about me / Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Family / Indonesia / Parenting / Thoughts / Women

Debat tiada ujung

Yang gw maksud dengan debat tiada ujung ini adalah hal tentang ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Setelah menimbang dan mengamati tentang debat ini di Indonesia dan Belanda, akhirnya gw memberanikan diri untuk membahas topik ini.

Kategori
Sebelum lanjut ke isi pos ini, baiknya kita lihat kategori ibu bekerja dulu ya. Menurut pengamatan gw definisi ibu bekerja di Indonesia kebanyakan merujuk ke para ibu yang kerja dikantor (berpakaian rapi, blazer rok dan dandan cantik) padahal banyak profesi lain yang juga dijalankan para ibu, contohnya: pelayan restoran, perawat, pedagang di pasar, insinyur, polisi, guru, ART, supir bis dll.

Ibu rumah tangga sepertinya jelas tapi beberapa tahun terakhir ini ada istilah ibu bekerja dirumah. Definisi ini mewakili para ibu dengan bisnis yang dilakukan dirumah, entah itu online shop, catering maupun bisnis lain.

Pilihan atau bukan
Di permukaan debat tiada ujung tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga ada stereotype berikut: Ibu rumah tangga mencibir ibu bekerja karena mereka tidak membesarkan anak sendiri, ibu yang egoistis, lebih memikirkan karir, melupakan kodratnya sebagai wanita. Sebaliknya ibu bekerja memandang rendah ke ibu rumah tangga yang dimata mereka kerjanya hanya mengurus anak, lingkup dunianya sempit dan tidak berkembang secara intelektual.

Ok, sebelum protes, pernyataan diatas ini gw tulis secara hiperbolik. Stereotype itu tentu ngga 100 persen bener. Ada ibu rumah tangga yang anak-anaknya diurus babysitter, jalan-jalan kemall bawa anak plus babysitter. Ada ibu rumah tangga yang lingkup kegiatannya lebih dari mengurus anak dan rumah tangganya. Mereka aktif berorganisasi, jadi relawan dll. Disisi lain ada ibu bekerja yang bisa membesarkan anak dengan baik. Dan ada juga ibu bekerja kantoran yang mandeg perkembangan intelektualnya, pulang kerja, cape, main sama anak dan istirahat.

Yang ingin gw bahas disini sebenernya bekerja atau tidak itu adalah pilihan untuk beberapa ibu. Bersyukurlah para ibu yang bisa mantap memilih untuk tetap bekerja atau berhenti bekerja untuk mengurus anak.

Kenapa gw tulis bekerja itu pilihan beberapa ibu? Karena ada para ibu tanpa suami yang harus kerja untuk menghidupi anak-anaknya walaupun kalau ada pilihan mereka akan memilih membesarkan anak dirumah. Atau para ibu yang harus membantu keuangan keluarga dengan bekerja karena penghasilan suami tidak cukup. Menurut pengamatan gw para ibu yang harus bekerja ini ngga ikut perdebatan tanpa ujung karena mereka sibuk untuk survive. Energy mereka simpan untuk bekerja dan mengurus anak.

IMG_7235.JPG
Foto Fox news

Ibu bekerja di Belanda
Di Belanda diskusi ibu bekerja vs ibu rumah tangga sama hangatnya seperti di Indonesia. Untuk informasi: di Belanda kerja part time itu biasa, bahkan di kantorpun normal. Kebanyakan ibu bekerja 2,5 hari seminggu.

Selain biaya penitipan anak mahal sekali, para ibu Belanda beranggapan mereka punya anak bukan hanya untuk dititip di penitipan anak. Lain dengan di Indonesia yang lumrah kakek nenek jaga cucu jika si ibu bekerja. Di Belanda dan di negara barat lainnya dimana upah orang bekerja itu tinggi, ngga ada ART yang masak, cuci baju dan membersihkan rumah. Jadi seperti ada peraturan tak tertulis sampai sekarangpun mayoritas ibu di Belanda yang bekerja, hanya bekerja part time 2,5 hari atau 3 hari seminggu. Kalo kerja full time banyak yang khawatir ngga keurus rumah tangga dan anaknya. Apalagi yang anaknya lebih dari satu. Dan muncullah stereotype ibu bekerja pasti anak dan rumah tangga ngga keurus. Cuma dibandingkan dengan debat di Indonesia yang saling menuding, beberapa tahun terakhir ini ada pertanyaan “How do Dutch working mothers manage this?”.

Pengalaman gw
Pengalaman gw sebagai ibu bekerja full time disini, beberapa kali dijudge orang. Apalagi waktu anak gw usia balita sampe kelas 4 SD, banyak yang kaget denger gw kerja full time. Gw ada perjanjian dengan suami dan anak bahwa G comes first. Jadi gw lumayan terlibat di acara sekolahnya. Sesibuk apapun gw ikut bantu acara disekolahnya dari mulai kelas prakarya, pameran karya seni, jadi tukang rias pementasan drama sampe jadi ibu yang bantu anak sebrang jalan. Jadi anak gw ngga minder, walaupun ibunya kerja tapi masih bisa ikut bantu seperti ibu-ibu lainnya. Beruntungnya di Belanda bisa seperti ini karena bisa ambil libur per jam, bukan per hari.

Waktu G masih kecil gw tiap dijudge orang merasa perlu untuk membela diri. Sekarang sih ngga, buat apa? Yang judge gw itu kebanyakan orang yang ngga kenal deket. Mereka ngga tahu gw ke anak dan suami gw gimana. I don’t owe an explanation to a stranger how I am as a mother, do I?

Pilihan pribadi
Masih inget ngga sewaktu remaja banyak anak perempuan berkhayal hidupnya seperti apa jika mereka dewasa? Ada yang melihat dirinya jadi ibu rumah tangga, ada pula yang takut menikah dan ngga mau punya anak.

Ada perempuan yang sekolah tinggi, menikah dan berhenti bekerja karena ingin jadi ibu rumah tangga. Ada pula perempuan yang punya anak tapi tetap bekerja. Ini semua pilihan yang tidak perlu dipertanyakan orang lain. Pilihan seperti itu kan melalui proses pertimbangan dan makan waktu. Pilihan untuk berkerja atau tidak itu sangat pribadi. Makanya gw terus terang kadang sedih lihat debat tiada ujung tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Bukannya saling mendukung tapi malah saling menjatuhkan.

Menjawab pertanyaan siapa lebih hebat yang bisa jadi ibu seutuhnya menurut kodrat perempuan, ibu bekerja atau ibu rumah tangga? Semua ibu, bekerja atau tidak punya cara membesarkan dan berhubungan dengan anaknya sendiri. Semua ibu, bekerja atau tidak punya nurturing instinct untuk membesarkan anak. Cara dan pengalaman ini juga sangat pribadi sifatnya.

Menurut gw apapun pilihan ibu, selama ibu mantap dengan pilihannya dan bisa menjelaskan ke anak, mereka dapat membesarkan anak dengan penuh cinta kasih dan tanpa rasa bersalah. Happy mum happy kids.

68 thoughts on “Debat tiada ujung

  1. Semua sama bagusnya ya mba🙂 asal anak dan keluarganya gak sampe terlantar dan lupa kalau ada ibunya. Yang ibunya gak kerja juga seru tapi yang ibunya kerja juga gak kalah serunya. Sama deh.

  2. Interesting yen. Disini rata2 perempuan punya anak full time karena memang biasanya “nggak sanggup” kalau hanya si laki2 yang full time dan / atau perempuannya part time. Disini semua anak mulai dari usia 1 tahun sudah lumrah dititip di tempat2 yang bersubsidi pemerintah. Ada yang semacam TK begitu (playgroup kali ya) ada juga yang tempat private (plejemor) jadi dirumah orang yang kerjanya ngawasin anak2 ini. Preference sih, ada yang pilih plejemor karnea jumlah anak lebih kecil dan bisa diawasi lebih baik, ada juga yang pilih playgroup walaupun tiap pulang anaknya selalu sakit (ketularan yang lain) atau kena kutu, karena lebih terstruktur.

    Malah disini “wajib” untuk menitipkan anak, sempet ada “ancaman” kepada orang tua imigran untuk harus menitipkan anak (secara banyak orang tua imigran yang tidak kerja) demi perkembangan bahasa si anak. Jadi kalau anak diasuh di rumah itu justru tidak lumrah

    • Daycare disini mahal walaupun disubsidi pemerintah. Dan subsidinya menurut level income kita. Dapet subsidi 1/3 dari tarifnya. Untuk yang punya anak lebih dari satu, tiap anak selanjutnya lebih murah tarif daycare.

      Makanya banyak ibu muda Belanda yang milih kerja part time antara 2,5 sampe 3 hari per minggu.

      Sama, para imigran juga dianjurkan pemerintah sini supaya anaknya ke daycare biar bisa belajar bahasa Belanda yang bener.

  3. Aku lelah dengan perdebatan perihal ini, Mbak. Hehe.. Waktu yang mereka pakai untuk debat sana-sini sebetulnya kan bisa dipakai untuk ngurus anak dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan keluarga ya.🙂
    Waktu itu pernah lihat di FB ada gambar yang inti pesannya “surga di bawah telapak kaki ibu” regardless dia ibu bekerja maupun tidak bekerja. Pengalamanku dengan ibu bekerja juga nggak ada masalah. Justru aku jadi melihat contoh dari Mama bahwa bekerja tidak berarti menelantarkan anak. Dan dengan punya anak, kita perempuan msh bisa berkarya di luar rumah.
    Aku juga menghargai kalau ada ibu yg memilih tinggal di rumah. Spt yg Mbak Yoyen bilang, hal itu pasti sdh melewati pertimbangan dan kondisi tiap orang berbeda. Let’s respect each other.🙂

    • Aku juga makanya tulis pos ini. Betul itu, surga ditelapak kaki ibu, semua ibu baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. Ibuku ibu rumah tangga tapi kegiatannya seabrek. Sibuk jadi relawan posyandu, penyuluhan program KB lingkaran biru, di Orari, koor di gereja. Seinget aku sepertinya ibuku kerja full time deh saking sibuknya, tapi aku ngga apa-apa tuh gedenya. Aku dan kakak adik ngga merasa terlantar, malah ada contohnya.

  4. Iya gemes banget lho kl baca debat gini2an… kmrn ada yang ampe bilang ya tuhan lindungilah anak2 balita dari ibu bekerja. Sampe gemes walaupun gw bukan seorang Ibu ya, tapi tetep aja kan gimana kalo emang kondisinya si ibu harus bekerja…

    • Kalo sampe komen gitu Ya Tuhan lindungilah anak2 balita dari ibu bekerja aku ngga akan tanggepin Mariska. Menurutku masih menutup mata orang yang tega komen gitu.

  5. Ibuku pesen jd cewe/istri baiknya kita kerja kalo ada apa-apa dg suami/ pernikahan kita dah siap. Mbakku sebelumnya kerja tp krn anaknya sempat sakit jd dia mutusin keluar dr kerjaan. Ibuku tdk bilang apa2 hanya dukung apapun keputusan anak-anaknya

    • Betul juga ini, mandiri secara finansial itu penting untuk jaga-jaga ya. Tapi kalo panggilan untuk jadi ibu rumah tangga lebih kuat ya ngga apa juga Ru.

  6. Gue lagi drafting tulisan juga tentang ibu rumah tangga yang sering diremehkan, padahal kerjaan ibu rumah tangga itu nggak selesai2. Abis cuci piring cuci piring lagi, cuci piring lagi, kagak selesai2.

    Tapi intinya bekerja atau nggak, perempuan mesti punya suara dalam memilih dan apapun pilihan nya, harus dihormati.

    • Betul Tje. Dan sesama perempuan pun harus hormati pilihan orang lain bukannya malah saling menghakimi. Sementara itu didunia bekerja gaji pegawai wanita secara umumnya lebih rendah dari gaji pegawai pria. Dan banyak para suami yang sesampainya dirumah ngga ikut bantu istrinya yang ibu rumah tangga. Menurut si suami, istrinya yang ibu rumah tangga itu kan ngga kerja. Padahal seperti kamu tulis, pekerjaan ibu rumah tangga ngga ada abisnya.

  7. Biasanya yang doyan berdebat ibu WM dan SAHM itu yang lagi cari pembenaran diri or mungkin merasa insecure. Bener kata mba yo..yang penting itu udah jadi pilihan kita. Pilihan yang mantap….no more debate kan ya. Padahal lagi eneg juga ini di FB adik2 kelasku too proud of being SAHM by blaming the WM dan mostly too proud of becoming breastfeeding mom…..bikin yang nggak breasfeed jadi feeling guilty kan (hhhmmm itu yang kurasakan waktu lahiran gwinette dan aku ga bisa menyusui…tentu setiap ibu punya alasan masing2) just appreciate each others…right?

    • Mungkin juga atau mungkin merasa pilihannya paling top. Untuk dia memang pilihan itu top tapi pilihan orang itu kan sesuai dengan pertimbangan berdasarkan situasi orang itu pribadi. Ngga bisa disamaratakan. Selama bisa memilih pasti ada baik buruknya cuma ya sebaiknya telaah dulu sebelum menghakimi orang lain. Jadi dimata adik kelas kamu itu aku less a mother karena aku fulltime gitu? Tapi aku suka masak, gimana dong? Ngga fit in di stereotypenya kan, ibu bekerja suka masak ha..ha..

      • Itulah mba yo…pengen tak komen tapi kok malesss yaaaa…capek no ending story. Aku sih kalo ttg WM dan SAHM ga terlalu masalah..yang aku agak sensi tuh ttg breasfeeding…kok kayaknya pada underestimate yg sufor ya…? Jujur dulu aku minder dan feeling guilty pas ditanyain ‘kok ga nyusuin sih jo?’ Trus skarang2 ini para adik2 kelas itu lagi semangat2nya bikin status ttg bangganya menjadi bfeedmom dan SAHM ishhhb terus aku apa kabarnya yaaa? Udah ga bfeed…kerja full time pulak? Hihihi kalo sensiku lagi kumat..bisa bahaya loh ini..lol *tanduk kluar*

        • Mengenai saling menghakimi, di Belanda ngga lazim melahirkan pake epidural Jo. Harus begging dan menurut medis perlu, baru dapet epidural. Apalagi Caesar, harus ada alasan medisnya juga.

          Jadi ibu-ibu di Belanda yang melahirkan pake epidural atau Caesar dicibir oleh ibi-ibu yang melahirkan normal. Nanti deh aku tulis tentang ini.

          Apa aja dijadiin bahan saingan ya untuk sebagian perempuan.

  8. emang tiada ujung bgt deh mbak klo ngomongin itu, sensi bgt deh..
    aku pribadi aja jadi ada “rasa” ga enak sama adek sendiri yang “milih” ninggalin kerjaan demi keluarga, kesannya aku tuh ga milih keluarga jadinya😦

  9. setuju mba yo.. menurut aku juga pilihan2 kaya gitu gak ada yang lebih bagus atau lebih jelek. tergantung keadaan masing2 aja, kalau memang si ibunya mesti bekerja yaudah toh itu pilihan dia, atau si ibu berhenti kerja dan ngurus anak itu juga pilihan dia. intinya sih semua sama2 baik ya, karena memutuskan suatu pilihan kan pasti ada banyak pertimbangannya jadi gak semestinya di judge sana sini🙂

  10. Masih berkaitan, dari kacamata lain. Aku pernah dituduh ga mau punya anak karena (waktu itu masih niat) sekolah tinggi. Ga tahu dia bahwa komentarnya itu menyakitkan sekali bagiku. Baik yg sekolah/kerja mau punya anak/ga atau yg punya anak mau kerja/ga ya urusan masing2 lah. Ga usah sok tahu latar belakang, nge-judge dan akhirnya nyakiti perasaan kita.

  11. You write it well lah Mbak Yo. Dan aku sukaaaak sekali penutupnya, : Menurut gw apapun pilihan ibu, selama ibu mantap dengan pilihannya dan bisa menjelaskan ke anak.
    Iya, kita cuma berhutang penjelasan ke anak, bukan ke orang orang lain yang meragukan tindakan kita baik kita memilih sebagai sahm atau wm.

    • Makasih Ndang. Kalo ibu ragu-ragu dengan pilihannya, ngga puas bisa keluarnya kesikap keanak. Dan anak bisa rasa itu.

      Aku sih prinsipnya happy mum happy kids, gitu aja.

  12. Memang cape kalo ladenin argument kaya gini ya. Menurut gua juga ini kan pilihan si ibu/ family nya kanra kita ga tau situasi dan kondisi keluarnga yg bersangkutan. Makanya disini new parents boleh ambil parental leaves up till 1 year, boleh si bapak ato si ibu yang mengambil parental leaves, untuk yang adopsi anak juga boleh ngambil and will be guaranteed their job back, dah gitu dapet subsidi dr government pula selama off. Kadang ada company yang subsidi dan si parents bisa dapet 100% salary nya selama parental leave. MEmang disini daycare juga mahal sekali dan ga di subsidi sama pemerintah, tergantung province nya sih, kalo seperti di quebec itu di subsidi dan daycare is very affordable for everyone.
    Banyak juga temen gua disini yang hubby nya jadi Mr. Mom dirumah dan istrinya yang kerja due to some reason, ie. penghasilan istri lebih tinggi dan they decide to have one parent stay home. It is more and more common these days.
    Being a stay home mom juga itu susah sekali, and very under appreciated. There was a study done on how much should a stay at home mom salary be? It was estimated in the $150,000 US per year which is more than the average professional salary here.
    Wah enak kalo di Belanda bisa kerja part time di kantoran juga, that is my ideal job but in my line of work kayanya ga susah😦.
    Di sana Maternity leave berapa lama dan dapet subsidi dari pemerintah ga? Kalo disini setelah come back from mat leave, dan at least sudah balik kerja 14 wks kita boleh ambil another year kalo udah preggo lagi, makanya it is not unusual for someone is preggo, took off for a year came back and preggo again for 2 or 3 times in a row. Karna government support sekali kalo punya more than 1 or 2 children.

    • Disini maternity leave 4 bulan. Bisa diambil 4 sampe 2 minggu sebelum due date. Parental leave juga bisa sampe sianak umur 7 tahun, selama 1 tahun waktunya. Tetep digaji kok. Suami gw waktu G umur 2 tahun parental leave setahun kerja 3 hari seminggu.

      Gw setelah melahirkan kerja 3 hari. G kelas 2 SD gw full time sampe sekarang.

      Di Belanda ibu rumah tangga juga dapet allowance dari pemerintah perbulan € 150 kalo ngga salah ya.

      Dan child support juga ada dari pemerintah. Anak 0 – 10 tahun € 170 dan 10 – 18 tahun € 270 per kwartal.

  13. kenapa sih mesti memaksakan prinsip dan mau nya kita ke orang lain yah?! yang baik untuk kita, belum tentu untuk orang lain, vice versa.
    Suka rempong kayak kebanyakkan energi ya orang2 itu yg asik2 nge judge pilihan orang lain….

    • Iya, paling gemes sama orang yang merasa dirinya paling bener. Mungkin pilihan dan tindakannya itu bener untuk dia tapi ngga cocok untuk orang lain. Ngga bisa dong semua orang harus sama prinsip.

  14. Intinya sih, selama perempuan memilih dengan kata hatinya sendiri, tanpa paksaan (temasuk paksaan suami + anggota keluarga lainnya), maka keputusannya perlu dihormati, dan nggak pantas di-judge.

  15. Mummy Wars hehehe gak ada habisnya ya. Soal working mum vs stay at home mum vs work at home mum…gw udah ngerasain semuanya hahaha. Itu semua pilihan dan kadang pilihan itu bukan luxury, kadang pilihan itu karena emang harus kerja kalo nggak anak gw makan apa ini sebagai single mum alias tidak ada pilihan lain. Sekarang pun gw kerja dari rumah tujuannya selain untuk diri sendiri ya untuk anak juga. Kmaren liat ini di Facebook, keren deh🙂 https://www.facebook.com/GlamOMamas/posts/936708529683492 Buat gw motherhood is not a competition, period! We are all just trying to do what is best for our children and us. Keren mbak topiknya.

    • Ada aja ya Yen yang diributin. Dari ibu bekerja vs ibu rumah tangga, ASI atau susu formula, home schooling atau sekolah reguler sampe cara mendidik anak. Iya memang ada ibu yang harus bekerja untuk keluarganya karena single mum atau untuk bantu finansial keluarga. Gampang ya orang menghakimi orang lain tanpa tahu persis latar belakangnya. Thank you for the link, beautiful initiative. Memang motherhood itu bukan kompetisi because mothers (and fathers) can’t do nothing but their best in their own way and on their own terms.

  16. Dannnn… topik working mom ini sering banget dipake sama orang yang menjalankan ‘business’ MLM. Jelek2in working mom terus, dengan bilang kalau ga pny waktu buat anak. Kalo MLM business bs dari rumah, sambil ngasih ASI bla bla bla. Padahal mah mereka juga sampe jam 11 12 malem masih ngurusin downline hahahaa…

    Kalo soal judgment gitu, saya mah inget cerita Maria Magdalene yang dijudge oleh orang Farisi aja deh. Yang ga pny dosa boleh lempar batu duluan. Ga ada yang brani lempar kan?

    • Betul Le. Dan ada ibu bekerja yang mecibir ke ibu rumah tangga dengan komentar, ngapain sekolah tinggi-tinggi kalo akhirnya cuma ngurus anak? Aku aja sebagai ibu bekerja ngga tega dengernya kok ada ya orang tega ngomong begitu. All mothers and women should unite. Masih banyak gender inequality bukannya saling menghakimi sesama perempuan.

  17. Untuk saat ini saya masih kerja full time malah kadang bagi saya pekerjaan number satu, aku bisa bilang gitu karena saya tidak punya anak, bagi saya semua hebat. Bila suruh minta waktu bisa pekerjan ibu rumah tangga itu 1×24 jam masih kurang, begitu juga dengan ibu pekerja di luar rumah hatinya bakal tersayat sayat kalau dia tetap hrus kerja sedangkan anaK sakit di rumah.
    Jadi apapun yang kita lakukan itu adalah pekerjaan yang luar biasa.

    • Betul Ria. Dan menurut pengalamanku pribadi ini tergantung prioritas ya. Ibu bekerja dan anak sakit, daripada ngga konsen kerja mikirin anaknya, bisa ambil libur untuk jaga anak dirumah.

  18. perdebatan tentang ini gak ada abisnya ya mbak🙂. Padahal setiap orangkan punya kesulitan masing masing. Aku sendiri sampe sekarang belum punya anak, tapi dulu mama ku adalah ibu rumah tangga. Hehehe kalo ada yang bilang enak dong mama nya di rumah terus, aku cuma bisa nyengir secara mama ku tuh dulu sibuknya ngalahin wanita karir kantoran. Ujung2nya aku sama adik ya tetep sama pembantu doang🙂

  19. Emang gak ada abisnya debat mengenai ini. Baru-baru ini juga gw ngobrol sama kolega gw yg org Belanda, mempersoalkan umur berapa si Ibu bisa kembali bekerja..dan ternyata persepsi kita berbeda banget. Kebetulan nyokap gw itu bekerja full time, jadi gw merasa pas maternity leave kelar ya sudah bisa balik lagi kerja..dan ternyata buat kolega gw bilang seharunya nunggu satu hingga dua tahun baru balik kerja karena anak butuh perhatian dari salah satu orang tua terutama si Ibu. Mungkin juga karena selama ini gw melihat pengalaman gw selama ini yg dibesarkan oleh ibu yang doyan kerja dan aktif sana sini, justru melihat Ibu gw aktif, gw malah terinspirasi untuk seperti dia (dan gw baik-baik aja kok, termasuk anak berbakti dan gak merasa kekurangan perhatian menurut gw..hahaha)….tapi di lain sisi karena di Belanda juga susah dapat bantuan seperti ibu-ibu di Indonesia mungkin akhirnya kolega gw berpikir seperti itu.
    Gw pribadi salut banget sama elu Yen! Gw gak bisa kebayang kalau gw di posisi elu..ini gak ada anak aja rumah berantakan tiap harinya😀😀 pulang kerja capeknya luar biasa..

    • Wow, Lama ya 1 sampe 2 tahun? Gimana nanti bisa masuk balik kerja lagi sementara banyak employer yang akan tanya ngapain aja selama itu dan kalo tetep mau bekerja dibidangnya persaingan kan ketat? Makasih Ndah, gw ngga sendiri kok bekerja full time dan punya anak🙂 Buat gw sih bisa kombinasi kerja dan punya anak. Banyak faktor yang ikut menentukan seperti; karakter si ibu, bagaimana perjanjian ibu dan bapak mengurus anak dirumah. Gw sih waktu belum punya anak pun udah rundingan sama suami bahwa gw tetep akan mau kerja. Jadi gw minta dia juga untuk jaga anak. Si Ron ambil parental leave setahun, kerja kurang sehari. Kan G juga anaknya dia, masa hanya gw yang urus. Dan lagi bapak jaman sekarang makin mau terlibat kok Ndah ngurus anak, bukan hanya di Belanda, di Indonesia juga.

      So, kalo ada pasangan dimana bapak meminta ibu tinggal dirumah untuk urus anak, gw ngga menghakimi karena ini pilihan mereka pribadi. Setiap situasi berbeda. Sayangnya ada orang yang lihatnya hanya dipermukaan, dan rame lah debat tiada ujung ini. Bukan hanya di Indonesia, juga di Belanda dan dinegara lain. Makanya gw tulis pos ini🙂

  20. Super setuju mba Yo🙂 Seandainya si ibu2 yg masih suka debat juga rajin2 blogwalking yah.. Kan bisa kebuka pikirannya😀

    • Makasih Py. Hmmm, ibu-ibu yang suka debat tentang ini banyak yang blogger juga loh🙂 Baik ibu rumah tangga, ibu rumah tangga bekerja maupun ibu bekerja.

  21. nasehat mamaku ke kakak: “jangan mau berhenti bekerja klo dah jadi kerja!”
    alasan; mama n papa dah capek nguliahin, suamimu itu perkerja swasta, klo dia kenapa2 kasian anakmu gak ada yg biayain, aktualisasi diri dll
    sama yg plg penting itu kata mamaku, wanita itu harus punya harga diri n pride, jgn mau jadi dirut PT.Tadah
    klo bisa smuanya dikomitmen dr awal sblm menikah dgn suami

  22. saya setuju bahwa bekerja di rumah atau bekerja di luar rumah itu memang pilihan. anak saya dua, yg sulung hampir 10 thn dan si bungsu hampir 3 thn. dua duanya kami titip di day care sejak umur 4 bulanan. di spanyol, maternity leave hanya 16 minggu dan setelah kembali bekerja, bisa keluar kantor 1 jam lbh awal untuk menyusui sampai anak berumur 18 bulan. selain itu, ibu pekerja mendapatkan allowance 100 euro/bulan sampai anak berumur 3 tahun.
    Anehnya, setiap pulang ke indonesia, malah extended family (yg jarang bertemu) yg mengkritik pilihan saya untuk bekerja dan menuduh tidak perduli sama anak. padahal keluarga dekat-orangtua dan kakak, adik, tidak pernah berkomentar…

    • Orang yang menghakimi ngga akan mikir lebih jauh bahwa keputusan bekerja atau jadi ibu rumah tangga itu melewati pertimbangan yang matang.

  23. baru tahu kalau di belanda liburnya bisa per jam, jadi makin mantap kalau menikah nanti ikut tinggal di Belanda saja. Dan setuju sekali semua orang memang punya alasan masing2 dan kita tidak berhak menghakimi karena kita tidak tahu latar belakang keputusan mereka. seperti ibu2 yang sibuk debat ASI vs Sufor

  24. Pingback: Untuk para ibu | Chez Lorraine

  25. Sebetulnya inti persoalannya simpel. Kalau yakin dengan pilihannya tidak perlu dibikin kompleks dan rame. Semakin dibuat rame, seolah-olah jadi spt mencari cara meyakinkan diri bahwa jalan yg ditempuh itu benar. Yg benar-benar yakin biasanya tidak ada waktu untuk mengurus hal-hal spt ini. Krn wktnya sudah kesedot sama fokus ke pilihannya.

    • Sebetulnya inti persoalannya simpel. Tell them Fee. Sayangnya dari behavioural science ini susah diatasi karena faktor yang kompleks. Sama lah seperti issue lain yang untuk kita mungkin sederhana tapi dibumbui dengan beberapa faktor dan timing lokasi, bisa jadi api dalam sekam.

      Sayangnya yang ngga yakin dengan pilihannya banyak and they keep the debate going.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s