about me / Bahasa Indonesia / Blogging / Social Media / Thoughts

Interaksi di media sosial

Kemarin posnya Noni muncul tentang pamer di social media. Menarik baca tulisannya dan komen yang masuk. Topiknya sendiri menggelitik karena menurut gw sharing dan pamer di media sosial itu bedanya tipis tergantung baik yang update status/info maupun yang melihat. Komen gw singkat di pos Noni karena terpicu untuk tulis pendapat sendiri di sini.

Lepas dari setuju atau tidak dengan pernyataan media sosial diciptakan untuk pamer, ini analisa dan teori gw kenapa ada iritasi di dunia maya. Media sosial menurut gw bukan hanya Facebook, Twitter, Instagram, Tumblr, Snapchat, Ask.fm atau Path. Media sosial itu semua tempat di dunia maya di mana kontak dua arah itu terjadi, antara yang menyampaikan berita maupun yang melihat berita. Jadi di samping jaringan sosial seperti yang gw sebut diatas, blog bahkan YouTube dan varian lainnya termasuk media sosial.

Ada 5 hal dasar yang menentukan aksi dan reaksi orang di media sosial; konten, teks, frekuensi, timing dan netizen. Di bawah ini gw bahas satu demi satu.

Konten
Bermacam konten yang berupa tulisan, gambar, film yang ada di dunia sosial . Isinya pun bervariasi mulai dari passion (mobil, olah raga, masak, jalan-jalan, makeup, mode), jurnal, meme maupun link dari situs berita. Orang ada yang berbagi pendapatnya, berbagi gaya hidupnya bahkan impian mereka. Layaknya blog, di ajang media sosial lainnya menurut gw ada nichenya juga. Orang yang mengikuti akun travel, masak, foto, makeup dan fitness memang senang melihat update akun yang mereka ikuti. Kebanyakan akun di niche ini konsisten dan konsekwen dengan niche mereka, belum lagi mereka berbeda dan menarik kontennya.

Ini lumrah karena kebanyakan akun niche menjadikan media sosial sebagai ajang mencari pendapatan (social media influencer) atau misalnya pun bukan influencer tetep asik diikuti karena minat followers dan pemilik akun sama. Jadi supply & demand ketemu di sini. Followers perlu info, yang diikuti menyediakan info. Di blog, Tumblr, Instagram maupun Twitter hal ini jadi ciri platform tersebut. Berbagi info. Tidak ada kewajiban untuk follow back karena informasinya ada di platform terbuka. Ngga suka atau tidak nyaman, hanya tekan unfollow, no drama. Ya, no drama teorinya, ini sederhana tapi kadang prakteknya ribet dan ngga akan gw jelaskan di sini nanti posnya kepanjangan.

Konten di medium terbuka di atas lain dengan konten yang bersliweran di media sosial dimana hubungan interpersonal 1:1 seperti Facebook, WhatsApp atau Path. Di platform media sosial ini posisi dua akun sejajar. Pemilik akun A harus menerima pemilik akun B sebelum bisa saling lihat info dan konten masing-masing.

Interaksi di media sosial 1:1 ini lebih pelik dari platform terbuka karena satu pemilik akun bisa punya puluhan, ratusan bahkan bisa ribuan kontak. Gw bilang kontak karena ‘temenan’ di media sosial bukan otomatis bertemen beneran ya. Ada relasi bisnis, keluarga dekat/jauh, temen sekolah, temen hang out sampe temen deket.

Di kala pemilik akun berbagi konten, pasti ada beberapa kontaknya yang tidak nyaman atau bahkan merasa tersinggung padahal si pemilik akun niatnya hanya berbagi. Ada juga pemilik akun yang tidak memperhitungkan perasaan kontaknya saking punya terlalu banyak kontak. Ia tidak mengenal semua kontaknya secara pribadi. Nah para kontak yang tidak merasa nyaman atau tersinggung ini tidak menyatakan perasaan mereka secara terang-terangan ke si pemilik akun. Ada yang diam-diam memutuskan kontak dengan cara unfriend atau bahkan memblok pemilik akun tersebut. Dan mungkin drama menyusul.

Dari penjelasan di atas terlihat ada dua arus: konten menurut niche yang menarik, memuaskan rasa ingin tahu  pengikut, sekedar berbagi info dan konten yang muncul di feed kita hanya karena kita berteman dengan si empunya akun. Suka ngga suka, butuh atau ngga ya muncul tipe konten ini di feed kita.

Teks
Image says a thousand words, gambar mengucapkan 1000 kata walaupun begitu dalam media sosial kata pengantar gambar/foto dan tulisan dapat menguatkan atau mematahkan pesan yang disampaikan gambar tersebut. Sebetulnya teks ini bagian dari konten tapi gw bahas dalam sub judul tersendiri karena beberapa contoh berikut.

Dari beberapa pernyataan temen-temen dan kenalan gw menurut mereka teks yang menyebabkan iritasi adalah humble bragging (merendah untuk meninggi), memancing pujian, PDA (public displayed affection) kemesraan dengan pasangan, status ngga jelas, perasaan paling bahagia dll…dll

Menurut beberapa temen gw pemerhati caption; salah satu contoh orang yang pasang foto lagi ngopi di kafe. Fotonya misalnya foto secangkir kopi dan penganannya ditemani dengan gadget mutakhir, tas designer, kacamata dll disertai dengan hashtag merk-merk tersebut. Ini bikin bingung menurut temen-temen gw karena fotonya kopi, teksnya lagi ngopi tapi hashtagnya merk barang-barang diatas meja.

Yang gw rasa lucu pengalaman gw temenan di Facebook dengan pasangan yang sering PDA. Bisa gampang tebak kapan pasangan ini lagi berantem ha…ha…Ngga ada status mesra, radio silence atau lebih parah, status saling sindir.

Ada juga cewe-cewe yang cantik langsing (biasanya memang cewe yang melakukan ini) yang pos foto mereka lagi makan atau selfie dengan caption ‘Nanti diet setengah mati lagi’ atau caption ‘Duh gw jerawatan’ padahal di mata yang melihat ngga ada jerawat. Gw kalo lihat yang sering pasang caption begini, gw mikir ini apakah mereka memancing pujian, punya complex tertentu atau memang ngga percaya diri?

Frekuensi
Sepertinya gw ngga berlebihan kalau rata-rata orang ada kenal/berinteraksi dengan orang yang berbagi konten dalam frekuensi tinggi, terlalu sering.

Ada orang yang pernah satu sekolah sama gw, temenan di Facebook, dia ternyata selfie queen. Tiap hari ada kali minimal 5 selfienya dia muncul di feed gw, semuanya persis sama hanya beda sudut pengambilan gambar. Ada juga yang tiap hari pos fotonya dia makan siang dengan rekan kerjanya. Saking seringnya sampe gw hafal wajah dan nama koleganya dia. Weekend dia pos kegiatan dia dengan keluarganya. Gw tahu bener deh jadwal dan tempat-tempat hang outnya dia. Untung di Facebook sejak beberapa tahun terakhir ada fitur hide, jadi gw sembunyikan ini semua dari feed gw untuk menghindari drama.

Timing
Menjelang pemilihan walikota, gubernur atau presiden media sosial gw penuh dengan konten tentang para calon-calon pemimpin ini, baik tentang kampanyenya, program politiknya maupun berita menjelekkan satu sama lainnya. Ini bikin gerah terus terang. Menjelang hari raya agama tertentu juga rame konten tertentu. Kalo ini udah gw cuekin sih, yang percaya siapa yang ribet siapa, yang ngga ada sangkut pautnya juga mungkin males feednya penuh konten begini.

Yang aktual sekarang di Indonesia adalah film AADC2. Sejak minggu lalu feed gw penuh dengan konten tentang film ini.  Bulan depan pasti di feed gw akan rame bulan puasa, mudik lebaran setelah itu liburan. Ini seru lihatnya. Gw ngga ada masalah.

Netizen
Tahu ngga bahwa hal yang menimbulkan iritasi itu selain konten, teks, frekuensi dan timing adalah kita sendiri sebagai netizen? Iritasi timbul karena perbedaan latar belakang, nilai dan norma yang dianut. Persepsi dan cara kita menginterpretasi konten itu selalu memakai standar kita sendiri berdasarkan latar belakang, nilai dan norma yang dianut itu.

Bukan rahasia untuk pembaca blog ini bahwa gw ngga sreg dengan orang tua yang berlebihan berbagi tentang anak mereka. Berlebihan menurut standar gw berbeda dengan standar orang lain.

Oh ya tambahan untuk standar pribadi yang kita terapkan menilai konten adalah hubungan kita dengan yang  pasang konten tersebut. Seberapa dekat kita kenal si pemasang konten. Gw kenal dua orang A & B. Si A orang tuanya pengusaha sukses, ngga perlu pusing dengan finansial sementara si B kondisi ekonominya biasa aja.

Suatu hari A pasang foto dia dapet hadiah sepatu Louboutin dan coat Marni dari cowonya. Rupanya cowonya si A juga sama seperti dia, dari golongan berada. Kadonya ini merk lux yang harganya ribuan euro. Si B kirim pesan ke gw bilang menurut dia si A pamer. Menurut gw sih ngga karena itu memang dunianya si A. Di fotonya itu kelihatan si A lagi buka kado. Wajar sih kalo dilihat dari dunia A dan cowonya. Interpretasi gw si A kasih lihat kontaknya bahwa dia seneng dapet kado dari cowonya.

Yang pamer itu menurut gw seperti penyanyi Indonesia yang menyebut dirinya putri. Atau Rich Kids of Instagram (RKOI), ini pamer beneran dan parah banget pamernya. Beneran uang orang tua RKOI ini ngga ada habisnya sepertinya. RKOI ini banyak yang follow karena dari dulu kehidupan rich & famous menarik rasa ingin tahu banyak orang. Anggep aja RKOI menjual ilusi ke orang biasa seperti kita ini. Seperti taking a peek in their glamourous world.

Gabungan dari konten, teks, frekuensi serta cara interpretasi netizen yang menentukan level iritasi yang ada di media sosial. Sementara timing pengaruhnya hanya insidentil, biasanya iritasi yang muncul hanya ada di saat satu hal aktual terjadi yang dominan hadir di media sosial.

Di bawah ini ada beberapa varian gabungan dari konten, teks, frekuensi dan interpretasi:

  • Konten ok, teks ok, frekuensi terlalu sering = mengganggu tapi masih ditolerir.
  • Konten dan teks biasa, frekuensi pos jarang = tidak mengganggu, ngga problem
  • Konten dan teks ngga ok, frekuensi terlalu sering = mengganggu, potensi delete, unshare, unfriend
  • Konten ok, teks ngga ok, frekuensi biasa = dipertimbangkan untuk putus silaturahmi dunia maya

Ini hanya 4 contoh dari banyak varian yang ada. Iritasi berdasarkan  konten dan kelakuan di media sosial itu logis karena banyak ragamnya orang dengan latar belakang yang berbeda. Kuncinya adalah bagaimana menyikapi iritasi ini.

Dan memang betul ada yang bilang sharing dan pamer itu beda tipis. Hanya jangan menyalahkan media sosial. Media sosial ini hanya tempat untuk sharing atau pamer. Sharing ada manfaatnya, pamer bikin orang sebel. Sebelumnya generasi orang tua dan kakek nenek kita pun sudah sharing atau pamer dengan cara mereka sendiri, off line.

 

 

82 thoughts on “Interaksi di media sosial

  1. gimana kalau yang konten gak ok, teks gak ok, frekuensi terlalu sering yak. :d

    Setuju mbak Yo, masalah pamer apa gak itu banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk faktor yang membaca (seperti contoh A dan B di atas) ataupun faktor yang “pamer” itu.

    Yang susah kalau memang spt yang RKOI itu ya

    • Menurut kamu gimana Ryan? Tiap orang interpretasinya beda dan dilihat per kasus.

      Kenapa susah RKOI? Aku ok aja lihatnya. Jadi ada bayangan ternyata di atas orang kaya, masih ada yang lebih kaya lagi๐Ÿ˜‰

  2. Kalimat yang terakhir aku setuju banget Mbak. Pada jaman generasi orangtua sudah ada pamer atau berbagi, hanya offline karena memang belum ada media onlinenya. Kalau pada saat ini pamer atau berbagi sudah lebih gampang diketahui seantero dunia karena memang difasilitasi. Kembali lagi, yang tahu batasannya hanya kita dan sudut pandang orang berbeda-beda menilai apakah itu pamer ataukah hanya sekedar berbagi. ah mengingatkanku belum pamer di blog sekaligus berbagi info tentang ujian *mencoba balance ceritanya, pamer dan berbagi๐Ÿ˜€

    • Iya Den, ngga ada media sosial yang tukang pamer ya tetep pamer.

      Silahkan rayakan lulus ujian diblog ๐Ÿ˜€ Ini berbagi ke pembaca.

  3. 3 alasan utama org pasang foto di sosmed :
    1. Pamer
    2. Pengen pamer
    3. Emang pengen pamer

    Kalo kamu yg mana? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    • Itu menurut kamu. Saya banyak share foto saya di blog & Instagram dengan tujuan berbagi. Akun Instagram saya menopang blog ini. Motto blog ini to share to inform & to inspire.

  4. Mba Yo, keren banget ini analisanya sih. Aku ampe senyum2 sendiri bacanya. Jadi keingetan foto or meme yg kutemuin di FB. Coba nanti aku upoload di blog ah. Geli aku soalnya memang real….inilah kehidupan di jaman sosmed.

    Anyway waktu mba yo follow IGku…aku deg2an deh. Duh kontenku kan gak mutu, lumayan sering dan hmmmm jangan2 diunfollow nih ntar. Hahaha (tp makasih mba yo sudah difollow, akan berusaha utk upload konten yg ok hihi ๐Ÿ˜Š)

    • Ha..ha…ini nulisnya kilat semalem. Kemarin pagi setelah baca posnya Noni aku naik sepeda ke kantor udah ngedraf pos di kepala, sampe rumah jam 7 malem setelah masak dan makan langsung nulis deh bablas, sejam lamanya. Terus dibaca dan diedit baru publish.

      Jo, jangan deg-degan aku kalo follow orang di media sosial memang tertarik secara pribadi kok๐Ÿ™‚.

    • hahahaahahahahahaha samaaaaa Jo, awalnya aku juga deg degan apalagi mbak Yo kalo ngomong to the point tapi setelah itu aku mikir ya mendingan gitu juga kali, kalo mbak Yo gak suka dia juga gak bakal sebel sama kita secara pribadi. Aku dulu juga mikkirnya gini “duh kasihan mbak Yo ngapain follow blog sama IG aku sih gak akan ada gunanya buat die lah aku follow blog sama IGnya dia kan banyak gunanya kan jadi malah berasa nggak enak karena berat sebelah. Dan skrg aku jadi merasa diterima apa adanya *ge-er banget hahahaha*

      • Wakakakakakak……soalnya konten IG ku kan didominasi oleh foto2 aktor2 ganteng yg lagi kugandrungi… lately ya korean actor (kumat lagi penyakit lama). Pengen sih kek selegram yg upload kegiatan2 kreatif bersama anak2nya…tp kek bukan diriku itu rasanya. Hahahaha (bilang aja pemalas) ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

  5. Haha, bener banget. Bragging, boasting, humblebragging dsb adalah produk lama, cuma sekarang karena sosial media braggingnya jadi lebih mendunia๐Ÿ™‚

    Saya pernah baca artikel yang mengatakan, menurut ahli neuroscientist dari Harvad, bragging atau saying something good about ourselves give the same satisfaction as sex and food. Nah lho.

    • Ya kan Erita? Blaming social networks is lame karena ini hanya medium. Tindakan orang dari dulu sampe sekarnag sih sama aja.

      Oh, is there a knob in our brains which stimulates self satisfaction? Mau dong linknya kalo ada. Thank you!

  6. Bener bgt Yen, persepsi/tingkat kedekatan juga mempengaruhi untuk menilai seseorg itu pamer apa enggak. Gw sempet ngalamin culture shock di sini gara-gara soal persepsi pamer-memamer – off line tapinya nih. Jadi, ternyata di Amerika Serikat, ketika pas awal kenalan, rata-rata org sini (gak semua sih) dengan mudah menyebutkan prestasi kerja, pendidikan, sampai ada yg ngomong kalau lulus cum laude segala. Padahal baru kenal gak kurang dari 10 menit! Sempet mikir kok pada pamer amet ini mereka, soalnya beda banget sama budaya Belanda yg biasanya menghindari diskusi soal “achievement” pada awal kenalan. Di Indonesia jg lbh netral lah dan mgkn agak mirip dengan Belanda. Ternyata emang penting kayaknya di sini sebagai faktor “wow” dalam awal pertemanan. Yah, budaya di sini kompetitif bgt, akhirnya achievement kayak gini ya “strategi menjual diri” bahkan dalam awal pertemanan.

    Mungkin kita pamer karena kita memang perlu menunjukan kalau kita “achieve” sesuatu. Gw ikutlah varian yg disebutin di posting ini, tapi biasanya unfollow aja kalau “konten dan teks ngga ok, frekuensi terlalu sering”.

    Wajar kalau org pamer tapi kalau keseringan dan konteksnya keterlaluan emang bikin males bacanya, jadi menuhin feed. Dan pamer achievement itu bukan cuman kekayaan doang. Ada (mantan) temen yg suka posting soal kegiatan sosialnya dari A sampai Z. Awalnya gw seneng dan merasa terinspirasi dengan kegiatan beliau tapi belakangan ini kok nada postinya berubah, jadi dia itu super suci dan menanyakan apa yg kita-kita yg di Facebooknya doi telah perbuat untuk kemanusiaan dan dunia. Buset dah…nah itu udah tahapan kategori mesti di-unfollow..

    (sori kepanjangan..)

    • Di sosmed aku lagi ada fenomena ini Mba
      1. Yang berantem pasangan suami istri karena suaminya mendua. Sedih ya sampe diumbar di fb
      2. Orang yg bertransformasi dari gemuk ke kurus jadi suka banget pajang foto selfie. Aku suka aja si, cuma ya kalo keseringan gimanaaa gitu haha..
      3. Mungkin ini nyinyir, tapi aku liat ada orang yang habis cerai/putus langsung jadi ngerasa orang paling cantik dan bahagia sepanjang masa. Ditambah update juga kegiatan dia setiap hari, dari mulai masak/sarapan terus gym terus sekarang udah punya pacar baru terus sering liburan sama pacarnya dan posting terus. Belom lagi kalo pacarnya kasih kado untuk dia dan anak2nya di upload juga. Pernah juga dia dikasih duit sama cowonya bukan rupiah, dijembrengin itu foto terus di upload. Haha ini sumpah aku rumpi banget ๐Ÿ˜‚

      • Wah Ji, ngga enakkin banget ya kalo feeds kita muncul yang seperti contoh kamu ini.

        1 itu kok buat kita yang jadi njengah sendiri ya lihatnya.
        2 Heeh, euphoric. Sikap kita jadi gini akhirnya: iye, gw tahu loe seneng berhasil turun berat badan. Now it is enough sharing about it, we’ve seen enough. Gitu kan kira-kira?๐Ÿ™‚
        3. Aku kalo lihat seperti ini awalnya seneng juga untuk orang seperti ini tapi setelah itu kalo keterusan jadi mikir who are you trying to convince girl?

    • Ngga apa-apa panjang kan loe tahu gw seneng ada yang berbagi cerita di sini. Ah, ini tambahan juga ya Ndah, budaya lokal bisa terbentur dengan persepsi kita sendiri. Tulis dong tentang achievement culture disana dari kacamata loe sebagai orang Indonesia yang lama di Belanda. Pasti menarik deh.

      Ha..ha…contoh terakhir yang loe sebut layaknya Mother Theresa orang itu :-0

  7. kalau menurut saya sharing itu bisa jatuh ke pamer bila niatannya belok krn lebih ingin dipuji, itu tipis sekali batasannya dan yang paling gampang tergelincir ke sana bila obyeknya banyak berupa foto, apalagi tentang diri kita sendiri..bisa jadi niat awalnya sharing, tetapi kemudian berubah setelah banyak apresiasi. nah, apresiasi itu sering jadi senjata makan tuan. disatu sisi senang, di sisi lain kita bisa jadi lupa tujuan semula..semacam adiksi tanpa disadari. nagih, ingin lagi dan lagi. didukung saing2an dengan yg lain. ada sedikit hormon yang berperan disini. apalagi bila ybs secara psikis eksistensinya tergantung pada hal tersebut dan kurang puas dgn kondisi dunia nyata.

    saya membandingkannya dengan mereka yang lebih banyak menulis ketimbang foto-foto (atau isinya huruf semua), sangat jauh. memang tidak menarik, tapi fokus jadi lebih di konten dan lebih yakin bahwa ini niatnya betul hanya sharing..

    • Kalau menurut saya sharing itu bisa jatuh ke pamer bila niatannya belok krn lebih ingin dipuji, kalo begini sih memang dari awal udah mau pamer imo.

      saya membandingkannya dengan mereka yang lebih banyak menulis ketimbang foto-foto (atau isinya huruf semua), sangat jauh. memang tidak menarik, tapi fokus jadi lebih di konten dan lebih yakin bahwa ini niatnya betul hanya sharing..Konten yang saya bahas disini bukan hanya tulisan dan foto tapi juga berbagi status atau link dari situs lain. Banyak juga kok menurut saya konten dengan kombinasi 50:50 teks dan foto yang bagus menarik dibaca but that is my opinion.

      • betul, bisa jadi begitu, awalnya nggak, tapi selanjutnya berubah. ini bukan menuduh org, cukup melihat ke diri msg2 saja. iya mba, yang kombinasi 50-50 ada, tapi saya mgk jarang nemu, krn hanya pengamatan sambil lalu, sharing link juga sama…untuk foto2, yang tdk ada respon miring biasanya yang paling sedikit unsur ke-“aku” annya (entah sbg obyek foto dsb) lebih banyak manfaat informatif ke org lain…mungkin berlaku juga untuk tulisan? just my 2cents…

  8. Setujuuu semuanya, lagian emang dari dulu orang suka pamer (baca berbagi ๐Ÿ˜„) cuman medianya aja yg berbeda dan tentunya cara orang lain memandangnya. Mba Yo liat si A biasa aja, si B ngeliatnya pamer. Kalau gak suka unfollow aja. Drama menyusul hehehe

  9. Ah iya, “iritasi” ini pilihan kata yang tepat. Dan untuk aku sih, sering merasa iritasi juga kalau ada ortu yang sering post tentang anaknya udah bisa ini itu, punya ini itu, pinter ini itu. Hahaha… ya mungkin aku yang insecure tapi berhubung sering muncul di timeline sosmedku mau ga mau akhirnya aku unfollow saja daripada membuat hati tak nyaman.

    Sharing dan pamer beda tipis, kayaknya enggak juga ya. Kalau sharing kan konten & teksnya memang nyambung dan informatif, lah kalau pamer rasanya murni kontennya hanya ingin nunjukin sesuatu tanpa informasi berguna. Kayak hestek2 brand mahal itu, lah ngapain? Kita juga tau kok itu tas merk apa, kacamata merk apa. Rasanya ga perlu juga dikasih hestek yang berderet padahal ga nyambung pula sama fotonya๐Ÿ˜€

    • Iya iritasi biasanya mulai dari hal kecil yang menumpuk dan akhirnya meledak. Betul kalo akhirnya berujung unfollow karena itu kan akun kamu.

      Maksudku tulis sharing dan pamer beda tipis karena siapa tahu si pemasang konten niatnya memang sharing. Yang melihat kan publik dan ngga semua kenal dengan si pemasang konten sehingga bisa berbeda persepsi pesan si pemasang konten, jadinya dilihat sebagi pamer.

      Iya, itu yang ajaib sih menurut temen-temenku, fotonya kopi tapi hashtagnya merk barang yang ada di meja.

  10. Aku paling males kalau yang isinya selfie melulu di Instagram. Great that you have high self-confidence and self-esteem and all but I’m just tired looking at your face over and over again *click unfollow*

    Food, on the other hand, I could never get tired of, unless they’re bunch of blurry-looking brown lump on a plate with hashtags such as #foodie #picoftheday #bestofinstagram. Girl, seriously?

    Aku juga sama sih, kadang kalau feed medsosnya ngeselin tapi demi pertemanan jadi nggak unfriend, aku unfollow / hide saja. Untung ada option itu sekarang

    • Iya, kebanyakan selfie itu so vapid & vacuous. Kadang aku mau tanya loh ke orang yang kaya gini “How does it feel like to be deeply in love with yoursel?”.

      Heeh, memang ngga semua orang kita bisa bertemen atau kontak dengan prinsip one size fits all ya. Pasti ada flawsnya. Ada beberapa temenku yang sering share foto anak-anaknya tapi karena aku kenal dia dan tahu kenapa dia begitu, aku ngerti dan ngga delete akunnya.

  11. Saya hanya punya facebook yang sekarang isinya ngasih tahu saya posting tulisan baru di blog haha. Mengganggu gak ya. Kayaknya sih yang baca juga gak ada.

  12. bener banget mbak, Saya setuju! kalo saya ngeliat postingan2 aneh dan ngak penting saya suka hide atau unfriend/unfollow. sampe saya sempet di tanyain sama ybs kenapa di unfriend.. mulai deh saya cari alasan๐Ÿ˜›

    • Iya, kalo konten yang dipasang udah melewati batas menurut standar kita ya kita jadi bertindak Adele = unfollow atau hide. Kenapa kok ngga bilang jujur alasannya kamu unfollow/delete orang itu?๐Ÿ™‚

      • mereka bakal marah2 mbak. haha. jd demi menghindari trjadinya salah paham aku suka bilang aja ke unfollow tapi aku ngak akan follow dia lagi๐Ÿ˜€

  13. hahahah tosss icha sama suka eneg sama sharring parent..

    iya sharring ama pamer beda kok. yg beda tipis tuh bersyukur sama pamer.. biasanya ciri khas setiap postingan sosmed selalu diawali dengan Alhamdulillaah.. blablabala.. dengan foto materi2 barunya atau check in lagi liburan.. dan tipe yg seperti ini alasannya biasanya supaya memotivasi follower/teman sosmednya. yg ada aku termotivasi nggak, iritasi iye..

    • Kalo aku sih ke sharents sikapnya miris karena prihatin dengan anak-anak mereka. Demi memuaskan hasrat berbagi orang tua, anak jadi korban padahal si anak tidak memberi konsen/ijin ke orang tua untuk berbagi di internet. Aku banyak tulis tentang ini disini Dewi, kalo tertarik silahkan klik kategori parenting.

      Sharing ok, pamer juga boleh hanya kuncinya menurutku with moderation. Nah disini konfliknya, frekuensi berbagi yang kita anggap wajar belum tentu sama dengan yang sharing/pamer ini. Akibatnya ada friksi menjadi iritasi = unfollow.

  14. Setuju banget sama poin balik lagi ke diri kita sendiri. Saya juga suka menghindari drama, kalau keterlaluan hide kayak kasus foto selfi berlebihan tadi, hihi

    • Iya ya Nia tapi it is crazy kenapa kita ngga nyaman browsing feeds sendiri karena kontak kita kebanyakan sharing selfienya. Di sisi lain orang berhak share apa yang dia mau di akunnya sendiri. Kalo udah beda arah ini ya jalan keluarnya hide atau unfollow.

  15. Salam kenal. Pembahasannya menarik. Baru tahu kalau ada yang seperti ini, mungkin saya terlalu kuper, hehehe. Tetapi ini pembahasan dan case-case nya banyak dari sudut pandang cewek, mbak. Kalau cowok, jarang lihat yang seperti itu.

    Oiya, kalau buat saya, yang cukup mengganggu adalah orang-orang yang suka share secara membabi buta pemikiran/berita (biasanya mengerucut ke politik, ekonomi, sosbud). Biasanya yang semacam itu akhirnya di unfollow/unfriend.

    • Hai Rully,

      Salam kenal juga. Betul, pembahasan ini lebih ditinjau dari sudut pandang cewe karena cowo di media sosial ngga nyaman dengan konten yang dibagi biasanya unfollow atau bahkan debat.

      Perempuan lebih dibawa ke perasaan dan modusnya diam tapi kesel ha..ha..

  16. Postingannya bagus, Mbak Yo๐Ÿ™‚ Topik tentang media sosial memang menarik ya dan saya pun juga senang baca-baca opini soal ini. Menurut artikel yang pernah saya baca, keseringan aktif di media sosial bisa bikin kita kurang bahagia karena secara nggak sadar kita jadi membanding-bandingkan diri dengan teman-teman yg postingan liburan atau belanja ini itu padahal kita nggak tau kan sebenernya, di kehidupan nyata, orang itu sama seperti apa yang ditampilkan di medsos apa nggak. Soal bikin kurang bahagia, menurut saya tergantung kita juga sih, bisa iya dan nggak. Seperti kata Mbak Yo di atas, tergantung cara pandang.

    Oh ya, selain itu, menurut artikel New York Times, cewek cenderung lebih rentan terpapar efek negatif medsos karena cewek lah yang lebih suka selfie dan membanding-bandingkan hasil selfienya dengan milik cewek lain. Di samping itu, menurut penelitian, cowok lebih suka posting tentang apa yang dia kerjakan atau dia capai dibandingkan posting tentang how he looks.

    • Bukan hanya bikin kurang bahagia, ada yang sampe stress. Dan anak muda sekarang juga kadang ada yang percaya apa yang mereka lihat di media sosial itu kenyataan padahal aslinya bukan berarti.

  17. mba yoo, salam kenal.
    saya oot ya. hehe kalo mba berkenan, pingin dong mba berbagi tentang pola pengasuhan anak terutama masalah membiasakan mandiri sedari bayi. saya kepo sekali soalnya kalo di Indonesia kan anak di bawah setahun masih gabung dengan bapak-ibunya. terimakasih banyak mbaa๐Ÿ™‚

    • Hai Ninok,

      Salam kenal juga. Ah, nanti ya usulnya ditampung dulu soalnya saya sebenernya bukan parenting blogger. Makasih udah main dan komen di sini.

  18. Saya melewatkan tulisan mba Yo ini mah keren seperti postingan lainnya, saya jadi baca runut komen lainnya dan baru tau ttg orang Amerika baca komen mbak Indah Susanti. Saya unfollow beberapa teman di Facebook& IG karena keseringan sharent& selfie pdhal mungkin ini masalahnya disaya krn tdk punya kehidupan spt mereka, intinya saya iri hehehehe.

    • Ngga juga sih Ru. Aku melihat unfollow orang bukan karena akibat kita iri tapi hanya ngga nyaman karena standar beda. Ada teman yang tetap aku follow walaupun dia sharent.

  19. Menarik.

    Untungnya (untukku), aku belum pernah mengalami yang namanya drama. Kalau nggak suka, ya unfriend/unfollow/hide aja, no hard feeling, hehe๐Ÿ˜›

  20. Good writing mbak, as always kayak baca essay dan jurnal ilmiah yang ringan enak dibaca. (kalo jurnal ilmiah soalnya ilmunya dapet tapi bacanya suka gag asik ahaha)
    “Sharing ada manfaatnya, pamer bikin orang sebel. Sebelumnya generasi orang tua dan kakek nenek kita pun sudah sharing atau pamer dengan cara mereka sendiri, off line.”
    Hahahaha yoi mbaaak, di arisan, di kondangan, di gereja (??) bisa jadi tempat pameran ya offline dulu.
    Aku pernah ngerasa lucu, baca status seseorang yang dia mengeluhkan kenapa banyak yang pamerin anak-anak temennya, yang punya kemampuan calistung baik, sedangkan dia merasa itu tidak perlu dan menurut dia dia lebih bangga dengan anaknya yang menurut dia jujur dsb (bagus secara attitude) dan dalam hati aku mikir “ya kamu juga lagi mamerin attitude anakmu loh, jadi biasa ajalah tiap orang memamerkan (atau bisa jadi itu share ya as you said batasnya tipis kan) hal yang berbeda dengan level yang berbeda, gak sesuai ya santai aja,”

    • Ha…ha…makasih Sondang. This is written from the heart dan aku memang bukan peneliti jadi nulisnya ya begini aja.

      Iya kan, di mana pun orang bisa pamer atau berbagi informasi, yang beda hanya mediumnya. Aku rasa banyak orang yang menyalahkan mediumnya padahal akar dari ini adalah sikap manusianya.

      Kesimpulan dari pos ini adalah: laissez-faire, live and let live. Ngga nyaman sama update orang ya unfollow tanpa drama๐Ÿ™‚

  21. Udah baca soal yang anak2 muda sekarang katanya is more pressurised to consume more because of sosmed mba? making it looks like the can afford things when they can’t, besar pasak daripada lubang. Jadi misalnya mereka lebih baik ngopi starbuck habis 40 ribu daripada beli makan siang dipinggiran jalan.

  22. Hmmm jadi biar aman muugkin ga usa punya sosmed aza kali yaks๐Ÿ™„๐Ÿ˜œ or enter on your own risk, berani posting/sharing harus berjiwa besar juga kl di comment/kritik.

    Tapi gw agree sih sm apa yg loe tulis๐Ÿ‘Œ๐Ÿป Sepertinya kita harus pintar2 memilih mana yg perlu disharing di sosmed mana yg ga perlu. Karna menurut gw, a private life is a happy life. Ga harus semua dimuat di sosmed gitu.

    • Live and let live Ria. Kita mikir ngga harus semua dishare di media sosial tapi ada orang yang sepertinya 24/7 berbagi semua aspek kehidupannya di dunia maya. Apakah ini perlu? Buat kita ngga tapi ada orang yang suka follow orang-orang seperti ini. Gw sih ngga banget deh. Rasanya seperti jadi voyeur, ngga nyaman sendiri jadinya ha…ha…

  23. Thanks for remindernya mba Yo.. Selalu bisa ambil hikmah dari tulisan mba Yo.. aku juga konsen banget masalah sharing foto2 anak, bukan anakku sih, keponakan aku tepatnya, foto anaknya lagi ngapain aja di share di FB or IG.. bahaya banget karena kan bisa di caplok sana sini itu foto terus dishare dsb. udah dikasih tahu / dinasehatin, tetap aja ga mau dengerin.. ya sudah lah, males ngasih tahu lagi..

    • Makasih Inly. Iya, udah dikasih tahu beberapa kali tapi tetep aja, biarlah. Yang mengalami mereka sendiri kalo nanti ada apa-apa.

  24. Tulisan mendalam dan kumplit Mbak Yo. Hihihi… Karena beberapa kombinasi akhirnya saya juga unfollow (kagak berani unfriend takut deramah) beberapa orang di facebook. Ahahaha.. Trus ada yang di mute di twitter. Kalo path ama IG jarang buka sih. Mkanya jarang trganggu. Kalo aku RKOI senengnya lihat kehidupan mereka ama yang komen di sana. Seru aja lihat orang-orang bahas atau numpang ngiklan. Ya kalo sempet aja sih.
    Dan setuju, A emang gak pamer karena dunianya dia. Kalo ada yang laporan dia pamer, palingan saya buka feednya A trus ketawa-ketiwi ngintip ke kehidupan glamornya. Sama kasus kayak RKOI.๐Ÿ˜€

  25. Dengan tulisan nya mbak Yo ini jadi bahan masukan dan pengingat buat aku juga sich, batas2 mana postinganku di media sosial buat ajang share atau pamer terselubung. Kadang kan maksud hati pengen sharing tapi nga tau dech yang dibaca oleh orang kesannya seperti apa.

    • Tujuanku tulis pos ini justru untuk mengingatkan kita sebagai pengguna aktif dan pasif media sosial sebaiknya lihat updates orang dari dua sisi Adel. Misalnya kamu pingin share cerita atau status karena kamu rasa perlu atau berbagi info, it’s not your fault kalo ada yang tersinggung atau merasa kamu pamer. Ini menyangkut poin yang terakhir di pos di atas, netizen.

  26. Menarik tulisannya. Eh, sebenarnya seluruh isi blognya sih. Salam kenal, ya Kak.

    Saya sendiri sudah tidak memakai media sosial lagi. Malas. Mau minimal-line saja; pake bbm, whatsapp dan blog. Yang lain, mmm, bosen. Ndak tau lagi mau share apa.

    Dan iya, kebanyakan pamer. Apalagi di Instagram.

  27. Kebanyakan teman ku di Indonesia sering di IG selfie muluuuuu. Atau foto yang hasil difotoin orang lain. Aku males mau nge-like-nya jadinya. Oiya, aku bingung. Di Indonesia itu hampir semua cewe kalau keluar rumah ke salon dulu ya? Aku penasaran soalnya kebanyakan mereka rapi bangeet sih, dari rambut sampai ke baju2nya bisa beda2 setiap hari.

    • Hi Steph,

      Scrolling through the comment I have just seen this one. Ha..ha..iya di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya jalan ke mall itu all out ya dandannya. Aku juga udah ngga biasa lagi lihatnya.

      Kemarin di Jakarta di mall lihat cewe jalan-jalan pake bulu mata palsu๐Ÿ™‚

  28. mba Yo, tulisan lama tapi pengen komen nih.

    kalau menurutku, mau pamer atau sharing tergantung kita deket gak dengan orang itu, deket doang gak cukup, tapi kita respek atau gak dg org itu. kalau qt respek, apa yang di post di sosmed biasanya ya fine2 aja, terima2 aja.

    beda dengan kalau yg post adlh org yg kita sebeli/malesi/blablabla, postingan org2 gini berlaku kriteria postingan di summary mba yo…

    status iritable buatku salah satunya adl status yg ngegantung, suka bikin penasaran tapi males kalau mau kepo, karena pasti jawabannya ngegantung juga. pikirku, ngapain posting2 kalau cuma buat dongkol org yg nanya dg jawaban yg gak jelas. wkwkwkk…

    contohnya: “alhamdulillah.. terima kasih atas hari ini…” biasa sih sebenernya, tapi pasti adaaa aja yg komen nanyain ada apa.

    • Iya betul. Sama seperti yang aku tulis di atas. Kalau yang share foto/status itu kita kenal lumayan dekat, kita masih bisa ngerti kenapa.

      Dan memang ada juga yang share update ngga jelas tapi pingin dapet reaksi orang, giliran ditanya ada apa biasanya jawabannya juga ngga jelas. Aku juga males ke yang seperti ini๐Ÿ™‚

  29. Yen, udah lama ga baca blog, ini bagus dan bener banget tulisan elo:)
    Kalo untuk gua sosmed itu makes life interesting, gua suka geli (lucu) lihat orang yg suka pamer. Dari barang merk, selfie or their vacation places.
    Tapi kalo sudah berlebihan jadi males juga ikutinnya sih. Dan memang perception kita beda2 dengan ngelihat posting temen/ orang2 disekeliling kita. Kayanya kalau di Asia, kebanyakan orang suka post selfie, banyak yg selfie sewaktu lagi travel. Gua suka lihat tourist2 Asia yang heboh banget selfie nya, dan kalo orang Indonesia suka banget selfie di airplane duduk di business/ first class. Memang ga papa sih tapi kayanya banyak yg mau kasih lihat kalo mereka selalu mampu/ travel dan duduk di business/ first class. Menurut gua kebanyakan yang suka pamer itu yang baru bisa mampu atau orang kaya baru ya, tapi juga jama dulu ga ada sosmed jadi ga bisa share/ pamer:)
    But we do live in a free world, jadi ya mo gimana juga masa ngeributin/ complaint jadi drama queen dengan postingan temen2 :):):)

    • Pos ini fokus di reaksi orang ke pos orang di social media. Reaksi 1:1 terhadap orang asing yang ngga dikenal juga, bukan hanya temen karena beberapa media sosial yang terbuka. Memang terserah kita sendiri mau pos apa tapi jangan lupa ada yang lihat pos kita dan sebaliknya kita juga lihat pos orang.

      • Iya banyak angle dari point of view orang tentang any post in social media, and of course we are free to comment as well. There people are very active about commenting and some that aren’t. I agree with Ria that we have to carefully choose what we want to share or not, especially our private lives.

        • And that is exactly what social networks are all about. Kita hati-hati melindungi kehidupan pribadi online tapi ada juga yang conciously oversharing. Nah kalo oversharer ini jadi bikin orang yang lihat kesel ada dua kemungkinan: dia kurangi oversharingnya atau tetep oversharing dan siap dengan risiko yang ada. Yang follow si oversharer juga ada dua pilihan: tetep follow dan suck it up atau unfollow.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s