English / Thoughts

Where do your clothes come from?

Last year, Swedish brand H&M opened their first store in Jakarta. Unlike H&M shops here in The Netherlands and other European countries, H&M in Jakarta is presented als luxe brand. The shops are located in exclusive malls. The prices are also according to the brand image there, expensive. I find this interesting as H&M offers street fashion with affordable prices. It is marketed as a street wear brand for fashion concious people with a budget here in Europe. Sometimes I see on its label, made in Indonesia, made in Romania or made in Bangladesh.

hm

There is high demand in the fashion world. It seems long time ago when fashion brands introduced their collections according to the seasons (fall/winter or spring/summer). Nowadays, new collection appears each 4 – 6 weeks. The brands pick up trends from haute couture fastly, transforming it to street wear. It is affordable and cheap. However not many buyers knew and were aware that the collections were made in developing countries, under poor circumstances. Untill one factory building near Dhakka, Bangladesh collapsed on 24 April 2013. The accident took circa 1000 lives and injured 2500 people. In that 8 storey building there were workers of garment industry producing clothes for western retailers. Some retailers were well-known brands.

Bangladesh accord
Due to that terrible accident, an official accord called Bangladesh accord was set up. On its website it says: The Accord is an independent agreement designed to make all garment factories in Bangladesh safe workplaces. It includes independent safety inspections at factories and public reporting of the results of these inspections. This accord is legally binding agreement. Once a brand signed it, it must live up to it. These following well-known brands in West – Europe have signed this accord: H&M, Primark, Inditex (Zara, Bershka, Pull and Bear, Massimo Dutti), Mango, Benetton, Puma, Adidas, River Island, Esprit. If you are curious whether your favorite fashion brands have signed this accord, look at The Bangladesh Accord Signatories.

bangladesh accord banner

Last week, the upcoming Irish street wear brand Primark, opened its branche in Arnhem. Primark is busy with expansion in mainland Europe. It offers cheap stuffs, the prices are lower than H&M. Primark signed Bangladesh accord too. But why does it feel wrong to be able to buy fashion items so cheap it makes me wonder how much the cost price is? The irony is western fashion brands make profit from their products made in developing countries. Then the same products are sold in countries where they are made.

This is just my thought. Do not get me wrong, I do not preach that you should not buy clothes made by garment industry in developing countries. I fully understand those who are on the budget and can not afford honest and fair made garments. Some of my Indonesian friends support local fashion brands. I do buy some clothes from those brands (H&M, Zara, Mango, Massimo Dutti, Adidas etc) who signed the Bangladesh accord. There is a but and a question though;  this fire and safety issue in Bangladeshi garment industry is handled with this accord, but how about garment industries for the same brands in other countries?.  That is the reason why I write this post.

Closing this thought I want to ask you something; do you know where your clothes come from?

Sources
Bangladesh accord

56 thoughts on “Where do your clothes come from?

  1. Ada juga brand eropa di jual di eropa tapi di jahit di indonesia, karena perusahaan kawan aku yang bertugas jahid brand tersebut, buar biaya produksinya murah.
    Kalau baju saya mode in lokal aja mbak yo

    • Banyak Ria, Nike dan Adidas juga pabriknya di Tangerang. Biasanya satu merk banyak pabriknya dinegara berkembang, mereka pencar supaya biaya produksi rendah.

  2. I like this posting!
    Iya nih, awareness yang begini perlu banget untuk warga negara Indonesia. Meski belum bisa berbuat banyak untuk kesejahteraan pekerja, paling ngga sebagai konsumen terdidik ngga tutup mata soal kenyataan ini dan bisa memilih barang dengan lebih bijak. Emang effort sih cari-cari infonya, tapi yaah demi berbuat untuk kebaikan lah yah.

    saya sendiri biasanya suka ngejaitin ke org kalo lagi ke Indonesia, milih bahan kain dan iseng desain sendiri.

    nah cuma … jadi kepikiran juga.. kain-kain yg dipake ini diproduksi dengan etis juga gak ya? mungkin mbak yoyen ada info?

    • Makasih Aya. Aku sih penasarannya apakah merk yang tanda tangan Bangladesh accord ini punya pabrik dinegara berkembang lain yang kondisinya juga dipertanyakan?

      Banyak juga ternyata merk menengah keatas yang produksinya di Bangladesh, aku kaget lihat signatories accord ini untuk pertama kalinya.

      Ngga tahu deh material yang dipake etis atau ngga. Nanti cari infonya.

  3. Good food for thought, yen. I guess I really never thought about this. I’ve sort of stopped buying H&M stuff years ago since everyone is wearing the same piece 😂 alias baju sejuta umat.

    • Thanks Eva. Aku & G kalo ke Primark & Ikea suka mikir anak-anak yang kerja dipabriknya😦 Aku masih beli items di H&M walaupun baju sejuta umat, selama masih yang basic dan kombinasi dengan merk lain is ok🙂

  4. To be honest, no.. I don’t really look at the “made in” label when buying clothes. This post made me feel “pinched” (in a good way) hehehe.

  5. Aku gak beli2 di semua brand itu lagi mba Yo,soalnya gak ada di Medan hehe. CUman kalau aku merengek2 belanja2 pas kita keluar, si Matt suka bilang “tiap kamu nangis aku jadi inget anak2 yang ngejait baju itu” tapi yah….gak masuk di kepala aku hehe😦
    Tapi untungnya barang2 aku kebanyakan produk Indonesia sih, mudah2an yang ngerjainnya sejahtera, deh, terutama tukang jait batik & kebaya di deket rumah.

    • Begitulah Non, kalo pikir etika rasanya ngga mau beli lagi tapi setelah aku lihat daftar merk yang tanda tangan perjanjian ini, lah ini merk orang-orang sini rata-rata beli. Gila ya! Aku tulis pos ini juga sebagai informasi bukannya mengajak untuk ngga beli barang dari merk-merk tersebut.

      • Kalau ngeliat kayak gini jadi beruntung disini gak ada toko2nya tapi…..kalau pas masuk tokonya tetep ngiler pengen beli🙂
        susah ya mba, kayaknya mungkin emang kita harus lebih pinter2 deh beli2 barang termasuk bahan makanan yang mengandung sawit

        • Iya, seperti Ikea yang dituduh beberapa NGO pake child labour di pabriknya, tetep aja laku dan banyak yang beli. Aku aja kadang masih shopping disitu. Gimana ya Non, supply & demand gitu sih.

        • soalnya kita butuh mba, walau sebenarnya bisa sih beli yang lain tapi apa iya kalau kita telusuri ampe akar2nya yang lain itu bersih juga hehe. Serba salah ya jadinya.

        • Nah itulah! Misalnya ngga diproduksi dinegara berkembang, produksi di sini, upah pekerja mahal, barangnya jadi mahal juga.

        • sebenarnya yang kerja itu butuh kerjaan juga kan ya mba. Kalau mereka dibayar murah sebenarnya gimana ya, aku bingung juga. Mereka sih bisa milih gak mau kerja dengan upah yang murah tapi gimana kalau mereka butuh kerjaan dan gak ada yang mau bayar mahal huhu. koq jadi mbulet gini ya jadinya😦

        • mbaaa Yo, kamu juga harus inget anak2 yang kerja di tengah laut huhu. koq tiba2 aku jadi inget mereka gara2 mba bales komen itu😦

  6. Saya pernah diajak nonton video yg di buat oleh sebuah NGO asing ttg pabrik yg memproduksi baju untuk sebuah brand terkenal kawan saya bilang “ibaratnya, harga benang yg dipakai untuk ngejahit satu kolor adalah setara dg gaji pekerja”, saya gak beli brand itu harganya selangit tak mampu saya hehehe. Baju saya buatan Indonesia, beberapa dijahit tante Tin (penyandang disabilitas) yang dah jadi langganan sejak lama tapi jahitannya bagus dan rapi banget.

    • Nah itu yang aku bingung waktu H&M buka di Jakarta tahun lalu, marketingnya ekslusif padahal di Eropa H&M itu termasuk merk murah Ru🙂 Masuk Indonesia, jadi mahal.

  7. I recently bought some clothes and accessories from H&M for myself and my baby. Most were made in Bangladesh and one was made in Indonesia.
    Strange that H&M could be a lux brand in Jakarta, ‘coz their materials sometimes are obviously cheap and of low quality.
    Kalo di Jakarta aku suka belanja di pusat grosir aja, ga jebol kartu ATM dan bisa dapat banyak macem.

    • What I see, H&M is marketed as upper middle class brand in Indonesia and that makes me wonder. Of course the items are costly priced because of the currency difference. H&M has its items produced in Turkey, Indonesia, India, Morocco, Romania and Bangladesh. At least these countries are written in the label of H&M stuffs I bought here in The Netherlands.

  8. Di indonesia terlebih jakarta, apa sih yang ga bisa jadi trend mba…semua brand luar yg heits gampang masuk sini dan laris manis.btw H&M ini aku punya yang versi beli di FO hahaha ga rela aku beli baju harga mahal dengan model menurutku biasa aja. Dan aku ga terlalu tertarik sama H&M ini.

    Dan memang kalo mikirin upah para buruh pabrik yg ga sesuai ini bikin miris emang.

    • Kalo di kurs ya seperti harga €, kadang suka lebih mahal € 5 sampe € 10. Lumayan kan Lia beda segitu, sekitar Rp 70.000 – Rp 140.000. Anakku aja di Jakarta ke Zara, Mango & TopShop kaget lihat harganya, dia jadi berhitung. Katanya mahal.

  9. Hmm…tanganku langsung gatel pengen share tentang perindustrian. Hehe… Boleh ya mbak… Etika industri di negara berkembang memang masih cuma teori aja mbak… Jangankan brand luar, lha wong brand dalam negri (asli anak negri) aja masih tega kok. Tau gak brand batik paling terkenal dari Indonesia yang dari Solo itu masih subkon kain batik tulis dari pengrajin batik di Sragen dengan bayaran Rp 2.000,-/lembar (1×1,5m)? This is a sad fact. Saya dan suami (waktu itu masih pacar) yang saksikan ketika belajar bisnis batik tahun 2012. Pabrik tekstil & garment terbesar di Southeast Asia ada di Sukoharjo. Pabrik ini semakin terkenal karna nerima order seragam militer dari puluhan negara. Buruhnya digaji Rp 1.150.000,- (sesuai UMR Sukoharjo tahun 2014). Syukur kalo ada bayaran tambahan untuk overtime. Monthly income buruh tekstil & garment setara dengan 2-3 pcs pakaian yang mereka produksi. Miris ya..? Salah satu sport bra brand terkenal diproduksi di Semarang. Buruhnya dibayar Rp 1,4-1,6 juta/bln. Setara dengan 4-5 pcs branded sport bra yang mereka produksi. #sigh.
    Kementrian perindustrian negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih memikirkan pertumbuhan industri (baca: jumlah investor) daripada kesejahteraan dan dampak industri yang tidak etis. Pengusaha bisnis tekstil dan garment kebanyakan milih negara berkembang sebagai lokasi produksi karna biaya SDM murah, pajak rendah, gak ribet ngurus limbah (terutama limbah hasil proses pewarnaan tekstil), dan masih bisa mengelak dari kewajiban membayar asuransi kesehatan dan keselamatan pekerja. Masih banyak lho pabrik (PMA maupun lokal) yang gak ngasi asuransi kesehatan & keselamatan kerja bagi karyawannya. Misalnya pabrik furnitur tempat aku pertama kali bekerja di Semarang. Gak ada asuransi sama sekali (sekarang sudah ada BPJS sih. Thanks God). Padahal material produknya yang mudah terbakar: kayu. Seandainya waktu itu pabrik kebakaran & saya ikut terbakar (amit-amit yaa…), keluarga saya gak akan dapat ganti rugi sama sekali.
    Semoga pemerintahan yang baru di negara kami yang sedang berkembang ini ngasi perhatian lebih untuk etika perindustrian.🙂

    • Ini namanya dilema ya? Pernah jg liat di tv hasil industri yg dijual di satu outlet besar di LN (yg ada filmnya bintang favorit saya), mreka jual dg harga mahhal tp beli ke pengrajinnya brapa ya ?murah kah? Smoga gajinya layak. Nambah info ini sabrinamathilde, trimakasih

    • Tentu boleh Sabrina, malah aku terima kasih kamu meluangkan waktu tulis komen dengan insight information yang lengkap ini. Betul kamu bilang ‘gak ribet ngurus limbah (terutama limbah hasil proses pewarnaan tekstil), dan masih bisa mengelak dari kewajiban membayar asuransi kesehatan dan keselamatan pekerja’ Ironisnya kalo ada pencemaran lingkungan negara asal merk ini ikut menuding pemerintah negara lokasi industri garmentnya.

      Ya ampun, itu tega banget sih pembatik untuk batik tulis dibayarnya Rp 2.000 per lembar? OMG, padahal itu kan bisa beberapa jam kerjanya. Mengenai harga jual setelah barangnya jadi, aku ngerti lah alasannya: tutupi ongkos marketing, transport dan distribusi dll tapi mbok ya menjamin asuransi dan keselamatan pekerja. Mudah-mudahan kondisi membaik ya Sabrina. Sekali lagi terima kasih informasinya.

  10. Di cikupa dan daerah tangerang banyak tuh pabrik merk2 mahal. Misal adidas, nike, reebok. Selain h&m, zara yg harganya selangiit itu sering banget juga jadi andalan mba. Dan iya klo ga salah ingat ada produk zara buatan bangladesh.

    • Iya, Tangerang banyak pabriknya ya. Suaminya pembantuku dulu kerja di pabrik Nike Ji. Kadang dia suka beli produk reject yang jahitannya ngga bener.

      • Iya anehnya disini tuh malah jadi brand kelas atas. Heheh mungkin kalo saingan sama dept store lokal kayak matahari juga susah kali ya mbak soalnya cost mereka masuk Indo aja udah gede🙂

  11. Lor, kalau aku memang ngelihat baju made in mana, tapi gak bikin aku decide untuk beli atau ngga. Cuma sekedar lihat saja.

    Soal garment industry ini kayak buah simalakama. When we think about it, it’s true that their working condition and the salary that they received was far below ‘acceptable’ for the brand that they carried. However, they are still lucky that they actually have jobs! Their country is very poor and having a job itself is already considered having a fortune. Though cheap labor might sound evil, the garment industry could be the economic driver in that city/ country.

    Sedih ya.

    • Betul seperti makan buah simalakama, para pekerja itu bersyukur masih ada kerjaan dan penghasilan tapi merk itu sebaiknya memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerja. Memang gaji para pekerja di pabrik itu sesuai menurut standar hidup lokal dan dibandingkan dengan harga barang yang mereka buat itu bisa 4 – 5 item. Sad but that is running a commercial business, making profit at all cost.

  12. Kemaren gw dapat kaos di Penneys (Primark) , pas bayar taunya harganya anjlok dari 5 € jd cuma 1€. Gue jd wondering gimana caranya, buat beli bahan aja nggak cukup. Mungkin karena last piece ya? Btw, di beberapa sudut tokonya ada link untuk yang pengen tau kondisi pekerja mereka. Gw ga pernah cek, will start do it.

    Kalau dress, sebagian besar dijahit nyokap mbak. Gw biasanya beli batik pas pameran, atau beli kain di Mayestik. Dan gw bayar secara profesional. Punggung gw tegak banget , jadi kalau bikin baju mesti special, biar area punggung ga ada punuknya.

    Orang Indonesia sebenernya ga demen2 amat barang murah, makanya semua barang jadi re-branding, berubah kasta jadi luxurious. Kalau tahu Zara dan H&M barang murah, harga diri bisa runtuh mereka.

    Again, this is a good article Mbak. Terimakasih atas pencerahannya.

    • Nah itu Tje, anakku si G aja suka bilang “Ini murah banget, dapet untung berapa Primark?” € 1,- cuma dapet 1 hamburger di McD disini. Orang Indonesia pada umumnya memang masih keblinger sama barang dari luar negri padahal produk Indonesia ngga kalah loh sekarang. Banyak yang bagus dan harganya bervariasi dari yang murah sampe mahal.

      Sama-sama Tje, tulis artikel ini sekedar informasi.

  13. Mbak Yoyen, aku jadi inget berita ini tapi lupa dibahas dimana:
    Ada satu pabrik di negara berkrmbang yang ilegal, tidak punya surat2 izin pendirian pabrik. Buruh yang direkrut adalah masyarakat di daerah tersebut, tidak terkecuali anak sekolah yang mengambil kerjaan part-time (ada juga yang full time, shift kerja sore) untuk menambah biaya sekolah mereka.
    Suatu hari datanglah inspeksi yang dilakukan kepolisian karena sering mendengar berita tsb dari warga sekitar. Tau apa yang dilakukan pemilik pabrik? Menutup rapat pabrik tsb dan langsung membakarnya agar jejaknya tak ketahuan, sementara masih banyak pekerja di dalamnya yang bekerja utk dia. Dibakarnya pekerja tsb jg agar tidak ada seorangpun yang menjelaskan situasi dan kondisi pabrik selama mereka bekerja disana.

    Miris😦

  14. Great text Lorraine, you made a very interesting point! The other day this Primark also opened a store here in Germany and it was all over the new that they sell thing really cheap and most of its stuff is produced under poor conditions… very interesting that they signed this accord with Bangladesh, this also makes me think like you, what about other countries?! I hope this idea can work on other countries too.

    • Thank you Allane. Yes, I have been to Primark in Essen, Koln and Dusseldorf. All three branches were packed with people looking for bargain. I hope those signing brands do what they ought to do. I hope I am not being naive if I say it is not impossible to produce items with cheap labor in developing countries and paying regard to health and safety issues.

  15. Hard issue yang susah juga untuk diterapin dalam keseharian, whether it against the principle or not. Sebenernya yg ngehek ini negara2 yang punya pabrik dan tenaga kerja juga sih imo, kl liat di discovery betapa gak berharganya para pekerja itu, ditempatkan di ruangan kerja kecil tanpa alat pendingin, lupain aja yg namanya asuransi, udah ga beda sama sapi lah. Kalau baju di H&M bisa dijual dgn harga €5 saat sale, di India kita jg bisa makan kenyang dengan harga €0.20 bahkan pake kembalian, sebagai ratio nya aja sih🙂
    semoga aku ga ikutan dosa karena beli produk2 mereka, iPhone buat ngetik ini aja pake tenaga kerja anak bawah usia di Cina saat dibuat hiksss

    • Semua pihak yang terlibat ada andilnya Feb. Seperti Leony komen, ini hal buah simalakama. Dalih para merk itu; konsumen demand barang dengan harga terjangkau jadi kami harus memproduksi dinegara dengan ongkos rendah. Yang gw pikirin, sejauh mana merk yang tanda tangan perjanjian ini menerapkan peraturannya ya.

  16. Good point, Lorraine! Back in mid 2000 I used to work for a Nike sub contractor factory in the compliance area. And it was such an overwhelming, energy consuming, and demanding job I’ve ever had, making sure the factory operation and management in compliance with the buyer (Nike) code of conduct, the government regulation, and the company policy. And it was never easy😬 When I joined this factory/company, Nike had been in the spotlight back home in the US for the “sweatshops” issue which was similar to the case brought up in this post, and the factory where I worked was one of the “observation objects” that was considered being non compliant for too long.. So.., yeah the tension and pressure were there all the time because Nike was under scrutiny for being unethical.., and my workplace was also scrutinized by Nike for being non compliant.. If you have time, please google Jim Keady or Nike sweatshops.. You’ll have a better idea of I wrote here..

    • Thank you for this concise information. I have heard about Nike sweatshop but wil surely Google Jim Keady.

      You experienced this first hand ya kalo gitu.

      • Definitely yes first hand, then mixed with corporate politic, intrigue, bureaucracy, some corrupt people, puppet union that turned into the real one.., I can go on and on… And all of them was the best recipe to make me super skinny😝for being so focused and stressful at the same time.. However, I feel so blessed too because I learned a lot from my seven year working there.. It is one of the impressive encounters that shaped me into what I am now..

        • Sorry ikut nimbrung ya karna Nike related, a few years ago I got a job offer to work for Nike dan mo di tugaskan di JKT pula. Tapi karna dapet some insight dan other personal reasons, I turned down the offer. First it is because someone in my family know someone who own a factory that was sub-contracted by Nike and the words were they’re doing their business not in a prude way and recently just got a word kalo that person (that owns the factory) was arrested because doing other corruption. It shows that the owner has no ethic in doing their work (apalagi how they treat their employees). Itu juga menunjukan how much Nike care in who they reward their contracts to (meaning: Do not care at all).
          Like you also said Yen, it is driven by demand and it applies to other industries like IKEA even Apple. Many of the Iphone parts are coming from mines in Africa which has many child labors, oh well, the list will go on and on😦
          But to tell you the truth, I do love Zara’s clothing though. THanks to you I will definitely look at where are they made from now on.
          Good writing!!

        • To gaareaI (sorry, I don’t know your name): I think I know this family you’re talking about.. And yeah they’re full of stories, don’t know how much of these are true or false.. I used to work in 2 different Nike sub contracted factories, the first one is mostly owned by foreign investor.., the second one is owned by this family.. Had you taken the offer, we probably have met😄

        • Thank you sharing the story. Yeah, me too. Like Febi (@jalan2liburan) wrote, we all wear/purchase stuffs which are made with cheap labor. I’d say it is inevitable as those brands are big in where we live. This is a though one, speaking about ethics in a material, commercial world.

  17. Namanya Garile, Em! Iya kalo jd di ambil pasti kita bs kenal ya. Dunia emang sempit ya 😊

  18. After reading this, i hope i’m not feeling guilty by buying those brands ya mbaaak, aku juga nggak pengen mereka menderita dari kebahagiaan kita beli barang2 itu😦

    • Itu juga dilemmaku Shin. Udah tahu tentang sweat shop dan child labour ini udah lama juga, disini pemberitaannya lumayan gencar. Tapi tetep beli baju dimerk yang aku sebut diatas dan belanja pernak pernik rumah di Ikea. Ikea juga parah tuh dituduh child labour.

      Sekarang aku dan si G kalo lihat baju atau item tertentu yang harganya terlalu murah menurut standar sini, kita biasanya mikir ini layak beli ngga ya, kualitasnya gimana dsb…dsb…Seengganya buat kita mikir gitu.

  19. Pingback: Media coverage October 2014 -

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s