka. Menarik lah dilihat sepertinya dibanding lihat orang vlogging tentang hidup keseharian mereka di sekitar rumah. Ooops, aku musti hati-hati supaya ngga salah nulis nanti ada yang ketowel πŸ™‚

  12. Aku kayaknya golongan kurang suka nonton vlog kecuali video hewan-hewan. Instagram story aja menurutku membosankan, kecuali story-nya Anthony Bourdain πŸ˜€

    • Aku nontonnya YouTube video alam, fotografi, makanan, travel, tutorial masak & make up. Kalau vlog seperti yang dibahas di pos ini seperti journal, bosen sih lihatnya. Ngga variasi imo.

  13. Analisa yang menarik, mba Lorraine. Kata kunci bule memang dianggap menjual. Di dunia nyata saja sering melihat iklan “belajar bahasa Inggris bareng bule”. Sayang banyak kasus guru bule tidak punya sertifikasi mengajar yang memadai di keilmuannya. Jadi diambil untuk jadi pemikat saja. Oya, beda dengan kasus belajar bahasa tadi, orang Indonesia yang mba maksud disini tentunya lebih ke perempuan ya? Sepertinya jarang cowok suka nonton vlog cerita sehari-hari. Thks sekali lagi sharingnya..

  14. Aku doyan nonton Vlog mba Yo πŸ˜€ Soale lagi bosen sama siaran tv. Tapi so far baru sekali nonton Vlog yg pasangan campur krn nongol di timeline (apa bahasanya ya buat Youtube?) jadi klik nonton deh. Gak sampai abis tapi trus bosan..Haha.. Senengnya nonton Vlog yg kegiatan seru2 macam Vlog nya Raditya Dika yang pas shooting film. Atau yang jalan-jalan. πŸ˜€

    • Aku ngga begitu tertarik Py lihat vlog keseharian orang πŸ™‚ Kalau lihat video di YouTube biasanya musik, masak, alam, makeup dll. Ini juga nonton vlognya yang aku bahas di atas karena referensi untuk tulis pos ini.

  15. Tulisannya komplit ngebahasnya. Ngevlog ternyata begitu bombastis ya. Kemarin sempat nonton hasil vlog nya febby, tapi hbs tuh ya sudah. Aku tipe pemalas nonton (Kalo suka buffer gitu), soalnya netku cari yang murahan sih, enakan baca.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s