about me / English / Family / Parenting

Show me the money!

One of the things parents struggle about is whether and when to give their little ones pocket-money. My husband and I agreed we wanted to teach our daughter G the value of money. Three and a half years ago when G turned 10 years old, we started to give her monthly allowance.

Before that we asked our family and friends whose children were older than G about this. Then I found Nibud. Nibud is Dutch Budget Information Centre. It gives advises about financial management for all ages including tips. On Nibud website there is a chart of average allowance for children. It is in Dutch.  

Image is courtesy of Freepik.

Teaching money management to young children is quite difficult as they are not capable to understand it. Money value is something abstract. It is something adults have in their wallet (bank notes or credit/debit cards) or retrieve from the ATM at the wall. One thing we have made it clear from the start was/ when G’s monthly allowance would be spent before the month was over, she would not get extra money from us.

Every time we go out window shopping, I try to teach her the value of money towards the quality of the purchased goods. So far G seems to get it well. She mostly spends her money on drinks and snacks when she hangs out with her friends at week ends. Aside from that, she doesn’t need any money because we provide things she needs.

Extra income

We don’t give her money because she helps us with household chores. I am not paid because I cook every day for my family and my husband is not paid for setting the trash containers every week either. So why should we pay our daughter for cleaning the house which she does weekly? We ask her to do that because she is part of the household. We don’t want her to do the task because she wants to earn an extra money. There are families which reward the children who do it though, each to their own I believe. It just doesn’t feel right for me.

According to Dutch law children from G’s age (13 – 14 years old) are allowed to do simple tasks to earn money like babysitting, washing cars etc. When she is older G intends to work at week ends. My husband and I stimulate and support her on this as most Dutch teens do this. This is a good way to learn how to work for a living in a mini scale and dealing with responsibilities.

Saving money

My husband and I don’t always fulfill little missy’s wishes when she wants something.We agree not to spoil her. If she needs anything for her school, we will of course purchase it for her. We try to teach her that she doesn’t need to immediately buy or get something just because she wants it so badly. I don’t want my daughter to be a spoilt brat. We provide things she needs not things she longs for. She receives the latter from us as a reward, to make it special for her.

When she informs us she has to buy something we always ask her these questions: What do you need it for? When do you need it? Can’t it wait? How much does it cost? How long and how often would you use it? Last question has to do with the value of money related with the purchased good.

Last year G started to save her pocket-money to buy expensive goods she wanted. She has learnt that saving is quite satisfactory as well. Last summer she purchased the Instax mini camera and Le Pliage bag from her own money she had saved and repleted with some amount she received as her birthday gift. She is proud of it. Now that she has experienced how saving is, she appreciates those things better.

What left now is my wish that G would keep this attitude towards money. That she would be able to resist the alluring messages she is confronted every day, on and offline. The messages which say ‘Buy this you need it’ or ‘It is the must have of the season, get one’.

 

56 thoughts on “Show me the money!

  1. Cool! Aku juga akan ngajarin yang seperti ini ke anakku nanti🙂 Oh iya, mamaku juga dulu ga pernah kasih embel2 uang kalo bantuin nyuci piring atau nyuci baju atau bebenah rumah hehe… Thank you for sharing Mba🙂

    • Makasih Puji, seneng kalo bisa dipake tipnya. Iya, aku dulu masih kecil kalo bantu pekerjaan rumah tangga ya ngga diupah. Dapet uang tambahan itu misalnya nilai raport bagus atau menang ini itu.

  2. It’s hard to teach children about money nowadays, especially at my family.My husband and I agree to live a simple life, even if we have excess money. because what children see, children act. life is like a wheel, sometimes our life is very good, but we never know when we will be at the bottom.

    unfortunately we live in an environment that everyone value everything with money. and they accidentally teach their children like that to. if their parents not give money, they’ll shout at her/his mom & dad. that’s quite heartbreaking for me.

    my husband’s sister ever said “you’re lucky. you can have everything with a lot of money that you had”. I replied “yes. but you can’t buy happiness with it”. but she insisted that if we have a lot of money, we will be happy. i can understand it because my husband’s family is not rich as my family. but one thing that i learn. money can break brother and sisterhood. that’s why i want to teach my daughter to be humble and not materialistic.

    haha.. jadi curhat.. ini topik emang jadi pemikiranku bertahun2 juga ttg bagaimana ngajarin anak tentang uang. oh ya, maaf ya mbak kalau Inggrisku banyak yang salah. saya masih belajar eheheheheh..

    • Hai Tutut, Thank you for sharing. Ngga apa-apa bahasa Inggrisnya kalo salah, at least you have tried and I understand your message.

      Sayangnya memang gitu ya situasi sekarang makin materialistis. Aku dan suami tegas ngga mau manjain anak sebenernya untuk melindungi dia supaya jadi pribadi yang ngga manja, yang ngerti bahwa mau sesuatu itu ngga hanya menjentikkan jari dan langsung dapet. Anak manja nanti dewasa bisa jadi susah survive karena ngga fleksibel dan ngga bisa diajak susah.

      • iya. itu yang utama. nggak mau diajak susah. kan ya ngenes gitu kalo orang tuanya banting tulang buat memenuhi kebutuhan hidup, eh si anak nggak mau tau perjuangan ortunya. klo anakku ntar seperti itu (mudah2an nggak gitu yah, amien), nanti kukirim ke desa buat belajar ttg hidup ama eyangnya. tanpa fasilitas apapun. biar tahu susahnya seperti apa. hehe

  3. Orangtuaku dulu lumayan ketat menerapkan prinsip ini, Mbak Yo. Waktu SD bawa bekal, jadi kalaupun ada uang saku, itu cuma beberapa keping uang logam seratusan. Kalau mau beli sesuatu yang lagi tren di kelas, seperti kertas atau pensil yang lucu-lucu juga nggak langsung dikabulkan karena memang cuma untuk koleksi. Karena didikan seperti itu, sampai sekarang aku mikir-mikir dulu sebelum membeli sesuatu, apa benar-benar butuh atau sekadar ingin.

    Makasih sudah berbagi pengalamannya, Mbak🙂

  4. Aku inget waktu dulu masih SD dapat uang saku 100 rupiah, biasanya jajan makanan 25 rupiah, lalu sisanya ditabung. Kadang ibunya temenku (aku kalau berangkat ke sekolah selalu mampir ke rumah dia dulu, jemput karena sejalan) suka kasih 100 rupiah jadi dobel deh *merasa kaya* hahaha

    Setelah itu SMP, SMA uang saku biasanya buat beli buku – baru setelah kuliah sudah nggak dapat uang saku lagi karena kerja sampingan memberi les privat untuk anak SMP/SMA. Tapi uang kuliah sama uang les Perancis waktu itu masih dibayar sama orang tua.

    Kadang lihat anak2 jaman sekarang materialistis banget yak, belinya yang ini itu, tapi asal duit hasi jerih payah sendiri sih emang terserah mereka mau beli apa, terutama anak2 yang besar disini yang biasa kerja sendiri. Kalau yang liat di Indonesia kadang suka miris. Sepupuku waktu itu dengan bangganya pamer mobil barunya, lalu aku bilang – itu mobil papa kan tetep, yang beli juga papamu, bukan kamu sendiri haha

    • Iya, anak sekarang peer pressurenya lebih kuat, belum lagi gampang banget dapet info barang. Harus punya ini itu padahal ngga perlu banget, hanya ikut trend.

      Wah kalo disini hanya orang kaya banget nget nget yang kasih anaknya mobil.

  5. Ah, thank you for sharing this Mbak Yo. Actually I’m afraid that we give toys too easily to A, now almost 3. We always mention why we give him this and that and we don’t want him to think that we splurge money everytime he wants something. Is it too much of thinking? Your post reminds me of this crucial part of parenting. My wife and I don’t want to raise a financial monster as Suze Orman call people without financial responsibility. Thank you Mbak Yo

    • Dan, Yen, ikutan nimbrung ya – hari ini di koran nasional kebetulan lagi dibahas banyaknya anak2 muda yang masuk daftar blacklist RKI (kaya semacam blacklist untuk orang2 yang financial historynya jelek, jadi klo mau cari utangan baru / beli rumah / apply bank bakal susah) karena mereka ga bertanggung jawab sama duitnya. Believe it or not, anak sini walopun kerja sendiri tapi mereka materialistis luar biasa, sempet dibahas anak2 SMA yang gila barang bermerek / desainer jadinya mereka ambil hutang cepat lewat SMS yang interestnya gila2an.

      • Iya bener. Disini hutang anak muda umur 16 – 23 tahun udah ada yang banyak karena mereka pikir gampang beli barang ini itu, toh bayarnya nyicil. Tapi ya sami mawon kalo beli barangnya banyak, ya bayar cicilannya banyak. Walaupun masih ada orang tua tapi orang tua mereka ngga mau bantu karena itu tanggung jawab sendiri. Jadi disini ada kampanye pemerintah semacam peringatan gitu; Awas pinjam uang juga dengan uang.

    • Nope, it is not Dani. I think you and your wife are doing good. Perhaps A doesn’t understand it yet now because of his age but if you do it consistently, he will. And that is good.

  6. Alhamdulillah dari kecil uda disuruh nabung sama ortu, dibiasain ngerti kalo nyari uang tuh susah & penuh perjuangan he he.. So barang2 yg dimiliki skrg dihargai bgt, not bcos of the price but the value. Thanks for sharing, mbak Yo🙂

  7. Thanks for sharing Mbak Yo. Mengingatkanku sama ajaran orangtua tentang menggunakan uang. Aku dari keluarga yang cukup. Ga lebih, ga kurang. Sejak SD kelas 5 bapak sudah ngasih uang bulanan. Dibilang itu untuk jajan sebulan. Kalau habis sebelum waktunya ga boleh minta lagi. Kadang diusia itu iri lihat teman2 yang jajannya banyak, sementara aku irit. Dan dirumah meskipun ada Mbak yang bantu2, aku dan adik2 tetap dikasih tugas masing2 untuk bertanggungjawab sama kebersihan rumah. Waktu itu berasa nyiksa banget karena teman2 yang lain bisa enak main. Tapi kerasa manfaatnya setelah umur 15 tahun aku kos di Surabaya. Bisa atur uang, bisa ngerjakan ini itu. Aku lihat anak2 Indonesia jaman sekarang lebih ga aturan masalah uang, dan dengan bangga pamer sesuatu yang bukan dari hasil jerih payahnya. Miris. Ah maaf, jadi panjang aja komennya🙂

  8. Ah keren mba, bertanggung jawab terhadap finansial sedari dini. Kebetulan waktu aku kecil, ibuku pun memberi uang jajan bulanan, dan kami berusaha menabung dari uang jajan yg dikasih ibuku

  9. Kayaknya anak cewe relatif lebih mudah dibiasakan mengelola uang sendiri gini ya Mba, ya ngga semua sih tapi hebat G bisa adaptasi dengan hal ini, nice tips🙂

      • Apa karena lingkunganku aja ya Mba.. Soalnya aku udah ngatur uang saku mingguan dari awal SD, trus bulanan. Jadi pas ngekost jauh dari ortu ga nemu masalah finansial, udah biasa ngatur sendiri. Adikku cowo skrg udah 20tahun tp masih harus dikasih uang saku mingguan kalo bulanan pasti dia kacau, hehe. Nah ini tmn2 serumah aku di kampus jg kebetulan pengalamannya sama kayak aku. Tapi setelah aku pikir2 kebanyakan cewek malah lebih boros beli2 sih ya Mba😄

  10. Orang tua saya menerapkan cara yang hampir sama, dan kini saya berterima kasih sekali dengan hal itu. Kondisi keuangan keluarga kami dulu tidak terlalu baik, jadi kami mesti membantu dan transparannya orang tua kepada kami anak-anaknya soal kondisi keuangan menampar kami untuk mengerti bahwa kita tidak kaya dan kami bukan danakanak yang merengek-rengek untuk mendapatkan keinginannya :hehe. Dan saya bersyukur sekali, karena kini saya bisa berusaha untuk menghargai setiap keping koin yang saya dapatkan dari pekerjaan ini :hehe.

  11. I was thinking to start giving my kids allowance when they are in “high school” = grade 7 when they startsecondary school in a different school.
    Not sure about the amount yet but according to Nibud (thanks for the link), I can start giving them 3-4.6 E per week. I guess I will decide when the time comes on how much is appropriate for them. I was thinking to start about $0.25 per day and then an increase of $0.25 every year🙂 I agree that chores around the house are not work, it is apart of our daily lives and I do not give compensation for those.
    Again as always love your post!!

  12. saya jadi malu sama G, sedari kecil sudah bisa bertanggung jawab mengatur keuangan sendiri. salut juga dengan orang tuanya yang bener2 tegas dan konsisten!🙂

    • Makasih Adhya. Musti tega sih kalo waktu awal dia sempet ngambek gitu minta sesuatu ngga aku beliin😉 Sekarang dia tahu mau nangis pun kalo ngga perlu ngga akan dapet.

    • Gadget dia ngga gila-gila banget Fe. Punya iPhone kita beliin waktu naik kelas tahun lalu. Dia ngga pake arloji. Punya laptop karena urusan sekolah. Itu udah cukup untuk dia.

  13. anak2 masih bawa bekal dari rumah biarpun sudah kuliah he..he.., anaknya memang lebih suka spt itu, dan supaya uang jajan bisa ditabung buat beli barang yg lebih bernilai

    iya bener anak2 sekarang lebih susah diajari nilai uang
    karena pola hidup makin konsumtif .., segala barang2 bagus bertebaran di depan mata

    • Iya Mon, si G juga masih bawa bekal dari rumah. Jajan disekolah paling permen atau coklat. Dia sendiri yang berhitung kalo ngga bawa bekal jatuhnya lebih banyak pengeluaran.

      Betul, aku lihat anak sekarang memang lebih konsumtif ya. Minta ini itu harus langsung dipenuhi keinginannya.

  14. Ah iya, betul jugak yah, Mbak Yo.. Kenapa harus diembel-embeli uang, toh memang sudah kewajibannya begitu kan.. Ada tugasnya masing-masing..😀

    Dari dulu Mama ku jugak pantang banget iming-imingi aku duit biar bisa bantu. Kata beliau, takutnya aku bakalan jadi pamrih..

  15. My parents were also very strict with money and obliged us to do chores around the house despite the help that we had at home. Some kids were rewarded for good grades, it wasn’t the case for us. And they asked a list of questions too for every purchase we proposed (aside from school related stuff). It worked well for me and I hope to teach the same to my kids. Very nice post mbak!

  16. Saya belom punya anak sih.. Tapi bakal saya inget ini tips nya.. Saya ngga mau anak saya nanti suka rewel minta jajan (kayak saya dulu tiap hari “mamah pengen jajan” hihihi)
    Somehow i wonder how kids there asking for ‘jajan’. I mean here in Indonesia, kids are easily tempted to ‘jajan’ because there’re lot of warung in the neighborhood..

    • Tapi kalo dididik mengelola uang, misalnya uang jajan udah abis, ya ngga bisa beli dan ngga dikasih ya bisa juga sih. Hanya saya lihat kebanyakan orang tua di Indonesia ngga tegas dan ngga tega lihat anaknya nangis.

  17. Mba Yo, makasih dah kasih pencerahan ini.. Pasti bakal kepake klo nnti py dah punya anak.

    Dirumah dulu didikannya berkebalikan soale..Huhu.. Dikasih jajan, tp klo kurang tinggal minta merengek2 lgsg dikasih, klo ada acara apa gitu dirumah klo males pasti dibujuk2 Papa pake duit..huhu.. Alhasil sifat borosnya kebawa, untung ketemu Ai yg pengetahuan soal duitnya sehat. Jadi belajar ngatur ya dr dia..

    • Iya Py, harus tegas dan biarin aja anak merengek nanti kan mereka cape sendiri.

      Sekarang kerja dengan uang di bank udah pinter pasti kan ngatur uang?

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s