about me / Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Indonesia / Thoughts

Issue SARA

Nisa yang baru pindah ke San Fransisco, USA punya pengalaman ngga enak tentang diskriminasi. Posnya Nisa tentang perlakuan SARA (Suku Agama Ras Antar golongan) ke anaknya yang lagi main ditaman, menginspirasi gw untuk nulis pos ini. Pos ini panjang ya, jadi siap-siap aja scroll down.

Tinggal di Belanda sejak 1995 udah beberapa kali gw mengalami perlakuan meyangkut issue SARA. Gw lebih sreg pake istilah SARA dari pada diskriminasi atau rasis. Alasannya karena SARA mencakup semua. Gw tulis beberapa pengalaman gw dibawah ini sekalian gw sebut tempatnya supaya orang tahu.

Di restoran
Kejadian ini udah lama, sekitar 2010 di Boudoir cafe/resto di Rotterdam. Sekarang tempatnya udah tutup. Waktu itu hari Sabtu siang, gw dan 5 temen orang Indonesia mau ngopi disitu sambil ngemil dan foto-foto karena interiornya bagus.

Masuk ke Boudoir kita disapa ramah oleh yang jaga meja depan. Waktu itu masih banyak meja kosong tapi kok kita digiring ke meja dibelakang, deket WC. Ok lah. Ngga lama, kita pesen minuman, setelah mengacungkan tangan berkali-kali. Waiternya hanya sibuk ngeladenin grup londo (3 orang) yang duduk didepan.

Nah pesenan dicatet, setelah itu lama nunggunya (padahal cuma 3 gelas wine & 2 orange juice plus chips), gw mulai motret – motret. Ngga lama gw ditegur dengan cara tidak menyenangkan sama managernya (perempuan). Ngga boleh motret didalem. Dengan santainya gw nunjuk ke grup 3 orang itu yang juga motret. “Kok mereka ngga anda tegur?”. Dia tetep ngotot “Pokoknya ngga boleh motret aja”. Gw “Sayang ya saya dilarang motret. Tadinya saya mau tulis bagusnya interior Boudoir di review sites. Sekarang review saya akan tentang SARA dan anda akan saya jabarkan disitu”. Dia kelihatannya kaget. Terus pergi kedepan. Temen-temen gw udah bete juga, kita langsung bayar. Review gw tulis di review sites londo, sayangnya sekarang udah dihapus karena restonya tutup.

Di gelateria
Gw tinggal di desa kecil yang jarang pendatang. Nah di alun-alun desa, ada gelateria (toko es Itali). Yang punya juga kerja disitu, ibu-ibu umur hampir 60. Ini toko es yang esnya jual dibak dietalase. Pembeli tunjuk rasa yang dia mau, si ibu akan ambil es dengan sendok scoop untuk dihorn atau kotak. Sering gw beli es disitu. Si ibu ini selalu menyapa pembeli dengan ramah, pembeli londo. Kadang dia sering chit chat dengan pembeli londo. Kalo gw dan pembeli yang jelas keliatan imigran bukan berkulit putih, si ibu itu ngga menyapa ramah apalagi senyum. Hanya tanya mau beli es rasa apa. Gw pernah celetukin loh “Ibu, yang kulit berwarna ini klien ibu juga ya. Ramah sedikit kenapa. Sayang hanya satu gelateria disini, kalo ada yang lain saya akan berhenti beli es disini”. Dia kaget denger gw ngomong gitu dan ngga bales celetukan gw. Abis itu gw ngga pernah kesana lagi. Nama gelaterianya La Differenza di Huissen.

Di club
Korenmarkt, Arnhem tahun 1998. Gw & suami plus temen-temen (6 orang Indo, bukan Indonesia ya tapi Indo Belanda) mau masuk ke club ini, ngga boleh tanpa alasan yang jelas. Bouncernya hanya bilang udah full cuma dengan santainya boleh londo putih dibelakang kita masuk. Dan catet ya kita dandanan rapi, jadi bullshit kalo kita ngga boleh masuk kedalem
pake alesan ngga memenuhi dresscode atau club udah penuh.

Di online community
Di Facebook page dan Twitter accountnya majalah kuliner, Delicious NL. Diwebsite & majalah (gw langganan) redaksi promo gencar mau buat online community sejak 3 tahun lalu. Gw share dan tanya beberapa kali di online canal mereka, ngga dijawab.

Setelah itu gw riset dulu, apa hanya sumbangan gw yang dicuekin. Ternyata kalo profile pic orang pendatang kulit berwarna, ngga pernah direply. Gw tulis di wall FB mereka bahwa gw kecewa kok promo mau bangun online community tapi ngga reply kesemua masukan. Gimana ini kinerja community managernya. Jawaban mereka, maaf banyak account yang diurus, jadi sumbangan anda terlewat. Gw bales, saya udah 3 kali share foto di FB & 4 kali tanya lewat Twitter, ngga ada balesan. Mungkin memang hanya yang bertanggung jawab di community canals Delicious NL yang SARA, tetep aja gw jadi gedeg. Sampe gw berhenti langganan majalahnya kok.

Anak kecil pelaku SARA
Di jalan tempat tinggal gw hanya ada 4 keluarga pendatang. Banyak anak kecil yang tinggal disini. Pernah gw pulang kantor naik sepeda. Depan rumah gw ada anak-anak main. Lihat gw lewat mereka teriak “Ni hao, cang cing cong”. Gw turun dari sepeda, jongkok (mereka masih balita, anak kecil) dan bilang “Ni hao itu bahasa Cina. Saya orang Indonesia, bahasanya lain. Cang cing cong itu juga bukan kata bahasa Cina. Kalo mau tegur saya bilang aja apa kabar. Atau tegur saya dalam bahasa Belanda, saya ngerti kok”.

Mata mereka mbelalak’an, ngga nyangka gw akan bereaksi seperti itu. Gw ngerti lah mereka ngga tahu bedanya orang Asia. Gw sengaja berlaku gitu supaya mereka lain kali ngga ngoceh asal begitu lagi. Kebayang sih kenapa mereka begini karena mungkin mereka ngga kenal orang selain orang kulit putih. Mendingan gw kasih tahu daripada marah-marah ke mereka dan mereka ngga ngerti kenapa gw marah, ya kan? Mendidik dimulai dari usia dini.

Dijawab dengan humor
Ada juga pengalaman gw tentang SARA yang gw atasi dengan humor. Ada relasi bisnis gw yang hubungannya hanya lewat e-mail. Suatu hari kita ada meeting, dia dateng kekantor gw. Gw jemput dia diresepsi, reaksi spontan dia “Oh, anda kulitnya gelap ya”, jawaban gw “Bagus dong mata anda bisa lihat saya berkulit gelap”. Resepsionis gw keselek sampe harus minum denger jawaban gw😉. Si relasi bisnis gw setelah itu jelasin reaksinya: dia pikir gw latina atau Itali dari nama gw, ok fine. Bisa ngerti ini. Gw bilang no problem, business as usual.

Ngga ditanggapi
Kantor gw banyak lokasinya dan semua pegawai bisa kerja dilokasi manapun menurut sistem flex working. Sehubungan dengan kerjaan gw online communication strategist & corporate branding gw sering kerja dilokasi. Ini penting supaya gw menjaga ada feel ke pegawai dari segala level untuk bisa gw terapkan ke corporate branding.

Ini kejadian hari Jumat bulan Februari lalu gw kerja di lokasi lain, bukan desk tetep gw dikantor pusat. Jam 5 sore gw lagi nulis advis yang musti konsen abis. Ada cewe bule masuk kamar kerja gw dan menyapa “Hei, orang baru ya, kerja diadministrasi?”. Gw hanya senyum dan melambaikan tangan karena pingin cepet selesai tulis advis gw itu. Karena gw kenal diri sendiri, kalo gw ladenin pasti akan lama. Dalam seperdetik gw denger implikasi cewe itu dengan dia menyapa gw seperti itu artinya dia lihat gw sebagai perempuan Asia paling banter kerjaannya hanya diadministrasi. Mungkin menurut kalian interpretasi gw itu berlebihan. Menurut gw pertanyaan cewe ini menggambarkan pikiran dia keorang asing gimana.

2 minggu kemudian ada event besar di kantor gw. Karena menyangkut corporate branding gw yang jadi MCnya. Semua pegawai dateng, termasuk itu cewe. Setelah acara resmi selesai, dia dateng kegw dan minta maaf. Gw bilang “Kan yang menyimpulkan gw kerjanya di administrasi anda sendiri. I was not bothered”. Terus dia ngga enak tapi gw bilang gw menghargai dia dateng ke gw dan minta maaf. No hard feeling buat gw. Gw sebagai pendatang udah biasa kerja lebih keras untuk membuktikan bahwa gw itu bisa dan ada sumbangan ke perusahaan. O ya, alasan lainnya cewe itu ngga nyangka gw advisor karena dia pikir gw masih muda😉

Disclaimer
Ini perlu ya untuk meluruskan apa yang ada dikepala kalian sekarang. Tentu ngga semua orang Belanda asli yang berkulit putih itu pelaku SARA. Pengalaman gw itu hanya sekian persen dari banyaknya kontak gw dengan orang Belanda sehari-hari. Kalo banyak orang sini SARA, ngga mungkin lah gw betah tinggal disini.

PS orang berlaku SARA ada dimana-mana. Gw beberapa kali juga ada pengalaman ngga enak di Bali. Ini untuk cerita dipos lain ya.

20140608-171319-61999659.jpg

Tips
Nah kembali ke ceritanya si Nisa. Gw komen diposnya bahwa orang yang berlaku SARA itu punya issue sendiri. Memang pertama kali mengalami hal ini kita akan bingung, ngga percaya dan bertanya-tanya apa salah kita ke orang itu.

Makanya sebelum gw memutuskan apakah perlakuan orang ke gw itu SARA, gw observasi dulu. Orang itu perlakuannya sama ngga ke orang asing lainnya. Kalo iya, gw akan bilang bahwa gw ngga terima diperlakukan seperti itu. Biasanya si pelaku ngga akan menyangka bahwa si korban SARA berani menegur mereka.

Salah satu pengamatan gw juga pelaku SARA itu merasa lebih superior dari korbannya. Kadang terdapat situasi berlaku SARA dalam grup tapi kalo sendiri ngga. Berani berlaku SARA karena merasa kuat selagi bersama dengan grup. Prejudgement (menilai orang tanpa bukti) adalah awal tindakan SARA. Dan prejudgement itu terjadi karena ngga tahu, berpandangan sempit bahkan kurang percaya diri.

Tip gw untuk yang menjadi korban issue SARA adalah tegur si pelaku dengan kalem dan sopan. Ngga perlu mencaci maki. Setelah selesai, langsung loe tinggal. Ngga ada gunanya debat/diskusi dengan orang berpikiran sempit seperti mereka. Lagipula apapun tindakan kita, mereka akan selalu punya pembenaran atas kelakuan SARAnya kekita.

Untuk Nisa dan pembaca yang pernah mengalami perlakuan SARA; remember it is THEIR ignorance and loss. They choose that attitude which affects you. while there is nothing wrong with you. In the end it is about them not you.

Comment is free.

61 thoughts on “Issue SARA

  1. Iya betul mba, sara itu terjadi dimana2. Bahkan menurut suamiku, dia kalo lagi di asia juga kena diskriminasi dalam bentuk harga2 yg dimahalin atau disebut “white”. Meski awalnya aku suka ngetawain suami pas dia ngeluh bgitu, tapi kalo dipikir2 bener juga ya…org caucasian kalo manggil seseorang “black” trus dituduh sara sementara sebaliknya manggil “white” seringkali ok-ok aja.

    • Iya, double standard. Betul itu mengenai orang berkulit putih yang harus bayar lebih mahal dibeberapa tempat wisata di Indonesia. Kenapa begitu coba? Di Belanda dan negara Eropa Barat ngga ada bedanya turis asing dan turis domestik.

  2. bagus ulasannya mbak, sy rasa perlakuan SARA bukan dilakukan oleh satu ras atau kelompok tertentu yg mereka anggap mereka “superior”, tp lebih kepada individu sendiri, kuat dugaan influence dr keluarga internal sendiri.
    sy punya pengalaman mbak, bulan november tahun lalu, sy dn 2 teman sy yg kebangsaan swedia(“londo juga”) kita berngkat dr denhag ke turin buat nntn klub bola yg kebetulan kami suka. nah disana sblm pertandingan kami mampir ke coffeeshop yg ktanya kopinya mirip rasa kopi sidikalang, tentu sy antusias sekali, waktu kita masuk beberapa meja yg diduduki bbrp londo spontan liat sy dengan cukup sinis, sampai saat sy lewat disebelah meja mereka,mereka sengajja jatuhin dompet mereka, and said : “ambil dn jangan minum disini” (cengar-cengir),
    sy dn 2 teman sy cuma ngeliat mreka sambil ketawa aja mbak, sayang negara yg tergabung dalam G8 tapi mentalnya kyk negara baru merdeka……
    over all, kita anggapnya sbg dinamika kultural aja mbak, he he he
    tapi di Indonesia kita jg sprti itu kok mbak, terjadi antar suku malah, ISME nya kuat bangett, KKN kn juga bentuk lain dr SARA,
    SARA akan selalu ada, tp bagaimana “victim”nya menyikapi aja mbak, mau dewasa atau balas tp seprti anak2.

    *maaf sy gak sebut nama coffeeshopnya, krn kebanyakan pelaku bukan dr internal dr coffeeshop sendiri”. Thx. hatur nuhun

    • Makasih Kemal. Setuju, memang pelaku SARA itu bukan ras atau kelompok tertentu tapi hanya individu.

      So ngga ngaruh mau warga negara anggota G8 kek, kalo dasarnya ignorant, ngga open minded dan berpikiran sempit ya potensi berlaku SARA.

      Dari pengalamanku sih pelaku SARA itu merasa superior dari korbannya, mereka biasanya merasa punya power lebih dari korbannya.

      Aku belajar mengutarakan rasa tidak nyaman diperlakukan mereka karena superioritas pelaku SARA. Image orang Indonesia, orang Asia kan ngga asertive. Ngga berani speak up. Pelaku SARA disini kaget kalo aku berani terang-terangan menegur mereka.

      Pengaruh bisa jadi lewat keluarga atau temen bahkan situasi setempat. Betul, SARA akan tetep ada dimanapun dan kapanpun.

  3. Postingan ini ngena banget mbak Yo. Sempet ngadepin kejadian kayak gini juga😦. Sempet kepikiran waktu itu apa yang salah dengan saya? padahal si pelaku kepala sekolah satu nursery tempat anak saya ikut playgroupnya, lho..ugghhh..sebel lagi kalau inget. Besok-besok kalau kejadian lagi, tips mbak Yo akan saya praktikkan, daripada bete di belakang seperti saya dulu, biar plong mending sampein langsung ke orangnya ya?🙂

    • Iya Pung. Setidaknya selain hati plong si pelaku tahu kamu ngga terima diperlakukan seperti itu.

      Kadang perlakuan SARA itu hal yang kecil tapi kalo dibiarkan bisa jadi besar.

      Btw, Gimana situasi BKK, udah aman?

      • Sip, well-noted mbak. Selain jam malam dari jam 00.00-04.00, gak banyak berubah kehidupan sehari-hari disini mbak, hehe…setidaknya bukan kalangan yang terkena dampak langsung.

  4. Manusia manusia, cuma beda fisik kok ya membedakan perlakuan ya, padahal di balik warna dll kan sama aja isinya, kecuali isi otak:))

    Aku belakangan ini mengamati orang2 yg nawarin goede doel atau koran2 mbak. Kalo di Bemmel atau NIjmegen, aku pasti akan dicuekin. Eh pas ke pasar Arnhem ZUid, ditegor lho hahahah… Ya mau gimana ya, di situ kan orangnya “berwarna” semua. Kalo mereka pilih2, bakal sedikit sekali sasarannya.

    Setuju banget sama kalimat2mu yang terakhir!

    • Bemmel masih redelijk wit ya, sama seperti dorp kecil lainnya, sementara kalo ke Arnhem dan di Randstad banyak imigran kulit berwarna, jadi udah biasa.

      Iya bener Ret, debat multicultural dan perlakuan SARA di NL masih rame aja padahal banyak imigran seperti kita yang mau/bisa berpartisipasi. Dan ada wong londo yang simpatik ke pendatang, banyak malah. Kalo ngga aku ngga betah tinggal disini.

  5. Dimana mana selalu ada orang orang secara personal berpikiran dan berkelakuan SARA terhadap orang lain, jadi gak heran jika di Belanda yang masih bermental kolonial.
    Well, itu masih nggak seberapa dibanding dengan orang Indo keturunan cina seperti daku mendapat perlakuan SARA dari negara sejak jaman Orde Baru, mau sekolah masuk uni negeri dipersulit, sampai nama aja kudu diganti, sampai sekarangpun pada pemilu presiden isu SARA bertiup kencang.

    • Agree mas, menarik kalau kita ambil contoh ke keadaan indonesia saat ini, apalagi dekat dengan pemilu presiden, naah, mau secara terang2an atau diam2, dan yg paling banyak itu black campaign, sering sy ikuti perkembangan di indonesia, dan yg terjadi LUAR BIASA, antar simpatisan capres saling ngelakuin black campaign, dn senjata utama adalah SARA,
      well, diskriminasi thdp etnis tionghoa di Indo mmg cukup kental, dn lucunya ini dipakai jg untuk menyerang salah satu capres,
      tapi apapun itu isu SARA ttp jadi hal yg menarik yak, sama kyk isu global warming, mirip fenomena gunung es.
      mgkn untuk ngereduksinya, perlu kebijakan dini di setiap sekolah2 dasar,menengah,dan atas.
      intinya masyarakat perlu di edukasi,
      atau setiap terjadi SARA atau bully, denda bayarin korbannya makan atau minum ha ha ha ha,

    • Pernyataan ini “Dimana mana selalu ada orang orang secara personal berpikiran dan berkelakuan SARA terhadap orang lain” menurutku berlawanan dengan yang ini “jadi gak heran jika di Belanda yang masih bermental kolonial”.

      Intinya seperti yang aku tulis diatas orang berlaku SARA ada dimana-mana. Pelakunya individu. “Belanda yang bermental kolonial” itu udah ngga ada Ed. Orang sini dan pemerintahnya malu kok dengan masa lalu mereka. Kalo masih kolonial mana bisa aku yang pendatang kuliah lagi dan dapet posisi dikantor?

      Baca aja blognya Kutubuku yang ikutan komen dipos ini. Dia temenku yang tinggal di Kopenhagen, Denmark. Menurut ceritanya banyak kejadian SARA di Denmark.

      Tentang SARA ke orang Indonesia keturunan Cina, aku tahu ceritanya karena ibu mertua Cina dari pulau Bangka. Dan walaupun beda intensitasnya SARA adalah SARA.

  6. Menarik. Aku kira karena di NL relatif lebih banyak pendatang maka orang “lebih” terbiasa untuk melihat wajah2 “asing”.

    Seperti Yoyen tau di DK kayaknya sama parahnya bahkan mungkin lebih parah karena sistemnya juga diskriminatif, bukan manusianya saja. Orang2 disini juga pasif agresif jadi biasanya kalau di konfrontasi suka kaget.

    Soal perempuan Asia “cuma” bisa jadi pegawai rendahan betul banget tuh. Aku udah dikira tenaga cleaning service berulang kali hanya karena dikira perempuan Asia biasanya kerja sebagai cleaning service. Lebih banyak lagi adalah orang2 yang mengabaikan, dianggap kaya nggak ada di tempat dan ngobrol dengan kolega yang lain. Kalau ini emang standardnya disini.

    Kebetulan ada teman yang kerja di perusahaan jewerly mahal di Denmark yang jabatannya adalah advertising manager. Dia orang India utara yang mukanya terlihat seperti orang Tibet/China. Sewaktu dia ada meeting dengan klien yang orang Denmark asli, si klien ngomongnya ke asisten temen gw ini melulu yang memang orang Danish. Baru setelah dikasih tau oleh asistennya bahwa temen gw inilah yang punya kuasa untuk memutuskan barulah diajak ngomong sama kliennya. Temen gw udah merasa males duluan.

    Yah, menurutku memang diskriminasi yang paling pait adalah ketika kita di under estimate sebagai wanita Asia yang ga bisa apa2.

    • Ngga separah di DK sih Va. Aku pengalaman begini dengan individu. Kalo sistem ngga ada diskriminasi ke pendatang. Selama si pendatang capable dan memang bisa, ngga akan kok dipersulit. Orang Belanda malah bangga dengan multicultural society mereka, ini ada hubungannya denga sejarah negaranya.

      Banyak orang londo asli yang punya saudara/temen yang tinggal di ex koloni seperti Indonesia, Suriname & Antillen.

      Tentang perempuan Asia dianggap remeh, makanya aku ngga nyautin remarknya cewe itu. Biar aja dia tahu sendiri. Seneng aja kalo ketemu orang kaya gitu setelah mereka tahu aku kerjaannya apa, dan mereka gelagapan ngga bisa ngomong😉

  7. huhuhu… setiap ada isu SARA begini, pasti langsung nyengir miris.😦
    Apalagi kalo bawa2 agama. Ya ampuunnn…😦
    Tapi emang bener banget yang dibilang mbak Yo. Kalo kita ngerasa diperlakuin nggak adil *menjurus ke SARA* kita musti berani ngomong/negur dengan bahasa yang sopan tapi tegas. Musti kan ya, kasih liat bahwa kita manusia yg punya harga diri…?

    • Betul Fit, jadi lain kali orang itu mikir sebelum berlaku begitu kekita ya. Sayangnya ngga semua orang bisa/berani bersikap vokal
      begini.

  8. Aku belum pernah ngalami SARA di Irlandia (thanks God), selama ini orangnya baik-baik & ramah. Tapi nggak bisa dipungkiri hal itu mungkin akan terjadi; tinggal nyiapin jawaban aja.

    Aku suka pendekatanmu ke anak-anak itu mbak (termasuk bagian jongkoknya karena mata bisa ketemu mata), mereka emang harus diajari dari kecil.

    • Mudah-mudahan ngga ya Tje tapi ngga ada salahnya siap-siap.

      Iya, bicara selevel mata anak kecil itu ampuh supaya mereka terima apa yang kita sampaikan.

  9. Gue sendiri selama tinggal di Belanda belum pernah ngalamin SARA dari orang londo aseli. Mungkin karena kebanyakan orang yg tinggal di wil. Amsterdam adalah pendatang ya mbak. Ada sih 1 spesifik topik yg datengnya malah dari orang londo yg dari generasi tua yg masih nganggep Londo superior dari Indonesia, nganggep Indo masih bagian koloni. Atau nanya dengan cuek nya, orang tua kamu miskin gak di Indonesia atau kesusahan gak cari makan. Karena wkt itu gue br aja tinggal di sini makanya gue shock. Kali lain gue jawab, orang tua saya hidupnya beruntung di Indonesia…rumah kami 3x lebih besar dari rumah Anda, dan kami juga tidak kekurangan hidupnya tidak semua orang Indonesia itu miskin pak. Jaman sudah berubah. Ga maksud nyombong, cuma kalo dimulai nya menghina begitu?

    Nah, yg gue sering bgt temuin adalah SARA dari kelompok imigran sendiri. Dan orang Indonesia sendiri di sini. Macem2 bentuk nya & bener bgt kata mbak Yoyen, SARA ada dimana2x. Ada yg karena jealous, ada yg karena ignorant dan ada jg yg karena punya issue pribadi…

    • Betul Pie. Didaerah Amsterdam, Rotterdam, Den Haag & Utrecht udah banyak banget imigrannya. Kalo gw kan tinggal didesa yang masih putih.

      Ah, paling gemes kalo ketemu orang tua yang mikir Indonesia masih negara miskin banget. Padahal kalo dipikir fasilitas kota besar Indonesia ngga kalah sama kota disini ya. Iya bener, gw pernah ditanya kenalan yang mau liburan pertama kali ke Indonesia tahun 2000. Ada ATM ngga katanya, kalo ngga dia mau bawa traveller cheque. Sepulangnya dari Indonesia dia melek dong matanya. Malah dia suka Jakarta yang menurutnya sangat modern🙂

      Betul juga didalam imigran ada yang SARA satu sama lain. Seperti orang Maluku ngga akur sama orang Maroko. Orang Ethiopia berantem sama orang Somalia. Riweh.

      • Gue lumayan udah bbrp kali mbak ketemu sama orang2 tua yg mikirnya Indonesia masih kayak tahun 50-60an gitu. Dikiranya sama lah kayak Suriname gitu…hehehe. Sesama imigran tp masih sering baku hantam…jd inget ya kejadian baku hantam warga Maluku sm Maroko itu😦 sedih bgt.

    • Di Indonesia banyak begini. Ngga usah di Bali Non, dibutik mahal di mall Jakarta kalo kita ngga dandan masuk situ akan dilihat dari atas kebawah tapi ngga dilayani.

  10. Betul Lo, SARA ada dimana-mana dan sepertinya susah dibasminya ya. Dari 3 negara yg perna gue tinggalin, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, Australia adalah yg paling SARA. Gue sendiri sejauh ini uda lumayan kenyang kena issue SARA yg semuanya terjadi di land down under ini, pada tahun2 pertama kedatangan gue. Pdhl 4 thn di UK & USA ga perna kejadian thu. Orang kulit putih disini pun sering SARA dengan orang Aboriginal, pada hal kan mereka itu yg penduduk asli sebenarnya, lainnya pendatang, sama seperti gue!😉

    Benar seperti yg loe bilang, kalo lagi ketiban SARA kitanya harus bereaksi dengan tegas tapi sopan spy mereka tahu kalo mereka ga bisa memperlakukan orang yg beda warna kulit dll-nya dengan ga fair. Soalnya orang Asia itu kan sering dikira pasif, ga berani ngomong dan ga tegas.

    • Gw pernah liat video ya imigran dari India di Sydney verbally abused di bus sama cewe yang ngga mau dia duduk sebelah cewe itu. Parah banget ya Ria. Bukannya semua orang kecuali orang Aborigin itu pendatang disana? Itu hanya satu dari banyak kasus SARA di Oz yang gw tahu.

      Betul, perempuan Asia kan imagenya diem, nrimo-an makanya kaget orang londo putih yang berlaku SARA ke gw, gw tegur langsung.

  11. Mba Yo,
    two thumbs up den caranya menyikapi perlakuan SARA, terutama ngadepin anak kecil itu. Kalo boleh disimpulin, yang penting musti tetep kalem, utarakan faktanya dan bagaimana pendapat kita tentang perlakuan SARA yang kita terima ya.

    btw, aku termasuk orang yang mba Yo sebut di komen ke Noni di atas, hihi ngga berani masuk butik di mol di Jakarta karena ngga pede dengan tatapan SAnya.

    • Makasih Meta. Awal kena SARa disini aku masih diem tapi setelah 3 tahun ya ngga terima lagi. Ngga tahu tuh yang kerja di butik mahal sering sadis sama pengunjung yang penampilannya biasa aja. Aku paling males masuk butik seperti itu.

  12. Hai mba Yo thanx udah sharing tentang pengalaman mba tentang masalah sara ini. Thanx juga buat tipsnya. Aku kagum sama keberanian mba yo buat ngadepin semua pengalaman yang kurang enak tsb. Awal aku baca postingan ini sempet keingat dan nyesel kenapa aku gak punya keberanian buat nyamperin tuh ibu2 malah diem duduk dan sedih nyalahin diri sendiri yang ngerasa gagal ngelindungin bazyl. But yoweslah let the past be in the past and i learn much from this.yaah anggap aja kemaren kaya one of my bad day ketemu ama ibu itu heheheh. Semoga kedepanya gak kejadian lagi di aku n bazyl kalau pun iya seperti mba yo bilang harus siap mental buat ngadepin hal2 tsb. Hikmah kemaren mba aku jd temenan ama ibu2 amrik yg nyamperin aku dan bbrp hari lalu pas ke park lagi dia ngenalin dengan teman2 nya and cerita ttg pengalaman aku dan Mreka ngasih support gitu ke aku yah jadi nambah temen lagi disini hehehe.

    • Sama-sama Nis. Ngga usah diinget lagi dan memang waktu itu kamu ngga berreaksi saking kaget, ngga nyangka. Lagipula ini menyangkut Bazyl ya, anak kamu. Aku rasa waktu itu kamu antara ngga percaya, mau menghibur Bazyl campur gemes.

      Ah, seneng aku dngernya Nis kamu ada kontak sama ibu-ibu disitu. Mudah-mudahan bisa bergaul ya dengan mereka supaya kamu betah disana.

  13. ternyata di sana masih ada juga cerita kayak gini ya.. kalau dikisahkan suami WNA disni dipanggil mister dan selalu diperlakukan beda sebenarnya termasuk kategori SARA juga kali ya.. misal nih.. karena dia bule harganya naik tinggi.. semua semua di mahalin… suka di pelototin dari ujung kaki sampai kepala..

    • Iya itu SARA Siti. Kenapa musti mahal harganya hanya karena dia bule sementara orang Thailand & Malaysia bayar harga normal karena rambut mereka item?

  14. Sangat Sangat tidak nyaman kalau saya menjadi di posisi mba yo, Kadang aku mikir apa yang ada di otak si putih tentang kta si hitam ini..?

    • Ah, dimanapun ada kok yang SARA Ria. Yang penting bagaimana cara kita menghadapinya. Ngga tahu tuh ada apa dikepala mereka, baik yang berkulit putih, hitam, kuning dan merah. Pelaku SARA bukan hanya orang berkulit putih.

  15. Hummm, secara pribadi aku salut sama keberanian mbak untuk ‘menegur’ orang2 yang sara itu, karna ada banyak orang lain yang hanya mampu bersedih ketika didiskriminasikan🙂

    semoga kedepannya orang2 yg suka sara ini bisa membuka mata hatinya, bahwa di dunia ini tidak hanya ada ‘orang2 seperti mereka’ saja dan bisa menghargai perbedaan.

    • Amin Joice. Mudah-mudahan pengertian itu akan muncul dan semakin banyak orang yang tidak bertindak SARA. Terima kasih udah mampir kesini.

  16. Kalo disini justru orang Asia terutama Chinese yg SARA. Misal ny perusahaan Asia mencari karyawan yg dimuat di koran, biasa ny ada embel2 ny *Chinese people only, bla bla* kalo org disini kayak ny lebih terbuka deh. Karena rata2 migrant atau keturunan migran.

    • Bukannya banyak kasus SARA oleh penduduk kulit putih di Australia? Baca komen Ohdearria, dia udah lama tinggal di Perth. Saya ada temen di Sydney, Canberra & Melbourne yang cerita ada outsparks disana. Walaupun diskriminatif bisa dimengerti kenapa vacancy hanyak untuk orang Cina karena biasanya perlu yang bisa berbahasa Mandarin, Hokkien atau Kanton. Dan komunitas Cina yang memang tertutup dinegara manapun. Disini juga yang kerja di perusahaan Cina mayoritas orang Cina juga.

  17. hi, salam kenal🙂 aku mampir dari blognya mba noni trus nyangkut ke postingan ini dan tergelitik buat komen hehehe…

    ternyata SARA itu ada dimana2 ya, ga cuma di indo doang… tapi kalo baca cerita2nya, sepertinya di indo masih lebih parah tingkat SARAnya…

    • Hallo Melissa, Salam kenal juga. Betul SARA ada dimana-mana dan pelakunya bukan hanya orang kulit putih. Indonesia salah satu yang parah SARAnya beberapa tahun terakhir ini memang.

  18. nambahin mbak;
    masyarakat mayoritas di dunia sudah mulai ber perspektif pro-multikultural dan itu adalan value yg sgt dihargai, contohnya: imigrant pasti multi-language apalagi mahasiswa (contoh sederhana) yg imigrant itu bener2 based knowledge, atau imigrant yg bekerja di tmpt marjinal. tinggal lagi bagaimana per-individu menghargai value satu sama lain.
    sy sering diskusi dengan dosen2 sy yg berasal dr berbagai negara,juga teman2 sy yg multi-kultural, so far mereka sgt respect sejauh kita punya skills and capability.
    sy rasa fasis SARA akan makin terkikis, however SARA gk mgkn bisa hilang.
    tapi ada fakta menarik behind of all : 80% etnis yg mengalami SARA,adalah etnis yg paling banyak tersebar di seluruh dunia,right. so ngapain minder toh kalau kita di leceh, WE ARE THE MOST WANTED POPULATION IN THE EARTH.
    Salam PPI denhaag mbak.

    • Kemal, Makasih tambahannya. Multicultural society memang sudah jadi bagian dunia. Karena globalisasi dan imigrasi multicultural
      itu memang ada dan ngga bisa dibendung. Cuma dimasa krisis ekonomi seperti sekarang ini, sayangnya para imigran yang dijadikan kambing hitam untuk politisi yang populistis, jualannya nationalism yang menjurus ke fasis, lihat aja ulahnya Geert Wilders cs. Agak utopic untuk berpikir Fasis SARA akan terkikis, yang ada sih laying low dan nanti muncul lagi dikala konjunktur rendah.

      High skilled imigrant dari non white countries masih sedikit di Belanda. Misalnya ada hanya terkonsentrasi di daerah Amsterdam, Den Haag, Rotterdam & Utrecht. Makanya aku disangka tenaga administratif karena orang di Arnhem masih belum biasa ketemu high skilled imigran yang berkulit gelap dan rambut hitam😉 Aku ngga minder dileceh, hanya ngga mau menjelaskan karena dari kasus yang aku cerita diatas aku yakin cewe itu akan tahu kok aku kerjanya apa. Dan kalo aku minder diperlalukan SARA ngga mungkin aku berani menegur pelakunya. I will speak up my mind and will continue to do so.

  19. Mba Yo, aku selalu seneng deh mba dengan jawabanmu ke orang2 yang berlaku SARA itu. Bacanya dari gemes karna mereka kayak gitu, terus ada perasaan puas dan rasain karna jawabannya mba Yo itu santai tapi nusuk ke hati yang paling dalaaaammm. Hahaha. Mesti belajar banyak cara menjawab kayak gini untuk menghadapi orang tertentu.
    Di sini aja kadang kl masuk ke butik/tempat belanja di mol dan ga dandan atau lagi pake baju yg santai diliatin yang mukanya minta dilempar batu. Hiiihhh

    • Iya. Aku kalo di Indonesia masuk mall mahal Jakarta atau butik di Bali sih santai aja ngga diperhatiin sama yang jual. Kalo akhirnya aku beli dan mereka ladenin terus mereka denger aku ngomong bahasa Belanda sama suami baru ngeh deh. Cuma males negurnya Mar kalo ditempat kaya gini misalnya cuma diliat dari atas kebawah waktu aku masuk.

  20. Pingback: bhineka tunggal ika | Sugohae!

  21. aku tau soal SARA di LN dari temen2 laen yang di Amrik, ga nyangka di Eropa ada juga kak.. kalo di sini personally aku udah ga ngerasa2 banget sih, tapi temen-temen masih ada aja yang didiskriminasi cuma gara-gara bermata sipit hahaha
    sama begitu mau pemilihan kepala daerah ato presiden jadi santer di sosmednya parah banget
    eh akhirnya aku malah bikin blogpost soal ini coba :”””

  22. Aku paling kesal kalau ditanya agama…ini sama orang yang baru kenal lho…nanti deh aku cerita di blog aku aja. Jadi terinspirasi nulis topik yang sama gara-gara artikelmu ini, mbak.

  23. Pingback: Praktek-Praktek Diskriminasi SARA | deportistaverde

  24. Sebagai orang Indonesia keturunan (chinese) memang banyak denger dari temen2 yang suka kena SARA dulu. I never really actually experienced it myself karna gua ga disangka Indonesia keturunan.
    Mungkin pernah kena SARA sewaktu pertama sekolah di luar indonesia, tapi ngga engeh, pertama masuk sekolah yang hampir engga ada minority nya (99% bule) dan mungkin karna bahasa english masih pas pasan dan masih kecil jadi mungkin gua ga gitu ngerasain.
    Setelah masuk university dan ketemu temen temen indo, bayak temen yg kalo ditanya dari mana jawabnya dari Indonesia tapi saya indo chinese, menurut gua ini pun salah satu SARA, kenapa? Because these individuals want to separate themselves from the native Indonesian. Kalo gua ditanya ya bilang I am Indonesian, ya memang orang Indonesia karna lahir dan passport pun Indonesia juga, jadi kenapa mesti tambahin embel2 keturunan (Chinese)?

    • Iya bener. Menurut gw sendiri kata keturunan itu juga SARA. Keturunan apa? Kenapa kata keturunan hanya dipake untuk WNI dengan latar belakang Cina. Kan ada WNI dengan latar belakang India, Eropa dan negara lainnya? Itu warisan jaman Soekarno.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s