Bahasa Indonesia / Indonesia / Thoughts / Women

Guest post: Ideologi kecantikan

Guest post perdana Chez Lorraine adalah note di Facebook karya temen SMA gw, Ranti Putriani. Bulan lalu Ranti meraih gelar master untuk studinya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya jurusan Filsafat Universitas Indonesia. Thesisnya berjudul “Takdir sebagai tameng: konsep kebebasan versus keterbatasan manusia”. Pandangan Ranti sesuai dengan quote filsuf feminis Perancis, Simone de Beauvoir di bukunya The Second Sex “One was not born a woman, one becomes one”. Sebagai feminis yang menikah, gw ingin berbagi tulisan menarik ini untuk pembaca Chez Lorraine. Voilà! Untuk yang tertarik baca naskah aslinya, bisa ditengok di Facebook note Ranti.

Photoshop

Tubuh perempuan tumbuh bersama mitos. Sosok ibu bagi perempuan adalah orientasi mutlak keperempuanan, dan lembaga perkawinan menjadi sebuah institusi yang melegitimasi seksualitas perempuan. Dan mitos tersebut direkayasa oleh pengulangan cerita dan mekanisme sosialisasi terus menerus sejak dunia ini ada, bahwa tubuh perempuan adalah alat reproduksi. Di sisi lain, setiap perempuan akan selalu gelisah tentang bentuk tubuhnya. Perut yang melendung karena kehamilan, lemak disana sini sebagai persiapan cadangan energi dan penopang tulang perempuan yang rapuh, keriput, dst…. kekhawatiran perempuan karena takut akan menjadi tidak menarik secara seksual, sebenarnya menunjukkan bahwa perempuan tidak mempunyai hak atas tubuhnya sendiri. Relasi kuasa, patriarki, agama, negara, dan pasar, memiliki modus yang mirip dalam mengkonstruksi tubuh perempuan. Bahkan sebegitu tidak netralnya tubuh perempuan, hingga untuk mendefinisikan kecantikan pun harus mengadopsi gagasan cantik dari perspektif laki-laki. Dunia ideal yang diciptakan oleh laki-laki: kekaisaran maskulin.

Ideologi kecantikan ikut andil dalam mengklasifikasikan bentuk dan rupa perempuan, yang secara eksplisit dan deskriptif terpapar dalam bentuk pornografi dan sadomasokisme bahasa. Seksualitas perempuan menjadi tertekan, hal-hal yang bersinggungan dengan kepuasaan dan kenikmatan dianggap sebagai tabu – yang menjadikan perempuan menjadi sosok yang bersalah, bermasalah, dan dipinggirkan. Pertanyaan sesungguhnya adalah: Apakah yang membedakan antara perempuan dan laki-laki? Jika perempuan diartikan sebagai keadaan tanpa penis, maka tidak ada tempat bagi selain laki-laki di atas bumi ini. Sejauh perempuan tidak mau keluar dari kungkungan mitos tentang arti kecantikan, segan untuk mempunyai sikap dan nilai atas tubuhnya sendiri, tidak sadar akan hak untuk menentukan pilihan atas suka dan setuju, berilmu dalam melakukan politik pemaknaan atas sesuatu – maka akan selamanya perempuan menjadi manusia tanpa kebebasan ekspresi dalam melihat potensi dirinya sendiri.

Perempuan adalah tubuh, pikiran, dan perasaan dengan hak otonom penuh dalam menentukan nilai dan batas gendernya. Bagaimanapun, fitrah masing-masing kelamin sudah tentu tidak dapat dinegasikan karena alam akan selalu memberikan dua muka seperti sebuah uang koin. Konstruksi sosial dan kultural yang diinvestasikan pada tubuh perempuan, terlihat seolah-olah sebagai gagasan tubuh biologis yang subjektifitasnya sangat tinggi karena pembiaran terhadap polling definisi kecantikan oleh laki-laki. Tubuh perempuan adalah bagian dari kemanusiaannya, sama alamiahnya seperti sebagaimana rasio seharusnya mengambil tempat yang lebih banyak dalam proses kerja otak laki-laki. Tidak ada yang menjadikannya lebih atau kurang hanya karena imajinasi dan fantasi dari lawan jenis.

Dan pendidikan persepsi pertama kali dibangun dari keluarga – konsep tentang baik vs buruk, salah vs benar, malaikat vs monster. Peran orangtua dalam menyebarkan gagasan tentang feminitas dan maskulinitas sangat penting karena anak adalah pengimitasi sejati. Titik pengakuan yang diterima secara luas tanpa kecuali yang memberikan kesempatan kepada setiap individu – SETIAP INDIVIDU – untuk berbeda adalah ikon peradaban, dimana manusia menjadi manusia. Penegasan perempuan atas kepemilikan tubuh dan hasratnya adalah kunci untuk menghindar dari jebakan gagasan ideal yang dibentuk oleh konteks diluar dirinya sendiri. Perempuan harus selalu siap untuk beroposisi terhadap penilaian yang memarjinalkan kebanggaan atas kepemilikan tubuhnya sendiri.

Sesungguhnya, kebahagiaan itu terberi dan tidak dapat dialihtempatkan.
Dan bukan, saya bukan seorang feminis.

~ RP, 12 Desember 2013

Foto diatas diambil dari Elite Daily. Artikel di Elite Daily bercerita tentang seorang journalist yang mengirim fotonya ke 25 negara untuk diphotoshop menurut standar kecantikan dinegara itu. 

14 thoughts on “Guest post: Ideologi kecantikan

  1. Coba setiap lelaki berpikiran demikian pasti ngak akan ada tu klinik kecantikan dan salon, Karena mau cantik di indo itu mahal sainganya gambaran bidadari…

    Kalau tubuh perempuan adalah alat reproduksi aku pikir tidak semua wanita bisa

  2. great article🙂 setuju banget bahwa kecantikan itu relatif, dan perempuan diciptakan ga hanya untuk bereproduksi🙂
    mba, aku boleh tanya ttg feminis seperti apa ga? soalnya sering denger kata ini, barangkali aja aku termasuk dalam sosok feminis🙂

    • Thanks Clarissa. Credits go to Ranti. Feminis itu gerakan untuk memperjuangkan hak perempuan di bilang sosial, politik, ekonomi dll. Feminisme sayangnya sering diartikan sebagai ‘Wanita ingin menjadi pria’. Padahal menurut aku sih bukan. Feminisme itu gerakan memperjuangkan hak perempuan. Aku seorang feminis, feminis yang menikah.

  3. cantik itu relatif,,,
    tapi banyak yang mengkotakkan wanita cantik harus putih, langsing, serta berambut panjang. mangkanya jadi banyak pusat kecantikan dan tempat operasi plastik ><

    • Itu menurut standard kecantikan kaukasia yang dominan didunia. Padahal banyak di budaya tertentu yang standar kecantikan lain dari ‘Putih, langsing dan berambut panjang’. Ini menarik dilihat dari sudut antropologi Ira.

  4. Kalau alasan saya memilih memiliki tubuh yg tak memiliki lemak menggelambir di mana-mana adalah demi kesehatan mbak. Bukan karena takut tidak menarik secara seksual. Hidup nggak nyaman membawa beban lemak ke mana-mana. Menurutku dangkal sekali jika kita hanya melihat kecantikan dari luar… tapi, yah, kita masih tinggal di dunia yg masih melihat seseorang hanya dari tampilan luarnya.

    • Betul Messa. Aku juga sama seperti kamu, berolah raga supaya fit bukan untuk menarik secara seksual. Aku rasa Ranti menulis statemen ini ya menurut mayoritas orang yang melihat wanita sebagai obyek. Sayang ya.

  5. Kenapa ujungnya pake ‘bukan, saya bukan feminis.’ :)? Preseden feminis di negara yang kental patriarki dan komunalitas jadi seperti senjata makan tuan. Saya jadi suka sedih sendiri kalau ketemu temen perempuan (maupun laki-laki) belum apa-apa udah enggan punya pandangan ‘feminis’.

    Kata ‘kecantikan’ ini sepertinya agak bias ya. Pengertiannya itu ‘pretty’ atau ‘beauty’? Menurut saya ada level pengertian yang berbeda disini. Kalau mau dipikir lebih jauh juga prettiness dan beauty juga bukan sesuatu yang tak lekang waktu ya. Tiap dekadenya keindahan juga berubah-ubah. Tambah kerutan misalnya. Atau bekas luka akibat jatuh dari kuda misalnya. (I wear my scar proudly :P) dst dst. Kadang suka gemes pengen supaya orang-orang sejak masih kecil belajar dan berpikir tentang keindahan.

    Berdasarkan pengalaman pribadi saya mengalami perkembangan pemikiran tentang saya yang seorang perempuan. Keluar dari standar dikit aja pasti diomongin ini itu. Tapi emang dasar rebel dan ortu membesarkan dengan lumayan liberal (beruntungnya saya!) lumayan berhasil bebas dari kungkungan standar. Tapi meski demikian pembelajaran masih terus, karena seringkali ‘society’ suka kejam ga kira-kira (dari mulai yang dagang, yang bikin iklan, yang super misoginistik, yang status quo termasuk juga yang gak peduli).
    Perasaan insecure yang datang dan pergi tiap kali harus dilalui.

    Buat saya jadi manusia itu (perempuan dan laki-laki) adalah PR yang gak habis-habis dan masing-masing punya hak dan kewajiban untuk berkembang (artinya toleran dengan kegagalan/kekurangan, hehe).

    • Kenapa ujungnya pake ‘bukan, saya bukan feminis.’ :)? Ini bisa kita tanya ke Ranti sendiri. Kalau saya sih mengaku saya feminis yang menikah.

      Mengenai nuansa kata kecantikan ini, tergantung yang melihat ya. Beauty is in the eye of the beholder. Dan standar kecantikan bukan hanya berubah menurut waktu tapi berbeda berdasarkan kultur. Standar kecantikan yang orang Indonesia anut menurut standar kecantikan Kaukasia (langsing, rambut panjang dan putih) padahal banyak bedanya dengan standar kecantikan untuk ras lain.

      Yang saya setuju dengan Ranti dan sangat saya sayangkan ya ideologi kecantikan yang dijejalkan kepada wanita ditulisan diatas ini juga dipelihara oleh wanita, bukan hanya laki-laki. Kadang bisa menimbulkan kompleks dan memupuk ide wanita dipandang sebagai obyek bukan manusia. Dalem diskusi ini dan terbatas untuk menjelaskan ide saya secara tertulis. Diskusi seperti ini enaknya langsung, bertatapan muka supaya lebih hidup dan ada interaksi verbal dan non verbal.

      Thank you for coming by & I appreciate your contribution to this dialogue. Are you @marthawsoe? Sorry if I’m wrong.

      • Yes, I am @marthawsoe😀. Iya kalau ngobrol ini bisa panjaang deh.

        Standar menurut kultur juga dimensinya banyak dan semakin banyak tahu rasanya semakin meriah lihat manusia berbagai bentuk, paras dan rupa. Mudah buat banyak orang menyalahkan, katakanlah media massa misalnya yang membuat seolah-olah kita perlu beraspirasi untuk menjadi seperti model atau tokoh publik tertentu misalnya. Argumen saya, ya jangan mau dibodohin media massa dong😛. Terusannya ini sebenernya pengen saya sambungin ke thinking skills tapi I’ll save it for another day.

        Ah jadi pengen nulis soal ini jadinya. Iya, kapan-kapan mungkin bisa ketemu dan ngobrol. Aku tinggal di Maurik (Gelderland-Zuid) beberapa minggu lalu sempat ke Arhnem untuk ke Museum Bronbeek ketemuan sama kuratornya dan ngobrol soal KNIL. Market Garden yang diceritain barusan ini seperti seru sekaliii.. sayang telat banget ini taunya.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s