about me / Bahasa Indonesia / Friendship / Science / Thoughts

Belajar berempati

Kadang arti empati sering tertukar dengan simpati. Empati itu artinya kemampuan untuk merasa emosi dan perasaan yang orang lain rasakan, kemampuan ini begitu kuatnya hingga orang yang berempati ke orang lain dapat merasakan emosi dan perasaan orang lain itu berdasarkan emosi dan perasaan yang bersangkutan. Simpati artinya kemampuan untuk merasa emosi dan perasaan orang lain dan menghibur yang bersangkutan. Memang tipis bedanya, empati lebih dalam dari simpati.


Gambar dari sott.net

Menurut ilmu psikologi, empati itu dasar penting dari EQ (Emotional Quotient) yaitu kemampuan kognitif untuk mengenali dan mengendalikan emosi diri sendiri dan orang lain. Sebelum kalian bingung dengan penjelasan panjang, lebih baik gw jelaskan dengan beberapa contoh.

Pencetus pos ini adalah pos terakhirnya Rika, di situ dia cerita dua bulan lalu kehilangan ayahnya. Baca pos Rika yang sangat jujur dan ditulis dari hati, membuat gw berempati ke dia karena gw juga kehilangan nyokap gw bulan Oktober lalu. Di pos itu Rika menulis beberapa reaksi orang mulai dari menyarankan ayahnya Rika berobat ke dr X sampai ada yang tanya dia kok ngga ke Indonesia lagi untuk melayat. Nah ini contoh orang yang ngga berempati. Memang maksudnya baik tapi apa yang mereka cetuskan bukan berarti ngga dilakukan/dipertimbangkan keluarganya Rika, ya kan?

Belum lagi orang yang menyarankan untuk ikhlas. FYI berkabung itu ada beberapa tahap dan sangat personal sifatnya. Apa yang loe alami dan loe terapkan belum tentu cocok buat gw dan sebaliknya.  Ok, gw awal tahun ini pernah janji untuk ngga lagi cerita kedukaan gw disini sekarang udah anak yatim piatu. Walaupun begitu gw sampe sekarang masih berkabung karena ngga punya orang tua lagi.

Waktu bulan Desember lalu tiga hari sebelum Natal gw belanja di supermarket, gw lagi asik milih haricot verts (buncis Perancis yang kecil) dan sebelah gw ada cewe bareng ibunya belanja. Mereka asik ngobrolin menu Christmas dinner mereka sambil ketawa, oh nanti pasti si om Z makannya banyak dan bla…bla…bla…Eh denger ini tiba-tiba gw nangis aja gitu! Spontan nangis karena ngelihat ibu dan anak perempuannya ini seru banget dan gw inget gw udah ngga punya ibu lagi. Walaupun tinggal jauh gw sama nyokap sering ngobrol di Facetime tentang persiapan hari raya dan ngebahas menu makanan karena kita berdua suka masak. Nah di bagian sayur di supermarket itu gw  sedih banget rasanya, dada gw sesak, air mata mulai netes. Ini situasi di mana gw ngga bisa membendung emosi, otak gw berfungsi cepet mengirim sinyal dalam nanosekon untuk menyentil bagian lain yang menyimpan memori gw sama nyokap, ngga sempet lah inget musti tabah dan ikhlas dan bla…bla…bla…Selagi nulis pos ini aja gw jadi nangis lagi inget kejadiannya. Nah setelah didera emosi waktu itu di supermarket, sambil nunduk gw langsung telpon laki gw bentar, hanya untuk cerita pengalaman ini terus menuju ke kassa bayar padahal belanjanya belum selesai.

Ini salah satu contoh gw masih berduka kehilangan mama tapi hidup jalan terus ya. Yang bikin gw terharu sampe sekarang temen sekantor masih ada yang rutin tanya “Bagaimana kabar loe?” dan beberapa itu empatis sekali, mereka tulus betul pingin tahu keadaan gw.

Dibawah ini beberapa contoh reaksi orang yang menurut gw ngga berempati.

  • Orang yang bilang temen gw lupa ajaran Tuhan karena dia masih berduka dua bulan setelah adiknya meninggal. FYI, Temen gw ini 24 Desember lalu kehilangan adiknya yang satu lagi, meninggal kena serangan jantung. Jadi dari mereka bertiga sekarang hanya tinggal dia. Bayangkan bagaimana rasanya ditinggal dua adik dalam jangka waktu 18 bulan? Bagaimana perasaan orang tua temen gw itu, menguburkan dua anaknya.
  • Pernah ada satu temen orang Indonesia terburu-buru pulang ke Indonesia karena bapaknya sakit parah. Ada loh temennya dia yang minta temen gw ini hubungi dia kalo ada apa-apa dengan bapaknya itu. Gw mikirnya loh mana kepikiran lah namanya situasi lagi kalut gitu.
  • Disaat ada yang keguguran juga ada beberapa yang berreaksi “Kok loe nggga cerita ke gw?”
  • Gw sempet loh punya pengalaman orang ngga berempati waktu dapet kerjaan baru. Ada yang komen ‘Gw juga ngelamar kesitu tapi ngga pernah dapet jawaban’. Gw langsung tulis nr telp HR-officer perusahaan baru gw dan gw kasih ke dia, “Nih telp ini orang lah kalo ngga pernah dapet jawaban”. Can’t you just be happy for me?
  • Ada temen gw orang Indonesia tinggal di sini yang suatu hari pasang status menikah dengan pasangannya di Facebook. Beberapa komen di status temen gw itu ‘Wah kok ngga bilang-bilang sih?’, “Hah, kenapa nikah mendadak kok gw ngga dikasih tahu”.

Sebelum kalian bosen baca pos panjang ini, tulisan ini hampir selesai kok. Pesan gw, bisa ngga kita berkomentar dengan berusaha ikut merasakan apa yang orang itu rasakan dalam saat itu? Ini yang namanya empati. Mengesampingkan perasaan kita sendiri dan mengedepankan perasaan orang yang mengalami.

Ucapan selamat atau ucapan mendukung itu berarti kok untuk mereka yang sedang berduka atau bersuka. Or just being there, ngga pake tanya-tanya “Kok loe ngga cerita ke gw?” atau ” Kok gw ngga tahu ya”. Mungkin memang kita merasa dilewati karena ngga denger kabar itu dari dia langsung dan pertama, but is it so bad? Gw pribadi sih mikirnya ngga gitu. Prinsip gw kalo ngga dikasih tahu langsung sama yang bersangkutan mungkin gw bukan sepenting itu dimata dia and that is ok. Orang itu makhluk sosial temen dan keluarganya banyak. Pernah ada orang yang gw anggap lumayan deket, dia pisah dengan suaminya. Terus 8 tahun menghilang dan dua minggu lalu gw ketemu dia di Utrecht. Tukeran nr telp terus halo-halo di WhatsApp, gw tanya kabarnya dia gimana, jawabnya hanya “life goes on”. Yowis lah, jawabannya singkat gitu gw ngga lanjut tanya lagi. Mungkin dia ada alasannya untuk ngga cerita ke gw. So gw jawab ke dia ”Yang penting loe happy dan content dengan hidup loe sekarang”.

Last note: Berduka itu pribadi sekali sifatnya. kalo ngga tahu atau bingung musti bagaimana mengungkapkan belasungkawa, bilang aja I will be thinking of you.

Featured image dari open.buffer.com

 

53 thoughts on “Belajar berempati

  1. Untuk istilah Empati dan Simpati ini kadang saya musti mikir sebentar kalau mau gunakan dalam bhs tulis krn takut salah. Terimakasih sudah berbagi ilmunya.

  2. Ini bener banget Mbak. Kalau terjadi sesuatu yang overwhelming banget kan kadang susah untuk memikirkan orang lain seperti misalnya memberi kabar. Give those people some space, and they will tell you about it later if they are ready (or want) to share it with you.

    • Ya kan Steph? They are the one who decide when and who to tell the story. Selain dari itu kalo ada orang punya kabar dan berbagi kabar, all we can do is be happy or being empathetic with them.

  3. Empati dan simpati. Ya memang kita lagi2 harus diingatkan soal ini. Aku baca postingan Rika juga merasakan kesedihannya sampe kubahas sama uppa.

    • Heeh, aku merasa empati ke Rika dan pengalaman dia. Juga baca komen orang-orang di pos itu yang pengamalannya sama, ikut empati juga Jo.

  4. Mungkin beberapa orang emang maunya dianggep penting, makanya orang – orang ini berharap dikasi tau kalo ada apa-apa :s Tulisannya bagus Mba Yo, simple dan kena🙂

    • Orang yang ngga berempati kalo denger kabar tentang orang lain, reaksinya bertolak dari situasi dirinya sendiri, ngga berusaha memahami situasi orang yang mengalami.

  5. Bener banget Mbak, saya juga sering ngerasa di sini banyak banget yang reaksinya ‘Kok ngga cerita?’ saat tau suatu kabar. Perasaan yang lain seakan ga dipikirin. Semoga orang-orang bisa lebih berempati ya.

    Saya kirim doa juga buat orang tua Mbak Yo, semoga Mbak dan keluarga selalu diberi ketabahan dan kesabaran ya.

    • Aku kadang sedih kalo ada kenalan yang keguguran dan ada yang komen ‘Kok loe ngga cerita sama gw?’ Lah ini kan cerita tapi respon pertamanya langsung gitu.
      Belum lagi yang menasehati ini itu ke orang sakit atau orang berduka sementara mereka ngga tahu situasi dan pertimbangan yang diambil.

      Memang susah empati itu, aku aja juga belajar. Lebih tenang lah kalo ada empati Dixie, hidup ngga repot mikir kok kita dilewati ngga diberi kabar atau kok ngga dikasih tahu si X ada disini. Kalo orangnya mau kasih tahu ya pasti akan menghubungi kan?

      Makasih ya doanya. We are coping and have been learning how to deal with it.

  6. Saya ikut berduka cita. Bagaimana kondisi mbak sekarang?

    Pernah mengalami beberapa kematian dalam keluarga dalam waktu singkat. Memang nggak mudah.. Tidak mungkin mudah..Ada banyak penjelasan sebetulnya kenapa orang-orang bisa sulit berempati, pertama karena dari kecil mereka tidak diajarkan untuk kenal dengan “perasaan” sendiri, apalagi orang timur terbiasa untuk tidak menunjukkannya. Bagaimana mengenal perasaan orang lain? Kedua tidak paham bagaimana cara mengekspresikannya dalam masa-masa sensitif akhirnya hanya bisa coping bagaimana dulu mereka diperlakukan (dalam masa2 duka juga). perkecualian bagi orang2 yg secara alami cerdas intrapersonal

  7. Mbak Yo, aku mengalami yang bagian keguguran itu. Setelah menuliskan diblog, mungkin ada beberapa kenalan yang baca trus mereka kirim email nanya kenapa ga cerita ke mereka malah ada yang (niatnya) kasih nasehat tetapi ujung2nya “kamu pasti ga bisa diam ya pas hamil, jalan sana sini” aku menghela napas dan balas dengan ucapan terima kasih saja. Memang waktu keguguran hanya keluarga Belanda dan keluarga Situbondo yang tahu. Baru perlahan aku kasih tau teman2 dekat saja.
    Semoga aku menjadi orang yg bisa berempati dengan keadaan orang lain yang sedih ataupun gembira dengan ga terlalu banyak komentar (berpendapat seperlunya saja). Doa kusertakan untuk Mama Mbak Yoyen dan untuk siapapun yang pernah kehilangan orang terkasihnya.

  8. Yang paling sering itu kalau ada berita kawinan lalu sinis reply nya “Kok nggak ngundang2?” Ya mbok nggak bs gitu ya berbahagia setulusnya, kok mesti mengharapkan undangan?

  9. Nice post Mbak. Aku sendiri pernah mengalami, waktu cerita ke temenku tentang penyakitku dia malah menasehati. Tujuannya baik sih, tapi nasehatnya malah kayak menyalahkan kalo salah akulah kena penyakit. Sampe sekarang hati2 jadinya kalau cerita ke dia tentang apa2. Btw yang bawa2 Tuhan itu aku paling anti deh, well kalau mau nyampaikan pendapat sendiri untuk apa bawa2 Tuhan sih…

    • Heeh, pake bawa agama dan kitab suci itu udah templatenya sama deh Mar. Malesin. Just be there, susah ini untuk beberapa orang.

  10. Berempati itu memang sulit karena untuk bisa berempati, seseorang harus “keluar” dari dirinya sendiri dan benar-benar menempatkan dirinya di situasi orang lain. Terkadang, nggak mengherankan sih, kan ada orang yang cenderung “egois” dan melihat hanya selalu dari kacamatanya sendiri saja😛 . Ini PR juga untuk diri sendiri sih🙂 .

  11. Oke aku mau catet untuk “last note”nya, krn aku sering bingung what to say kalo ada temen yg berduka apalagi kalo hanya bisa berkirim pesan via sms/WA (ga ketemu langsung). Makasih infonya, Mbak🙂

    Aku juga pernah dongkol pas dulu baru nikah trus aku posting di FB foto pernikahanku, trus ada temen lama (ga pernah ketemu, ga pernah kontak2an juga) kasih komen “Eh lo kok gak ngundang2 gw?” Bahkan ngasih ucapan selamat aja enggak lho. Akhirnya aku jawab sori ga ngundang krn aku emang cuma bikin acara kecil, ngundangnya ORANG TERDEKAT saja (biar dia berasa kalo dia sebenernya ga aku anggap sbg orang dekat). Dalam hatiku membatin siapa elu minta2 gw undang, emang lu penting? Kita ikrib juga enggak. Kzl.

    • Iya, aku waktu jaman SMA dulu kadang salah ngomong padahal yang ada di kepala mau ngomong apa, yang keluar kalimat lain.

      Begitulah Icha, orang lebih cepat merasa dilewati daripada ikut seneng dan mengucapkan selamat ke yang baru nikah.

  12. Nice post Mbak. Terkadang orang suka entah keceplosan atau memang tidak punya empati terhadap orang lain. Apalagi tentang duka seseorang, ada baiknya jika tidak mempunyai pandangan yang sama jangan sampai menceploskan kata-kata yang mungkin melukai orang yang bersangkutan, karena rasanya itu pedih banget Mbak.
    Dan soal nikahan itu baru belakangan ini aku alamin Mbak, temen aku yang nikah malah aku yang dicecar pertanyaan sama mantan koleganya di kantor. Kok dia ga ngundang sih pas nikahan. *ya ampun.

      • Soalnya aku diundang ke nikahannya temen ku itu Mbak, dan temen aku yang lain ada yg tag di facebook jadi ex kolega dia di kantor pada nanya ke aku. Aku jawab aja mungkin dia lupa karena sibuk, dan aku buru-buru melipir kabur malas aku kalau makin diinterogasi. Itu juga beberapa orang yang nanya ke aku Mbak, mbok ya kalau mau nanya kan bisa langsung ke yang bersangkutan, nomor hp dan akun sosmed pun mereka temenan kok padahal Mbak.ckckck

  13. Setuju sekali Mbak, kalo orang yang berduka atau bersuka memutuskan utk memberi tahu kita, that’s good tapi kalau tidak, ya memang pasti ada alasannya dan kita tidak bisa memaksa melampiaskan keingintahuan kita dengan memberondongnya dgn pertanyaan yg malah semakin melukai.

    Ada 1 sahabatku dr SMP, bbrp wkt lalu mengalami keguguran dan saya tau jauh setelah kejadian. Meskipun dekat, saya yakin dia punya alasan utk tidak memberi tahu saya saat kejadian. Dan saya hanya bilang “apakah kamu skrg udah merasa baikan? Aku doain ya”. That’s it.

    Ah, semoga empati ini bisa tumbuh di banyak orang.

    • Hai Pipit,

      Iya, kan disaat kedukaan kan kalut, ada lah yang kelewatan beri kabar ke yang lain. Kalo disaat suka mungkin memang ada pertimbangan tertentu seperti perayaan kecil dan intim dll…dll…Mudah-mudahan sih ada yang baca pos ini dan bisa mencerahkan, aku udah seneng.

  14. Bagus banget nih, simpati dan empati. Balik lagi, bentuk bada-basi yang salah kaprah. Kalo pikiran lagi kalut dalam kondisi darurat yang kepikir ya tlp ambulance atau tetangga/keluarga terdekat. Masa mau update socmed.

    • Ada sih Fran yang update soc med, mungkin termasuk kategori oversharer🙂 Hanya pada umumnya ngga lah dan ngga bisa kasih kabar ke semua teman, kenalan.

  15. Ketika perhatian yang harusnya diberikan pada yang berduka atau yang bersuka cita dipindahkan kepada diri sendiri.

    Aku suka sekali dengan penutupnya, berduka itu memang personal dan tiap orang punya kecepatannya masing-masing.

    Have a nice week ya Mbak. 😘

    • Iya. Memang susah merasakan empati yang tulus ya Tje. Apalagi untuk yang merasa dilewati karena ngga denger kabar langsung dan pertama dari yang bersangkutan.

      Memang berduka dan suka itu personal sih. Tergantung yang mengalami sebenernya mau berbagi sama siapa.

  16. Mbak Yoyen,
    Post ini jadi ingat 2 peristiwa kedukaan yg dialami oleh teman & kenalan sy di FB. Yg pertama, teman sy bayinya meninggal pas dlm proses melahirkan – baby 1, mereka sudah menunggu cukup lama sekitar lebih dr 3thn utk punya baby.(kalo gak salah itu kasus placenta pre.. Previa… Aduh, maaf kalo salah tulis) sy sama sekali gak tahu bhw dia udah sekitar 2bln bayinya meninggal. Jadi saat itu sy lagi iseng2 kirim WA: line I-tunes, koleksi musik klasik & baby bedtime songs (ini sy biasa sy lakukan juga kepada teman lain yg punya baby/anak kecil)sy langsung kaget pas dia bales WA sy dgn ucapan terima kasih dan dia langsung cerita bahwa mereka baru aja kehilangan bayinya sekitar 40hr.. Aduh mbak, rasanya sy ga enak banget terus sy langsung bales lagi sy minta maaf kirim WA itu karena sy tidak tahu ttg keadaan mereka. Tadinya sy mau langsung telepon tapi sy urungkan karena udah malam juga kuatir malah mengganggu istirahat mereka. Dia juga minta maaf krn tidak memberi kabar – akhirnya kita berdua langsung alihkan obrolan yg lain karena dia juga bilang lagi belajar untuk melewati masa krisis berkabung ini.
    Yg ke 2, suaminya kenalan sy di FB: suatu hari sy buka news feed FB ada bbrp orang yg menulis ucapan bela sungkawa di time line kenalan sy. Sy sempat bingung apakah benar ini suaminya, akhirnya sy kirim pesan inbox ucapan belasungkawa tanpa tanya ini itu apakah benar suaminya, sakit apa, dll.. Padahal di time line dia ada loh bbrp org yg malah kesannya kepo gitu – baru tahu kalo mereka spouse.. Duh, simpan aja dulu ya…!!
    Akhirnya, keesokanny, kenalan sy ini menulis statusnya – konfirm deh, yg meninggal memang suaminya..
    Saat itulah sy baru tahu ttg hal ini karena selama ini mereka sering sahut sahutan di FB, lucu lucuan gitu sy pikir malah ini kakaknya/sodaranya..) eh,,, udah ada status tsb masih aja ada org kepo… Aduh… Gak bisa disimpan apa yah..??
    Beneran gak ngerti sy sama org2 tipe begini..
    Maaf ya mbak Yoyen, sy cerita panjang banget. Have a nice day mbak! 😊

    • Hai Ririn,

      Iya. Aku suka gemes baca komen ngga dalam konteks maksudnya masa orang meninggal ada yang bercanda atau nanya yang ngga penting gitu? Makasih sharingnya.

  17. Ttg berduka, ampe skg beberapa temenku juga bilang “kok gk cerita ke gw bapakmu udh gk ada? Kapan? Kenapa?” Yaaa.. gitu lah kalo ama org indo.. apalagi ketika aq nikah dan memutuskan untuk tidak mengundang siapapun krn waktu itu bapak sakit. Reaksinya “jahat banget sih gk undang2. Nikahnya gk berkah lho”. Omg, bahkan mereka memvonis pernikahanku gk berkah kalo gk undang byk orang. Itu kan urusanku, ya. Sampe akhirnha aq marah dan bilang “kalo kamu di posisiku, kamu nikah tapi ayahmu lumpuh dan hanya bisa terbaring di tempat tidur, abis itu kamu adain pesta, panteskah pesta itu diadakan? Tega kamu?”

    Huft.. org indo emang lebih banyak keponya mbak. Sebel aq lama2. Kadang aq nunjukin empati ke temen2 yg ortunya brusan meninggal, malah dibilang cari muka. Wes mboh mbak. Gk habis pikir kadang2. Apa nasibku aja yg ngenes diginiin orang mulu.

    I know how it feels ketika mb yo inget mendiang ibu. Seperti ketika aq melihat anak dgn bapaknya bercanda. Seketika aq menitikkan air mata. I just miss him so much..

    • Oalah Tut sampe diucapkan ngga berkah? Itu yang ngomong sadar ngga sih apa artinya atau becandanya ngga asik? Aduh, memang campur aduk pasti emosi kamu ya menikah bapak sakit parah. Semoga orang tua kita diatas sana beristirahat dengan tenang ya.

      Kadang aq nunjukin empati ke temen2 yg ortunya brusan meninggal, malah dibilang cari muka. Serius ini? OMG!

      • Beneran.. aq jadi serba salah lho, mbak.. akhirnya, i better shut up daripada dikira macem2. Jadi cuman bilang “turut berduka ya”. Udh titik. Padahal aq tau rasanya berat ditinggal ortu. Aq aja ampe ngehang seharian, gk sadar ngapain aja. Kata suami saya itu kayak gk ada nyawanya. Ngelamun, mata nerawang, efek gk bisa nangis krn udh janji ama alm papa gk akan nangis kalo papa meninggal.

        Susah ya. Nunjukin empati dikira caper. Datar2 aja dikira gk punya perasaa. Huft!

  18. Aku mau latihan ah bilang “I will be thinking of you.” Abis kalo ada berita duka, selama ini suka salting bilang apa. Pinginnya mendoakan dan membantu tapi ga pingin merepotkan. Kadang reaksi aku malah jadi spontan nyebelin itu padahal niatnya ga begitu. Mungkin karena ga pernah belajar empati sedari dulu ya.

    • Aku bisa kasih saran gitu karena waktu SMA sampe awal kuliah sering salah ngomong Dit. Terus rasanya ngga enak juga kalo ngga bilang apa-apa, masa hanya peluk aja? Akhirnya belajar deh ngomong gini; I will be thinking of you. Bukan hanya orang berduka tapi juga kalo ada kenalan/temen yang kehilangan pekerjaan, pisah sama pasangan dsb.

  19. Pas aku putus kemarin, banyak banget yang berempati, tapi gak sedikit juga yang simpati tapi malah jadi nyebelin. Kan lagi sedih ya, pengennya ada orang yang bilang “It’s OK not to be OK”, bukannya “Ayo dong jangan sedih melulu, entar juga dapet lagi yang lebih baik”. Pas lagi masa-masa anxiety dan sedih gitu mana kepikiran dapat yang lebih baik? Yang ada malah terus-terus bertanya ke diri sendiri salahnya dimana, terus berusaha keras buat ga ngontak mantan dan lebih memilih untuk nyimpen rasa sedih sendirian.

    Untungnya punya banyak banget temen disini yang lebih memilih untuk berempati. Gak ngasih kata-kata penyemangat tapi cukup dengerin semua celotehan aku mulai dari yang emosional sedih sampe ke marah-marah. Ada juga sahabat di Amerika yang ngingetin bahwa it’s actually OK to cry and to experience those negative feelings.

    Soal mbak Yo yang di supermarket itu, aku juga relate banget-bangetan… tapi mungkin karena aku ngga kenal ibu dari kecil jadi rasa sedih itu ada tapi malah ke sedih ngebayangin ‘what could have been’ dan bukan sedih ngebayangin ‘what had happened in the past’.

    • Kebayang ya Crys ribetnya orang komen gimana waktu itu. “Ayo dong jangan sedih melulu, entar juga dapet lagi yang lebih baik”. Putus hubungan kan seperti berduka, perlu waktu. Allow me to mourn gitu ya istilahnya. Aku ngerti kok, makanya waktu itu cuma peluk virtual dan nawarin telinga untuk mendengar🙂

      Masih kadang aku sekelebat inget mama karena kan belum setahun. Masih mengalami the first times tanpa dia. First Christmas, first wedding anniversary, first Easter etc…etc…

      • Iya untung banyak juga yang seperti Mbak Yo. Iya dan butuh waktu juga untuk feel better. Semakin banyak orang yang nyuruh ga sedih malah semakin terburu-buru.

        Ah iya bentar lagi Easter Weekend ya mbak… Yang paling ga enak itu kalo tiba tiba sekelebat ingat, memang.

        • Iya. Memang kalo kelamaan juga ngga bagus tapi ya tolong deh, sampe sekarang sedih juga wajar, baru beberapa bulan lalu kan kejadiannya? Lagipula emang bisa gitu seperti ganti baju, berganti emosi dan mood. Susah ini.

  20. Komen-komen yang mbak tulis saat berempati itu : Indonesia banget deh..
    Thank you for the good writing as always🙂

    • Ada juga dua dari contoh itu kejadiannya sama orang Belanda asli Yul. Skill untuk berempati or lack of it ngga kenal ras.

      Makasih rajin baca dan komen disini ya. I really appreciate it.

  21. Mbak ini menohok banget deh. Sebenernya emang itu berpulang ke diri masing masing ya. Aku juga merasa selfish banget diriku, dan itu yang bikin lack of emphaty hiks

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s