about me / Bahasa Indonesia / Indonesia / Thoughts / Women

Inspiring Change

Inspiring Change adalah tema untuk Hari Perempuan Sedunia tahun ini. Untuk yang pertama kali mendengar tentang Hari Perempuan Sedunia, baca post gw tahun lalu dan tahun 2011. Kalimat pembuka di website resmi Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day) untuk tahun ini berbunyi:

Women’s equality has made positive gains but the world is still unequal. International Women’s Day celebrates the social, political and economic achievements of women while focusing world attention on areas requiring further action.

Sebelum membahas hal ini lebih panjang gw ingin menekankan bahwa interpretasi gw tentang equality di teks diatas bukan berarti perempuan pingin menjadi lelaki ya. Gerakan ini memperjuangkan hak perempuan yang diperlakukan tidak adil di bidang sosial, politik dan ekonomi.

Sebagai feminis yang percaya dengan kemampuan perempuan untuk bisa mandiri, gw yakin potensi perempuan bisa membuat dia mendapat hal yang lebih dari sekarang. Dan sebagai feminis yang menikah, gw mengakui suami gw sebagai kepala keluarga. Maksud gw, ada lah batasan fisik dan kwalitas perempuan yang memang tidak akan pernah bisa menyamai laki-laki. Sebaliknya pun sama. Ngga seperti waktu gw masih mahasiswa dulu yang ngotot pingin perempuan sama, menjadi seperti laki – laki. Mau baca masa-masa militan gw sebagai feminist wannabe? Bisa ditengok surat dari gw tahun lalu A letter to myself.

20140303-213713.jpg

Mengangkat tema Inspiring Change untuk tahun ini, gw memutuskan untuk menulis hambatan perempuan di bidang sosial dengan contoh yang dekat dengan hidup keseharian kita.

Didunia ini hampir seluruh sistem sosial yang ada menganut azas Patriarkal dimana laki – laki berperan sentral didalam keluarga, masyarakat dan lingkungan. Kecuali di Sumatra – Barat, sistem patriarkal dianut diwilayah Indonesia. Bukan impian gw untuk merubah sistem ini karena sudah mengakar kuat. Sangat mengakar kuat hingga para perempuan di lingkungan Partriarkal pun tidak keberatan jika sesama kaumnya diejek. Dibawah ini ada beberapa contoh yang sering gw lihat sering muncul di timeline social media gw.

Janda kembang
Gurauan tentang janda kembang. Perempuan muda yang menjanda, entah bercerai atau suaminya meninggal dunia, kerap menjadi sasaran bercanda. Lebih parah lagi ada laki- laki yang otomatis berpikir bahwa janda kembang ini bisa ia kencani. Kejadian ini pernah dialami temen gw sendiri. Sewaktu dia baru bercerai dengan suaminya, dia terima SMS dari teman laki-lakinya yang sudah menikah. Pria itu minta ketemuan sama, berdua aja. Marah lah temen gw diperlakukan seperti itu. Belum lagi kelakuan beberapa rekan kerjanya yang menurut dia bercanda yang menjurus ke seks. Padahal sewaktu statusnya masih menikah ngga pernah mereka seperti itu.

Darimana asal muasal pemikiran janda muda = nakal = bisa diajak kencan? Udah beberapa kali kejadian gw delete kontak (temen sekolah gw SD, SMP, SMA) gw di FB karena mereka update joke tentang janda kembang. Setelah gw tegur, mereka bilangnya ‘Sante aja Yen, ini kan hanya bercanda’. Yang tambah kaget lagi, ada beberapa temen perempuan mereka yang ikutan komen dan bilang gw untuk chill out.

Pake rok aja
Nah ini juga sering kejadian. Kenapa kalo ada laki-laki rese, orang (laki-laki dan perempuan) komennya akan ‘Rese loe, pake rok aja”. Atau yang lebih terang lagi “Mulut loe kok ribet kaya perempuan”. Nah ini juga ganggu untuk gw. Apalagi kalo liat yang komen seperti ini perempuan juga. Kenapa ikut menjatuhkan kaumnya sendiri? Ngga bisa gw pungkiri dari dua contoh ini kan bisa dilihat bahwa ada implikasi perempuan itu cerewet, mulutnya ribet (suka ngegossip maksudnya  mungkin). Stereotype muncul kalo memang ada fakta menunjang, bukan begitu? Memang itu naturenya perempuan untuk bicara lebih banyak dan ngegossip. Tapi kenapa ada perempuan yang memelihara stereotype ini dengan menjatuhkan sesama perempuan? Bahkan ikut mencap laki-laki yang berperilaku seperti stereotype ini seperti perempuan?

Kejahatan seksual
Ini hal yang termasuk wilayah abu-abu. Biasanya pembuktian sulit, jadi kasus hanya berdasarkan pengakuan si korban dan si tersangka. Yang lebih membuat hati trenyuh lagi bahwa dalam kasus perkosaan si tersangka berdalih hubungan seksual terjadi atas dasar suka sama suka. Sama seperti yang terjadi dalam kasus sastrawan Sitok yang dituduh memperkosa satu mahasiswi. Kaget gw membaca press release pertama dari satu komunitas sastra yang membela si tersangka. Pemerkosaan disitu ditulis sebagai ‘Perbuatan tidak menyenangkan’. Sangat luas pengertian perbuatan tidak menyenangkan sementara perkosaan untuk si korban meninggalkan trauma fisik dan seksual yang dapat diderita hingga puluhan tahun.

Kejahatan seksual bukan hanya perkosaan tapi juga pelecehan. Ini sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Pertama kali gw denger ada gerbong kereta khusus perempuan, gw bingung kok masih perlu ya sekarang ini. Ternyata setelah mendengar cerita yang terjadi jadi maklum kenapa ada gerbong khusus wanita. Tapi menurut gw dengan membuat gerbong khusus perempuan sebenernya bukannya memerangi akar masalah, malah menyesuaikan dengan situasi. Hanya bagaimana menanggulangi pelecehan seksual sehingga para pelaku sadar dan berhenti? Ini perlu kampanye dengan pesan jitu dan akan memakan waktu lama untuk sukses.

Ibu kita perempuan
Bisa jadi ada yang menganggap dua contoh pertama yang gw tulis diatas itu sepele atau contoh perkosaan itu ekstrim. Untuk perempuan sendiri mungkin ada yang berpikir selama itu ngga terjadi sama gw, gw ok-ok aja.

Merujuk ke tema Hari Perempuan Sedunia: Inspiring Change gw harap dengan baca pos ini bisa jadi inspirasi untuk membenahi posisi perempuan dalam bidang sosial. Perubahan sekecil apapun, akan jadi inspirasi untuk orang lain hingga melahirkan perubahan besar. Kalo ada yang bercanda mengenai stereotype janda kembang atau joke yang merendahkan perempuan, untuk perempuan: ingat, bantu kaum loe, untuk laki-laki: ingat, ibu loe, istri, pacar, adik, kakak bahkan anak loe itu perempuan.

Thumbnail pic is taken from Eventful

13 thoughts on “Inspiring Change

  1. Aku paling sebel kalo lagi dijalan trus ada gerombolan tukang ojek or cowo2 ga jelas yang siul2 or manggil2 ‘neng’ or apa lah gak jelas. Rasanya kok pelecehan banget ya! Biasanya aku jalan lurus kedepan ga mau natap mereka. Padahal kan aku pake baju sopan gak mengundang gt. Baru2 ini ada bangunan samping sekolah yg banyak tukang2 bangunan trus siul2 n manggil2 pas aku lg jalan sendirian….heran deh perasaan pake baju sopan jadi tak plototin aja (dulu blom berani) kayaknya buat mereka perempuan tuh objek semata. Risih aja gt mba yo…

    • Iya sebel ya Jo kalo disuit atau disiul rasanya jadi obyek. Kalo disini kebanyakan tukang bangunan lihat orang lewat negur sopan, selamat pagi, siang, sore. Aku kalo ditegur sopan ya jawabnya juga sopan. Ada juga sih yang suka suit, siul tapi hanya sedikit.

  2. Setujuuu, mbak! Aku punya kenalan yg janda cerai, dan ya gitu deh.. dia ngeluh seriiingg bgt dijadiin objek becandaan -terutama yg berbau2 seksual- temen laki2nya, padahal jaman dia msh berstatus istri orang, nyaris nggak ada yg berani macem2. Fiuuhhh, siapa sih yg mau jd janda, ya kan? Kenyataan spt ini bikin miris, secara duda kayaknya nggak gitu2 amat deh, nasibnya..😦

    • Standar ganda ya Fit, status duda ngga membebani sementara status janda berat. Lihat aja berita dimedia di Indonesia, kadang ditulis status perempuan menjanda padahal ngga relevan sama beritanya. Parahnya seperti aku tulis diatas, di Indonesia bukan hanya lelaki yang bias tentang status janda, perempuan juga😦

  3. Mbak, ibuku janda dari aku umur 3.5 tahun dan bagiku, society itu begitu kejam pada janda, yang suaminya meninggal sekalipun! Seringkali kekejaman komentar itu juga bukan datang dari pria, tapi dari perempuan sendiri. Kalau janda yang suaminya meninggal aja hidupnya berat apalagi janda kembang, pasti makin berat. Kapan ya kita punya masyarakat yang lebih ramah kepada janda?

    Anyway, salah satu tantangan terbesar bagi perempuan di Indonesia adalah nggak adanya regulasi yang mewajibkan daycare di gedung2 perkantoran biar para ibu-ibu nggak pusing kalau anaknya masuk sekolah. Konon banyak ibu yang resign ketika anaknya masuk SD.

    Selamat hari perempuan, maju terus perempuan Indonesia di manapun berada!

    • Iya Tje, saking mengakar stereotype tentang janda di masculin society seperti di Indonesia sampe perempuan pun ikut mengolok-olok para janda. Padahal ironisnya ada 50% kemungkinan mereka menjanda, kan? Ngga tahu deh kapan bisa berubah pola pikir seperti ini. Aku rasa harus dimulai dari merubah pandangan perempuan = obyek.

      Daycare untuk ibu bekerja itu juga problem disini. Apalagi ada lumayan banyak single working mother yang perlu daycare. Persoalan universal sepertinya untuk ibu bekerja ini.

      Mudah-mudahan nasib perempuan membaik ya.

  4. Kl aku paling kesel disini sama abang2 atau mas2 yg nongkrong di pinggir jalan trus tiap liat cewe lewat selalu dipanggil2, diteriakin, atau disiul2in. Kayak ga pernah lihat cw. Rasanya kok melecehkan banget ya. Aku dulu pernah lewat terminal bus pake celana panjang+jaket+masker masih aja disiulin dan dipanggil2. Bahkan ada sampe yang jalan ngikutin di belakang. Kesel banget emang wanita dianggap apa ya sama mereka sampe kayak gt? Coba kalau anak perempuan mereka jg digituin.. (apa mungkin mereka jgn2 ga bakal marah ya?)

    • Iya betul Mar, kaya ngga pernah lihat cewe padahal ibunya kan perempuan juga. Untuk orang seperti ini ngga ngaruh kamu pake baju apa, tetep mereka iseng siul karena mereka banyak/bergrup. Kalo sendiri paling mereka hanya lihat aja, ngga berani siul.

  5. Wah dikau feminist sejati yah….he.he.he..jadi pengen denger begimana pendapat dikau soal miss universe, miss world🙂🙂

  6. Duhh.. Harus bertobat nih Py.. Py sering ngatain temen cowo yg asli cerewet banget dgn ngomong jadi cewe aja dah lu bawel bener..huuhu😦

  7. Wah aku baru baru ini berfikir soal being feminism. Perbedaan yang sangat besar adanya pemikiran2 feminis di Inggris dibandingkan dengan Indonesia. Soal bagaimana cara merubah pola fikir suatu bangsa dari hal hal yang kecil saja? misalnya pengunaan kata2 seperti yang kamu bilang, dari kaum laki laki tapi juga dari kaum perempuan sendiri. Bukan hanya kata2 tapi juga perilaku. Kayak kata2 “oh cewek kok gak bisa masak”, tapi di lain pihak cewek gak mengharapkan cowoknya masak untuk dia. etc etc, jadi pengen nulis juga soal ini.🙂

    • Genderisme itu mengakar di masyarakat. Feminisme mencoba memerangi genderisme, sayangnya memang malah perempuan kadang menjatuhkan kaumnya sendiri. Dan ini terjadi dimanapun, di semua kalangan. Perubahan kecil bisa membuat orang sadar walaupun makan waktu dan tenaga ya. Orang cenderung mengganggap remeh sampai dia mengalami sendiri.

      Kalo udah tulis posnya, aku mau baca dong😉

      Thanks for stopping by.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s