about me / Bahasa Indonesia / Social Media / Thoughts

Si Maha tahu di planet Twitter

Tulisan gw kali ini membahas si maha tahu di planet Twitter. The so called selebtwit. Lebih tepatnya gw menulis tentang beberapa selebtwit Indonesia yang menurut pos Twitter di Indonesia ini termasuk selebtwit golongan tiga. Ada satu yang awal mulai ngetwit karena witty terus ngetop, terus bikin buku, terus nulis blog, terus jadi social media influencer untuk lifestyle & travel akhirnya dia konon jadi fotografer. Ada juga yang rajin ikutan twitwar, mention-mention orang atau ikutan komen terus banyak follower, jadi selebtwit dan akhirnya jadi buzzer atau ada yang share banyak informasi jadi followernya banyak padahal infonya hmmm…

Untuk gw yang tinggal di Belanda menarik mengamati tingkah laku para selebtwit Indonesia yang maha tahu ini. Ok, kultwit bernomor tampaknya sudah jarang tapi yang masih sering adalah sok tahunya mereka ini. Ok, the truth is relative untuk beberapa hal cuma ya kalo dikoreksi orang, apa sih ruginya bilang terima kasih. Atau mungkin mereka takut jatuh gengsi karena info yang mereka twit salah. Khawatir brandingnya yang maha tahu itu rusak? Gw sih udah ngga lagi koreksi pernyataan selebtwit begini karena toh kebanyakan ngga digubris, ngapain juga. Hanya yang gw sayangkan kalo si selebtwit itu ngetwit informasi yang gw tahu 100% salah. Nah followernya selebtwit model gini biasanya menganggap mereka seperti dewa. Apa yang ditwit si nabi Twitter ini ditelan mentah-mentah.

Tweets

Ini tiga contoh tanpa menyebut nama si selebtwit ya. Dan contoh ini untuk selebtwit yang nichenya lifestyle dan suka bahas hal ngalor – ngidul. Gw ngga mengambil contoh selebtwit bahas politik atau agama.

Masih inget beberapa tahun lalu kasus transgender Indonesia dibunuh partnernya di Australia? Ada satu selebtwit kultwit panjang banget soal ini. Dia tulis bahwa KATA TEMENNYA DIA kalo kaum LGBT di Belanda itu dilindungi. Malahan para LGBT dari luar negri minta visa tinggal ke Belanda pasti disetujui karena negara ini LGBT friendly. Dengan niat mengkoreksi pernyataan ngga bener ini karena memang gw tahu ini ngga bener; gw mention lah dia dan bilang ini ngga betul. Ngga mungkin begini di Belanda karena warga negara Belanda hetero yang punya pacar/partner dari luar negri, pasti akan komplain dengan alasan diskriminasi. Semua orang mendapat perlakuan sama. Tahu kan kalian ribetnya memohon ijin tinggal. Dan setahu gw memang ngga ada peraturan seperti ini. Mention gw ngga dijawab. Ok gw ngerti deh selebtwit itu dimention ratusan bahkan ribuan kali per hari. Yang gw sayangkan informasi salah ini dibaca followernya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan ribu. Gemes gw.

Ada lagi satu selebtwit yang koreksi temen gw sebut nama satu kota di Belgia padahal temen gw tinggal di Belgia. Si selebtwit ini koreksi nama kota di Belgia tersebut dengan ejaan bahasa Inggrisnya. Dear selebtwit yang maha tahu, Belgia itu negara bilingual. Semua kota di Belgia ada nama versi Flanders (Flanders istilahnya dalam bahasa Inggris, Vlaams, bahasa Belandanya Belgia) ada versi Perancisnya. Jadi loe sebenernya yang musti dikoreksi balik. Sebagai contoh ini nama beberapa kota Belgia dalam bahasa Inggris, Perancis & Vlaams. Brussels, Bruxelles, Brussel. Antwerp, Anvers, Antwerpen. Bruges, Bruges, Brugge. Ghent, Gand, Gent. Ngga usah deh kota di Belgia yang negaranya bilingual. Orang Perancis & Spanyol nyebut Den Haag itu La Haye (Perancis), La Haya. Dalam bahasa Indonesia nama kota di luar negri atau nama negara jarang dirubah ejaannya. Coba bayangin kalo kita ikut orang Perancis & Spanyol, dalam Bahasa Indonesia kita sebut New York sebagai York Baru. Gw waktu september 2014 naik mobil ke Lille bingung insert nama kotanya di sistim navigasi, karena ngga diterima. Tiap kali muncul Rijsel terus. Setelah itu gw Google, ternyata Lille itu nama versi Perancis tapi dalam bahasa Vlaams nama kota Lille itu Rijsel. Berhubung lokasi gw di Belanda, yang keluar hasil pencarian ya Rijsel dan sistim navigasi gw itu attach sama Google. Jauh ya bedanya Lille dan Rijsel but trust me it’s the same city.

Terus ada selebtwit yang pernah ikut hop on hop off bus di Barcelona. Dia live kultwit hari itu dari dalam bisnya. Beberapa kultwit dia tentang Gaudí salah banget infonya. Bukan hanya gw yang koreksi dia tapi beberapa tweeps juga cuma tidak dihiraukan sama si selebtwit ini.

Gw tulis pos ini karena makin kesini makin banyak yang kaya gini. Dan misalnya gw tahu hal yang mereka twit itu salah, gw udah males koreksi mereka, buat apa. Karena gw juga pikir gw ngga maha tahu. Sudahlah. Hanya sekali lagi yang gw sayangkan mungkin followernya mereka menelan info yang ditayangkan sebagai info yang bener. Ah, biar lah, bukan urusan gw sih hanya sekali lagi untuk ketiga kalinya dalam pos ini, sayang aja gitu.

Rants over!

Gambardari Freepik

86 thoughts on “Si Maha tahu di planet Twitter

  1. Aturan kalau mau berkicau itu mbok ya makan dulu, atau riset dulu. Soalnya kalau salah kan malu :hehe. Kalau kasarnya, sebelum ngomong ya mikir dulu :hehe. Tapi keren yah Mbak, di Belanda, Belgia, atau Perancis itu nama kota bisa berbeda-beda tapi itu kota yang sama. Mirip Den Haag yang kalau bahasa Inggrisnya adalah The Hague ya. Jadi penasaran nih :hehe.

    • Ngga semua gitu which is ok. Hanya kalo pendapat pribadi disampaikan sebagai fakta, nah ini menyesatkan pengikutnya.

      Iya, aku aja kadang masih bingung Gar kalo ke Belgia naik mobil karena namanya ada dua, bahasa Perancis & Vlaams.

      • Iya Mbak… tapi saya kepikiran kadang bisa jadi lelucon juga yak. Misal ada dua orang yang baru pertama kali pergi ke Perancis, yang satu mau ke Lille dan yang satu mau ke Rijsel, akhirnya mereka ketemu di kota yang sama :hehe.

    • Hai Gara, ada yang lucu sih sebenernya dari kenapa Den Haag ada versi Inggrisnya sementara Amsterdam gak ada. Setahu gue itu karena mulai abad ke-20 kota ini jadi semakin internasional dengan mulai banyak peradilan HAM dan pusat hukum disana sini, dan jadinya pasti karena saat itu Inggris masih merajalela, demi menginternasionalkan kota jadilah mereka pake istilah The Hague. Orang Den Haag-nya mah kagak mau nyebut The Hague, itu untuk mempermudah para ekspat aja. Dan lebih ke masalah ‘rolling of the tongue’ aja sih tentang kenapa Den Haag jadi ngetop disebut The Hague di kalangan internasional. Den Haag sendiri nama awalnya ‘s-Gravenhage tapi udah lama banget ga dipake.

      • Sebenernya kalo mau dibahas lebih dalam lagi, Den di Den Haag itu article dalam bahasa Inggris diterjemahkan jadi The, The Hague, dalam bahasa Perancis & Spanyol article feminin jadi La, La Haye/La Haya. Dari dulu normal nama tempat diawali dengan Den atau De. Dan yang Crystal tulis bener juga, Den Haag itu pusat corps diplomatique di Belanda walaupun ibu kotanya di Amsterdam.

        • Iya, efek Anglicization juga kayaknya mbak… Kalo di Amerika contohnya bekas2 koloni Belanda namanya diubah semua jadi lebih Inggris kayak Vlissingen jadi Flushing, Breukelen jadi Brooklyn. Tapi ya beda kepentingan utk Anglicization -nya. Kalo yg di Belanda agar lebih sesuai utk pengucapan orang asing, kalo Amerika karena jadi koloni Inggris.

        • Nah itu Anglicization jadi mengingatkan pada banyak tempat di Irlandia yang jadi ada nama Inggrisnya. Sang penjajah gak bisa pronounce bahasa Irish. Jeleknya, bahasa Irish jadi sekarat, orang lebih cenderung pakai bahasa Inggris.

        • Mba Yo yg The Haque dan Den Haag aku sempet bingung. Ini aku pikir 2 kota gak taunya sama, untung Deny kasih tau. Jadi untuk selebtwit emang harus jeli sih ya untuk baca infonya sebelum kasih informasi. Matt juga pernah nemu ada yg kasih info tentang OU salah mba dan followersnya buanyak bgt hehe

        • A di Haag itu pronouncenya panjang, aa. Terug g dalam bahasa Belanda itu antara g dan h. Jadi bacanya Den Haagh. Nanti lah kalo ada kesempatan kita kopdar aku kasih tahu Ji🙂

  2. Saya suka gemes mbak… Orang ngeshare sesuatu yg salah dibenerin kadang dia yang balik ngebenerin…
    Yang sangat disayangkan ya followersnya itu, jadi tersesat semua

  3. Bingung mau komennya mbak Yo. Sayang banget sih ya kalau sampai menyebar informasi yang salah. Tapi lebih sayang lagi karena gak mau mendengar.
    Ini sih mungkin lebih jadi reminder buat saya untuk gak langsung iya iya aja mbak. Makasih banyak mbak remindernya.

    • Nah itu maksudnya Ria. Kalo kita follow orang yang share info ngga bener dan kita ngga tahu ini bener salah, bisa jadi kita salah dapet informasi tapi ngga tahu kan?

  4. Tadinya klo liat komen selebtwit saya gemes Mbak Yo, tapi sekarang malah ngakak sendiri. Jadi pelajaran klo mo nerima informasi harus ada saringannya, researchnya. Jangan menelan mentah2.
    Ples lagi klo mo nulis ssuatu di medsoc, harus hati2 dan mau dikoreksi.

  5. Yang pertama aku tahu, dia ngetop karena kasus cewek yang dibunuh di Bandung. Aku follow. Dia hobi bikin prediksi2 ini itu, dari politik sampai pembunuhan. Followernya aku setuju loyal banget. Sayang bener ya kalau semua ditelan mentah2.

    Yang gak bisa dikoreksi tuh Mbak, apa gak bisa googling dulu apa ya?

  6. Kritis banget Mbak Yo tulisannya. Suka! Pengingat ke aku juga (meskipun bukan selebtwit) kalau mau menyebarkan informasi atau dapat informasi, contohnya dari twitter musti cek ricek dulu dan mau menerima koreksi kalau memang salah.
    Beberapa hari lalu aku koreksi selebtwit yang nulis diblognya tentang Amsterdam, salah menulis salah satu nama museum di Amsterdam dan salah nulis salah satu nama makanan Belanda. Awalnya aku lewatin aja karena biasanya kalau ada yg koreksi, dia suka ngatain semacam : pasti ga ada kerjaan ya sampai jadi korektor kata atau jomblo ya sampai jadi korektor. Tapi aku gemes karena ga enak juga bacanya, akhirnya aku koreksi lewat twitter. Ga berharap banyak akan direspon sih. Eh, mengejutkan ternyata dia bilang terima kasih dan tulisannya diblog langsung dikoreksi.

    • Bagus deh Den masih ada yang mau dikoreksi. Beneran aku kalo lihat kelakuan beberapa selebtwit Indonesia ini zo erg ja. Sommigen denken dat ze heel wat zijn.

  7. Wow, saya ngebayangin seramai apa ya twitter? Penasaran, tapi saya dah mendeklarasikan tidak mau nambah akun sosial media, kayaknya yang model si Maha Tahu bakal bikin saya gwemmes repotnya kalo jadi baper dan makan ati saking gemesnya.

    Ternyata setiap negara punya versi bahasa sendiri untuk nyebutin nama negara lainnya ya, saya kira cuma di Indonesia🙂
    Infonya menarik mbak yo, terimakasih.

    • Udah keramean Ru sekarang. Aku dari gemes sampe biar lah deh, tulisan ini uneg-uneg aja biar ada yang baca.

      Betul, ejaan nama kota dan negara bisa berbeda dalam bahasa asing.

  8. Karena aku nggak begitu sering online di twitter, jadi nggak terlalu memperhatikan kultwit2 begini, tapi yang bikin gemes jelas orang2 yang suka sebar / share info seenaknya di facebook tanpa ngecek dua kali kredibilitasnya.

    Jangankan yang kurang berpendidikan, yang pendidikannya master pun masih tertipu sama artikel2 hoax yang udah jelas2 dari judulnya pun meragukan, bikin gemes. Yang begini2 biasanya langsung aku unfriend *jahat*

    Soal versi nama kota, itu memang sih bikin bingung, apalagi yang dari Lille ke Rijsel (jaka sembung ora nyambung) Copenhagen aja di bahasa nativenya København, tapi disebut oleh orang Swedia jadi Köpenhamn (ini pronunciationnya beda lho), terus belum lagi versi Perancis jadi Copenhague

    • Aku hanya ngobrol sama tweeps yang aku kenal sekarang Va. Betul, itu juga sangat nggemesi kalo main asal share berita tanpa cek & ricek.

      Iya, si selebtwit waktu koreksi temenku itu kaya dia yang paling tahu gitu. Dia ngga tahu banyak versi ejaannya. Banyak nama tempat di Belgia dan Perancis utara yang ngga nyambung: Liege vs Luik, Namur vs Namen, Lorraine vs Lotharingen etc…etc..

  9. Wah wah wah, kok ide posting kita bisa seirama. Postingku besok juga kurang lebih nadanya seirama dengan isi dari posting ini, hehehe🙂 . Nggak ada hubungannya ama selebtwit sih, tapi lebih bertanggung-jawab terhadap apa yang kita sebarkan dan juga kritis terhadap informasi yang kita baca (terutama di internet)😛 .

  10. Kalo menurutku sih itu biasanya kembali ke masalah mendasar, gengsi karena salah dan ga mau menerima koreksi sebagai saran untuk memperbaiki diri. Kebanyakan bangsa kita itu biasa terima hitam putih, dan kritik/saran dianggap menyerang. Padahal mah kita berbagi aja sih ya.

    • Sayangnya memang ada orang yang ngga bisa membedakan kritik dan serangan. Ada yang karena banyak pengikutnya jadi merasa jumawa, maunya dikelilingi orang setuju dengan dia atau orang yang mendewakan dia.

      Menarik Dit mengamati ini karena disisi lain dari tweeps yang kritis, memang ada juga penggemar para selebtwit ini yang bener-bener mendewakan mereka.

  11. Dari dulu aku memang lebih suka follow orang di blog daripada di Twitter, Cuma ada SATU selebtwit yang aku ikutin sampe ke blog trus ke ask.fm saking amaze sama jawaban2nya yg cerdas😀.

    Aku setuju mbak, orang bisa nulis apa aja di internet, (apalagi pas pilpres, doh, hanya Allah yang tau itu berita-berita yang seliweran di fb; kayagnya orang bisa nulis seenak udel mereka, terus banyak yang NERUSIN dan PERCAYA lagi, wakakaka)

    dan memang kembali kepada kita yang membaca untuk cerdas dan kritis mempertanyakan ‘ini bener ga sik beritanya seperti yg ditulis?’ dan bukan mentang2 mereka selebtwit semua yang mereka tulis pasti benar. Setuju banget deh sama tulisan mbak di atas😀

    • Makasih Nina. Memang orang harus kritis untuk filter informasi yang didapat. Sekarang pertanyaannya adalah; apakah selebtwit ada tanggung jawab moral untuk share informasi yang betul?

      • Kalau selebtwitnya punya integritas seharusnya punya tanggung jawab moral yaaa. Kalau ndak punya integritas ya kayag berita pilpres : yang penting tweetnya jadi viral. Nyebelin sik emang -_- unfollow aja lah kalau udah begini🙂

  12. Gemes sih memang, tapi yaudahlah buat bahan ketawaan #eh bahan koreksi aja semoga kita gak jadi org yang kayak gitu

  13. Btw, aku seneng baru tau kalo ada kota di eropa yg sebutannya beberapa nama. Makasih infonya Mba. Btw, selebtwit sing penting ningkatin followers dan nantinya kalo disponsorin sama brand, harga satu twitnya bisa belasan juta hehe

  14. aku baru tahu ternyata di Eropa, satu kota bisa punya nama beda-beda tergantung pelafalan Bahasanya.
    aku ikut menyayangkan selebtwit yang ga bisa terima kalau dikasi kritik atau kreksi untuk twitnya. Tulisan mbak Yo ini ngingetin aku juga buat lebih aware dengan setiap informasi yang aku sampaikan biar ga salah ngasi tahu orang-orang.

    • Iya Ira. Indonesia yang Amerika banget atau seperti Crystal tulis kena Anglicization jadi acuannya ke bahasa Inggris. Eh tapi sejak beberapa tahun terakhir ini Syria disebut Suriah ya dalam bahasa Indonesia, mengacu ke ejaan bahasa Arab? Waktu aku masih tinggal disana Suriah masih disebut Siria FYI.

  15. Jaman dulu pertama ngetwit masih seru, mainan plesetan nyarinya via hestek. sejak 2013 jarang ngetwit cuma sesekali aja. Iya bener, ini jadi pengingat untuk selalu cek ricek sebelum ‘kasih kuliah’😉

    • Sebelum kasih kuliah atau koreksi orang lain🙂 Dulu Twitter awal muncul tahun 2006/2007 masih buat geeks & nerds yang purely berbagi informasi. Seru waktu itu karena belum ada buzzer juga ya🙂

  16. aku ga punya twiter mbak yo, tapi klo liat penjabarannya :

    ngetwit karena witty terus ngetop, terus bikin buku, terus nulis blog, terus jadi social media influencer untuk lifestyle & travel akhirnya dia konon jadi fotografer.

    kayaknya itu si temen jaman multiply dulu deh hehehe

  17. Baru tau juga kalo ada sebutan yang beda beda gitu. Sayangnya fenomena jarang cross check itu sekarang lagi mewabah mba, bukan cuma di twitter tapi di FB juga. Tapi efeknya di twitter mungkin lebih luas kali ya karena kalo followernya banyak berarti kan banyak yg terpengaruh (kebodohannya)😦
    Udah salah, di kasih tau gak gubris, ditambah sama opini yang ngaco kemana mana, bubar deh.

    • Karena di Twitter gampang May, cuma 140 karakter. Lain dengan blogging yang harus nulis teks lebih panjang dari 140 karakter. Iya bener, sharing info ngga dicek dulu, langsung teken button share.

  18. Wah gitu ya ternyata banyak selebtwit sesat, selama ini nggak memperhatikan. Main twitter cuma follow akun portal berita atau lembaga, ga pernah merhatiin yang selebtwit, karena memang ragu akan akurasi info yg mereka twit. Yang bikin gemes ada akun-akun di twitter maupun line yang namanya semisal ‘psikologiID’ dsb, terus nginfoin hal-hal seolah seputar psikologi padahal jauh sama sekali dari kaidah ilmu psikologi itu sendiri. Dan banyak akun kayak gitu. Dan lebih banyak lagi pengikutnya yang rajin amin-amin terhadap apa yang mereka post. Duh, miris.

    • Aku ngga sebut selebtwit sesat loh Prita, hanya ada beberapa selebtwit maha tahu yang kadang berbagi info ngga bener. Ada juga info yang dibagi selebtwit maha tahu ini yang bener🙂

    • Ngebahas ini akhirnya kesimpulan gw cari follower, ujungnya ya duit Ndah. Banyakin follower untuk makin banyak dapet orderan buat buzzing produk/service.

  19. Dari dulu satu-satunya medsos paling ga suka ya twitter ini hahaha😀
    Kayaknya gengsi emang ya kalo ngaku salah🙂
    Tapi nyebelin juga kalo ngasih informasinya ga tepat, bukannya dapet ilmu malah menjerumuskan

    • Bikin gemes yang baca Riri. Aku suka Twitter untuk dapet informasi cepat dan akun yang share info bagus. Apalagi urusan pekerjaan, banyak info yang didapat. Kalo aku sih ngga follow selebtwit Indonesia, mereka berisik soalnya di timeline🙂

  20. Aku gak ada yang kenal selebtwit di atas mbak…
    hhahahahha….

    Agak gimana juga sih ya kalau gak mau dikoreksi, apalagi punya follower loyal…

    Sekarang, kalau ada apa-apa, mending googling dulu deh, biar gak nelan info mentah2 dari selebtwit…😀

  21. ah ya… inget waktu kursus bahasa prancis jadi makin puyeng karena nama-nama negara jadi beda semua, hahahaha.. USA jadi Les Etats Unis ato something like that deh… Belanda jadi Les Pays-Bas… hadeuhhhh.. bikin puyeng🙂

    • Betul. Jepang jadi Japon, Pantai Gading jadi Cote d’Ivoire dsb….dsb..nama geografis memang disesuaikan dengan bahasa tertentu.

  22. Wah, waktu itu kan aku sempet kroscek sama mbak Yo soal twit LGBT di Belanda itu. Sekarang sih masih follow dia cuma sekedar jadi ‘bumbu’, karena list orang yang aku ikuti banyakan aktivis LGBTIAQ.

  23. One should do his/ her homework before sending any message, it is a common sense that should be applied in our daily lives.🙂

  24. saya tau deh sapa yang mbak yo maksud, dari pembunuhan, pilpres, LGBT, tapi sekarang udah males baca twitya, banyak followernya yang terlalu memuja gak jelas

  25. yup, paling nggak suka sama medsos ini, entah kenapa , malah ada yg ngasih kultwit panjang2… ujung2nya : cari duit…😀

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s