about me / English / Friendship / Thoughts

A reminder

One day I had a conversation about life with two young friends of mine. They were in their mid 20es and full of energy. I loved to hear how they deal with things I have dealt with when I was their age. We discussed about planning our life, including career, love life, financial plan, ambitions etc.

Making plan is good because that means there is focus in our life. However no matter how eager we are in planning our life, there are unfortunately things we can’t control. Planning to do a study, scoring an ideal job or even getting married at certain age is what young people set on their list. Little do they know, the last one goes as it goes.

weddings-vector-02

When I was young I didn’t set a target to get married by certain age as I found the idea quite suffocating. What if I didn’t meet a guy at that age? Would I get married just because I had planned it? Planning to get married by certain age when I didn’t even have a boyfriend seemed too scary to me. I thought then and now, it would cause an unnecessary stress in your life. Or on the contrary what if I would meet a guy way earlier before the ripe for marriage set date?

And not only that, when you set to get married or settle down with someone at certain age, supposedly you pass that age and people would start asking. Family gatherings on holidays seem from then on very hard to attend for you would get that question again.

And please do take note, nowadays one is not only defined by the marital status unlike a century ago. My point is I just want to emphasize here that making plans in your future which include other people’s feeling could be quite tricky. When you do this and can’t realize the goal, what would happen? Perhaps you would be stressed out or worse, frustrated. And all the fuss, for what? Enjoy your life instead. Go out see the world, work hard and validate yourself.

It might seem strange that I write this while I got married young myself, at the age of 23. Almost 20 years later I am still happily married although I didn’t plan it at all. Falling in love just happened to me. It hit me. And when you know, you know if he/she is the one for you. Then I remember my own quote in Carpe Diem.

Planning your life into details and stick to it doesn’t always work. Things in life do no stream smoothly exactly as you plan. There are chances to take, risks to avoid, challenges to pursue and disappointments to deal with. Life is what you make of it. Carpe Diem.

Please see this as an unsolicited advice based on my own experience and observation as a middle aged woman. You can take it or leave it. It is your life. Afterall life is what you make of it.

Source:
Image is courtesy of Freepik.

61 thoughts on “A reminder

  1. I wholeheartedly agree with you, Lor!!! Getting married is an output of falling in love and when it was planned, it wasn’t falling in love. We just did and when it happened, it happened. The worst mistake people could do to their life is perceiving marriage as an achievement. They put marriage as a goal in line with ideal career.😦

    • Exactly. Apparently some people hang on to a marriage status as an achievement. This is my two cents as a reminder to those who plan to get married by certain age.

  2. I agree with you mbak Yo.
    I’ve done it before, and I was frustrated when the goal can’t be realized.
    Now, I start to enjoy my self and do what I can do🙂

  3. setuju mba yo, dulu aku orangnya apa2 mesti sesuai plan *tapi gak sampe planningin kapan mesti married sih* buat yang satu itu aku cukup santai jalaninnya jadi ya ikutin aja jalannya sampe akhirnya married beneran. buat beberapa hal lain skrg aku jd lebih suka mikir utk gak terlalu planningin apa2 krn kedepannya pasti akan ada perubahan yang lain2 jg jadi mending dijalanin aja dulu🙂

  4. Setuju, mba, untuk tidak terlalu di plan utk 3 hal, jodoh, lahir, mati..*ya iya dong*😀 sudah diatur.

    Tp untuk persiapan bila hal2 itu terjadi saya kira perlu juga, ya. Jadi saat mau kejadian kapan kita sdh siap mental…just my two cents..

  5. I agree with you mba, ga mungkin juga jatuh cinta dan ketmu jodoh diset. Tapi dulu juga awal2 kuliah aku begitu, ampe nentuin usia nikah dan meleset hahaha lucu kalo diinget.

  6. Once i set a target to get married at a certain age mbak Yo, but then after getting paid from what i was working for, i loosen up myself and change the target to something new😀 Aplg sempet single 2th, udah lah mana kepikiran nikah. Malah maunya kerja2/sekolah2 atau nambah skill terus hehehe

    • 🙂 Iya. Banyak yang walaupun masih single tapi tetep kekeuh berpegang ke planning untuk menikah dalam usia tertentu. Kasian lihatnya, ada tekanan gitu.

  7. I agree Mbak Yoyen… aku dari dulu juga gak narget2. Ampe sekarang masih santai2 aja… kalo di Indonesia mungkin lebih susah ya, karena sekitaran semua nikah rata2 seumuran aku, jadi kali aja pada merasa ‘ketinggalan’…

    • Bener Mar. Di Indonesia tekanan dari lingkungan sekitar lumayan besar ya. Apalagi kalo mereka tahu kita planning mau menikah di usia berapa. Jadi kepo.

      Yang bikin aku tulis pos ini karena melihat beberapa orang yang stress, pacar ngga punya tapi usia target menikah makin deket. I feel them.

      • Iya Mba. Kasihan deh apalagi kalo perempuannya yang belum nikah sesuai target dicap nggak laku ya. Sepupuku udh di late 30s belum nikah, kalo lg acara keluarga pst pd ngomongnya “dia kan cantik… yg laen jelek2 aja pd laku… kok dia nggak ya.”
        Dan yang stress itu… Mba temen deketku sendiri kayak gitu… tapi dari dulu hubungannya nggak pernah berlanjut. Sama yang terakhir ini udh semangat sampe belajar masak, eh nggak jadi juga. Emang targetnya pingin punya baby katanya. Sedih dengernya.

        • Waduh kasian banget ya Mar. Itu juga, punya anak pake target-target. Ada yang gampang conceive ada yang ngga. Aku hanya bisa menghela napas deh.

        • Iya bener banget Mbak. Terus kdg2 yg mommy2 baru gitu suka merasa ‘lebih tau’ krn mrk udh jd mommy duluan sesuai target mrk. Aku kmaren baru diceritain temen yg lagi hamil blablabla pake embel2 “Nanti klo lo hamil pasti ngerasain… jd mommy it gak gampang lho.” Oh gee kalo dikali tiap temen yang hamil, sering banget denger gini2an. Makanya kasihan d Indonesia yang ‘nggak kekejar target’😦 aku aja lama2 risih denger gituan.

  8. Setuju Mbak. Jujur, aku memang dulu mentargetkan menikah diatas 30 tahun. Ya sekitaran 32-33. Lha kok ternyata beneran menikah diumur segitu. Padahal dulu pasang targetnya pas aku masih awal kuliah, umur 18an. Dan waktu itu aku dianggap sinting sama teman2ku karena rata2 diantara mereka ingin menikah muda, ya paling telat 27an. Dulu mikirnya, aku pengen punya pekerjaan mapan, jalan-jalan sebanyak2nya tempat didalam dan luar negeri, nyenengin ortu, bisa melakukan banyak hal dulu. Dan memang, itu terjadi sebelum nikah. Bukan berarti dengan menikah tidak bisa melakukan banyak hal, tapi tanggungjawabnya kan sudah berbeda. Tapi mbak, di Indonesia yang orang2nya sangat “ramah” dan ketika kita menikah tidak sesuai dengan umur yang menurut mereka “normal” itu menimbulkan dilema sendiri. Kita bisa saja cuek, hidup2 kita ini. Tapi kan kita punya orangtua, yang seringkali “diteror” pertanyaan tentang kapan anaknya menikah kalau ada kumpul2 keluarga atau teman. Meskpiun orangtua bisa saja juga ikutan cuek, tapi ada saatnya mereka juga ikutan mikir dan merasa ga nyaman lagi buat bergaul. Ribet intinya hidup dilingkungan dengan banyak ke”kepo”an🙂

    • Itu di we-society memang biasa. Akankah lebih besar tekanan kalo orang tersebut juga ngeset target menikah diusia tertentu dan lingkungannya tahu tapi sepertinya targetnya ngga tercapai. Stress. Ngga perlu ini menurutku sih ya.

  9. I 100% agree with this post🙂 . While having a plan is always good because it gives us a focus, we still need to be “open-minded” enough that everything may not go as planned. There may be some opportunities, or changes, which will come to us that are not necessarily “according to plan” but exciting enough that we decide to go for it.

    So indeed the “best” way is just to enjoy our current life, work hard, play harder, and make the most out of it and stop worrying about the future just because things seem to be getting out of plan🙂 .

      • I like this saying, “when it happens, it happens”🙂 nice one and thanks for the advice! I don’t have a target although marriage is in our plan, we’ll do it when the time is right🙂

      • True. Let’s say in the future indeed we need to worry about something, just let our future-self deal with it, not our current-self. I mean, why should our current-self worry about something which may actually not happen in the future, right? That just takes away the “fun” from the present for (possibly) nothing🙂 .

  10. aku jg gak pernah target kapan akan menikah, tp ada semacam idea if it would be great to marry before 30 yo, aku selalu pikir akan idea ini setiap saat, dan kejadian juga aku menikah di usia 29, mungkin itu yang namanya the whole universe conspires.

    • Itu kan ide dan ancer-ancer cuma ngga deadline banget Fe? Gw malah waktu itu mikirnya akan kerja ini itu dulu, eh ketemu dia mentok ha…ha..Nikah masih muda deh cuma punya anaknya lama dan orang-orang ribet lagi.

  11. Jadi inget dulu umur 20an apa2 di planning, kadang suka ga fleksibel dan stress sendiri tapi seiring bertambahnya umur akhirnya jd santai sendiri. Masih bikin rencana tapi gak multak harus sesuai rencana.

  12. Dulu cita cita pengen nikah muda, ternyata plannya ga jalan sama sekali, pun ketika umur sudah mulai uzur….untunglah ga ada tekanan dari keluarga, cuma lingkungan kerja aja yg nanya nanya terus…. Dan ternyata begitu saatnya nikah, kami tak ber planning sama sekali…. Tiba tiba saja, dan jreng kami menikah😀

  13. Yoyen, the 3rd paragraph should read, “When I was younger…” :):):) Because you are still young🙂

    Anyway, I never really planned or target on anything, just go with the flow alias santai saja, for sure I knew what I was going to study and have a career afterwards. I had dreams and wanted to do many things ie. go out to see the world. But not so much on marriage……..meaning no target:)

    Luckily I did not live around people who scrutinized my single life so much.

    You never know what lies ahead…….

    • I got married because I wanted to. Afterwards, I have been able to do things and reached my goals which I had in my mind before. I mean, some people see a marriage as an achievement or a station to pass. Then their life would change. What has happened to me from then on I have gotten a companion and partner to take the ride.

  14. Sejutu banget mbak yo… tapi belakangan ini aku suka kasian sama ortuku yg sering di teror sama keluarga besarku dan temen2nya, soalnya aku blom nikah juga. hehe… untungnya akunya jauh, jadi jarang kena teror mereka. hehe..

  15. Agrre, Mbak Yo. Aku seharusnya baca tulisan kayak ini juga dulu pas masih 21 an ya hihi. Aku dulu termasuk yang panik takut merit telat dan ngerasa merit itu harus terjadi di usia 25 karena keadaan sekeliling. Jadi mamakku sampe bilang jangan kuliah S2 kalo belum nikah, takut lama merit. Trus ortu ngelarang jadi diplomat dan masuk HI, gegara bapak mamakku bilang biasanya orang yg kerja di deplu (yg mereka kenal) meritnya lama. Jadi merit itu di mataku seperti penghalang untuk banyak hal, deh. Penghalang cita-citaaaa, gitu dan di pihak lain aku juga takut kalo telat merit ngecewain ortu.

    • Susah ya memang kalo budayanya gitu Ndang. Dan menurut pengamatanku juga kalo di Indonesia kebanyakan orang tua memandang anaknya sebagai individu yang dewasa (bisa ambil keputusan sendiri dan tanggung konsekuensinya) setelah si anak menikah. Karena menikah = keluar rumah. Padahal ya kenyataannya ngga gini. Si anak mencapai umur tertentu udah matang tapi selama masih belum menikah sepertinya orang tua masih bisa memaksakan kehendak mereka😦

  16. Setuju banget, Mbak Yo.

    Waktu Baru lulus SMA, aku pengen nikah usia 23, tapi bukan target sih cuma pengen doang🙂. Ternyata aku lulus S1 hampir usia 23. Walopun saat itu udah punya pacar (yang udah lebih dulu kerja) dan udah mentok mau serius, tapi masih belum tahu mau nikah kapan. Kita jalanin aja dulu. Di ‘perjalanan’, aku jadi pengen pas usiaku 25 aku sudah menikah. I think it would be great. Sang calon suami yang tadinya masih pengen nanti-nanti akhirnya malah ingin disegerakan aja karena ngerasa udah mentok dan sudah waktunya menikah. Hahaha. Ternyata bener, kita menikah sebulan sebelum usiaku 25 tahun. Setelah dijalani, ya memang that’s the right time. Kita enjoy happy banget ngejalaninnya. Lalu, tentang anak. 2 tahun menikah kita belum dikaruniai anak, orang-orang di sekitar mulai “berisik”. Padahal kita santai menjalaninya. Sempat kepikiran untuk mulai program hamil, sebelum itu dimulai saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan masa pemulihannya cukup lama. Ini berimbas juga dengan rencana saya untuk sekolah lagi. Sedih sih pasti ya, tapi kami yakin ini semua sudah diatur dan pasti ada hikmahnya. Kami menjalaninya dengan santai dan menikmati setiap prosesnya. Yakin banget, pasti sudah diatur kapan waktu yang tepat.😀

  17. Pingback: Sekolah di Luar Negeri & Sebuah Kenyataan | The Moblogger

  18. mba… i couldnot agree more….
    kalo kita terlalu set target untuk apa yang terlihat di mata manusia, kita ga akan bisa mengerti maksud dan rancangan Tuhan benernya apa dalam hidup kita.
    dan kadang kita menyalahkan Tuhan kenapa semua itu tidak berjalan sesuai permintaan kita.. then who the hell are us.
    thank you mba for the reminder. GBU

    • Iya Yul. Rencana boleh, untuk diri sendiri. Cuma rencana melibatkan orang lain dan orangnya aja kita ngga tahu siapa, itu riskan😉

  19. Syukur aku ga pernah nargetin kawin, karena tau nemuin jodoh ga gampang. Eh taunya malahan udah ketemu cepet jodohnya hehe😀 Dari aku SMA banyak temenku yang mau ngebet kawiiin, dipikir dia menyatukan dua insan gampang kali ya hihi

    • Banyak orang yang pingin kawin untuk wedding bukan marriagenya Ji. Apalagi sekarang yang jor-joran gitu. Terlalu diromantisir. Padahal perkawinan itu baru dimulai setelah pesta pernikahan usai.

  20. Pingback: Carpe Diem | Lawamena Haulala

  21. Hi Mbak Lorraine, salam kenal ya.
    Selama ini rajin baca blog-nya. informatif dan edukatif sekali menurut saya.🙂

    Kakak saya perempuan belum nikah dan sebentar lagi umur 30. Tapi orang tua nggak pernah mendesak kakak saya untuk segera menikah. Bahkan dalam kondisi sekarang dia lagi nggak punya pacar. Ibu malah pesan ke saya dan adik2, supaya jangan candain kakak saya soal status single-nya. Takutnya nanti kakak malah terbebani dan nggak nyaman dengan status single-nya, dan malah buru2 cari cowok tanpa banyak pertimbangan memutuskan menikah.

    • Hallo Theresia,

      Salam kenal juga. Bijaksana sekali orang tua kamu ngga mendesak si kakak. Nyaman kan untuk semua orang. Makasih ya udah mampir.

  22. Pingback: Sekolah di Luar Negeri & Sebuah Kenyataan - The Moblogger

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s