about me / Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Thoughts

Pendatang di Belanda & Geert W.

Sebelum kita keinti post ini, gw mau berbagi data tentang imigran di Belanda. Di ketiga kota besar di Belanda: penduduk Amsterdam terdiri dari 177 kebangsaan, Rotterdam 173 kebangsaan, Den Haag 140 kebangsaan. Data ini gw pake sebagai pembukaan tulisan gw untuk gambaran pembaca bahwa di Belanda memang banyak pendatang dari macem2 kebangsaan. Londo yang aliran politiknya kiri dengan bangganya menyebut kehidupan sosial disini sebagai Multiculturele samenleving = lingkungan multi kultural. Untuk jelasnya, note ini gw tulis dari sudut pandang gw pribadi sebagai pendatang yang telah bermukim 14 tahun disini. Dalam note ini gw memaparkan pendapat gw pribadi dari apa yang gw alami secara langsung ataupun yang gw pantau dari media sini. Kalo ada yang ngga setuju, bisa jadi cara pandang kita beda.

Sejarah migrasi di NL
Eksodus besar2an pendatang di Belanda diawali dengan orang Maluku yang hijrah ke Belanda karena Republik Maluku Selatan pertengahan tahun 1950-an. Awal 1960-an sampai setelah G30S PKI, orang2 Indo (blasteran Indonesia-Europa). Disusul dengan orang dari negara Mediterania (Yunani, Itali, Portugal, Spanyol), Turki & Maroko yang datang ke Belanda untuk bekerja. Akhir 1970-an pengungsi dari Vietnam, Suriname, awal 1980-an pencari suaka politik dari Afghanistan. Dan dekade 1990-an penduduk ex Yugoslavia, Kongo, Aljazair, Kurdistan, Somalia, Ethiopia dll. Intinya dimana ada perang, pemerintah Belanda menyambut pencari suaka politik dengan tangan terbuka.

Problem sosial pendatang
Banyak laporan/studi sosiologi yang memastikan bahwa pendatang dari Maluku, Indonesia & Vietnam patut dicontoh oleh pendatang dari negri lain. Ketiga kebangsaan itu dapat berintegrasi dengan mulus, tanpa kehilangan identitas mereka. Memang itu kenyataan yang gw liat. Lain halnya dengan pendatang asal Maroko & Turki yang banyak menimbulkan problem sosial. Terutama pendatang dari Maroko yang merupakan mayoritas disini. Banyak generasi ketiga orang Maroko, anak mudanya, dari 16 – 25 tahun itu putus sekolah. Kebanyakan dari mereka ngga kerja. Kesibukan mereka nongkrong dijalan atau ya gitu deh jadi kriminal kelas teri sampe kelas kakap juga ada. Untuk hidup mereka ditunjang pemerintah sini, dapet tunjangan sosial perbulan.

Gw ngga menutup mata banyak juga generasi ketiga Maroko yang berhasil dalam hidup mereka secara sosial (sekolah bener & kerjaan bagus, manager dikerjaan gw tahun lalu orang Maroko), tapi ya yang seperti kalian tau dan seperti temen gw Elyani bilang, air nila setitik rusak susu sebelanga. Nah, hal ini nih yang buat Geert Wilders meroket ketenarannya. Sebelum gw menguraikan hubungan Geert W. dengan posting ini, gw mau cerita tentang insiden2 parah yang pelakunya generasi ketiga Maroko.

Asosial & ngeselin
Beberapa tahun terakhir ini setiap tahun baruan di Nijmegen (kota deket tempat gw tinggal), ada daerah yang banyak penduduknya asal Maroko. Nah, beberapa kali kejadian personil ambulans & polisi diserang anak2 Maroko ini. Gw bisa rada ngertiin deh kalo polisi yang diserang anti otoritas gitu lho, tapi ini personil ambulans. Tolong deh, itu kan mereka mau ngebantu orang sakit/kecelakaan. Ini sering banget kejadian sampe walikotanya marah banget tahun kemarin. Yah tapi gitu deh, khas londo, hanya marah2 aksinya ngga ada.

Terweijde, bentrok Maroko vs Maluku
Terweijde ini nama satu wilayah di kota Culemborg. Ada satu RT lah istilahnya dimana mayoritas penduduknya asal Maroko & Maluku. Tanggal 28 desember 2009 ada satu cewe (blaster Maluku/Londo) yang ngeliat 4 cowo Maroko ngebakar 1 mobil. Nah ini cewe langsung telepon polisi. Mulai deh hari itu sampe tanggal 31 desember ini cewe di stalking & diancem sama gang rusuh ini. Puncaknya malem tahun baruan. Si cewe ini (umur 16 tahun), ngobrol diluar rumah sama kakak & temen2nya, tiba2 ada 1 mobil Opel, isinya orang Maroko semua, yang mau nabrak dia. Untung si ngga kena. Tapi tembok & kaca depan rumahnya sih hancur cur….

Ternyata ngga berhenti disini aja, besoknya tanggal 1 januari, si cewe & keluarganya lagi nonton TV, eh ada yang lempar batu, kena kepalanya si cewe. Nah setelah itu heboh deh seluruh Belanda.Para sosiolog dengan spesialisasi Maroko & Maluku rame diminta pendapatnya diacara2 TV & koran. Advis mereka sama, harus konsolidasi yang kuat supaya ngga ada ‘perang’ karena kedua belah pihak cenderung minta bantuan saudara/temen2 mereka dari kota lain disini. Akibatnya ada jam malem di RT itu, sampe 3 minggu lamanya.

PS 1: Geert W. pingin nimbrung & cari untung dari situasi ini, dia nawarin imigran Maluku mau didukung ngga. Untuk para imigran Maluku menolak dia.

PS 2: Kenapa gw selalu nulis Maluku? Karena orang Maluku itu asalnya dari macem2 pulau. Ada orang Ambon, orang Kei, orang Seram dsb. Dan disini mereka tinggal ngumpul dengan saudara2 Pela mereka. Gw juga mulai bilang orang Maluku setelah dijelasin temennya Ronny yang orang Maluku asal pulau Kei. Jadi ngga seperti orang Indonesia yang rata2 manggil orang Maluku orang Ambon, get it?

Tabrak lari korban mati
Yang paling gres kejadian terakhir hari Jum’at 15 januari kemarin. Di Nijmegen juga. 2 orang naik scooter nabrak 1 pejalan kaki di trottoir krn mereka sedang dikejar polisi setelah berusaha merampok restaurant dideket situ. Nah, karena tabrakan ini, si korban & 2 pelaku ini dibawa ke RS setempat. Eh, kedua pelaku lagi ditolong di Emergency kok malah ngancem dokter & perawat yang nolong mereka. Dan konon banyak keluarga & teman pelaku yang provokasi petugas keamanan diluar. Pokoknya rusuh banget deh.
Hari Senin 18 januari berita ini keluar dikoran. Identitas pelaku hanya ditulis asalnya dari Wijchen & Beuningen dan umur mereka, 18 & 19 tahun. Hari selasa 19 januari ketauan mereka dua2nya generasi ketiga Maroko disini. Wah, bumi gonjang ganjing & Geert W. mau ikut2an deh. Sementara itu personil RS yang diancem dua pelaku belum lapor polisi, konon krn mereka takut aksi balas dendam dari temen2 si pelaku.

Jum’at lalu, 22 januari, keluarganya si pelaku yang umur 18 tahun ini nulis surat. Dimuat di Gelderlander (koran lokal). Intinya mereka minta maaf untuk keluarga korban & menyayangkan serta mengecam aksi si pelaku. Seru baca komen2 yang ditulis pembaca Gelderlander diwebsitenya & mengkhawatirkan karena secara umum gw bisa liat tendens londo2 putih menyamaratakan pendatang.

Heboh ya? Begitulah situasi di Belanda sekarang. Dan ini salah satu pemicu kenapa Geert W. punya banyak penggemar.

Pemilu DRPD-II
Bulan maret nanti akan ada pemilu DPRD-II disini. Gw penasaran partainya Geert W akan dapet suara berapa ya? Dilihat dari kejadian2 yang gw tulis diatas gw rasa kalo para pemilih nyoblosnya pake feeling ya ada kemungkinan dapet suara lumayan banyak. Untuk latar belakang info & bagaimana pendapat gw tentang Geert W baca disini.

Terakhir: mohon maaf bahasa Indonesianya ngga EYD.

One thought on “Pendatang di Belanda & Geert W.

  1. Mbak, bagus sekali artikelnya..sangat realistis dgn gaya bahasa yg cukup netral🙂.
    Salam dr assendelft !

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s