about me / Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Indo / Thoughts

SBY & RMS

Kemarin, 5 oktober 2010, presiden Indonesia membatalkan kunjungan resmi kenegaraan ke Belanda di menit-menit terakhir sebelum keberangkatan. Berita ini menyebar di Belanda kira-kira jam 11 pagi. Saat itu saya sedang dikantor yang tidak memungkinkan untuk menulis rangkuman mengenai reaksi pers disini. Gregetan karena reaksi pers di Indonesia dan pemberitaan yang netral di Belanda saya memutuskan untuk menulis pandangan saya, dibantu oleh kutipan dari beberapa situs surat kabar Belanda 1 hari kemudian.

Tuntutan RMS
Pemerintahan RMS di pengungsian (de regering in ballingschap van de Republiek der Zuid Molukken, seperti resmi disebut di sini) mengajukan permohonan ke pengadilan negri di Den Haag. Atas nama John Watilette, presiden RMS, secara resmi menuntut pemerintah Belanda untuk menahan SBY pada saat kedatangan dia di bumi Belanda karena pelanggaran HAM & kejahatan peri kemanusiaan (maaf terjemahan langsung dari bahasa Belanda). Tuntutan ini dicantumkan dalam dua surat resmi yang dikirim ke kementrian Luar Negri Belanda dan kementrian Perumahan, Rakyat & Lingkungan Hidup.

Surat pertama:
Menuntut PM Belanda, Jan Peter Balkenende untuk menghimbau SBY agar Indonesia menghormati hak bicara para pendukung RMS di Maluku. Dan juga untuk berhenti menangkap dan menyiksa pendukung RMS disana. Menurut data yang didapat RMS dari Amnesty International, saat ini 93 simpatisan RMS mendekam di penjara. Dan bulan lalu salah satu simpatisan ini, Jusuf Sapakoly meninggal dunia akibat penyiksaan dan kurangnya perawatan medis.

Surat kedua:
Wattilette memohon Balkenende untuk menghimbau SBY supaya menjelaskan dimana jenazah Soumoukil, salah satu mantan presiden RMS (dieksekusi oleh RI tahun 1966) disemayamkan.

Informasi diatas ini diberitakan oleh beberapa koran terkemuka di Belanda. Salah satunya NRC Handelsblad.

Pemberitaan di Pers NL
Pers di Belanda sangat netral memberitakan pembatalan kunjungan SBY. NOS (TV negri Belanda), De Pers, Nederlands Dagblad , Financieel Dagblad, Volksrant memuat head line: Presiden Indonesia membatalkan kunjungan kenegaraan. Hanya Het Parool yang menulis di judul artikelnya: Presiden Indonesia tidak berani datang. Isi artikel di pers Belanda kebanyakan mengutip press release dari juru bicara pemerintah yang isinya mengutip lagi pidato SBY.

Semalam Trouw merilis artikel bahwa di Indonesia banyak yang mengerti keputusan SBY menunda kunjungan kenegaraan ini.

Pers di Indonesia
Saya membaca reaksi pers di Indonesia. Detiknews mencantumkan diberitanya kemarin bahwa pers Belanda menulis Belanda terhina. Saya menyayangkan hal ini, karena pers Belanda yang dimaksud Detiknews adalah De Telegraaf yang mutu artikelnya secara jurnalistik agak meragukan, tendensius dan bombastis. Lagipula hanya De Telegraaf yang memuat head line Pemerintah/Ratu Belanda terhina, sementara juru bicara kerajaan hanya mengeluarkan pernyataan bahwa Beatrix menyayangkan pembatalan kunjungan. PM Balkenende & Beatrix berharap SBY akan menetapkan tanggal untuk kunjungan yang akan datang, karena undangan ke NL tentunya masih berlaku.

Pemberitaan pers dan situs berita Indonesia lainnya mangajukan pidato SBY dengan alasannya membatalkan kunjungan.

Pengamatan saya
Di Twitter dan situs berita Indonesia lainnya banyak komentar orang Indonesia yang mempertanyakan kenapa Belanda mendukung RMS. Hal ini tidak benar. Di kort geding itu yang dituntut adalah pemerintah Belanda. RMS menuntut pemerintah Belanda untuk menahan SBY setibanya dia di Belanda. Permohonan kort geding RMS itu ditinjau oleh pengadilan Den Haag bukan berarti pemerintah Belanda mendukung RMS. Menurut tata hukum Belanda setiap penduduk Belanda berhak untuk mengajukan permohonan kort geding. Hakimlah yang mempertimbangkan dan memutuskan apakah kort geding ini akan dilanjutkan sampai ke vonis yang legal dan sah.

RMS sekarang
Mengenai RMS, gerakan ini memang masih ada gaungnya di Belanda. Setiap tahun di bulan April pendukung RMS merayakan hari proklamasi mereka. Sebenarnya RMS adalah duri dalam daging untuk pemerintah Belanda. Setelah perjanjian meja bundar akhir 1949, PM Belanda waktu itu menjanjikan kepada simpatisan RMS untuk menampung mereka sementara di Belanda. 60 tahun kemudian, RMS pun belum merdeka. Saya tahu ada beberapa orang-orang tua asal Maluku yang tidak mempunyai kewarganegaraan. Mereka melihat pemerintah Belanda sebagai pembohong. Nenek nenek lansia Maluku di pemukiman orang Maluku disini pun masih banyak yang mengenakan baju tradisional (konde, kebaya putih, kain sarung). Untuk generasi ketiga Maluku disini, yang berumur 20 – 30 tahun itu RMS hanya utopia.

Imunitas absolut
Kemarin Mentri Luar Negri Belanda Maxime Verhagen menjamin imunitas absolut SBY. Dan ada beberapa guru besar hukum Internasional disini yang memastikan bahwa memang kepala negara mempunyai kekebalan hukum absolut. 1 jam yang lalu hakim mengeluarkan vonis bahwa SBY tidak akan ditahan seianya ia tiba di Belanda hari ini.

Blunder politik
Sebenarnya dalam hal ini yang rugi adalah RI. Tujuan dari kunjungan ini adalah pengakuan resmi pemerintah Belanda bahwa RI merdeka sejak 17 Agustus 1945. Ini adalah pencapaian politik yang luar biasa, dimana di persepsi sebagian besar warga negara Belanda adalah Belanda menyerahkan kedaulatan ke RI di perjanjian meja bundar tahun 1949. Dan tidak dipungkiri dengan pembatalan kunjungan RMS ‘menang’ secara moril.

Sayang sekali memang. Mudah-mudahan kunjungan kenegaraan berikutnya bisa berlangsung lancar. Karena pengakuan resmi Belanda itu adalah hal yang sangat bersejarah.

13 thoughts on “SBY & RMS

  1. The Indonesian pers/government and most of its citizen is doing the same thing to Americans; which is assuming and generalizing the Americans as the same with the government. You know what happens when you assume, right? It makes the ass out of ‘u’ and ‘me’.
    I agree that is wrong of former Indonesian government to violate the RMS supporters’ right, but to detain SBY does not sound right either. Who was the Indonesian president then who authorize the violation of human rights; he should be the one who needs to be dragged to justice. Like the Sudanese president Omar al-Bashir recently. If not, then the other government/military official who are responsible back then.

    • Yes, one word: generalizing without making an effort to dig the reason why the other side does things.

      Detaining SBY was only a request for Dutch government which would not be done and never be done due to the president’s immunity. The violation of human right of RMS supporters is allegedly happening now, as we speak. This is the main reason of the RMS’ subpoena.

  2. Though I have to guess what you wrote I’m eager enough to comment on the cancellation.

    I could have understood if the President had cancelled his state visit because of the imminent government being supported by Geert Wilders.

    A last minute cancellation because of a tiny insignificant oppositional group making some gesture ( each and everyone knew or at least should have known the charges RMS filed were mere a symbolic act and would have no effcet), is weird. Similar gestures ofm oppositional individuals and groups happen all the time without states of head cancelling their state visits.

    Well, no real harm done of course. The comprehensive treaty which was on the agenda will be signed anyhow. And the insult to the embarrassed befriended government and Head of state will be forgotten soon.

    • Colson,

      You got it right. This post is about a comparison of press coverage concerning the official state visit’s cancellation. Most Dutch press quoted press release from Indonesian Embassy, while Indonesia press quoted an article of De Telegraaf, where stated that Beatrix was insulted by the cancellation (which wasn’t true).

      Yesterday, SBY mentioned that Dutch Government must have done more to prevent the kort geding procedure. He and most Indonesian officials demanded Dutch government to forbid RMS. I find this is a sign they aren’t aware of Dutch democracy. ‘Rechterlijke macht is onafhankelijk en de regering kan niet zomaar een organisatie laten ontbinden’.

      I do hope SBY comes visit Beatrix soon for the official acknowlegdment of the independence day at 17 August. As this is a big historical politic achievement.

  3. Well done Lorraine, well discribed, I hope many Indonesian read your article, including the press.
    We have to admit that many-many Indonesian do not understand the definition of democracy… and that is not only the people, but include the government and the press….

    • Thanks Nin. I do hope so. I guess most our fellow country men who don’t understand the pure democracy have never had a chance to think out of the country.

      They are not able to observe Indonesia from the other angle. During browsing Indonesian news sites for writing this post I stumbled upon numerous critical reactions among the majority who was easily provoked by biased coverage by the press there. I was glad to see these comments, cause that’s a sign that there’s still hope for the better.

      It is of course politically speaking very embarassing when SBY wished Dutch government should have had more to prevent the RMS’ short procedure. He showed indeed his lack of knowlegde that in the pure democracy judiciary is and will always be independent. No high official, not even the queen is able to protest against the judges verdict how small or big the case is. It was a shame of SBY, big time.

  4. That is why, it is important for us to “travel”, so that we will be able to see from another perspective. The trouble is most of Indonesian travel as tourist in a big group of Indonesian tourist, instead of doing individual travel, which I presume will enable us to do some reflection instead of echoing each other….

    To be honest, I was really surprise of the Netherland now, as I visited it for the first time a year ago, compare to the stories I heard from those who had lived there some 10 to 20 years ago. While Indonesian are losing their connection with the Dutch, it seems that it’s the other way around with the Dutch.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s