Bahasa Indonesia / Dutch Affairs / Indo

Troostmeisjes

Hari ini di Belanda kaum Indo (Indische Nederlanders bukan Indonesia) memperingati berakhirnya PDII. Tahun lalu seiring dengan peringatan ini pemerintah Jepang secara resmi mengeluarkan statement bahwa mereka menyayangkan keberadaaan rumah bordil militer di PDII. Perhatian! Ditekankan dengan perkataan menyayangkan bukan permintaan maaf resmi. Di rumah bordil itu yang dipekerjakan perempuan2 Indonesia, Indo & Belanda yang disebut Troostmeisjes (gadis2 penghibur) sebagai pelacur untuk melayani nafsu sex militer Jepang kala itu. Mereka dipaksa ‘bekerja’ disitu, tanpa bayaran, kebanyakan anak2 mereka tinggal di kamp kerja paksa, suami kerja romusha di Birma buat rel kereta api dsb…dsb…

Kalo ngga salah waktu gw SD, pertengahan tahun 80-an sempet dibuat film, peran utamanya Jenny Rachman yg jadi letnan kempetainya El Manik, judulnya (waktu itu heboh banget) Budak Nafsu. Pertengahan 90-an juga keluar film Paradise Road (Glenn Close, Cate Blanchett, Julia Margulies & Frances McDormand) ttg kehidupan wanita Eropa di kamp Jepang & di Comfort Houses.

Gw kenal seseorang sebut aja si A, ibunya, orang Belanda pernah bekerja di bordil militer, bapaknya tentara Jepang. Setelah lahir si A ini diberi adopsi ke pasangan Indonesia. Nah, awal tahun 70an si A ini imigrasi ke Belanda, sempet ketemu ibunya yang londo, sementara ibu kandungnya ngga mau hubungan karena trauma. Di Belanda si A akhirnya mendirikan yayasan anak2 yg dilahirkan di rumah bordil militer PDII. Tujuan utama yayasan ini untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah Jepang (sampe hari ini pemerintah Jepang menyangkal keberadaan rumah bordil (Comfort House Eng.) yang mereka dirikan, dan kalo bisa permintaan maaf resmi. Alasan lain gw tulis posting ini karena gw sempet nari di satu acara reunian yayasan anak Jepang tidak diinginkan ini. Biasanya acara reuni kan rame dan suasananya seneng ketemu temen2 lama, tapi di acara itu suasananya asli reserved, bedroefd (=bener2 sedih) dan ngga happy. Kasihan banget, cause they didn´t ask to be born in such circumstances. Jadi, posting ini gw tulis supaya kita ngga lupa, sejarah itu ngga bisa diapus begitu aja, bukti nyata dan hidup masih banyak, sejelek apapun sejarah itu terjadi.

8 thoughts on “Troostmeisjes

  1. @ The Writer, Ngeri & trenyuh liatnya. Mereka ditolak sama ibu kandung mereka karena memang tidak mudah ya secara emosi menerima anak yang tidak diinginkan (duh bahasanya EYD banget).

    @ Therry,
    Ya, bagus2 mukanya. A la Sean Lennon gitu, cuma versi opa2nya lah ya. Mereka lahir antara tahun 1942 – 1944.

  2. Miris .. miris bener itu nasib perempuan2 dan sekarang gw baru tau mengenai anak2 yang lahir di rumah bordil.

    Iya .. sejarah adalah fondasi kita sekarang. Sayangnya, sejarah banyak sekali yang diputar balikkan,

  3. Lorraine, excuse my ignorance, tapi apa artinya Indische Nederlanders? Blasteran ibu Indonesia-Bapak Belanda, apa gimana? Apakah mereka meng-identifikasi diri sendiri di Belanda sehingga mereka kamu sebut dgn istilah “kaum Indo”?

    Orang jepang emang “hard to say I’m sorry”. Masalah Cina aja sampe skrg terus bikin banyak orang sakit hati.

    Miris baca ttg comfort women.😦

  4. @ Ecky, kasian banget memang. Sorry, gw lupa nulis dari beberapa anggota yayasan itu ada yg berhasil menelusuri keluarga Jepangnya. Bahkan ada beberapa yg sampe sekarang keep in touch dengan bapak kandung mereka & saudara2 tiri di Jepang.

    @ Katadia, it is not an ignorance at all! Memang di Indonesia yg dimengerti kaum awam itu Indo pasti salah satu orang tuanya Belanda, sebenarnya Indische Nederlanders itu Eurasian, gw pernah tulis post ttg asal usul orang Indo disini: http://lorraineakayoyen.blogspot.com/2008/06/indische-nederlanders.html

  5. Lahir dari orang tua yg tidak menginginkan kehadiran si anak (apapun alasan-nya) atau melahirkan seorang anak akibat diperkosa (akibat perang, ketiban sial) sama2 menanggung beban yg tidak mudah bagi pihak terkait. Kalau aku yg jadi salah satu perempuan2 malang ini, mungkin aku nekat bunuh diri atau menggugurkan kandungan. Dengan begitu tidak ada rasa sakit hati atau amarah berkelanjutan dikemudian hari.

Tell me what you think

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s