about me / Bahasa Indonesia / Parenting / Thoughts / Women

Untuk para ibu

Melihat mummy war di media sosial akhir-akhir ini kadang gw merasa lega loh karena ngga mengalaminya sendiri. Waktu gw hamil akhir tahun 2000 media sosial masih tahap berkembang belum serame sekarang. Seperti gw komen diposnya Rere yang sedang hamil anak keduanya, banyak perempuan yang membahas dengan sikap militan hal berkaitan dengan anak. Ada aja yang bisa menyulut pertikaian. Mulai dari bayi dalam janin, pasang foto USG, asupan gizi untuk si ibu sampe rencana memberi ASI ke si jabang bayi yang masih dalam perut. Dalam pos ini gw akan berbagi beberapa cerita menyangkut kelakuan para ibu.

Ada nih cerita temen gw disini. Temen gw itu kenalan sama satu ibu muda hamil anak pertama. Si ibu hamil ini cerita ke temen gw, apapun yang terjadi dia akan memberi anaknya ASI, selama minimal setahun. Ibu hamil ini ngotot sekali. Temen gw itu punya anak udah usia balita. Dia diem aja katanya denger niat kuat si ibu hamil itu. Ngga lama si ibu hamil ini melahirkan, temen gw menjenguk dia. Kalian tahu apa yang terjadi? Si ibu baru ini ternyata kesulitan produksi ASI. Dia nangis-nangis  bilang ke temen gw sekarang dia terpaksa kasih anaknya susu formula dan merasa gagal sebagai ibu.

Cerita diatas ini hanya satu dari banyak hal pencetus mummy war. Masih banyak lagi yang berpotensi konflik seperti:

  • ASI vs MPASI
  • popok kain vs popok kertas
  • bayi menangis digendong vs bayi menangis didiamkan
  • makanan anak buatan sendiri vs makanan anak beli jadi
  • waktu anak tidur dijadwal vs waktu tidur secapenya anak
  • anak dengan allergi vs anak tanpa allergi
  • anak tidur sendiri dikamar / diboxnya atau anak tidur dikasur dengan orang tua
  • ibu yang berdiet dan langsung langsing setelah melahirkan vs ibu yang berdiet tapi susah kembali berat badannya seperti sebelum melahirkan
  • Ibu bekerja atau ibu rumah tangga
  • homeschooling vs sekolah umum

Semua poin diatas itu berlaku untuk para ibu dengan anak hingga usia SD. Banyak ya? Setelah itu masih banyak lagi hal lain untuk sebab mummy war kalo anaknya remaja. Ini gw bahas di lain pos, nanti kepanjangan. Btw, mummy war ini universal ya, bukan hanya di Indonesia aja. Di negara – negara lain juga mummy war ini issue hangat yang dibicarakan ahli pedagogis dan pakar dari disiplin yang terkait lainnya.

moeder-met-kind-26180gambar diambil dari blogginyou.nl

Balik ke inti pos ini. Kadang gw trenyuh lihatnya kenapa sih para ibu-ibu sangat fanatik mempertahankan, promosi bahkan memaksa ibu lain untuk melakukan apa yang mereka buat. Apa yang bagus dan benar untuk satu ibu dan anak belum tentu cocok untuk para ibu dan anak lainnya. Apakah para ibu itu ngga sadar bahwa banyak ibu muda itu ngga percaya diri? Apalagi ibu yang baru punya anak pertama. Meskipun informasi makin banyak dan gampang diakses online, bukan berarti makin gampang memilah yang bisa digunakan. Belum lagi ditambah mummy war itu dengan tone yang agresif dari semua kubu.

Ibu muda itu ngga percaya diri karena sebagian besar dari mereka kan masih mencari cara yang cocok sebagai ibu, istri dan individu. Bayangkan dari hanya berdua dengan suaminya, tiba-tiba mereka punya tanggung jawab atas satu makhluk hidup kecil, ngga bisa apa-apa yang hanya tergantung dengan mereka?

Punya anak itu perubahan yang besar ke kehidupan para ibu dan bapak. Khususnya para ibu, mereka bergelut dengan banyak pertanyaan: Apakah apa yang gw kerjakan ini benar sebagai ibu? Apakah cara gw merawat anak benar? Cara mereka mencari jawaban ini ya sesuai dengan gaya dan pribadi masing – masing.

Dan yang paling penting menurut gw itu adalah:

Motherhood is not a battle between mothers.  And there is no manual how to be a good parent.

 

85 thoughts on “Untuk para ibu

  1. Aahh betul mba Yo, jangankan mother war antara yang udah punya anak, pas hamil pun juga ada war nya mba #pfftt ini aku rasain sekarang pas posting di path kl lg pengen makan nanas langsung deh rame komen pada perang padahal akunya anteng aja lg ngemil nanas. Obgyn aku jg ga ngelarang makan nanas karena bagus cuma ya itu yang repot orang lain hehe. Apalagi kl liat war antara ibu asi vs ibu sufor di forum forum indo aduh serem amat deh sampe pada berantem. Kenapa ya ga bisa pada santai aja ya para ibu-ibu kan setiap orang punya gaya menyusui dan mendidik yang berbeda. Maaf mba Yo jd curhat deh hehe..

    • Betul kan Naajmi? Makin kesini makin parah dan ngga terbatas negara ya. Mummy wars ada juga di Belanda. Memang ngeri lihatnya, sangat militan.

      Aku lupa tulis dicerita tentang calon ibu yg masih hamil kenalan temenku itu. Menurut temenku si ibu hamil itu mencela ibu yang kasih susu formula ke anaknya. Waktu itu dia belum tahu bahwa produksi ASInya susah.

      Ngga perlu sih seperti ini tapi udah kadung ya.

      Selamat menikmati kehamilan ya Naajmi, semoga semua lancar sampai melahirkan.

  2. Mbak Yo, melahirkan secara normal vs melahirkan secara operasi itu termasuk mummy war juga ga ya? Soalnya beberapa waktu lalu juga kayaknya gencar topik itu dan ada kubu fanatisme dari masing-masing cara melahirkan itu. Karena aku punya skoliosis parah, dokter orthopedi menyarankan melahirkan secara cesar kalau sudah hamil (ini dokter Indonesia) trus aku bilang temen yang sudah ada anak 2. Dia ngotot dong nyuruh aku melahirkan secara normal. Ngotot plus maksa. Aku jadi males akhirnya cerita masalah itu. Daripada diceramahin.

    • Apa sih yang ngga dibuat bahan untuk debat Den sama para ibu-ibu yang maha tahu itu?

      Kalo gitu aku sarankan kamu simpan laporan dokter Indonesia untuk kalau kamu nanti disini hamil Den. Bukannya nakut-nakutin, disini susah minta melahirkan dengan Caesar ngga segampang di Indonesia. Aku yakin untuk kamu ada alasan medis pasti bisa, maar je moet hierop voorbereid zijn.

  3. Whooaaa untung juga gue uda lewat masa2 hamil, menyusui, etc 😀 Eh tapi juga pas gue hamil dulu (2004) sosmed belom segalak sekarang sih 😛
    Memang meng-judge orang itu gampang banget sih ya, jadinya ya gitu out of control. Gue sih ga ngikutin soal mummy war ini, karna gue uda males baca duluan kalo ada yg sok pinter dan serba tau semuanya. Sebaiknya, ya terserah masing2 individu ya, karna tiap orang kan lain2 cara mendidik dan pandangannya ttg suatu hal. Boleh saran tapi ga perlu ‘ngotot’ gitu kali ya.

    Kalo sekarang ini yg sering gue dapet kritikan pedas adalah soal anak gue yg minim sekali ngomong bahasa Indonesianya. Untung juga gue ini uda kebal jadi ya ga gue tanggapin amat, lama2 yg suka ceramahin gue jadi capek sendiri dan bosen akhirnya stop 😊 Bukan gue ga mau anak2 gue bisa lancar berbahasa Indonesia, tapi kan banyak faktor ini dan itu yg bikin mereka ga fasih2 amat. Dan rasanya ga perlu sedunia tahu kan. Jadi mind your own business aza, krn gue juga ga meng-judge ortu lain yg anaknya ga bilingual. Ooppsss sorry….ini komen jadi panjang dan curhat 😀😀

    • Iya bener Ria. Walaupun gw lega ngga mengalami mummy wars gini, tapi gw simpati dengan para ibu yang kena imbasnya. Kasian mereka dicaci-maki sama ibu-ibu yang maha tahu itu.

      Itu anaknya yang kritik loe lancar bahasa Indonesia & Inggrisnya? Ngga perlu memang kita jelaskan sebabnya kenapa, toh tetep aja yang kritik cari poin baru untuk mencela. Sama seperti yang waktu itu di IG loe komen birthday cake for your twins was too sugary, gitu kan? We will never win dari orang-orang yang rese seperti itu Ri. Ngga apa-apa cerita pengalaman disini, gw malah seneng. Curhat away!🙂

      • Ikut nimbrung ya….Iya Yen, gua juga ga ngalami karna jauh dari orang2 yg opinionated (sok tau dan ngotot pula:):)) Gua juga males kalo comment soal anak ke siapa aja karna kan we are all different in any way so it is personal preferences.
        Setuju dengan Ria, apalagi kalo ngurus twins ya kan mereka ga ngalami betapa sibuknya urus 2 babies at a time and how much effort to be put into our daily lives.

        • Yes Garile. Memang ngeselin. Kalo yang suka kasih info ini itu dan orangnya terbuka untuk masukan dari kita dan ngga ngotot caranya dia yang paling bener, ini gw suka. Cuma ya kebanyakan mummy wars kan karena ada yang merasa caranya paling betul.

  4. “War” ini terjadi karena seseorang merasa benar dan nge-judge orang deh akhirnya. Masalahnya nge-judge orang itu gampang karena nggak perlu bayar pajak😀

    • Ha…ha…aku seneng tuh ‘curhat ngga bayar pajak’ Wul🙂. Iya, mummy wars ini rame karena mungkin gampang share berita, tulis pendapat dan debat secara anonim online.

    • Amin Dita. Kalo hamil, bergaulnya sama orang-orang yang positif ke kamu aja, daripada nanti stress kasihan si bayi dikandungan.

  5. perang antar ibu-ibu ini memang luar biasa banget ga ada habisnya.
    Menurutku tiap ibu pasti punya kebijakan terhadap pola asuh anaknya. Harapan orang tua terhadap anaknyakan beda-beda dan pasti setiap orang tua ingin yang terbaik buat anaknya.

    • Betul Ira. Semua orang tua mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Caranya ya beda-beda sesuai kemampuan dan nilai yang dianut.

  6. Nanti kalo hamil media sosialnya di nonaktifkan aja atau gak usah koar2 kemana-mana kalo mau menerapkan ini/itu ke anaknya nanti, jadi seandainya gak terlaksana sesuai harapan yg lain gak bakal banyak komentar😀

  7. Saya mah mending minta nasihat nyokap sendiri sama konsultasi dokter saja kali ya, FB saya dah deactivated sampai entah kapan hehehe info begini mnarik mbak yo meski saya bukan seorang ibu, thx shringnya.

    • Iya, yang udah jelas expert gitu ya Ru. Aku dulu ngga keberatan tanya ke temen dan saudara yang cara jelasinnya enak. Biasanya mereka cerita dan berbagi plus minusnya jadi jelas untuk aku. Lagipula ngga maksa aku musti ikut cara mereka.

  8. Quote akhirnya cakep mbaa…. I believe that manual is a description of step that one should take; so no one but one self should make a manual out of one life🙂

    semoga saya dijauhkan dari segala wars yang ada😀

  9. Mba……. kamu tulisnya mummy — aku mikirnya ke mummy firaun hahaha..

    i stop interacting with those mommies a year ago. hidupku lebih tenang dan aku tidak gampang kesal dan berdosa lagi karena kadang klo ga setuju aku misuh misuh ga jelas.

    “Ibu-ibu” fanatik itu sangat kejam mbak, mulut mereka jahat. mereka boleh ngatain orang tapi klo dikatain balik ga terima. nanti kalau anak sekolah berkembang lagi tuh mbak idealisme nya. Mulai dari pamer2an nilai, arisan, foto-foto genk, bla bla bla..

    • Ah sorry. Berhubung tinggal di Eropa dan anakku dapetnya British English di sekolahnya, aku tulis pake ejaan British bukan mommy USA🙂

      Iya bener Yul. Kritik orang lancar, ngga usah dikritik, disanggah dikit langsung ribet. Aku sekarang hanya pengamat dipinggir jalur.

      Ha…ha…iya. Siap-siap bentar lagi bagi rapport. Bertebaran lah nilai bagus, ranking ini itu dsb…dsb…

  10. setuju mbaaaaa… every mother have tjeir own style yaaa..
    suka males kalo ada yg nanya2 knp kok ini, kok gak ini… anak2 gw, urusan gw *ditoyor :))

  11. Setuju, Mbak Yo. I guess people might share what they went thru, but don’t ever force the others to do the same.
    Karena 1: kondisinya bisa jadi berbeda, and what’s best for us, belum tentu baik bagi orang lain, 2: never judge, gosh, we’re not God! haha
    Dan terakhir, PD itu penting ya, at least paham alasan kenapa kita ambil suatu keputusan and be convicted.

  12. couldn’t agree more ama qoute yg terakhir mbak. dulu saya mengalami mummy’s war ini : caesarean vs normal (saya milih normal walopun dokter dan lingkungan sekitar ‘menganjurkan’ sebaliknya), asi vs sufor (saya pake dua2nya, lha asinya dikit gimana), tetap kerja vs jadi irt setelah melahirkan (tetap kerja, karena itu pilihan saya dengan alasan2 yg tidak perlu diketahui umum). kalo menurut saya terlalu banyak ibu kepo yg memandang segala sesuatunya dengan kacamata mereka. padahal yg benar dan baik menurut mereka itu belum tentu benar dan baik untuk kondisi saya. prinsip saya waktu itu : anjing menggonggong kafilah berlalu, dan berfikir perang itu akan berakhir dengan sendirinya nantinya. eternyata, itu battle tetap berlangsung sampe sekarang, sampe anak saya umurnya udah hampir 7 tahun. aaadaaaaaa……. aja yg dijadiin topik ‘peperangan’. cara paling ampuh menghadapinya menurut saya: tutup kuping dan melipir jauh2 dari arena peperangan:mrgreen:
    (sori mbak komennya kepanjangan, curhat jadinya🙂 )

    • Ngga apa-apa curhat aku malah seneng berarti ada interaksi. Ini tujuannya aku ngeblog Trie. Betul, kesimpulannya tentang mummy wars ini we will never win. Ada aja yang dicela.

  13. Sharing boleh, sapa tau pengalamannya berguna bagi orang lain. Plus, mendukung dg memberi semangat, info, dll. Tapi kalo udah maksa mengikuti pengalamannya, yaelah..kesel banget.

    • Maksa pake ngotot lagi, belum lagi pake poke/mention temen-temennya mereka sepikiran. Kadang ada yang dikerubutin loh Za, kasian.

      • Temenku juga ada Mbak, dicekokin macem2 ilmu pas hamil, trus bingung nanya aku. Udahlah aku dengerin aja plus ngeyakinin dia buat nyante n menikmati kehamilannya aja. Yang ngerubutin itu etikanya berasa geng motor aja, keroyokan, bukan positif saling mendukung atw menumbuhkan kepercayaan diri aja.

  14. Nah ini mbak yo. Sayapun terjebak di mommy’s war dan memilih untuk melipir aja. Percuma ikutan koar2 kek sini gak ada kerjaan aja ngurusin hal yang cocok di a belum tentu cocok di b.

    Saya kena bashing perkara working mom dan popok kertas diantara teman2. Sedangkan di keluarga kena bashing perkara ASI dan gak mau kasih sufor. Lha anakku gak mau minum sufor masa dipaksa?

    Capek kok jadi ibu itu benernya. Lebih capek lagi denger perdebatan siapa yg terbaik diantara mereka dikaitkan dengan dalil agama T.T

    • Lebih capek lagi denger perdebatan siapa yg terbaik diantara mereka dikaitkan dengan dalil agama T.T Iya Tutut, I won’t even go there. Tanpa mummy wars diskusi tentang agama aja udah ribet apalagi dengan mummy wars ya.

      • Bangeeettt!
        Aq berpikiran “ngapain sih ampe bawa2 agama. Ampe bawa2 ayat kalo ibu pekerja itu menelantarkan anaknya”.. itu sangat judgemental, mbak. Bukannya saya tidak beragama, tapi saya yakin Tuhan Maha Kasih dan Maha Mengerti kok. Jadi biasanya kalo mereka mojokin aq dengan hal2 seperti itu, aq hanya bisa bilang “semua itu Tuhan yg nilai. Kita semua gk berhak menilai hal seperti ini” trus ku tinggal..

  15. Makin seru banget haha, anaknya di usia berapa udah bisa apa, lebih suka apa, sekolah di sekolah mahal apa murah, dirawat nenek atau dirawat bunda atau dirawat Mba… Hhahaa

  16. Karena masing2 ngerasa paling “OK” dan “PALING TAHU” padahal setiap orang kan beda2, sama dengan anak. Eh tapi seru yang nonton ya mba🙂

    • Kalo jadi penonton mummy wars kadang seru kadang kasihan sama yang dibully. Yang pasti aku selalu gemes Non makanya aku tulis pos ini.

    • Betul Fitri, ngga akan habisnya.Sepertinya media sosial hanya mengungkap mummy wars itu segimana. Aku yakin dari dulu juga udah ada sih, hanya waktu itu masih tertutup karena ngga ada media sosial.

  17. Setuju! Kalau saya jadi orang tua nanti, pendapat dari orang lain selain orang tua cuma jadi pendapat doang yang sekadar tahu dan tidak begitu dipertimbangkan :haha. Kayak hakim, kan ada pendapat saksi yang tidak dipertimbangkan. Hitung-hitung tambahan ilmu saja. Keputusan tetap ada di tangan kami sebagai orang tua baru.

  18. Hahaha skarang malah suka ketawa sm kekonyolan sendiri jaman dulu hamil s.d melahirkan sempet kejebak mommy war nggak puguh gt mbak…. makin anakku gede aq makin ga peduli mbak sama mommy war… lirik2 dikit siih to lama2 kelamaan capek sendiri ngebahasnya.. syukuri aja apa yg ada…

  19. Lorraine, aku mau sedikit curhat juga jadinya.. hehehe. Berhubung banyak temen dan orang sekitar udah punya anak, yang aku lihat tuh punya anak jadi kayak kompetisi ya. Aku jadi suka mikir lho, sebenernya tujuan punya anak apa sih? kok jadi kayak trophy, dibangga2in dan dianggep paling bener gitu. Rasanya gak adil sama anaknya ya. Aku ngerti kalau kita kompetitif waktu sekolah dulu, atau misalnya di karir. Itu kan hubungannya sama performance diri sendiri ya. Nah ini kan para ibu2 yang terlibat di mummy wars ini kompetitif sama hal yang ada urusannya sama another human being a.k.a anak mereka. Pastinya banyak faktor yang mempengaruhi (misalnya soal alergi anak) dan pastinya ga perlu dijelaskan ke orang lain.

    Well mungkin aku belum ngerti soal parenthood karena emang masih jauh dari being a parent tapi aku empati sama ibu2 yang mummy war ini.. I thought being a parent is complicated enough, why make it more complicated by engaging in such “war”?

    Oh iya, aku setuju banget sama kalimat penutup kamu, hehehe🙂

    • christa, aq jadi pengen komen membaca komenmu🙂. mungkin karena sekarang para orangtua menganggap anak sebagai ‘komodi’ yg bisa mengangkat prestige mereka, yg seperti katamu, bisa dibangga banggakan keseantero bumi. yg kasihan anaknya kalo orangtuanya ‘termakan’ dengan mummy war ini. bisa2 anak jadi depresi😦

    • Christa, Terima kasih sharingnya. Walaupun belum punya anak, pendapat kamu bisa dong jadi masukan karena kan sayangnya issue ini juga dilihat non parents. Wajar orang tua bangga dengan anaknya hanya dosisnya itu relatif untuk pamer, tergantung tiap individu dan yang melihatnya. Iya, kadang karena tekanan dari sesama orang tua yang ngga mau kalah, kesejahteraan anak mereka jadi terlantar. Yang kelihatan hanya keinginan dan ambisi para orang tua. Kasian yah anaknya.

  20. Kayak yang sering aku ceritain di blog mba, aku kena mommy war ini jaman lahiran Gwin. Karena Gwin itu nggak ASI samsek plus aku lahiran cesar pulak. Lengkaplahhh sudah aku dibully di dunia maya dan dunia nyata. Crazylah pokoknya. Trus kemaren aku abis komen adek kelasku yg posting ttg bangganya dia menjadi IRT dan mengasihani para working mom yg menurut dia melewatkan banyak moment bersama anak. Helloooo!!!! Aku gatel nulis komen, jadi kubilang aja ” every moms want the best for their kids, cuman aja kadang sikonnya beda2″. Ya emang kalo mau aman dari pembullyan di sosmed sih ya ga usah posting ttg anak ya di sosmed *tapi kan kadang ga tahan jg sih ya..hihihi*

    Ohya ada lagi nih lagi ngetrend banget yg diposting di sosmed, kegiatan bermain dan belajar bersama anak yg diposting per hari. Trus anak2 bayi yg makannya pake metode BLW….huaaaa liat postingan begitu kadang bikin motivasi tp kadang bikin ciut juga sih…. hihihi…Ohhhh dunia ibu2…sungguh kezhaammmm😉

    • Iya Jo, aku inget kamu beberapa kali cerita tentang ini, ada yang pamer ASI berbotol – botol di kulkas kan? Kenapa jadi kompetitif ya?

      Yasud kalo kita ibu bekerja dikasihani ibu rumah tangga dan sebaliknya memang. Yang menjalani kan masing-masing. Bener, ngga tahan lihat bullying gitu walaupun aku bukan pelaku ataupun korbannya. Aku bisanya hanya tulis pikiran disini untuk membantu sebar info baik buruknya. Dan aku seneng ada dialog disini dengan beberapa temen blogger yang sharing pengalaman mereka.

      Apa itu Jo metode BLW? Dan aku mau tanya ke kamu sebagai ibu guru, apakah kamu bisa lihat pengaruhnya mummy wars ke anak murid kamu?

      • BLW : Baby lead weaning (yg bayinya dah makan sendiri tanpa disuap2in). Kalau ttg pengaruh mommy wars ke anak2 muridku sih kebetulan ga ada mba yo krna mama2nya kebetulan mama2 yg udah agak senior, ga demen pamer2 sosmed. skalinya ada mami yg muda, orangnya cuek hehehe…kebetulan thn ajaran ini mommy2nya baik2 semua.

  21. aku jadi inget, waktu anakku demam abis vaksin, aku ga bisa nemenin karena harus kerja dan itu kerjaan ga bisa ditinggal sama sekali.. aku langsung dijudge sama temen sebagai ibu yang kejam hahahaha… begitu juga waktu anakku mulai mpasi, aku pake metode yang berlainan dengan temenku ini, dan dia langsung ngecap aku sebagai ibu yang kasih makan anaknya sembarangan… ini juga gara2 dia nanya makanya aku cerita, begitu cerita, malah dicap yang ga bener… hahahaha…

  22. Spot on Mbak Yoyen. Aku pusing deh kalau deket-deket para Ibu-ibu yang sok ngasih nasihat gitu. Btw, aku sendiri mengalami ceramah tak penting dari para Ibu-ibu yang ngerasa kebelumsiapanku untuk punya anak itu nggak berguna dan gak beralasan. Mereka suka lupa (atau bahkan gak paham) dengan fakta bahwa perempuan berhak menentukan apapun yang mau dilakukan dengan badannya.

    Btw kalau boleh menambahkan masih ada topic: pakai nanny vs diurus sendiri, nanny vs creche, susu sapi vs susu non-sapi (almond, kedelai; soal kedelai aja panjang bener deh bahasnya).

    • Iya Tje. Yang ribet itu biasanya malah ibu-ibu yang anaknya satu atau dua dan usia anaknya masih dibawah 5 tahun. Histeria jadi ibu-ibu😉 Kalo anaknya udah lebih tua lebih santai.

  23. Itulah keunikan wanita. Bisa menjadikan sisi2 kecil kehidupan semacam apapun menjadi persaingan. Dan wow..sangat5x sensi. Saya ngga tahu apa penyebabnya. Sebagai contoh…di sebuah grup saya lagi kasih tips2 dan semangat kepada stay at home mom, yg working mom tiba2 sewot merasa ketowel, atau ketika kasih tips2 supaya sukses ASI, yg ga ASI ketowel. Hahaha…jadi kompleks. Mungkin merujuk pada sebuah buku yg pernah saya baca, bahwa wanita itu sangat takut untuk tidak memiliki kelompok, diterima dalam sebuah kelompok. Hal yg instingtif. Karena dibanding pria mereka merasa lebih lemah (secara fisik juga). Nah, bila dalam sebuah pembicaraan dia merasa “di luar lingkaran”, atau ada ancaman terhadap kelompoknya, dia perlu penegasan dan pembelaan terhadap kelompok tempatnya bergabung itu. Kira-kira begitu…jadi mari kita nikmati saja saing2an antar wanita. Itu sudah insting purba. Yang harus kita hindari adalah kena pentung krn salah ucap…wkwkw…tricky..

    • *permisi nimbrung* Well said! Terutama utk urusan insting berkelompok.. Mungkin itu sebabnya saya sering dianggap paling “independen” (physically & mentally) di antara teman-teman perempuan karena lebih memilih bersikap senetral mungkin dengan kelompok perempuan mana pun..

      • If you don’t fit in the group, you don’t belong there atau jadi misfit. Sama seperti prinsip murkiber Emmy. Murkiber (musuh kita bersama). Misalnya kamu baru kenal sama si A dan B dalam satu grup. A dan B berantem, grup didominasi B, kamu harus ikut musuhin A.

        • Iya betul itu… Keberadaan social media bikin mummy wars (dan “wars” gak penting lainnya) jadi lebih kelihatan karena dalam bahasa tulisan sehingga bisa dibaca siapapun.. Oh ya, mirip seperti yg dialami Ailtje, dulu waktu belum nikah juga pernah diceramahi abis sama para mummy militan ini karena aku dianggap menyalahi kodrat karena tidak cepat-cepat menikah😆 aya-aya wae si ibu-ibu ganas teh😅 Dan tanggapanku waktu itu: sebagai perempuan selain dipilih (sbg calon istri), aku juga punya hak yg sama utk memilih (calon suami)..

    • Betul Fee. Aku juga pernah baca buku tentang teori kenapa perempuan begini. Jaman purba dulu pria berburu/cari makanan diluar. Perempuan tunggu di gua dengan perempuan lain. Nah ini traitsnya kenapa perempuan bermain berkelompok walaupun bisa jadi sebenernya ada yang saling ngga suka.

      Bulan lalu ada blogpost menarik dari pos yang taglinenya jelas nyinyir, si penulis ex jurnalis. Dia menjabar bermacam type ibu. Aku suka bacanya dan mengenali diri sendiri dalam beberapa type dan aku sadar tulisan itu satire. Cuma banyak dong ibu-ibu yang ketowel dan marah-marah dikomen ha…ha…Susah memang.

      • Betul mba Emmy dan mba Yo. Kunci sy menghadapi ibu2 tsb bila mrk tdk bs dihindari cuma dua, humor yg gede dan ilmu kebal (kyk debus aja wkwk). Saya mmg ga sempurna, maaf bila ini membuatmu jd tantrum dan tersiksa sekali. Lol. Yg tdk bisa ditoleran hanya bila ada bagian dari privasi dan keamanan keluarga yg jd terganggu, atau pencemaran nama baik.🙂

  24. Saya dulu termasuk yang harus begini begitu dan melihat orang lain yang tidak sealiran rasanya kok bisa sih begitu begini. Menghakimi begitu. Itu jaman waktu belom punya anak dan selama kehamilan istri. Haha. Tapi setelah punya anak sendiri emang rasanya cukup berat kalo nerima pandangan orang (meskipun baca di sosmed dan bukan ditujukan buat pribadi). Jadi yasudahlah ya Mbak Yo. Biarkan saja orang bicara apa dan berusaha untuk gak nulis dengan pendapat yang memojokkan..

    • Tapi setelah punya anak sendiri emang rasanya cukup berat kalo nerima pandangan orang (meskipun baca di sosmed dan bukan ditujukan buat pribadi). Sekarang gimana Dan? Mungkin bisa dimulai dari pemikiran bahwa setiap orang itu beda.

      • Sekarang saya paham banget kalo tiap keluarga itu beda dan gak patut lah ada perang ibu ini vs ibu itu, keluarga ini vs keluarga itu. Yang baik buat keluarga saya belom tentu baik buat keluarga yang lain dan sebaliknya. Hehehe. Cukup saling mengerti dan tawarkan bantuan kalo dibutuhkan. Gak usah pake ngejudge orang Mbak Yo. Hawong gak dijudge aja berat njalaninnya. Begitulah Mbak. Semoga paham *saya jadi bingung sendiri. Hihihi.

  25. babies were not born with manuals! hahaha…it’s an art, not a method, that’s how I see motherhood. I was also struggling, and still am, just with different issues as my kids get bigger😀 :))

  26. Indeed, tidak ada satu cara untuk membesarkan anak ya. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Dan yang jelas setiap orang pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dong ya🙂

    • Iya Ko sayangnya banyak para ibu yang merasa caranya paling benar karena ampuh dipake keanaknya. Akibatnya mereka bisa sampe memaksa orang untuk ikut cara mereka padahal tiap orang itu beda.

  27. setju mba yo emang lah mummy wars ini gak ada habisnya, aku sih udah males deket2 sama yang kaya gitu2 hahaha.. namanya parenting emang gak ada ilmunya kan dan aku yakin semua orang tua pasti lakuin yang terbaik buat anaknya jadi gakusah lah perlu judge2an gitu kalau gak sesuai ya.

  28. Baca tulisan Mbak yang terlintas nasib teman saya Mbak. Dia alami yang baby blue syndrom. Mungkin kalau dia nulis status dmn dia ngejauhin anaknya sama sekali tanpa blg dia BBS bisa jadi korban bully ya. Padahal dia sendiri cerita ke saya sampe nangis. Gimana dia pengen banget bisa gendong anaknya tanpa rasa macam2. Sekarang dia fine aja sm anaknya bhkn pas anak kedua gak alami BBS lagi.

  29. Mba yo, aku nyimak dulu yaa.. Hahaha buat info ke depannya kl nanti pny anak🙂 Aku baru tau loh mba hal2 di atas itu ternyata bisa memicu mummy war. Tapi aku suka banget quotesmu yg terakir mba🙂

  30. Sebagai ibu baru, sejak hamil sampe sekarang aku gak ada fanatik yang gimana. Soalnya aku sama suami berpikir kita kan gak tau kedepannya gimana. Amit2 hamil bisa keguguran, lahir selamat pas tumbuh besar bisa gak selamat, dst. Masa depan masih panjang, kita gak tau kan anak yg dijudge karena dia sufor misalnya, kelak jadi orang sukses.

    • Bagus Frany kalo kamu dan suami bersikap seperti itu. Ngurus anak sendiri memang udah cukup repot ya, apalagi judge & mikiran cara parenting orang lain.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s