about me / Bahasa Indonesia / Thoughts

Online Influencers

Waktu gw masih SD ketika ibu guru di kelas tanya kalian mau jadi apa kalau besar; rata-rata jawaban anak sekelas mau jadi arsitek, dokter, pramugari, insinyur. Sekarang dengan adanya internet, online influencer itu adalah satu profesi yang bisa untuk hidup. Ngga usah jaman gw SD deh tahun 1978, 10 tahun lalu udah ada internet tapi mana orang terpikir akan ada profesi online influencer walaupun tahun 2006 udah ada sih beberapa blogger yang jadi penyuara beberapa hal tetapi hanya bisa dihitung dengan jari.

Sebelum membahas lebih dalam ini dia definisi online influencer menurut gw; orang yang berpengaruh di dan memakai media sosial untuk memasarkan produk atau jasa. Dijabarkan lebih lanjut ada kategori dua online influencer:

  • Orang yang memang sudah terkenal offline dan aktif online. Para figur publik yang jadi online influencer ini beragam profesinya- gw ngga sreg pake istilah artis btw – penyanyi, musisi, pemain film, model, ahli tertentu, pendidik terkenal dll. Sepertinya profesi online influencer untuk mereka hanya sebagai pendapatan sampingan. Eh ada juga sih orang yang pernah terkenal, jarang tampil di fieldnya tapi tetap aktif sebagai online influencer karena masih banyak orang yang follow sepak terjangnya. Selama ini bisa menghasilkan uang, kenapa tidak dijalankan?
  • Selain figur publik ada juga orang biasa yang membuat konten menarik sehingga banyak orang yang follow. Dengan meningkatnya jumlah follower, si empunya akun semakin terkenal sehingga mulai dipakai jasanya  untuk promosi satu produk atau jasa karena banyak follower = besar pengaruh. Mereka ini yang sekarang mulai disebut sebagai seleb online.

Beberapa tahun lalu satu temen gw orang Belanda pernah bilang ‘ Online fame itu rasanya seperti kita jadi orang kaya selagi main monopoly’. Dulu mungkin begitu tapi sekarang online influencer golongan kedua ini bisa tembus ke offline, ke mainstream media. Satu contohnya vlogger Belanda paling terkenal saat ini, Enzo Knol, jadi salah satu presenter di acara piala pariwaranya Belanda, disiarkan live di tv dua minggu lalu. Contoh di Indonesia si Awkarin yang kolaborasi dengan rapper, ikut nyanyi di singlenya rapper itu. Dan masih banyak contoh lainnya. Orang Indonesia yang aktif online pasti pernah denger kan sepak terjangnya Awkarin ini.

Dengan cerita suksesnya online influencer seperti ini, ngga salah kalau ada orang yang tergiur mau jadi online influencer juga. Sepertinya gampang ‘hanya’ pasang update di media sosial tapi ada X-factor yang membentuk seseorang aktif online sehingga menjadi online influencer. Belum lagi strategi konten dll, gw ngga bahas tentang ini ya, nanti posnya jadi kepanjangan. Sejak maraknya online influencer dan tertarik dengan ini berdasarkan pekerjaan gw di online komunikasi gw mengamati beberapa orang di media sosial akhirnya gw tulis tentang ini.

Online influencer juga masih terbagi di media yang mereka gunakan. Awalnya rame di blog, banyak blogger yang review berbayar menulis pengalaman mereka  menggunakan satu produk atau jasa. Kemudian muncul YouTube, Twitter, Instagram, SnapChat, Steller and so on and on, I lost count.

Ada online influencer yang aktif di banyak media sosial, ada yang fokus ke satu medium seperti vlogger atau Instagram dll. Selain itu juga nichenya beragam: makanan, jalan-jalan, makeup, fashion, olah raga, parenting, science. Satu niche yang gampang jadi payung untuk beberapa niche diatas itu lifestyle (makanan, jalan-jalan dll).

Mau jadi online influencer yang sukses? Ini profilnya menurut gw: lelaki ganteng/perempuan cantik 15 – 35 tahun, (kebanyakan perempuan sih). Nichenya: travel, food, jalan-jalan, anak, keluarga. Oh, di Indonesia jika si online influencer perempuan berhijbab kans suksesnya bisa lebih besar karena komunitas hijaber Indonesia besar, banyak dan aktif.

Kenapa gw sebut diprofilnya ganteng atau cantik? Karena fokus orang itu ke visual. Makanya beberapa tahun terakhir ini Instagram makin banyak pemakainya dan beberapa akun di Instagram meroket tenar jadi Instaseleb. Instagram booming sebagai medium untuk online endorsement karena selain medium foto, ruang untuk menulis teks cukup untuk menyampaikan pesan. Lain dengan blog yang tayang konten terdiri dari tekst dan foto. Atau di Twitter di mana online influencer disebut buzzer; rame aja yang dipush beritanya mulai dari politik sampe promosi minyak goreng. Sayangnya 140 karakter terbatas untuk menyampaikan pesan.

Salah satu kunci suksesnya online influencer itu continuity update akun mereka. Menurut Instaseleb fashion Belanda keturunan Iran, Negin Mirzalehi tiap hari boleh update tapi jangan overshare karena nanti follower akan saturated. Btw Negin ini mulai akun Instagramnya hanya beberapa ribu follower, sekarang dia fulltime online influencer dan memperkerjakan 4 orang sebagai stafnya. Baru beberapa tahun terakhir dia tulis blog dan buka YouTube channel. Sebagai online influencer untuk merk fashion papan atas yang hanya terjangkau kalangan elite, bisa paham gw kenapa advisnya dia itu jaga ekslusifitas. Ini sejalan dengan nichenya dia, high end fashion yang bukan untuk semua kalangan.

Lain dengan online influencer dalam kategori lifestyle. Gw mencoba merumuskan apa sih lifestyle itu, kebanyakan tentang fashion, food, travel dan tempat-tempat bagus. Benang merah para online influencer niche lifestyle atau mall online influencer ini mereka rajin update, kadang hingga ke level oversharing. Dari mbak-mbak cantik vegan, badan bagus yang berbagi keseharian mereka sampe mommyblogger yang overshare keluarganya. Pacar, suami atau anak termasuk brandnya online influencer ini.

Yang gw liat dengan sharing dalam frekuensi tinggi, follower para lifestyle online influencer ini merasa familiar, bisa jadi ada follower yang merasa kenal dekat dengan online influencer yang dia follow. Sikap manusiawi juga yang senang mengamati kelakuan orang lain makanya follower merasa seperti terlibat dalam hidup sehari-harinya si online influencer sehingga gampang terpengaruh dengan apa yang si online influencer ini sampaikan. Saking seringnya pasang update, follower bisa relate ke online influencer. Ini resep ampuh untuk sukses atau tidaknya endorse satu produk/service. Endorse merk baju anak, ya si follower cari untuk anaknya juga. Promosi krim muka bagus, ada follower yang rela nabung uang supaya bisa beli krim itu. Lihat tabel di bawah ini, hasil riset tentang Global Consumer’s Trust tahun 2015 dari Nielsen, biro riset media advertising dari USA.

Pesan (call to action, konversinya garis warna ungu di grafik di bawah ini) si online influencer terlihat ampuh menggerakkan orang yang baca jadi beraksi membeli barang/jasa yang dipromosikan. Ini karena si pembeli merasa kenal/dekat/percaya dengan si online influencer.

Mengenai lifestyle online influencer ini gw bertanya-tanya sebagaimana otentiknya hidup para life style influencers yang tiap updatenya di media sosial itu endorsement? Liburan, endorsement, baju endorsement, makan di resto endorsement. Mulai dari si influencer sendiri sampe ke pacar, suami dan anak. Sepertinya hidup mereka yang mereka share di media sosial hanya terdiri dari endorsement aja, another day at the office, inget kan online influencer itu sudah jadi profesi.

Dan juga satu pertanyaan lagi, setulus apa review yang mereka buat? Coba deh kalau kita bersikap kritis, ada berapa influencer yang ditugaskan promosi barang/jasa dan pos update negatif karena memang pengalamannya negatif tentang barang/jasa tersebut. Apakah influencer yang pos negatif ini akan menerima honorariumnya atau ditegur perusahaan tersebut karena promosi tidak sesuai kontrak?

Dan lagi sebagai blogger yang sering menulis tentang risiko sharenting, gw beneran penasaran dengan mommy online influencer yang overshare suami dan anaknya. Anak kan tumbuh besar, misalnya si anak menolak untuk pose buat konten ibunya, gimana nasib si mommy online influencer ini nantinya? Karena anak dan suaminya itu kan satu paketnya dia. Brand dan image keluarga bagus, cakep/cantik dan bahagia itu yang dijual ke followernya, kalau anaknya ngga mau lagi gimana? Btw, ini gw tulus wondering, asli bukan nyindir. Please coba berpikir kritis kalo ada risiko tersinggung dengan bagian ini ya. Anak itu punya opini dan otoritas diri sendiri dalam batas tertentu ya imo.

Poin terakhir pos ini menyangkut integritas. Gw follow beberapa fitness dan food online influencers, mereka konsisten ambil endorsement menyangkut niche mereka; biasanya promo baju fitness, produk masakan, minuman dll. Ini masih enak dilihatnya. Ada beberapa lifestyle online inflluencers yang di mata gw hajar bleh, ambil semua tawaran yang masuk. Ini jadi menggelitik pikiran kritis gw; gimana integritas mereka ya? Gw ngga anti online influencer ya walaupun ngga pernah beli barang berdasarkan online endorsementnya orang. Gw lihat ada beberapa temen blogger atau di Instagram yang kadang endorse stau produk atau jasa. Cuma kalo updatenya tiap kali itu konten berbayar, ngga asik deh bacanya. Ada yang biasanya endorse fashion, food dan travel, tiba-tiba kok endorse produk lain yang ngga masuk dinichenya. Terus terang kalo gini gw jadi males follownya. Sedikit kecewa, sedikit aja ya karena gw ngga kenal pribadi dengan mereka dan jadi mikir; you have sold your soul to money. So sorry.

Tertanda,

 

Lorraine
Opini Blogger yang bukan online influencer karena ngga akan pernah ambil endorsement berbayar, gw ngga bisa tulis berdasarkan pesanan, beberapa tulisanpun pernah muncul di satu newssite tanpa dibayar.

Sumber:
Featured image dari Freepik

 

65 thoughts on “Online Influencers

  1. Bener..makanya kadang suka mikir juga sama para vlogger yang mengshare ttg kehidupan sehari-hari mereka, Jadi kayak nggak ada ruang privacy ya…Tapi mungkin mereka mikirnya ke materi dan fame sih daripada privacy.

    Kadang geleng2 kepala liat vlogger yg kawin campur mbak…lebay menurutku, bukan aku nyinyir. Sebagai pelaku juga, aku rasa ada batas2nya lah…tp ya kembali ke pribadi masing2 ya..

    • Hi Dewi, Betul. Iya, terakhir ini ada beberapa vlogger/blogger nikah antar ras yang yang overshare ya. Aku juga risih lihatnya, pingin bahas itu tapi masih taraf draft.

      Memang betul drivenya fame & money cuma dua hal itu kan fana apalagi ketenaran. One day public loves you the other day they despise youπŸ™‚

      • Ada bbrp yang komen, ‘para haters, sama yg nyinyir, take it or leave it, nggak suka ya jangan di follow’ Ya emang bener..tapi banyak yang dimislead loh…karna orang2 mikirnya pasti yang indah-indah…sama kyk product..kalau bahaya sama kesehatan gmn…mana bukan ekspert yang kasih review, tp hanya karena banyak followers saja…itukan berbahaya..

        • Iya, itu gampang sekali generalisasi opini, kritik dan nyinyir disisir jadi satu padahal ada bedanya. Makanya aku tutup pos ini tentang integritas, ok lah di dunia yang consumtif ini banyak orang yang ngga menolak uang cuma ya would you do it despite all? Aku beneran wondering itu yang overshare semuanya, kalau anaknya beranjak gede dan menolak masuk konten orang tuanya, apa selling point yang bisa dijual orang tua sebagai online influencer?

  2. Agree!…privacy anak sudah dibabak belurkan sama orang tua ya. Aku salut banget sama Nadya, yang respect banget sama privacy anak2nya..sama si itu..si Anggun..Tapi kalau orang kayak kita ngebahas begini didengar sama orang tua yang show up privacy anaknya, pasti dibilang siriklah, nyinyirlah dll…Padahal emang itu sangat beresiko.
    Kayak si Kim baru2 ini kena rampok, cincin diamonnya digondol maling setelah dia posting di Ig nya… Berita di CNN yang aku baca, yang pada komen pada nyalahin dia yang overshare..

  3. Menarik sekali Mbak Yo tulisannya. Sama kayak yang Dewi sebutkan di atas. Aku fokus dengan vlogger yang menyertakan anak2nya yang masih kecil, yang masih belum bisa bersuara apakah mau ditaruh di youtube atau nggak, sementara orangtuanya selalu menyorot kehidupan pribadi mereka sehari2 dan menaruhnya di area publik, bisa dilihat oleh siapapun. Bagaimana kalau mereka sudah besar. Ada rasa kasihan dengan anak2 ini karena ruang pribadi mereka “dirampas” oleh orangtuanya. Dan juga Vlogger2 yg menikah campur, ternyata buanyaakk banget ya Mbak. Dan menemukan 1 orang Indonesia yg tinggal di Belanda. Memang hak mereka ya untuk mempertontonkan kehidupan sehari2nya dengan seluruh rumah, anak2nya, bahkan suaminya. Tapi rasa2nya kok kayak ga ada privacy lagi. Mudah2an aku bukan termasuk blogger yg oversharing. Btw, aku juga beberapa kali menolak ajakan kerjasama untuk mereview produk Mbak. Karena memang sesuai kesepakatan dengan suami di awal waktu bikin blog bersama, kami tidak akan mereview berbayar produk2. Selain karena tidak sesuai dengan tujuan ngeblog kami, juga karena tidak menggunakan produk2 tersebut.

    • Ya betul Den, vlogger/blogger yang bahas kawin campur makin banyak. Risih sih aku lihat beberapa yang overshare. Tentang overshare anak, ya kamu tahu kan sikap aku gimana. Mungkin silau dengan ketenaran dan uang, mungkin ya ini, makanya ada orang yang ngga melihat risikonya overshare semua aspek kehidupannya online.

  4. Saya setuju banget dengan poin menyangkut integritas. Sempat saya ikut event jalan-jalan menyambangi beberapa situs sejarah di Jakarta, pesertanya (ternyata) kebanyakan masuk golongan online influencer ini (buktinya ketika saya cek isi blognya ternyata endorse semua, baik event, jasa, atau testimoni produk, eh pas di lokasi judulnya bukan exploring, tapi sibuk ngobrol soal nanti endorse produk apa atau produk ini sudah datang atau belum, atau ada tawaran baru untuk endorse apa, semacam itu. Esensi jalan-jalan dan mendengarkan penjelasan guide turnya pun jadi hilang karena pesertanya kebanyakan sibuk sendiri.

    • Hai Gara apa kabarnya? Lama kita ngga ngobrol ya. Ya ampun serius tuh? Acara ke situs tapi mereka ngobrol job endorsement? Tapi akhirnya mereka tulis juga kegiatan itu? So sorry that money mostly talks ya.

      • Saya kabar baik, bagaimana dengan Mbak? Semoga baik-baik juga yah.
        Saya pun akhirnya jadi kurang semangat karena mereka ngobrolnya job terus. Jadi nggak nyambung, gitu. Event-nya baru saja selesai sih jadi mungkin hari ini belum ada yang tulis. Cuma ya lucu banget sih mereka ke sana cuma buat cari latar produk doang, atau latar kaos yang mereka pakai. Iya Mbak, money talks…

        • Aku kabarnya baik Gara. Ah kamu udah ada domain sendiri, congrats! Mungkin karena itu jadi ngga follow lagi ya. Aku follow kamu lagi ya.

          Aneh ya, misalnya mau bahas endorsement mbok ya sebaiknya tunggu waktu yang tepat kek ya imo. Ah, well. Susah Gar, udah seleb levelnya soalnya ha..ha..

        • Syukurlah kalau kabarnya Mbak baik. Wah, terima kasih banyak sudah di-follow!
          Dalam pikiran saya sih, mungkin mereka sedang dikejar deadline produk. Atau banyak produk yang mesti di-endorse sehingga mereka harus pintar memanfaatkan semua situasi. Karena kebanyakan mereka, kalau saya perhatikan dari blog-blognya, adalah tipe online influencer “hajar bleh” seperti yang Mbak paparkan di postingan ini, hehe.

  5. Pendapatan mereka bisa ratusan juta Mba per bulan. Terus, aku jadi ga ngerasa produk yg mereka iklanin ada manfaatnya. Jadi ga percaya sama review berbayar ha ha…

    • Aku kalo si influencer ketat jaga brandingnya (baca review barang sesuai niche) masih percaya Ji, yang begini dimataku bisa jadi otoritas tapi kalo yang semua diendorse, hallow, mall influencer, semua ada πŸ˜€

      • Mba, di Belanda banyak ga si yang level mall influencer gitu? Kalo di Indonesia kebanyakan soalnya yg kaya gitu

        • Untuk target group sampe 35 tahun ada beberapa mall influencer di Belanda, kebanyakan perempuan. Selebihnya yang follow ya anak muda. Orang Belanda ngga kepo sama orang lain Ji, jadi mau overshare malah bukannya difollow, orang jadi kritis.

        • iya ha..ha…semuanya dijembreng online bahkan momen paling pribadipun diabadikan camera man terus dishare di media sosial. Eh tapi kalo ada yang komen negatif tentang dia atau keluarganya, ngambek terus counteringnya mencap yang remark negatif itu hater. Aku bukannya setuju orang komen negatif atau trolling ya Ji, cuma once you are in public eye, bisa lah kalkulasi ada orang yang ngga suka even of you have done nothing wrong. Cuekin aja, it comes along with the job. Mau orang ngga komen negatif, suck it up atau kurangi sharingnya. Yang terakhir ini susah karena kehilangan income πŸ˜‰

        • Dan yang jadi ribut malahan haters dan fans nya. Yang punya akun asik kipas-kipas uang hahaaha

  6. Salut dengan idealismenya. Saya ngeblog dan ngesocmed lain termasuk yang moody. Tapi suka bahas soal anak, supaya bisa jadi info untuk ibu2 muda lainnya. Saya pilih sharing dibanding judging. Share yang masih dalam batasan saya.

    • Makasih Frany, banyak kok yang ngga mau tulis berbayar kaya aku gini. Nah kalo share berdasarkan pengalaman sendiri tanpa ikatan kontrak enak dibacanya karena ini pengalaman kamu pribadi, bukannya berdasarkan pesanan karena endorsement.

  7. Instant money datang bertubi2, persetan dengan integritas which is pretty sad to think that way, but then they will answer with ” ini kan kerjaan halal ”πŸ™‚

    My blog receives some decent online income too but that doesn’t mean that I have to sell my soul to earn a buck, it has to be a travel blog with a travel related issues, jadi gak mungkin nemuin iklan olive oil, susu cap manis, or cerita seputaran selangkangan demi traffuck ! πŸ˜‰

    • Yup, sadly. Nah itulah Fe, kalo ngga ada integritas semua diambil padahal ngga sejalan dengan tema blognya. Pembaca yang kritis akan bisa lihat ini dan bisa jadi unfollow.

  8. Yen, kayaknya kalo yg terima bayaran itu memang kerjaannya sehari hari alias ga ada kerjaan lain lagi.
    Iya gw lihat banyak yg kawin sama bule juga yang rajin di socmed dan banyak yg di Indonesia yang begini ya.
    Sama dengan elo, gua suka bacain comment2 nya yang ga bermutu kadang2 karna seru.

  9. Nampaknya aku ketinggalan nih, gak update soal mereka yang kawin campur bikin vlog. Tapi tanpa menjadi influencer aja aku perhatikan orang udah banyak yang oversharing. Nah begitu dikasih kompensasi hajar aja semua dikasih. Apalagi privacy anak-anak.

    Menyoal integrasi, jadi ketawa sendiri karena ada travel Blogger jual minyak. Nyaaaaak….minyak……

    • Aku antara mau bahas pelaku kawin campur tapi males juga mikir nantinya naik traffic mereka. Belum lagi nanti reaksi yang masuk misalnya bahas ini, dari mereka yang ngga paham tulisanku.

      Nah itu beneran Tje. Yang oversharing itu gimana ya kalo suatu saat anak dan partnernya keberatan tampil di konten mereka?

  10. Money talks ya. Tapi jika si online influencer ini tidak pandai-pandai dalam management kontennya, aku rasa untuk jangka panjangnya ia juga akan kena imbasnya sendiri. Dalam artian, jika follower-nya berkurang, otomatis yang mau endorse juga berkurang kan?

    • Iya betul Ko, di atas kertas begitu. Aku udah unfollow beberapa yang menurutku kok jadi kejar setoran. Males bacanya karena dulu follow mereka berdasarkan tulisan/pendapat pribadi, sekarang kok tulisan selalu berbayar.

  11. Nice share mbak Yo. Nanti ijin ambil buat referensi ya mbak.
    Di sini memang banyak lifestyle, imho krn memang “diajarkan” untuk mengambil itu. Biar semua keambil n akhirnya ya…. Money talks banget.

  12. Setuju banget, mbak Yo.
    udah lah gak mw ngomong apa2 lagi, intinya mah setujuu.
    Uang jadi berhala baru (dari dulu sih sebenernya) yg dipuja2 sama orang. 😭😭😭

  13. Baca postingan ini, membuat aku berpikir kalau penggunaan social media itu harus ada license nya (18 + misalnya) atau minimal pajak biar orang agak mikir sedikit untuk posting. :))

  14. Menarik bgt postingan-nya, Mbak Yo. Aku sih masih oke kalo melihat endorsement selama kayak yg Mbak Yo blg masih sesuai niche dan review-nya jujur. Cuma memang banyak kayaknya ya online influencer yg mau di-endorse segala macam tanpa pilih-pilih. Takutnya efeknya ke followers terutama ABG labil yg kadang suka ngikutin lifestyle idola mereka.

    Oya, mengenai istilah artis itu, aku udah lama bgt gerah sama istilah ini di Indonesia. Padahal kan udah jelas dari kata art, udah pasti artist itu seniman. Dari kecil pun di buku Bahasa Inggris sekolah pelajaran profesi pake gambar-gambar itu, profesi artist pun srg di gambarnya itu pelukis gitu. Di Indonesia, kakak atau adek dari penyanyi atau aktris yang terus sering muncul di tv juga disebut artis, hahaha.

    • Betul Icha, itu makanya Awkarin kan rame beberapa waktu lalu karena followernya melihat dia sebagai role model sementara yang bisa seperti si Karin cuma sedikit banget. Goals!πŸ™‚

      Ah, di Indonesia istilah artis itu memang rancu sekali. Baru tampil sekali di iklan udah disebut artis.

  15. The very thinking going on in my head for the last past several weeks. Instead of creating content yang pas sama niche, saya malah terima endorse ini itu dan malahan terlena. Rasanya enak memang dibayar dan post konten berbayar. Meskipun saya selalu berusaha untuk state it clearly kalau postingannya berbayar tapi tetep rasa menjual jiwa ke duit ga bisa ilang. Ended up saya batalkan beberapa post yg belum publish dan mau fokus lagi creating content. Makasih mbak Yo udah ingetin lagi.πŸ™‚

  16. Kalimat penutupnya juara banget Mba. Aku juga banyak memikirkan tentang value apa yang mau diangkat si influencer ini untuk menyebut dirinya “influencer.” Jadi banyak wondering tentang ini, lalu baca ini dan terjawab beberapa hal yang aku pikirin. This post is greatπŸ˜€

  17. Nice share mba Yo. Aku sampe saat ini masih nerima tawaran sponsored post tapi benar-benar dipilih banget. Karena aku juga gak pengen blogku isinya iklan semua.πŸ˜€

  18. Kalau di Amerika sudah ada kasusnya Josi Denise. Teorinya kita sll ketinggalan 4 thn dari trend disana. Mgk sambil bekerja jg harus banyak belajar dari pendahulu2..spy terjebak di lubang yg sama..

    • Banyak kok. Di Belanda juga udah ada beberapa influencers terkenal yang akhirnya bergumul dengan conscience mereka dan rubah strategi ambil endorsement.

  19. Wow, aku suka banget postingannya mbak Yo ini. Dulu aku pernah follow seseorang yg tinggal di LN krn suaminya lagi kuliah disana, dia suka review2 skin care dan kosmetik dan asik bgt diikutin.. terus lama2 followernya makin banyak. Sekarang dia udah for good ke Indonesia. Terus jadi beauty influencer.. lama2 aku lihat postingannya nggak se asik dulu, bahkan pernah copy paste (ketauan kan kl kita intens ngikutin tulisan orang, once bahasanya beda tuh langsung nyadar). Terus foto2nya sekarang hampir semua endorse an.. entahlah.. rejeki dia sih ya, tapi aku jd nggak ngerasa tertarik lagiπŸ™‚

    • Makasih Dila. Itu beneran aku tulus bertanya-tanya kalo isi konten influencer itu semua pos berbayar, seberapa otentiknya hidup mereka? Kegiatan sehari-hari ditentukan oleh produk yang mereka endorse.

      Misalnya ngeles ‘oh yang kalian lihat di endorse di media sosial bukan semua kehidupan saya’ lah, gimana itu? Soalnya kebanyakan yang aku lihat influencers yang begini itu oversharing. They sell their curated life online to sell products/services.

      • Ada cerita lucu (at least menurutku sih :p), ada selebgram hijabers.. dulu aku follow dia dari jaman followersnya belum sebanyak sekarang (lebih dari 400k). Awalnya postingannya menyenangkan, endorse pun niat.. ulasannya jujur. Sampe lama2 isinya cuma yang tag onlineshop from head to toe. Terus suatu hari selebgram ini piknik sama keluarganya ke kebun binatang. Pas lagi naik gajah, ada follower yang nanya: itu gajahnya di endorse juga? Aku jadi ngakak2 ngenes mbak Yo :’)))

        • Ah kecepetan mencet enter. Memang kalo yang udah setaraf itu dan semuanya endorsement bisa jadi semua yang dipake itu produk yang dia review ya Dila.

          Kalo aku kadang dapet ajakan kerja sama untuk endorse baik dari Belanda maupun Indonesia cuma selalu aku tolak. Siapa yang akan percaya aku belanja di webshop Indonesia kalo aku tinggalnya di Belanda? Dan apa benefitnya untuk pembaca blog ini kalo aku tulis tentang produk Belanda?

  20. Dah lama banget rasamya ga baca postingan mba yo yang model begini. Hehehee…me like it. Baru aja aku ngomong dipikiranku sendiri “kangen deh bacain blog orang2 tentang opini,tentang keseharian dan hal remeh temeh..bosen liat timeline blog isinya review produk endorsement yang ga sesuai nichenya…ehhh mba yo bahas nih…hahahaha what a coincidence.

    • Iya Jo. Waktu kita ketemu Agustus lalu kan sempet bahas ini sama Christa. Udah lumayan lama ngedraftnya. Ini opiniku, bisa jadi ada orang yang ngga setuju dan berpikir aku iri padahal ngga sama sekali.

  21. Hi mba Yo, lama ga baca opini mba Yo, saya seringnya stalking aja di IG para online influencer tp ga bikin saya beli produknya, cuma jd pengamat aja. Seringnya saya baca blog yg tiba2 mereka review produk bikin saya kecewa dan males nyambangi (berkunjung) ke blognya lagi. Kecewa krn ternyata mereka sekedar mereview produk, produk yg ditawarkan terlalu mahal, atau krn tdk sesuai saja dg saya

    • Hai Ru,

      Aku lagi sibuk banget sejak September di kantor makanya jarang ngeblog. Secara berkala pasang review atau endorse produk/jasa sih menurutku ok aja. Ada rasa bangga dong untuk si blogger berarti dia kan dianggap berpengaruh oleh perusahaan itu. Ini aku bisa ngerti. Yang aku susah maklum adalah online influencer yang mejeng semuanya dan semua kontennya berbayar.

  22. Aku ga terlalu merhatiin online influencers di Indonesia gimana, tapi kalo di luar biasanya di website/blog mereka udah pasang media kit dan ada keterangan, misalnya mereka ga terima pre-written content (review produk sesuai pengalaman mereka pake itu), atau untuk endorse mereka ketat banget pilih yang sesuai dengan niche mereka. Untuk orang tua yang punya anak, beberapa mommy blogger yang aku follow (misalnya Naomi dari lovetaza.com) pernah bilang kalo nanti suatu saat anaknya bilang ga mau kehidupannya dishare di internet, dia bakal respek dan ga bakal mengekspos anaknya lagi di social media.

    Untukk online influencers ini, banyak yang tadinya aku follow karena suka ngikutin cerita2 daily life mereka, tapi belakangan sejak makin terkenal dan makin banyak endorse, konten posting mereka isinya jadi iklan semua, posting yang original jadi dikit banget. Sedih nih kalo yang kaya gini, jadi males juga follow nya, terpaksa unfollow deh. Padahal kalo bisa balance antara endorse sama postingan biasa aku masih bakal tetep follow.

    • Aku tulis pos ini bahas influencers secara umumnya Dixie. Memang di Indonesia booming ya bisnis ini, sementara di Belanda hanya untuk pemakai media sosial usia tertentu. Untuk influencer setaraf Naomi itu aku berpikir kalau anaknya ngga mau isi kontennya dia, gimana nanti dengan brand dia yang dibangun diatas keluarga bahagia dengan cute kids? Sebagai marketeer aku lihat anak-anaknya dia dan lifestyle bloggers lainnya dengan style yang sama, termasuk Unique Selling Pointnya. No kids, no follow? Who knows lah.

      Aku menyayangkan beberapa orang yang dulu aku follow karena kontennya menarik tapi sejak jadi influencer dan hanya pos endorsement, aku bertanya-tanya setulus apa tulisannya. Kasus seperti ini bisa membuat fanbase dari awal mereka dikenal publik, unfollow mereka jadinya.

  23. Gw kadang terpengaruh sama cerita-cerita travel blogger atau scuba diver yang pernah mengunjungi daerah tertentu. Mungkin terinspirasi tepatnya..hahaha..(ngeles)

    Sekarang juga ada online influencer di bidang politik juga yah kayaknya….setahu gw sih gak ada yang ngaku kalau dibayar tapi kok tulisan atau pendapat pribadinya keliatan jelas mendukung atau menyerang ke kubu tertentu.

    Buntutnya ya balik lagi ke pintar-pintarnya si follower juga…apa emang mentalitasnya memang hanya sebagai pengikut tanpa bisa kritis atau memang bisa mikir kalau gak semua yg di-endorse itu baik.

    Dan kayaknya penting banget kejujuran online influencer ini untuk menyebutkan posting-nya dibayar apa enggak.

    • Gw juga kalo mau jalan-jalan sering lihat posnya influencer. Kalo ini masih ok lah menurut gw pribadi ya. Kalo buzzer politik ngeri sih menurut gw, perlu conscience yang besar sebelum menggiring atau mempengaruhi orang.

      Sayangnya ngga semua orang mikir kritis, makanya marak deh endorsement lewat orang di media sosialπŸ™‚

      • Kayaknya di Indonesia sudah ada online influencer politik. Gw curiga aja, belum bisa yakin 100%. Gak ada disclosure sih. Gw sengaja follow akun-nya dan takjub banget dalam satu hari bisa 5 postingan. Kadang lebih. Tapi rata-rata 5 postingan. Panjang-panjang pula tulisannya. Tulisan yang membakar emosi. Kalau udah rapi setiap hari bisa nulis komporin orang udah pasti emang itu kerjaan sehari-hari dan parahnya kita gak tahu siapa yang bayarin dia.

  24. Hai loraine, salam kenal. Kali perrama aku mampir nih di siniπŸ˜€

    Baca tulisan ini aambil mikir mikir cantik hehehe. Aku setuju sih sama influencer yg punya poatingan berimbang dan nggak softselling. Masih ada touch of personalnya nggak semuanya sebatas endorse melulu.

    Tapi ya kalau memang rezekinya dari situ nggak bisa komen juga sih hehe. Cuma ya kadang aku juga punya pertanyaan serupa. “Si x kan gaya hidupnya xxx masa sih pake produk yyy gamungkin banget. Oh..buat endorse ya. Tapi beneran di pake ga ya? Followersnya kan pasti percaya bgt,”

    Btw salam kenalπŸ˜€

    • Hai ifa,

      Salam kenal juga. Saya tulis pos ini berdasarkan branding yang ngga cocok dengan konten, bukan bahas rejeki orang ya. Jika satu orang ambil semua tawaran endorse, sayang brandingnya yang susah payah dia bangun. Dalam jangka waktu tertentu followernya yang melihat akan bisa berpikir dan bahkan unfollow dia, akibatnya bisa jadi berkurang tawaran kerja sama. LIhat beberapa komen di atas yang menjelaskan ini.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s