about me / English / Family / Thoughts

Two is the norm, isn’t it?

It is quite interesting to observe how the society defines several norms which become the norms. When you don’t commit to them, you are weird, you are deviant. Or worse, you are required to explain why. The norms I am talking about here are: getting married/steady relationship and having children, not one or three but ideally two children. Who the hell had defined in the first place that two children should be the norm? And most importantly based on what?

I have heard from friends who deliberately have chosen to stay single or childless that they get tired of being asked why. They have their own personal reason to do so. Me, I am happily married and a loving mother of one daughter. And that last one doesn’t fit to the general norm of one loving family with two children.  Some people dare to insinuate me to try to get pregnant again because according to them G (my daughter) needs a sibling. How lonely she must be because she is the only child. Not to mention the existing stereotypes about being the only child namely: spoilt brat and selfish. Those are reasons I heard from the child’s point of view. And here are a number of remarks I have received as a mother of one child. Some people wonder whether I am happy because I only have one child. Some might perceive me as a selfish mother who prefers to work fulltime over mothering a second child.

Doesn’t it occur to some them that having one child or more than two children is a choice? It could be a well-thought one or even forced by the circumstances. All I can say is that the number of children doesn’t define how happy you are as a parent. I am not less happy than other mothers with two children. It is the concerned parents themselves who experience it personally. And most of all it is nobody else’s business.

Source:
Image is courtesy of Freepik

48 thoughts on “Two is the norm, isn’t it?

  1. Awwe iya banget nih soal komentar-komentar orang tentang anak. Dan yang suka kasih saran-saran nggak penting…gak usah anak deh, orang aja banyak yang menyarankan aku beli kucing lagi, si Loki PASTI kesepian di rumah. Padahal yang beli siapa, yg responsible siapa, yg bawel siapa… and ekstrim amat mba yg bilang ONLY one child itu. Apa nggak mikir kalo mereka ngomong ke orang yang conceive anaknya mati-matian, akan nyakitin kan. Dapet satu aja udah anugerah… hizzzz *gemes*

  2. Iya banget nih Mbak Yo, aku yang sedari dulu jauuhh sebelum menikah memang cita2nya hanya ingin punya satu anak, selalu dipandang aneh dan selalu ditanyakan “kenapa? Nanti kalo kamu sudah tua sepi lho kalo anak cuman satu” atau mengaitkan dengan agama “jangan membatasi punya anak, anak kan rejeki” duh males banget deh denger komen2 kayak gitu dan males juga jawab pertanyaan tuduhan seperti itu😦 yang punya hidup kan sini, kok situ yang repot, kadang pengen judes kayak gitu

  3. Two thumbs up, it is your choice to have any or no kids at all. Not to mention if a couple is having trouble getting pregnant and then the troubles during pregnancy etc. etc. It is no body’s business. How do you measure one happiness with the number of children they have? I have a cousin who can’t bear a child due to health issue and another who has 4 children and still counting, they both are happy.

    One word to describe those kinda people…..KEPO :):)

    • I don’t know Garile. What I am trying to say with this post is, what makes others happy doesn’t mean the same to me. It is so personal.

      • My point was, yes, it is a very personal thing to discuss and it is no body’s business on how many children you have if any other than you and your partner’s.🙂

  4. Kadang orang-orang yang menganggap dirinya terlalu peduli itu tipis sekali bedanya dengan “terlalu ikut campur” ya Mbak :hehe. Padahal mereka sebenarnya tidak tahu apa :)).

  5. Saya dr awal pengen punya 3 anak saja.. Spt halnya kedua orang tua saya… Ealaaaah nambah 1 lagi, jdnya persis keluarga suami, 3 putri dan 1 laki-laki.. Ya disyukuri saja kehadirannya…
    Punya 1 ditanya juga kenapa cuma 1, punya banyak, ditanya juga “lhoo emang ngga KB..?? lho ko banyak anaknya..?? Apa ndak repot tuh punya anak banyak.?? dst.dst..dst.. 😁

    • Hebat teh punya anak 4. Betul kan, ngga punya anak ada komentar orang, punya anak satu atau lebih dari dua banyak komentar pula. Kenapa gitu ya? Yang ngejalanin kan kita.

      • “Kecelakaan” mbaaak hihi
        Ya sudah takdirnya juga harus punya anak 4, meski KB juga teteeep bisa kecolongan hehe

        Iya betul, yg menjalani kita ya itu dia mbak, penonton/pengamat, biasanya merasa lebih pinter hehe

  6. Ini ttg org Indonesia kan mba. Kalau iya, maklumlah. Apa sih perkara2 yg ngga di usilin? :))

    Biasanya jwb. “Dikasih sedikit saja blm tentu bisa membesarkan mrk dg benar. Apalagi bnyk?” Biasanya lgs pada diem.

    • Ada juga beberapa kenalanku orang Belanda yang tanya kenapa aku ngga mau punya anak lagi walaupun cara nanyanya ngga sekepo orang Indonesia.

  7. Aku juga suka bingung kenapa banyak yang suka ikut campur. Kadang yang ngomong kalo orang Indo yang hidup di Indo tidak pake mikir tentang keribetannya ngurusin anak karena segambreng pasukan siap membantu. Lha hidup di luar negeri beda banget deh ceritanya. Selain semua sendiri kalo mau masukin anak ke sekolah private juga muahaaalnya minta ampun. So like you said it should really be up to the concerned parents.

  8. Capek Mba Yo kalau ikutin apa kata orang. Belum nikah ditanya napa gak nikah2, jangan ketinggianlah masang target, bla bla bla.
    Temen dah nikah tapi belum punya anak ditanyain kapan punya anaknya. Anak 1 ditanyain lagi kapan anak berikutnya. Kayak gak habis-habis.
    Saya mah mikirnya, hidup hidup saya ini. Dan dah bilang mama soal nikah mungkin nanti2. She’s fine with it (for now). So… I don’t bother what people said (for now also lol).

    • Aku menyebut orang usil gini anggota mafia tukang tanya ha…ha…Aku ngga pernah jawab lagi kalo pulang ke Indonesia dan ditanya ini itu, aku tinggal pergi yang tanya🙂

  9. yah jangankan soal anak, aku aja yg udah (baru) sadar kalo aku ini cukup aseksual (dan udah bilang ke ortu) aja tetep diojok2in suruh nikah. alasannya emang aku pengen hidupnya gini2 terus, apa ga pengen hidupnya lebih baik? emang udah pasti ya kalo nikah itu menjamin hidup kita jadi lebih baik? tapi aku diemin aja sih. kalo ngomong gt pastinya bakal diomong macem2 dan akhirnya malah berantem. sigh.

    • Ngerti. Kan juga ditulis diatas ‘I have heard from friends who deliberately have chosen to stay single or childless that they get tired of being asked why. They have their own personal reason to do so.’

  10. Ini yang nanya korban iklan KB ya. Dua anak cukup, kurang dari dua gak cukup, tiga kelebihan, empat apalagi. Orang emang selalu ingin mencampuri keputusan orang lain, pengen didengar.

  11. Saya nggak ngerti kenapa orang indonesia yg saya knal kebanyakan nanya hal pribadi. Tapi ada satu tman kantor saya ingat dia tiba2 bilang saya “ntar lu kalo punya anak jangan satu ru ga enak. Kayak gue bingung mo share sama siapa” tman saya cowo ibunya didiagnosa tumor otak. Sepupu saya cowo anak tunggal ibu pernah bilang kami musti perhatiin adik sepupu kasian dia sendiri, eh pas adik saya masuk Uni si paman (ayahnya) ambil bayi dr panti.

    • Ada beberapa kenalanku orang Belanda yang tanya ini juga kok Ru. Cuma nanyanya ngga sekepo orang Indonesia. Dan kalo aku jawab ‘gw ngga perlu jawab pertanyaan loe’ mereka ngerti.

      • Oh ya aku ada juga temen orang Australia yg begini, cuma waktu itu yg dipertanyakan kebalikan dari kasusmu. Jadi si temen ini Kepo kenapa temen kami yg satunya lagi anaknya banyak (4), udah gitu jarak umurnya berdekatan.. Kebetulan anaknya dia 2 saja dan beda umur jauh..

  12. Or just don’t give a damn on what others “think”. It is not like they are actually helping us with the matters anyway.😆

  13. Have you ever received an unwanted business card referral from Tante2 kepo to go to “the best fertility” clinic? My husband only stared and plotting an insulting bitter jokes, meanwhile I just smiled, ripped the business card into pieces and walk away. People rarely realized that there also a social norm that they have respect when socializing and that we have never given them the right to be a part of our life.

    • Not a card but I received a remark suggesting me and my husband to visit such clinic for the second child. Some people just leave me speechless.

  14. Iya ya… Iklan margarin, iklan shampoo, iklan biskuit, bahkan iklan obat nyamuk aja hampir semuanya menampilkan keluarga muda dengan dua anak ya😀

  15. Two is the norm because to maintain stable population size. Two children will replace their father and mother, that’s also why the KB program is all about

  16. Anak itu anugerah n kasih karunia Tuhan, itu soal dikasih atau enggak ya….
    tp klo banyak anak juga bikin masalah buat manusia lain krn sumber daya alam itu punya bersama (anak ini punya kebutuhan jasmani pastinya), jadi dua anak untuk indonesia itu ideal krn bs menggantikan populasi orang tuanya biar diagram populasi usia produktif kita ideal mbak,
    btw, balik lg soal anak, ada loh kenalan (suami-istri konsulen/ dokter spesialis) yg udah berobat ksana kemari buat program punya anak krn si istri alergi sama protein semen suaminya, udah cr modern di US sampe cr etnik di China tp gak bs juga
    yg di US berhasil tp 3 bulan ada reaksi alergi lag dr tubuh ibu yg bikin janinnya ruptur
    jd stlh 15 thn usaha mereka akhirnya pasrah n gak usaha slain cr ‘alami’, eh istrinya bs hamil walaupun tanpa screening protein dll yg canggih2, waktu anak cowok pertamanya masih 1 tahun istrinya hamil lagi n lahir lagi anak cewek

  17. saya sih emang belum punya anak mbak, yang sering dapet pertanyaan kayak gini sih bapak saya kenapa punya anak cuma satu, bapak saya langsung aja nyeletuk “kalo punya banyak anak tapi gak bisa ngasih yang terbaik sama juga boong, kalo buat aku satu aja cukup yang penting kita bisa kasih yang terbaik buat anak” dan mereka biasanya langsung diem🙂

    • Betul Novi. Memang orang lain gampang komentar tambah anak lagi tapi yang menjalankan kan bukan mereka, si orang tua itu sendiri.

  18. Ikutan deh mbak.. saya termasuk udah mulai “diinterogasi” sama orang2 karena anak udah lewat 2 tahun umurnya (oh please). Ayo, kasih adek.. kasian kalo jaraknya kejauhan, biar ada temennya, biar capek sekalian ngurusnya biar ini biar itu.. dan masih buanyak lagi lahh…. curcol hehehhee😉

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s