Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Dutch East Indies / History / Indonesia / Thoughts

Kerusuhan di Saparua

16 Mei 1817 Ratusan orang di bawah pimpinan Pattimura menyerbu benteng Duurstede di pulau Saparua. Residen Maluku Van den Bergh dan keluarganya bersembunyi disitu mencari perlindungan karena situasi yang memanas. Massa membunuh keluarga Van den Bergh (istrinya yang hamil 6 bulan dan dua anaknya serta pembantu dari Jawa). Anak bungsu Van den Bergh yang berumur 5 tahun, Jean Lubbert, selamat dengan telinga kiri yang terpotong. Jean Lubbert diambil dan dirawat oleh Salomon Pattiwael, pegawai di residensi Van den Bergh.

Cerita ini dituturkan kembali oleh Delta Dua, kelompok teater Maluku di Belanda dalam pertunjukan berjudul Kruit, het vergeten verhaal (Mesiu! Cerita yang terlupakan) yang dipentaskan di Bronbeek Museum, Arnhem tanggal 19 april lalu.

Catatan: Disini Maluku disebut Maluku karena wilayah ini melingkupi kepulauan Maluku. Maluku bukan hanya terdiri dari pulau Ambon.

Kruit! Het vergeten verhaal

Cerita

Tomas Matulessy memimpin massa menyerbu benteng Duurstede karena penduduk Maluku tidak suka dengan kehadiran Belanda di wilayah mereka. Tahun 1810 – 1817 Inggris berkuasa di kepulauan Maluku setelah kerajaan Belanda dijajah Perancis dibawah pimpinan Napoleon. Musuh bebuyutan dengan Perancis, Inggris mengambil alih wilayah koloni Belanda, termasuk Hindia Belanda. Dibawah kekuasaaan Inggris para pendeta di Maluku menjadi pengawas sekolah, mereka mempunyai pengaruh yang besar di masyarakat setempat.

Setelah Maluku kembali ke tangan Belanda, Belanda ingin memisahkan agama dan pendidikan. Tentu saja hal ini ditentang keras oleh para pendeta dan rakyat. Mereka melihat rencana ini sebagai upaya untuk menghancurkan pendidikan dan agama. Dan para pendeta juga khawatir mereka akan kehilangan pekerjaan dan pendapatan karena bisa jadi dengan peraturan baru ini mereka akan dipecat. Inilah pemicu rakyat memberontak dibawah pimpinan Pattimura.

4 dan 14 Mei 1817 rakyat berkumpul di desa Haria. Pada pertemuan tanggal 14 Mei itu semua penduduk desa Haria hadir dan mereka sepakat untuk memberontak. Tomas Matulessy atau Pattimura yang pernah bertitel sersan mayor di korps Inggris, didaulat sebagai pemimpin. Setelah penyerbuan benteng Duurstede, Jean Lubbert van den Berg disembunyikan oleh keluarga Salomon Pattiwael. Ia membawa anak kecil ini mengungsi di desa dan hutan di pedalaman pulau Saparua.

Akhirnya berita bahwa anak bungsu residen Van den Bergh selamat sampai ke penguasa Belanda. Bulan november 1817 Jean – Lubbert diserahkan kembali ke tangan Belanda (lihat gambar dibawah ini). Setelah itu pemerintah Belanda mengirim Jean – Lubbert ke neneknya di Surabaya Maret 1818. Di akhir tahun yang sama si kecil Jean – Lubbert kembali ke Belanda. Ia tumbuh besar besar, berkeluarga dan punya keturunan.

Van den berg van Saparoea

Pattimura sendiri menaklukkan benteng Duurstede dan berdiam disitu hingga ditangkap oleh Belanda November 1817. 16 December 1817 Tomas Matulessy atau Pattimura dihukum gantung di Fort Victoria di pulau Ambon.

Di umur 63 tahun 1875 Jean Lubbert menulis naskah dengan kisah hidupnya. Dengan kenangan dia di pulau Saparua, ia mengganti nama belakang dengan menambahkan Saparua dibelakangnya. Menurut keputusan kerajaan tanggal 8 September 1875 nama belakang Jean Lubbert resmi menjadi Van den Berg van Saparoea (Saparoea menurut ejaan lama).

Tambahan

Cerita tentang Jean Lubbert van den Berg van Saparoea dan Pattimura lumayan terkenal di Belanda, apalagi di komunitas orang Maluku. Telah banyak terbit buku tentang perang Pattimura dan tentang residen Van den Berg. Pertunjukan teater ini menarik banyak pengunjung, terutama orang Maluku. Ada keluarga Pattiwael dan Matulessy yang hadir waktu itu. Momen yang istimewa pertunjukan tanggal 19 april lalu adalah hadirnya 39 anggota keluarga Van den Berg van Saparoea. Mereka adalah keturunan Jean Lubbert yang ke empat dan ke lima. Keluarga besar ini membuat website dengan riwayat hidup Jean Lubbert.

Seorang gadis muda awal 20 tahunan, anaknya cicit Jean Lubbert, bulan Januari lalu berkunjung ke pulau Saparua. Ia datang ke museum Pattimura dan berbincang dengan keluarga Matulessy. Percakapan mereka tentang kedua leluhur mereka dan tidak ada rasa dendam apapun. Dalam perang semua orang menjadi korban, bukan?

Kruit, het vergeten verhaal

Cerita pertunjukan ini menuturkan pergumulan antara Pattimura, Jean Lubbert, Maria Pattiwael (anak Salomon Pattiwael yang mengasuh Jean Lubbert) dan Martha Christina Tiahahu. Semua karakter berada di masa kini, lokasi Saparua. Mereka menyuarakan amarah, kecewa, bangga dan sedih. Semua emosi campur aduk. Akhirnya adalah dialog saling memaafkan. Pertunjukan ini bagus, diseling dengan musik. Bahasa yang digunakan bahasa Belanda dan bahasa Melayu Maluku.

Tertarik dengan pertunjukan ini? Delta Dua akan mementaskan Kruit, het vergeten verhaal bulan November 2015 di Eramushuis, Jakarta. Di Belanda teater ini akan manggung 3 Juni 2015 di Tong Tong Fair, Den Haag.

Penutup

2 sejarawan Belanda mengawali pertunjukan dengan catatan mereka yang kritis. Ada 3 versi cerita Pattimura sekarang ini: Pattimura pahlawan Republik Indonesia, Pattimura pahlawan Maluku, Pattimura pemberontak Belanda. Untuk orang Belanda jelas Pattimura dilihat sebagai pemberontak.

Pertanyaan 2 sejarawan tersebut adalah: Apakah berhak pemerintah RI mengklaim Pattimura sebagai pahlawan nasional? Apakah orang Maluku (baca RMS Republik Maluku Selatan) lebih berhak mengklaim Pattimura? Tahun 1817 konsep negara kesatuan Republik Indonesia belum lahir. Inilah serunya sejarah, selalu ada dua sisi cerita.

Sumber:
Delta Dua
Familie Van den Berg van Saparoea
Hurariu Anai

 

28 thoughts on “Kerusuhan di Saparua

    • Iya Aya, aku terharu banget waktu setela pertunjukan keluarga Van den Berg van Saparoea cerita mereka kalo ke Saparua selalu disambut meriah oleh penduduk setempat. Ngga ada dendam lagi. Aku penasaran apakah cerita ini ada dibuku sejarah Indonesia?

  1. wah cerita sejarah memang selalu menarik, terharu bacanya mbak,,postingan yg bermanfaat krn nambah pengetahuan baru tentang sejarah😉

  2. History is in the eye of the beholder ya. Suatu kejadian penting di sejarah hampir pasti merupakan suatu kejadian yang kompleks yang melibatkan banyak pihak dan kepetingan. Melihat kejadian yang sama dari dua sudut pandang yang berbeda tentu membuat kejadian itu nampak “berbeda”. Memang disitulah serunya.🙂

    Btw, lumayan nambah kosakata bahasa Belanda, “kruit”. Habisnya kata ini nggak pernah aku butuhkan sebelumnya sih jadi nggak tahu deh, hahaha😆 .

  3. iya nihh mba.. kyknya pas skolah d jakarta dulu ga belajar deh. cuman patimura asalnya dari mana, sama cerita singkat patimura mau usir belanda aja dari maluku.. ternyata ada cerita yg lebih dalam lagi yahh.. makasih mba yoyen for the story telling. hehe.. btw, arti kata mesiu! itu apa yah? hehehe..

    • Sama-sama Jen. Betul, di buku sejarah ngga ada latar belakangnya kenapa Pattimura berontak.

      Mesiu itu bubuk mercon didalam petasan atau peluru.

  4. Hm, saya jadi melihat fakta sejarah ini dari sisi yang berbeda setelah tahu motif penyerangan Pattimura di sana, Mbak. Untuk pemisahan antara agama dan pendidikan, yang notabene menentang kebiasaan yang ditanamkan pemerintah Inggris di sana? Hm… mungkin karena dulu itu semua orang yang mengusir Belanda (yang dianggap musuh Indonesia) adalah pahlawan, jadilah muncul klaim kepahlawanannya itu.
    Ah, saya setuju, sejarah selalu punya dua sisi! Bahkan kadang bisa banyak :hehe.

  5. pasti menarik untuk ditonton, sisi lain dari sejarah yang gak pernah kedengaran atau gak pernah ada di buku sejarah…..

    keknya orang Maluku itu memang pemaaf deh, perang antar agama yang belum lama kejadian aja mereka udah bisa hidup tentram lagi tuh side by side, no wonder cicit Jean Lubbert ketemu keluarga keturunan Matulessy di Saparua gak ada benci gak ada dendam.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s