about me / Bahasa Indonesia / Books / Dutch Affairs / English / History / Living in NL / Photography / Travel

One fine day in Leiden

Siapa yang udah baca seri STPC Holland: One fine day in Leiden? Si penulis, Feba Sukmana itu temen gw. Pertama kali kenalan dengan Feba tahun 2009 waktu dia bekerja sebagai jurnalis di RNW (Radio Nederland Wereldomroep). Dia wawancara gw untuk acaranya Kawula Muda Eropa. Sayangnya rekaman wawancara itu udah ngga ada lagi (dead link).

  

Sewaktu bulan lalu kita berdua janjian mau ketemu kemarin, gw usul untuk ke Leiden. Gw mau napak tilas ke lokasi yang ada di bukunya dia itu. Untuk lebih enaknya gw review bukunya dulu ya. So beware, this is a long post.

Plot
Meraih beasiswa, Kara gadis Indonesia melanjutkan studinya untuk meraih gelar Master jurusan Hukum di universitas Leiden di Belanda. Sehubungan dengan beasiswanya yang hanya berlaku satu tahun, Kara harus dan memang berniat untuk bekerja keras. Ia ingin menyelesaikan studinya tepat waktu.

Di Leiden Kara menikmati hidupnya sebagai mahasiswa. Ia berhubungan baik dengan kawan sekamarnya, Linnie gadis Belanda asli dan tiga teman sekelasnya berasal dari berbagai negara di Eropa (Italia, Rumania dan Yunani). Disamping mereka ini Kara berkenalan secara tidak sengaja dengan Rein. Ia menemukan buku gambar pemuda lokal ini di satu kafe. Setelah bertemu dan mengembalikan buku gambarnya, Kara dan Rein sering bertemu. Hingga akhirnya mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan.

Rein kadang meninggalkan Kara selagi mereka berdua karena hal yang darurat tanpa menjelaskan sebabnya. Hal ini menyebabkan friksi dalam hubungan mereka berdua. Di sisi lain Rein tidak tahu tentang beban yang dibawa Kara ke Belanda. Dibesarkan oleh kakek neneknya di Yogyakarta, Kara tidak mengenal orang tuanya. Hanya ada ingatan kabur dibenaknya tentang gambar seorang wanita yang memberinya boneka monyet sewaktu ia masih kecil. Ternyata wanita itu adalah ibu kandung Kara. Ia masih hidup dan tinggal di Amsterdam.

Cerita berakhir dengan manis. Kara meraih gelar Masternya. Kebiasaan Rein meninggalkan dia tiba-tiba, terjawab sudah; ibu Rein korban KDRT. Tali silaturahmi Kara dan sang ibu menjadi erat.

Review
Buku ini buku roman. Kisah cinta sederhana dengan detil kejutan yang tidak gampang ditebak. One fine day in Leiden dituturkan mengalir seperti air. Feba lancar mengguratkan pena di kertas menggambarkan kota Leiden secara deskriptif. Pembaca dibawa dalam cerita untuk menyusuri kota Leiden secara detil. Obyek yang sering dikunjungi Kara dan Rein adalah sebuah benteng diatas bukit buatan di tengah kota Leiden, namanya De Burcht.

Penggalian karakter juga memadai. Mungkin gw bias karena Feba teman gw, tapi gw suka buku ini karena ngga ada karakter yang menye-menye. Ngga ada karakter yang antagonis juga. Kara dan teman-temannya digambarkan sebagai mahasiswa Master yang belajar keras tapi juga bersenang-senang, mereka party, mengunjungi festival dan ikut acara-acara kampus. Kara juga tegas menghadapi Rein. Ngga ada scene menggambarkan Kara terpukau jatuh cinta ke Rein. Proses mereka berdua jatuh cinta digambarkan sesuai dengan individu seumuran mereka; tenang dengan sedikit riak layaknya manusia di awal dua puluhan sebagai young adults. Linnie (teman sekamar Kara) digambarkan sebagai gadis Belanda yang direct, no-nonsense dan ramah.

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah informasi sampingan tentang sejarah, trivia dan kehidupan di Belanda. Jadi ada informasi tentang De Burcht, perayaan di Leiden dan di Belanda. Sekilas pengetahuan tentang nama orang Belanda, Bible Belt (gw sendiri rencana tulis tentang ini), udara di Belanda. Bahkan secara santai Feba juga menyelipkan dua halaman membahas sekilas tentang homoseksualitas di Belanda (adik lelaki Linnie dan pacarnya, lelaki juga, ikut makan malam hari Natal bersama).

Beberapa dialog bahkan ditampilkan dalam bahasa Belanda. Hal ini menambah nilai plus untuk mendapat ‘rasa’ Belandanya, tepatnya ‘rasa’ Leidennya.

Buku ini mendapat nilai 8. Bagus, ringan dan ceritanya gampang dicerna. Pilihan kata-katanya kadang sastra sekali. Menurut gw ini pengaruh latar belakang penulis. Feba lulusan S1 FSUI dan S2 Universitas Leiden jurusan sastra Belanda. Feb, dapet 8 bukan 10 karena untuk tantangan supaya buku selanjutnya lebih bagus lagi. Ik weet dat je het kunt!

Napak tilas
Dibawah ini foto dari beberapa lokasi yang ada didalam buku One fine day in Leiden. Kemarin kita berdua janjian di stasiun Leiden Centraal dan langsung jalan ke pusat kotanya, lewat Volkhuis, apartemennya Linnie dan Kara. Pintu masuk apartemen dibawah tulisan Volkhuis. Menurut Feba sebagian besar penghuninya mahasiswa S2.

  

Setelah motret bentar kita brunch dulu karena Leiden hujan dan mendung. Setelah itu route menuju ke De Burcht tapi kok hujannya ngga berhenti. Akhirnya kita mampir lagi ngopi di Koetshuis. Kafe ini lokasinya didepan De Burcht. Difoto dibawah ini, Koetshuis disebelah kiri,  foto diambil dari De Burcht.

  

Dan ini dia si pengarang berpose didepan De Burcht.

   

Dulunya De Burcht itu gudang penyimpanan senjata yang berubah jadi menara militer (fort). Letaknya diatas bukit buatan. Enak sih tempatnya, adem dan tenang. Bukitnya juga istimewa karena Belanda kan negaranya rata.

  

Pintu gerbang De Burcht difoto dari dalam.

  

Lambang klan Leiden dan sekitarnya. Ini lambang senjata klan Diederick van Vlaardingen.

 

Area dalam De Burcht. Di sebelah kanan ada tangga. Pengunjung bisa naik keatas.

 

Ini pemandangan dari atas De Burcht yang sekarang dikelilingi rumah penduduk. De Burcht bentuknya bundar.

    
  

Setelah itu kita lewat Bagels & Beans; kafe jualan Bagels tempat Kara menemukan buku gambarnya Rein. Bagels & Beans ini gerai yang banyak cabangnya di kota-kota besar di Belanda.

  

Dan lewat gereja di Haarlemmerstraat ini.

  

Jalan-jalan

Setelah itu gw dibawa keliling Leiden. Windmolen De Put. Bisa beli terigu yang digiling di dalam kincir angin ini.

  

Terus lewat kanal ini. Antara 1500 – 1700 Leiden kota terbesar kedua di Belanda sebelum Amsterdam.

   
   

Kemudian kita kembali kearah stasiun. Lewat sini. 

Gedung sebelah kiri itu gedung registrasi infanteri Belanda. Terakhir dipake untuk persiapan ekspedisi ke Indonesia tahun 1946 – 1948. 

Dan ini foto terakhir, rumah cantik di seberang kincir angin difoto pertama. Rumah tua begini memang cantik tapi biaya perawatannya tinggi. Lagipula dingin selagi winter karena biasanya kacanya tipis sekali dan sistim pemanas ruangannya sudah tua.  

 

Sekian cerita jalan-jalan di Leiden. Akhirnya waktu kita pulang sore kemarin, cuaca jadi cerah.

Het was gezellig! It was fun!

Oh ya, yang tertarik bisa intip fotonya Feba di Instagram @peblem.
 

44 thoughts on “One fine day in Leiden

  1. Cerita yang menarik serasa kita bisa berada disana n menjadi kara.
    btw penulisnya cantik n thx mbak buat infonya.
    trus kelanjutanya pie ?
    haha.

  2. Kalau mau beli bukunya di manakah Mbak Yo? Penasaran banget. Apalagi sudah ada foto-fotonya Leiden. Hihihi. Saya browsing dulu ya Mbak😀

  3. Aku jadi mau baca bukunya😀
    Aku kmrn gak sempet ke Leiden, tapi liat foto-fotonya Mbak Yo jadi kangen Belanda😦

  4. Penasaran sama bukunya! Gak ada karakter yg menye2 dan trivia ttg Leiden? Will put this on my list, mbak!

    • Iya, aku ngga begitu suka kalo baca buku karakternya ada yang menye-menye Yun. Gemes ha…ha…kalo suka dan udah baca bisa shout out ke Feba di Twitter. She’ll appreciate it.

  5. Aku dah baca bukunya tahun lalu mba yo. Suka sekali. Berasa dibawa jalan2 di kota Leiden. Trus jadi tau sedikit2 vocab bahasa belanda. Suka juga cerita romannya. Ternyata si Penulis adalah teman dari temanlu juga yg sama2 kuliah di Leiden beberapa tahun silam. Trus aku penasaran nanya langsung ama Feba…seru banget sih napak tilas tempat dalam buku itu.

    • Bagus ya bukunya. Penuturan perasaan karakter utamanya itu dewasa, ngga menye-menye sementara gaya penuturannya juga mengalir gitu. Ngga bosen bacanya, tahu-tahu udah tamat.

      • Iya mba yo. Aku suka si cowo agak2 misterius gitu kan. Tiba2 ngilang dan ai Kara yg awalnya sok jual mahal malah jadi penasaran. Gemesss… aku ampe add IG Feba dan penasaran mau liat wajah suaminya(matanya sih lebih tepatnya) karena kukira kisah kara nih sebagian ada diri si penulis juga di dalamnya (untuk beberapa hal)

  6. Wah aku jadi tertarik membaca juga Mbak. Thanks for sharing. Dulu aku pernah terkesima dengan buku lainnya yang salah satu ceritanya di Leiden juga.

    Aku selalu suka kalau ke Leiden. Entah kenapa bangunan sama suasananya tidak membosankan. Makanya selalu semangat kalau ngintilin Suami bimbingan🙂

      • yang moto pasti juga jago ngambil spot yg keren hehehe
        makasi ya mbak, ga aku publish kok, cuma buat dipandang2 aja, siapa tau punya rejeki buat bikin rumah modelnya gitu hihihi

        • Kalo ngga untuk publikasi, aku bisa kirim ke kamu Fey. Kalo mau, kirim email ke emailku yang ada dibagian contact.

        • makasi banyak mbak yo, aku copy paste aja ga papa kok, jadi ga usah ngerepotin mbak yo berkali-kali hehehe
          thanks for sharing ya mbak

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s